
.....
Siang yang tenang, tidak ada suara ribut bahkan teleponpun jarang, suasana kantor team crime scene investigasi cukup lengang, hanya ada Rio duduk di mejanya melihat beberapa berkas yang sudah menumpuk, Cody duduk di mejanya mengerjakan tugas kuliahnya sedangkan Tony sedang keluar ditugaskan Gus menyelidiki kasus pencurian di salah satu minimarket, saatnya Rookie itu jalan sendiri pikir Rio yang sangat super sibuk karena kerjaannya sudah menggunung.
Rio berusaha serius, ia berusaha keras serius tapi sesekali ia melirik Cody, pemuda itu seolah membuat konsentrasinya terganggu, padahal dia hanya diam saja fokus dengan tugasnya.
Polisi muda itu berdiri dari duduknya, bergerak perlahan ke arah meja Cody.
Walau ia sudah berdiri sangat dekat di depan meja Cody tapi pemuda itu seolah mengacuhkannya, ia tidak menghiraukannya sama sekali.
"Ahem!"
Cody yang terganggu mengangkat kepalanya, mengerutkan alisnya melihat Rio yang berdiri di depannya dengan tampang konyol.
"Apa? Kau butuh bantuan?"
Rio menggaruk kepalanya, melirik apa yang dikerjakan Cody di laptopnya, hanya laporan dengan angka-angka yang sangat asing bagi Rio yang malas berpikir, ambil jurusan Psikologi bukan hal mudah, bahkan saat libur semester Cody mesti mengerjakan tugas dan laporan penelitian untuk dikumpulkan.
"Eh sibuk yah?"
Cody terlihat terganggu, pertanyaan macam apa itu, ia tidak akan mengacuhkan Rio lagi, saat itu dia tidak begitu penting.
"Emm, hemm" tapi suara Rio yang melihatnya dengan terus bergumam membuat Cody semakin terganggu, ditutup layar laptopnya.
"Ada apa Rio, kalau kau berdiri di sana aku tidak bisa mengerjakan tugasku, bukannya sudah sepakat kalau tidak ada kerjaan aku bisa mengerjakan tugasku di sini khan"
Rio mengerutkan bibirnya.
"Yah sih, tapi, memang kau tidak bosan sejak tadi diam saja, kerjakan laporan serius sekali, emm..."
"Jadi kau mau apa sekarang?" Cody iritasi, tidak biasanya ia terganggu tapi Rio memang sering membuatnya tidak nyaman mengerjakan tugas kuliahnya di kantor, sudah berapa kali ia selalu mengganggunya.
Rio menatap wajah Cody lama, wajah kesal yang masih tetap menggemaskan bagi Rio, rasanya ingin sekali mencubit pipi itu, tapi ia berusaha menahannya, bisa-bisa Cody berpikir ia orang aneh lagi.
"Emm, aku, penasaran, memangnya, kau tidak pernah takut yah? Melihat mayat yang mati dengan kondisi menyedihkan, melihat hantu, apapun itu, lalu, berapa kali hampir mati"
Cody lelah mengerutkan alisnya, dibuka kembali layar laptopnya, Rio cuma basa basi tidak begitu penting, menyita waktunya yang sangat berharga saja.
"Memang kalau aku takut kau akan tahu, memang harus lari yah?" Jawabnya sinis.
"Yahh, kalau takut itu seperti Tony, atau seperti photographer baru yang kemarin itu, yang sudah entah di mana penampakannya sekarang, sudah pasti tidak akan tahan dan whoosh, kabur menghilang bersama angin"
Cody menahan diri untuk tidak tertawa, wajah Rio saat menirukan suara angin sangat lucu menurutnya.
"Yah jangan dong Cod, kalau kau kabur aku mau ganggu siapa lagi, ups maksudnya he mengandalkan siapa lagi, selama ini kalau bukan karena kau aku mungkin tidak akan naik pangkat dengan cepat, Cody is the best" seru Rio sambil mengacungkan jempolnya.
Cody tersenyum, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat tingkat Rio yang lucu, memang harus ia akui ia seperti sudah mulai merasa kehilangan rasa takutnya, apapun itu, seperti kata para sahabatnya, ia mungkin sudah mulai mati rasa, tapi sebenarnya ia juga kadang merasa takut, kondisi jenazah yah tak karuan, arwah dengan wajah dan kondisi mengerikan bahkan tidak berbentuk, beberapa sudah membusuk hingga terlihat bagian dalamnya, segala jenis kematian paling tak terbayang oleh orang lain, ia sudah melihatnya, bahkan beberapa arwah yang masih berkeliaran yang tidak tahu kalau mereka sudah mati, hingga seakan menganggu manusia di sekitarnya, ia sudah melihatnya, apalagi yang belum dilihatnya, saat ia bahkan belum tahu bagaimana cara membedakan makhluk yang hidup dan yang mati, saat ia masih sangat polos dan menganggap semua makhluk sama saja, tapi tidak, sejak ia mulai mengenal dunia ia sudah terbiasa akan semua itu, mungkin benar kata semua orang, kalau ia, mungkin sudah mulai mati rasa.
Dan kini, ia semakin merasa para arwah itu tidak menakutkan sama sekali baginya, mereka hanya esensi yang tertinggal saat manusia kehilangan nyawanya, mereka hanya asap yang sesekali bertiup dan juga akan berlalu bersama dengan angin, mereka tidak menakutkannya, justru sekarang ia merasa manusia yang hidup yang justru lebih menakutkan dari siapapun juga.
*-*-*-*
"Prang" suara pintu loker ditutup, ruang ganti anak pria menjelang sore ramai, beberapa mahasiswa yang selesai berolahraga membersihkan diri di sana dan duduk merapihkan diri sebelum selesai, mengenakan pakaian dan sepatu mereka sambil bercengkrama dengan lainnya.
"Yah katanya mau ikut kejuaraan nasional, tapi karena kondisi kakinya cedera jadi sementara tunda dulu" ujar salah seorang mahasiswa.
"Sementara mungkin posisinya ditempati orang lain yah" sambung pemuda lainnya.
Cody masuk ke ruangan, ia baru selesai berolah raga ringan bersama Hervant dan siswa lainnya di lapangan basket dan kaosnya sudah penuh peluh.
"Aku mandi dulu setelah ini kita makan pizza guys" seru Lukas menepuk pundak Cody.
Sahabatnya itu meraih peralatan mandinya di loker dan menuju ke lorong kamar mandi, tapi tangan Cody menahannya.
"Luk tunggu"
Cody diam dengan tangan menahan Lukas dan mata lurus ke arah lorong, bahkan Hervant yang hendak menyusul Lukas menghentikan langkahnya, ia curiga dengan tatapan tajam Cody, tatapan yang sering ditemukannya jika ia melihat sesuatu yang aneh.
"Jangan bilang Cod"
Cody melirik Hervant dan Lukas yang melihatnya serius, ia menelan ludahnya bulat, ia sudah tahu seharusnya tidak masuk ruang ganti itu karena rumor yang berkembang di antara mahasiswa lainnya, dan mereka bukan tanpa sebab bicara demikian.
Tidak ingin banyak berurusan, ini bukan tempatnya, Cody memasukkan kembali peralatannya ke dalam tas olahraganya, menyangkutkan di pundaknya kembali.
"Eh, kita, cari tempat lain yuk"
Hervant dan Lukas saling berpandangan sejenak, tapi keduanya juga mulai ngeri dengan kondisi di sana, seperti apa yang dibayangkan apa yang dilihat Cody mungkin bukan hal biasa.
"Cod tunggu!" Hervant merangkul pundak Cody saat keluar ruang ganti, sesekali Cody masih menoleh ke belakangnya, ruang ganti yang menyatu dengan gedung lama, yang dulu adalah tempat beberapa kejadian aneh terjadi, bukan tanpa sebab, Cody saja masih merinding saat membayangkan apa yang dilihatnya di dalam, sosok besar, entah bagaimana bentuknya, menutupi salah satu ruang ganti dengan asap hitam dari lantai hingga langit-langit, orang bilang itu adalah kumpulan arwah dari beberapa kematian keji yang terjadi di sekitarnya, dan itu yang sangat dihindari Cody, arwah yang menetap terlalu lama hingga terikat pada tempat barunya membentuk energi yang menarik arwah penasaran lainnya untuk bergabung, membuat tempat yang tadinya bersih menjadi kotor, dan ruang ganti pria, bukan hal aneh para arwah akan berkumpul di sana, sebelumnya tempat itu sering dijadikan tempat berkumpul untuk melakukan hal aneh, hingga beberapa kasus bunuh diri puluhan tahun yang lalu, melihat lebih lama lagi, gedung itu dibangun di atas makam tua para leluhur korban perang yang sudah dipindahkan, tempat seperti itu memang ada, tempat yang sempurna untuk berkumpul para arwah, dan itu, bukan ranah Cody untuk bisa menjamahnya, kali itu ia benar-benar harus mundur.
"Glek" Cody menelan ludahnya bulat.
+-+-+-+-