You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Too Close



........


Rio berdiri di depan papan putih di mana ia menaruh semua petunjuk untuk kasusnya, kasus terbarunya saat ini adalah usaha pembunuhan Cody.


Tony mendekat.


"Rio, hasil tes DNA di tubuh Cody sudah keluar, tapi Anna bilang hanya menemukan DNA milik pria rentang usia dua puluh hingga empat puluhan, itu tidak mempersempit pencarian"


Rio menarik nafas berat, alisnya berkerut tajam.


"Heh orang-orang itu sangat nekad, bahkan berani menculik dan berusaha membunuh orang di siang hari bolong, mereka sudah kepepet rupanya"


"Apa, ini artinya pencarian Cody mulai membuahkan hasil? Ia semakin dekat dengan dalang komplotan pencuri organ?"


Rio mengangguk.


"Bisa jadi"


Rio kembali ke tempat duduknya, menggeser kursinya ke meja kerja milik Cody, melihat atas dan dalam laci Cody, siapa tahu menemukan petunjuk.


"Berapa hari ini kita harus mengawasi Cody, bahkan kalau bisa mengikutinya, orang itu belum tertangkap bisa jadi ia akan kembali untuk mencelakainya, benar-benar kurang ajar, penjahat sekarang sudah tidak ada batasnya"


Tony mendekat.


"Beruntung Edward ada di sekitarnya, ia mengaku melihat Cody keluar dari restoran tempat ia juga makan siang bersama temannya, semula hanya ingin mengikuti dan menyapa Cody tapi ia justru melihat orang itu membawa Cody dengan mobilnya"


Rio melirik Tony.


"Ia mengikuti kendaraan itu? Edward ini cepat tanggap sekali yah, ia bahkan menghubungi kita, heh memang beruntung ia melihat Cody dan menyelamatkannya tepat waktu"


Tony menatap Rio lama, hal itu membuat Rio mengerutkan dahinya, tak biasanya rekan juniornya itu bersikap serius dengan tatapan yang jarang ditemukannya.


"Ada apa Ton? Kau mau bilang apa?"


Tony menggeser tubuhnya mendekati meja Cody, mengambil sesuatu di laci meja Cody.


"Beberapa hari ini Cody meminta tolong padaku untuk mencari tahu soal Edward itu sebenarnya siapa" sebuah map di mana di dalamnya adalah beberapa kertas hasil temuan Tony.


Rio meraih map itu, melihat beberapa informasi di lembaran kertas hasil print out Tony.


"Kenapa ia memintamu melakukannya? Ia mencurigai Edward?"


Tony mengangguk.


"Yah, sebenarnya ia hanya meminta bantuan ku dan berpikir ini hal kecil, ia hanya sekedar ingin tahu lebih dekat, tidak ada hal lain, tapi, entah kenapa aku merasa ini lebih dari itu Rio"


Rio mengangkat kepalanya melihat Tony, makin mengerutkan dahinya.


"Maksudmu apa? Kok kau bisa berpikir seperti itu juga?"


Tony mendekati mejanya, mengeluarkan sesuatu di balik tumpukan berkas di atas mejanya, menyerahkannya pada Rio, selembar photo yang dicetaknya cukup besar, ia melingkari beberapa wajah di photo beberapa orang yang berjejer mengenakan seragam kelulusan dan berphoto bersama, ada wajah yang dikenali Rio.


"Ini, Edward?" Tanya Rio, Tony mengangguk, ia menunjuk juga pada photo beberapa orang di samping photo Edward.


"Ini, Irsan, tadinya aku tidak mengenalinya karena ia sangat kurus di sini, tapi setelah mencari informasi soal photo aku jadi tahu, lalu, apa kau tahu siapa orang ini?" Tunjuk Tony pada photo ketiga yang di lingkarnya.


"Dulu juga kau menunjukkan photo almamater, ini yang lain lagi?"


Tony mengangguk,


"Yah ini versi lengkapnya"


Rio menajamkan tatapannya, melihat photo yang mungkin diambil lebih dari beberapa tahun yang lalu dengan seksama.


"Ini, korban yang kemarin jatuh dari gedung itu? Ray?"


Tony mengangguk.


Rio melirik Tony kembali.


"Jadi, maksudmu mereka saling mengenal begitu? Satu almamater di sekolah menengah?"


Tony mengangguk.


"Yah benar, tapi, apa kau ingat apa jawaban Ed saat kita bertanya apakah ia mengenal korban atau tidak? Ia bilang tidak, padahal mereka sedekat ini, aku baru akan memberikan photo ini pada Cody, tapi tertunda karena kejadian ini, apa kau berpikir, apa yang dipikirkan Cody, soal hubungan Ed dengan kasus ini? Soal bagaimana bisa kebetulan sekali beberapa mahasiswa yang tewas dengan cara mengerikan adalah kenalannya"


Rio menarik nafas panjang, diletakkan lembar photo itu ke atas meja, ia duduk di kursinya memijat ringan keningnya yang pusing.


"Heh, Kalian melakukan hal ini di belakangku tanpa memberi tahu sedikitpun padaku, bagaimana kalau apa yang dipikirkan Cody itu benar? Kau harusnya mengerti kalau apa yang ada di kepala Cody itu bukan tanpa sebab, semua ada artinya"


Tony menurunkan kepalanya, ia mengaku salah karena tidak memberitahukan pada Rio soal apapun.


"Maaf, aku pikir ini hanya hal biasa Rio"


Rio diam sejenak, hingga disandarkan pundaknya ke bahu kursi masih terus berpikir.


"Heh, tidak ada hal yang biasa soal Cody, apapun yang ia pikirkan, semua adalah petunjuk, tapi walau Cody mencurigainya kita tidak bisa memungkiri kalau Edward yang menyelamatkannya, walau bagaimanapun kurasa Ed tidak punya niat buruk terhadap Cody, itu yang kita tahu, tidak tahu apa yang ada di balik semua ini"


Rio keluar dari meja Cody, meraih jaketnya bersiap untuk keluar.


"Ayo Ton, kita kembali ke rumah sakit, siapa tahu Cody masih ada petunjuk soal kasus Dian"


Tony mengikutinya.


"Laptop dan ponsel Cody sudah diambil orang itu, entah Cody masih menyimpan jurnalnya di tempat lain atau tidak"


Rio berhenti di samping mobilnya, membuka pintu dan merunduk masuk, Tony juga.


"Jurnal itu mungkin sangat penting, tapi apa yang didapatkan Cody bisa jadi jauh lebih penting, ia pasti sudah mulai mendapatkan petunjuk hingga orang-orang itu mulai beraksi sekarang"


Kendaraan kecil itu keluar area parkir markas, melewati gerbang yang dijaga beberapa petugas dan meluncur dengan mulus ke jalan besar, berbaur dengan banyak kendaraan lainnya yang sudah memenuhi jalan tengah kota.


*-*-*-*-


Tiba di rumah sakit.


Rio dan Tony yang baru keluar dari lift lantai suite menghentikan langkah mereka.


Lantai itu menjadi begitu ramai oleh beberapa orang petugas berseragam, anggota kepolisian dari mana? Pikir Rio mendekati Gus yang berdiri tak jauh di depan pintu kamar suite, satu-satunya kamar rawat di lantai itu.


"Ayo cepat itu pasang di atas sana, panggil team lain untuk membantu!"


"Eh pak Gus, ini, ada apa? Kok ramai sekali" tanya Rio, ia juga melihat dari tempatnya di mana di dalam kamar beberapa orang juga sibuk berlalu lalang, membuat Cody yang duduk di atas ranjangnya terlihat tidak nyaman. Hervant dan Riana ada di dalam menemaninya.


Beberapa kali Riana bangun dari duduknya mengambil barang bawaannya yang hendak dipindahkan petugas.


"Hei itu mau dibawa kemana? ini pakaian Cody" gadis itu merebut tas berukuran sedang di bawah meja yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari.


Cody hanya menyandarkan kepalanya ke bantal lelah.


"Heh merepotkan sekali"


Gus menarik tangan Rio menyingkir saat dua orang petugas berseragam, seperti teknisi hendak lewat.


Pria itu menggaruk kepalanya.


"Yah mau bagaimana, ini perintah langsung dari komisaris, beliau langsung memerintahkan semua bagian terkait untuk meningkatkan keamanan di kamar Cody, sejak Cody hampir saja menjadi korban penculikan dan pembunuhan"


Rio dan Tony mengangga, keduanya takut salah dengar.


"Hah? Apa tadi?"


+-+-+-+-