
.......
Cody menangkap tubuh Riana dan jatuh di atas tanah yang empuk, Riana dengan cepat bangun memeriksa apa yang terjadi.
"Tidak tidak! Cody kau baik-baik saja khan? Oh apa yang sudah kulakukan"
Ular itu sudah tidak terlihat di mana-mana mungkin ia sudah pergi.
Cody tersenyum ia berusaha bangun dari jatuhnya, wajah Riana yang ketakutan tak bisa ditutupi ia memeriksa tubuh Cody seksama.
"He cewe bodoh, justru harusnya aku yang bertanya, yang diserang khan dirimu"
Hervant dan Lukas memeriksa keduanya.
"Kalian ini dramatis sekali sich, duh untung tidak apa-apa" keduanya membantu Cody dan Riana bangun dari jatuhnya, terdengar rintihan dari Cody saat Lukas menyentuh tangannya.
"Ackh"
Semuanya melihat ke arahnya, sedikit gemetar, Riana menyibak lengan kemeja panjang tangan kiri Cody, dadanya berdegup kencang.
"Cod, apa, kau digigit?" Tanya Hervant resah.
Cody merintih, ada dua lubang kecil menyerupai gigitan ular di tengah lengannya.
Riana menutup mulutnya, ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Oh tidak Cody!"
Lukas bergerak cepat, disambar ransel Cody dan membawanya, sementara Hervant bersiap memapah Cody.
"Ayo kita harus segera turun guys"
Walau berusaha untuk tenang tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau Cody mulai terpengaruh, kepalanya berat bukan main, gigitan ular itu mungkin beracun.
"Heh guys"
"Ayo kita harus segera turun, Lukas coba kabarkan team untuk menyiapkan obat" seru Hervant bersiap memapah Cody, tapi ada suara keras menghentikannya.
"Jangan gerakan dia dulu!"
Ada seseorang yang muncul dari balik pohon, seseorang yang cukup mereka kenal.
"Aku, gak apa-apa Ri, he, jangan cemas yah" suara Cody makin lemah, orang asing itu mendekat, ia merunduk mendekati Cody yang terduduk lemas, tersenyum melihat ke arahnya.
"Hai Cod, kebetulan sekali kita bertemu di sini yah"
Ia Edward, Hervant melirik pada Lukas yang mengangkat pundaknya tak tahu, sementara Riana semakin cemas, Cody mulai meracau, perlahan ia kehilangan kesadarannya dan jatuh di tangan Edward.
"Cody"
......
..."The footstep you left behind, it's just like at shadow which dissapear once the wind blows, it's just some essence, which will be gone by the time goes by..."...
.....
Diam.
Anak itu hanya duduk diam di belakang semak tinggi berusaha menutupi tubuh mungilnya dari orang-orang di sekitarnya, wajahnya lelah, matanya bengkak seperti habis menangis, walau tanpa suara tapi air mata itu masih terus mengalir di sepasang matanya yang bening.
Ia duduk meringkuk dengan dua tangan di lipatan lututnya, tubuh mungilnya berusaha menahan dingin dengan sendirinya walau hanya mengenakan selembar pakaian kemeja putih dengan rompi kotak-kotak dan celana pendek kotak-kotak, seragam salah sekolah swasta di area sekitar.
Ia terus menangis hingga malam terus berjalan, kian dalam hingga semua orang di sekitarnya menjauh dari jalan kembali ke rumahnya masing-masing.
"Ems" anak itu bangun dari duduknya, berkeliling melihat sekitarnya, lalu bergegas menuju ke arah pepohonan rindang tak jauh dari jalan, menghilang bersama gelapnya malam.
"Ma pa Collin" ia terus bergumam, sepanjang jalan sepasang kakinya yang kecil dengan sepatu pantofel hitam mengkilap menapak jalan tak terbentuk di area perhutanan, ia terus menangis, suara burung malam dan hewan malam lainnya seolah mengiringi jalannya, bukan itu saja, beberapa mata bercahaya merah melirik dari balik pepohonan, mengintai setiap langkahnya seakan menjadikan anak kecil yang berkilauan bak permata itu sebagai buruan mereka.
"Ma, Pa, Collin, ems"
Hingga tanpa melihat jalan di depannya ia tersandung dan jatuh terjerembab ke atas tanah empuk penuh dengan dedaunan kering dan semacamnya, walau begitu ia menangis semakin keras, suara yang sejak tadi ditahannya akhirnya di keluarkan juga.
"Huks huhuhuhu hukss Ma, Pa, Collin, jangan tinggalkan Cody, huks huhu"
Ia menarik tubuhnya bangun dan duduk, remang cahaya rembulan memperlihatkan sekujur tubuh dan wajahnya yang sudah kotor, ia masih terus menangis hingga punggungnya bergetar kuat, tangisan yang perlahan mulai kehilangan suaranya, mungkin karena lelah menangis, dan ia tidak bisa menghentikannya.
"Hiks huhuhuhu"
Sekejap membuat tangisan bocah itu berhenti.
"Huks hu Collin, kenapa kalian pergi, Cody janji tidak akan berkelahi lagi dengan Collin, kembali yah, Collin jangan pergi yah" Cody kecil menahan tangan Collin, bocah yang kini sudah ada di depannya, membelai rambutnya tersenyum sangat hangat padanya, dua tangannya yang mungil membelai pipi Cody yang sudah basah oleh air mata.
"Cody, jangan sedih yah"
Cody memeluk Collin erat, ia bisa memeluk cahaya itu dengan tangan mungilnya erat, seolah tidak akan melepaskannya sedikitpun.
"Huks Collin, jangan tinggalkan Cody, jangan pergi huks huhuhu"
Suara padatnya kendaraan kembali terdengar pagi itu, klakson dan teriakan saling bersahutan berusaha mengejar waktu yang berjalan kian cepat di area kota besar, tidak ada hentinya rutinitas yang terjadi setiap harinya.
Lukas mengeluarkan ransel besar miliknya dari dalam Jeep, setelah keluar kota selama lima hari mereka pun kembali ke apartemen Cody, belakangan Hervant mendekat dan membantu Lukas mengambil ransel lainnya yang masih ada di dalam kendaraan hijau tersebut.
"Cody bagaimana?" Tanya Lukas.
"He seperti tidak mengenal sahabatmu saja, ia keras kepala sekali tidak mau ke rumah sakit, walau sudah dibujuk bagaimanapun ia tidak mau pergi, Riana sampai kesal dibuatnya"
Lukas tersenyum, ia menutup pintu Jeep dan bersama Hervant menuju ke arah lift.
"He untungnya masih ada yang menolong di sana, kalau tidak ada Edward tidak tahu dech bagaimana, eh, dia masih di kamar Cody?"
Hervant mengangguk, menekan tombol lift lantai 23, suite milik Cody.
"Yah beruntungnya, sangat kebetulan sekali ia ke sana, apa, kau tidak curiga? Jangan-jangan ia mengikuti kita lagi"
Lukas mengerutkan dahinya, ucapan Hervant membuatnya berpikir,
"Oh yah? kau pikir begitu, tapi, buat apa?"
Hervant berpikir, sangat jelas dalam ingatannya saat melihat Edward yang tanpa berpikir dua kali mengisap racun yang ada di lengan Cody, bahkan melihat wajah Cody yang tak sadarkan diri lama, sesuatu mengganggunya, walau ia tidak yakin apa tetap saja itu sangat membuatnya berpikir.
"Heh, mungkin hanya perasaanku saja, tapi syukurlah ia ada di sana yah"
Lukas bersiap keluar saat lift berhenti di lantai tujuan mereka.
"Yah bagaimanapun kita memang patut waspada, Cody itu sangat rapuh, apapun dan siapapun bisa mengintainya, jangan bilang arwah penasaran, bahkan manusia yang hidup juga selalu mengekorinya, entah itu pria atau wanita"
Hervant tersenyum, ucapan Lukas yang dewasa, jarang didengarnya tapi ia tahu ia dan Lukas akan selalu menjaga Cody bagaimanapun caranya.
"He iyah"
Di dalam kamar Cody,
Lama, Cody melihat lengannya yang dibalut perban, masih ingat bagaimana kejadian yang hampir merenggut nyawanya terjadi, dalam kondisi setengah sadar ia masih bisa melihat wajah Edward yang tersenyum melihat ke arahnya, sesuatu mengganggu pikirannya, bisikan pemuda itu, walau samar tapi ia bisa mendengarnya.
"He Cody kau akan baik-baik saja"
Pintu dibuka dari luar, tampak Riana yang masuk dengan membawa nampan makan malam untuknya.
"Cody, saatnya makan!" Seru Riana ceria.
Cody tersenyum melihat gadis itu mendekat, diturunkan kakinya dari atas ranjang, walau masih pening karena pengaruh gigitan ular tadi, tapi ia sudah mulai membaik, suntikan anti venom yang diberikan pihak PMR kampus sangat membantu.
"Eckh terima kasih Ri, maaf yah membuat semuanya cemas, liburan ini harusnya menyenangkan tapi ada saja yang terjadi"
Riana duduk di samping ranjang, melihat wajah Cody lama, diangkat tangannya merapihkan rambut depan pemuda itu.
"He, harusnya aku yang minta maaf, kalau saja, aku tidak memaksa ikut dan sialnya diikuti ular, Cody tidak akan celaka khan, maaf yah Cod, karena aku.."
Cody tersenyum, wajah Riana berubah menjadi lesu kembali setelah tadi ia begitu ceria, ia tahu seharusnya bagaimana perasaan Riana yang sangat sensitif terutama soal dirinya, gadis itu sangat menyukai Cody hingga tampak jelas di setiap kerut wajahnya, dan Cody tahu itu pasti.
"Hei Ri bicara apa kau, jangan pikirkan itu, itu sama sekali bukan salahmu, sekarang ayo suapi aku, sudah lapar nich"
Riana terdiam, wajah Cody saat mengatakannya begitu jenaka ia melihat Riana dengan tatapan lembut, membuat semua perasaan galau gadis muda itu hilang seketika.
Dengan semangat Riana mengangkat mangkuk bubur dan perlahan mengaduknya sebelum menyendokkannya untuk Cody.
"Ayo, makan yang banyak yah, ini bubur ayam yang sehat, aku tambahkan banyak jamur, pokoknya enak deh"
"Hehe Iyah Ri, makasih yah"
+-+-+-+-+-