You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Stab in Your Heart



.......


Charlie masuk ke kamar Cody, mendekat dengan ponsel yang menyala.


"Cod, ini kak Nina, aku berhasil menghubunginya"


Cody mengulurkan tangannya meraih ponsel itu, alisnya berkerut karena kesal sejak pagi tidak bisa menghubungi ponsel kak Nina ataupun opanya, hingga meminta Charlie mencobanya jika bisa.


"Halo Kak Nina"


Hervant berdiri dari duduknya mendekati Charlie, ruang kamar rawat Cody sudah seperti pasar karena banyak orang berlalu lalang mana bisa beristirahat dengan cara seperti ini.


"Heh opa Cody apa tidak berlebihan"


Charlie menarik nafasnya, memasukkan dua tangan ke dalam saku jubahnya.


"Bisa dimaklumi kejadian ini cukup mengejutkan semua orang, bagaimana kalau terjadi lagi? Kurasa opa hanya bertindak hati-hati"


Tak lama sambungan telepon yang sepertinya cukup serius antara Cody dan kak Nina pun selesai. Cody menyerahkan ponsel kembali pada Charlie.


"Jadi, bagaimana Cod? Apa kata opamu?" Tanya Charlie, Cody melihat sekitarnya beberapa pria dengan seragam dari kepolisian dan juga teknisi, tak lama seorang kepala teknisi terlihat mengeluarkan ponselnya yang bergetar di balik sakunya.


"Hallo, yah bu"


Cody hanya melirik pada beberapa pria berseragam yang berkumpul di dekat pintu.


Dan sepertinya benar, tak butuh waktu lama beberapa pria berseragam teknisi segera membereskan peralatan mereka seolah pekerjaan mereka di sana sudah selesai, setelah permisi pada Cody beberapa pria itu pun keluar.


Hervant menggelengkan kepalanya, panggilan telepon yang cukup dasyat, padahal sebelumnya ia dan Riana sudah meminta orang-orang itu untuk keluar tapi tak ada satupun yang mendengarkan mereka.


"Apa yang kau katakan Cod? Sampai opa mau mendengarkanmu?" Tanya Hervant mendekat.


"Tidak ada, aku hanya bilang sama Kak Nina kalau opa terlalu mencampuri urusanku nanti aku akan melamar masuk akademi kepolisian, dan tanpa banyak bicara opa lewat kak Nina bilang oke, heh aneh juga kalau sampai pak komisaris sampai ikut campur hal kecil begini"


Charlie menepuk pundak Cody.


"Kurasa tidak berlebihan, mulai sekarang sepertinya beliau akan terus mengawasi mu, ini karena opamu Cod"


Cody menarik nafas panjang, menepuk jidatnya.


"Heh opa ini ada-ada saja dech"


*-*-*-*-*


Riana berdiri di depan kasir, saatnya menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit dan keluar.


Cody duduk di kursi tunggu bersama beberapa pasien lainnya, ia masih berpikir keras.


"Ricky"


Cody mengangkat kepalanya, melihat sekitarnya, apa pemuda itu ada di sana? Di sekelilingnya? Di mana pun ia berada seharusnya ia tidak jauh, tapi Cody tidak menemukannya.


Riana mendekat kembali, senyum lebar di wajah gadis manis itu sepertinya tak pernah hilang darinya. Ia mengulurkan tangannya ke depan Cody.


"Ayo, kita pulang, aku sudah beli banyak daging segar untuk masak hari ini, Cody harus makan yang banyak yah"


Cody tersenyum.


Ia berdiri bersama Riana menuju ke pintu keluar.


Tapi baru sampai di depan pintu Riana menghentikan langkahnya, ia memeriksa kembali bawaannya takut mungkin ia akan melupakan sesuatu.


"Duuh" dan benar, ia terlupa satu tas kecil yang tadi dibawanya bersama yang lain.


"Cody tunggu sebentar di sini" Riana menoleh ke belakangnya, di kaki kursi tempat ia dan Cody duduk tadi, masih ada tas kain kecil barang-barang milik Cody, tanpa pikir panjang dengan lincah Riana menghampiri dan mengambilnya.


Tak butuh berapa detik ia sudah kembali di samping Cody.


"Untung tidak hilang"


Cody melirik apa isi tas, ternyata pakaiannya waktu ia masuk rumah sakit.


"Barang ku Ri?"


Riana mengangguk, ia mengandeng kembali tangan Cody menuju ke pintu, Cody masih melirik isi tas bahkan memasukkan tangannya ke dalam, meraih sesuatu yang ia tidak ingat pernah memilikinya.


"Ini, apa?" Tanya Cody mengerutkan dahinya, sebuah gelang kecil, gelang rantai berwarna perak seperti gelang milik laki-laki, ia tidak tahu kalau di pakaiannya ada benda seperti itu.


Riana juga mengerutkan dahinya melihat benda di tangan Cody, ini bukan miliknya karena ia pasti tahu.


"Iya yah? Apa tidak sengaja terjatuh barang punya orang lain yah?"


Saat Riana melirik sekitarnya Cody terdiam melihat gelang di telapak tangannya kini, sesuatu mengganggunya, ada sesuatu yang sangat intim dari gelang itu, namun tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di dada kirinya.


"Akch" sakitnya luar biasa hingga ia tak bisa menahan diri dan jatuh bertumpu pada lututnya di lantai.


"Cody kenapa?" Riana panik, Cody meringkuk kesakitan.


"Akch sakit RI" seakan semua mata pisau yang begitu tajam menghujam jantungnya, sakit yang tak terbayangkan ada sebelumnya, hingga pemuda itu tak bergerak dan jatuh tak sadarkan diri di lantai.


"Cody! Tolong, dokter!" Seru Riana panik, meraba wajah Cody yang tiba-tiba pucat tak sadarkan diri, ia tak bergerak.


"Cody"


+-+-+-+-+