
..........
Rio berdiri di ruang tunggu, dari arah Lift muncul Riana, Hervant dan Lukas yang mendekat dengan cepat.
"Rio ba bagaimana dengan Cody!" Tanya Riana cemas.
Sudah berapa jam berlalu Rio dan lainnya menunggu di depan ruang operasi dan belum juga ada kabar dari dalam, Riana sudah sangat cemas hingga gemetar berusaha menahan diri, berapa kali menoleh ke arah pintu yang sejak tadi tertutup rapat.
"Cody"
Tony yang baru muncul dari lift berlari mendekati Rio.
"Rio, eh" ia berhenti sejenak melihat sahabat Cody yang melihatnya dengan tatapan tajam "eh" ia mendekat kembali ke arah Rio.
"Eh, team buser menemukan mobil tersangka di pinggir kota, saat dilakukan pengejaran tersangka menghindar dan jatuh ke jurang"
Rio mengerutkan dahinya "tersangkanya? Apa ia tertangkap?"
Tony menegakkan tubuhnya.
"yah, ikut terbakar bersama mobilnya, waktu polisi mau mendekat mobilnya meledak di tempat"
"Apa, kalian yakin itu pelakunya? Mobil yang sama dengan yang menabrak Cody?"
Tony mengangguk "yah, sudah dipastikan mobil yang sama, tapi soal tersangkanya, Georgie masih harus melakukan otopsi untuk memastikan karena kondisi jenazah sudah hangus terbakar"
Rio menarik nafas panjang, entah kenapa ia tidak merasa senang walau pelakunya sudah ditemukan, ada hal yang aneh, insting detektifnya mengatakan demikian, tapi, itu mungkin hanya perkiraannya saja.
"Heh baiklah Ton, kau tolong terus laporkan perkembangannya dari kantor, aku akan tetap di sini sampai tahu soal kondisi Cody, heh kenapa ia bisa ada di sana disaat yang tidak tepat"
Malam datang.
Cody sudah dipindahkan ke kamar rawat VVip.
Charlie yang baru keluar dari kamar langsung di hampiri Riana dan lainnya sudah menunggu sejak tadi, walau Charlie sudah tidak bekerja di sana ia tetap datang melihat kondisi Cody.
"Charlie"
Semua menunggu penjelasannya, Charlie memasukkan dua tangan ke balik kantong jubah putihnya.
"Kondisinya sudah stabil, operasinya berjalan lancar, tapi memang sekarang ia masih belum sadar, yang paling parah paha kirinya sobek hingga ia banyak kehilangan darah, beberapa hari ini ia akan merasa sangat menderita, biarkan ia istirahat malam ini besok ia baru bisa sadar"
Riana seakan ingin menyentuh pintu dan mendorongnya, ia sudah tidak sabar sejak Cody dipindahkan dari ruang operasi dan belum juga melihatnya "apa, aku boleh masuk, Cody."
Hervant menepuk pundak Riana pelan, lalu melihat Charlie.
"Kami boleh tinggal khan malam ini? Riana juga tidak akan bisa tidur malam ini, jadi, lebih baik kami di sini menunggunya"
Charlie melihat wajah lelah para sahabat Cody setelah seharian hingga malam menunggu selesainya operasi Cody hingga menjelang tengah malam, juga Rio yang berdiri agak jauh di depan.
"Eh, sebenarnya tidak boleh karena Cody butuh banyak istirahat, tapi, karena kalian sahabatnya, kurasa tidak akan mengganggunya khan? Ada banyak tempat untuk tidur di dalam kalian bisa menunggu di dalam"
*-*-*-*-*-*-*
Waktu menunjukkan pukul satu pagi.
Riana masih duduk dalam remang, di samping ranjang Cody.
Ia terus menggenggam jemari dingin Cody yang masih tak sadarkan diri. Ada perban di dahi sebelah kanannya, beberapa bagian di pipi dan dagunya sedikit lecet, paha kirinya yang dibalut perban karena luka sobek yang cukup parah.
Riana mengangkat tangan Cody dan membelaikan ke pipinya, wajah pemuda pujaan hatinya terlihat pucat dan masih harus dibantu dengan selang oksigen, pemandangan yang sangat dibencinya, hatinya sakit melihat kondisi Cody demikian.
"Kau ini bodoh atau gimana? Sudah dibilang jangan pergi sendiri, lihat Cody sekarang, ems" Riana menghapus air mata di pipinya.
"Cody ini"
Hervant, Lukas dan Rio duduk di sofa empuk di sisi lain ranjang.
"Heh bagaimana ini bisa terjadi Rio? Kau belum menceritakannya dengan jelas tadi" tanya Hervant.
Rio menaikkan rambut depannya yang jatuh tidak beraturan. Lukas masih memandangnya tajam.
"Cody, ada di lokasi di mana kami mendapat petunjuk soal keberadaan tersangka berada, entah bagaimana tapi ia bisa ada di sana"
Hervant menegakkan duduknya.
"Eh, kalian, kenapa bisa tahu tempat itu?"
Hervant menyenderkan kembali pundaknya, ia menarik nafas sebentar.
"Heh, Cody mendapat petunjuk dari mimpinya, kami mencari di mana saja terdapat gedung tua bekas rumah sakit karena itu yang dilihat Cody, dalam mimpinya" Hervant menekankan ucapannya di akhir.
Rio menahan nafas, ia sedikit mengerutkan dahinya kembali.
"Eh, maksudnya, semua, karena mimpi Cody? ia, benar-benar mendapat petunjuk dari sana?"
"He, kau ingin mengatakan Cody mengarang cerita begitu? Soal bagaimana semua mimpinya bisa jadi kenyataan, atau, bagaimana semua yang ia lihat dan tidak bisa kita lihat adalah benar, bukan khayalannya saja" Lukas ketus.
"Eh bukan itu maksudku, eh.." Rio bahkan tidak tahu harus bicara apa, semula ia berpikir demikian, tapi sekarang ia merasa sangat bersalah.
"Heh semua, benar? Kalau.."
"Heh Cody itu, kami sudah memperingatkannya agar tidak gegabah dan pergi ke sana sendiri dan lebih baik melaporkannya padamu, tapi ia bilang percuma juga mengatakannya karena kau tidak akan mempercayainya, kami hanya mencari sembarang tempat, dan tidak menduga kalau tempat yang ia datangi benar adalah sesuai dengan yang ada di dalam mimpinya, heh ia benar-benar keras kepala, kami juga tidak diberitahu kalau ia pergi ke sana sendiri" hesah Hervant.
Rio menundukkan kepalanya.
"Hoh Cody" ia melihat ke arah Cody lama,
"Jadi.., apalagi yang disembunyikannya? Hal, yang tidak ingin diceritakannya karena ia berpikir aku tidak mempercayainya?"
Hervant berdiri dari duduknya, melihat Rio sejenak,
"Banyak, untuk sekedar kau tahu, Cody jauh lebih tahu daripada apa yang kalian ketahui selama ini" ia lalu bergerak mendekati ranjang dan duduk di sampingnya.
"Ri"
Riana menggelengkan kepalanya saat Hervant menyuruhnya untuk istirahat, ia tetap tidak melepaskan tangan Cody.
"Aku di sini saja, Cody akan bangun dan mencariku"
"Yah sudah kau bisa tidur di sini, kalau kau sakit siapa yang akan menjaga Cody besok" bisik Hervant.
Riana terus menggeleng, hingga ia tidak kuasa menahan air matanya dan akhirnya menangis juga "hiks Cody, huhuhu"
Lukas mendekat.
"Hei kok malah nangis begitu, Ri kau bisa membuat Cody tidak tenang, ayolah jangan cengeng gitu"
"Huks hu huhuhuhuu" gadis itu terus menangis hingga dua pemuda itu kerepotan jadinya.
"eh Riana ini"
*-*-*-*-*-*
Matahari bersinar terang, pagi datang dengan cepat.
Riana baru selesai mengisi air panas di pantri ruang tunggu pasien, wajahnya sudah lelah karena semalaman tidak bisa tidur.
Rambut panjangnya di ikat seadanya ke atas menjadi satu, ia hanya mencuci muka tadi saat matahari terbit dan belum sempat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia membuka pintu kamar rawat dan masuk, agak sedikit kerepotan saat tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Eh, Her"
Cody belum sadar hingga waktu itu, perlahan Riana menaruh termos air panas ke atas meja di samping sofa panjang.
"Aku keluar sebentar karena tadi air panas di dalam kamar sudah habis, tidak apa di sini ada kamar mandi aku akan mandi sebentar lagi, he mana bisa aku kerja, Cody belum sadar, aku hanya akan terus memikirkannya"
Riana mendekat ke arah ranjang, meraih kain bersih di atas meja dan menyeka kening Cody yang sedikit berkeringat.
"Eh yah aku akan mengabarkan kalian, kalian tenang saja yah"
Setelah sambungan telepon mati, Riana duduk diam di tempatnya, hingga ia perlahan tersenyum.
"He Cody walau lagi pingsan masih cakep saja hehe" ia berusaha berpikir positif bagaimana pun Cody pasti tidak suka melihat wajahnya yang terus sedih hanya karena urusan kecil, dibuka termos dan menuangkan air panas ke dalam baskom air yang sudah disediakannya, ia akan membasuh wajah Cody hingga tidak akan ada noda tersisa di wajah mulus pujaan hatinya itu.
+-+-++-+---+--