You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Eyes in the Dark



.......


Ada pandangan yang tajam.


Duduk meringkuk di sudut ruangan yang gelap, bau yang sangat menyengat, tapi tidak tahu ini bau apa, seperti bau busuk yang menyatu dengan suhu lembab ruangan yang lantai dan dindingnya seperti terbuat dari kayu, itu mungkin gudang penyimpanan daging mentah atau semacamnya karena bau anyir dan busuk cukup tajam.


Perlahan, Cody melangkahkan kakinya, hati-hati agar ia bisa mendekati sosok yang meringkuk di sudut ruangan yang hanya terlihat sorot matanya saja, udara di tempat itu membuat dadanya sakit, seakan semua tekanan yang diberikan sangat kuat hingga menekan lututnya yang juga terasa berat saat melangkah.


"Eh halo, apa, ada yang bisa ku bantu?"


Itu arwah, pikir Cody, karena tidak ada mahluk hidup yang memberikan tekanan seberat itu, dan terlebih arwah itu mungkin mengalami kematian yang sangat mengenaskan, rasa sakitnya, dapat dirasakan Cody saat ini.


"Eckh"


Cody menghentikan langkahnya, sudah berapa langkah lagi mendekati sosok itu, yang perlahan lalu bangun dari duduknya hingga sejajar dengan Cody, sejenak, Cody menunggu apa yang akan dilakukan sosok gelap yang mengeluarkan asap hitam di sekitarnya.


Sosok itu mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Cody, seperti ingin menggapainya, Cody tidak bisa bergerak, ia membeku di tempat dengan membuka matanya lebar saat sosok yang wajahnya sudah tak berbentuk itu mendekatinya, dan dengan sekejab sudah menahan pergelangan tangannya.


"Ackh!" rasa sakit yang seketika mengalir dari tangan hitam dan busuk sosok itu.


Merambat hingga jantung Cody yang tiba-tiba sakit bukan main, seakan hendak meloncat keluar dari tempatnya, sakitnya tak terbayangkan dengan apapun juga, ia tak kuat.


"Ackkhh!!"


"Kembalikan jantungku!!"


Cody seperti terjatuh di atas ranjangnya sendiri keras, hingga terbangun dengan nafas terengah-engah, dengan mata membelalak lebar.


"Hoh hoh hoh" keringat dingin memenuhi wajahnya, ia bermimpi buruk,


Samar ada suara dan sentuhan seseorang di sampingnya.


"Hei kau mimpi buruk, tenang dulu Cod, tenangkan dirimu" sudah ada seseorang yang menahan tangannya agar ia tidak jatuh.


Cody masih berusaha mengumpulkan nafasnya yang terengah kelelahan, mimpi yang sangat nyata dirasakannya, bahkan detak jantungnya berdebar sangat cepat seperti benar berlari jauh, diturunkan kepalanya perlahan, berusaha menarik nafas pelan.


"Hoh hoh "


Ia Edward, pemuda itu bangun dari duduknya di pinggir ranjang dan bergerak mendekati meja di dekat pintu menuangkan segelas air putih dan mendekat kembali pada Cody.


"Ayo minum dulu, kau mimpi buruk Cod, sejak tadi mengingau tidak karuan lihat wajahmu sampai basah berkeringat seperti ini"ujar Ed menyodorkan gelas itu ke depan Cody, tangan Ed yang lain memegang pundaknya.


Cody mengerutkan dahinya, bingung melihat bagaimana Edward bisa ada di sana, di dalam kamarnya, lalu, ia jug tidak melihat Riana dan lainnya di mana-mana.


Cody lelah, matanya berat sekali, tubuhnya lemah, obat yang diberikan Charlie juga bukan main-main, ia memang butuh banyak istirahat, tak lama walau dadanya masih naik turun dengan cepat, Cody memejamkan matanya kembali, mungkin akan tidur lagi, dan berharap tidak akan bermimpi buruk lagi.


Edward membasuh keringat di dahi Cody, memasukkan dua tangannya kembali ke balik selimut, saat Ed menunduk membasuh keringat di balik pakaian Cody, suara pintu dibuka dan seseorang sudah berdiri di belakangnya.


"ceklek"


"Eh, yang lain, mana?" Tanya Rio, Edward menegakkan tubuhnya, mengangkat pundaknya tak tahu.


*-*-*-*-*-*


Menjelang sore.


Riana sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang hendak dimasak dari kulkas ke atas meja dapur.


Sementara Hervant dan Lukas juga sudah duduk di ruang tengah bersama dengan Rio yang sudah sejak siang di sana, duduk di sofa menikmati makanan kecil yang dibeli Lukas yang diletakkan semuanya di atas meja.


"Jadi, si Edward itu pegang-pegang sampai dalam-dalam begitu? Apa, kau mungkin salah lihat Rio" tanya Hervant, Rio mengangkat pundaknya.


"Entahlah, aku sih sekilas lihatnya begitu"


"Lagipula itu orang ngapain sih siang-siang mengunjungi orang, di saat semua orang sedang tidak ada, dia bagaimana masuknya coba? Memang tadi kau keluar tidak kunci pintu yah Her?" tanya Lukas,


Rio mengangguk "Iyah, aku juga ingin bertanya hal itu sebenarnya, tapi gak lama dia pergi, katanya ada urusan dan berterima kasih padaku karena aku datang menggantikannya menjaga Cody, apa kalian yang memintanya kemari menjaga Cody?"


Hervant dan Lukas menggeleng bersamaan, demikian pula Riana yang mendekat kemudian.


"Tidak ada yang menyuruhnya kemari kok, kita juga tidak ada yang beritahu Cody sakit padanya, dia tahu dari mana? Apa Cody yang beritahu yah?"


"Kalian bicarakan apa sih, orangnya masih di sini" suara Cody, ia sudah bangun dari tidurnya sejak tadi, dengan gontai mendekati teman-temannya yang sudah duduk berisik di ruang tengah.


Riana mendekat paling cepat.


"Hai Cody sayang, sudah bangun, bagaimana perasaannya?" Tanya Riana membantu Cody duduk.


"Hei kau bangun juga, sejak tadi tidur seperti bayi, bahkan diculik juga mungkin tidak tahu kali yah" ujar Lukas.


"Oh yah Cod, bagaimana Ed itu bisa tahu kalau kau sakit? Kau bilang-bilang yah? Baru kita tinggal sebentar dia sudah masuk saja ke kamar, mencurigakan sekali" tanya Hervant.


Cody lelah, itu mungkin karena pengaruh obat, tidak mungkin ia sudah tidur terlalu lama tapi masih saja lelah, disandarkan kepalanya ke bahu sofa.


"Heh dia pinjam charger laptop karena miliknya sedang rusak, aku pikir ia akan ambil dan langsung pergi jadi aku tinggal tidur saja, tidak tahunya ia tinggal, dan gara-gara Charlie, yang sok jadi dokter itu, dia bilang aku butuh banyak tidur, dia mungkin mencekoki ku banyak obat tidur jadi aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, heh"


"Hem kau lapar tidak? Aku sudah buatkan banyak makanan kesukaan Cody, tidak tahu mana yang boleh dimakan jadi aku masak saja yang banyak" tanya Riana.


"Heh lapar sekali Ri, tapi aku kok tidak nafsu makan yah"


"Hei bagaimanapun harus makan, Ri butuh bantuan tidak biar cepat?" Seru Hervant, Riana menoleh dari dapur, tersenyum manis dengan wajah berseri-seri.


"Tenang saja Her sudah mau selesai kok"


+-+-+-+-+-