
.........
Tak lama akhirnya Mila membantu Cody kembali ke kamar. Dengan lembut diangkat selimut di bawah kaki ranjang dan menutupi tubuh Cody hingga ke atas pinggangnya.
"Lain kali panggil saja perawat untuk membantu, atau aku, kau khan punya nomorku, eh.."
Mila tidak menemukan seorangpun di kamar itu, biasanya teman-teman Cody akan selalu ada di sana walau jam berkunjung sudah usai.
"Teman-temanmu pada ke mana? Kenapa meninggalkan kau sendiri di sini?"
Cody menurunkan kepalanya, ia memang sangat lelah, tubuhnya masih lemah dan kepalanya masih pusing tak tertahankan.
"Aku menyuruh mereka pergi, mengerjakan aktivitas mereka dan jangan terus menganggu di sini"
Mila duduk.
"Eh, pacarmu? Juga?"
Cody tersenyum, maksudnya pasti Riana.
"He iyah, aku bilang kalau ia tidak pergi aku akan memutuskannya, he"
Cody kian lelah, perlahan ia tidak bisa menahan matanya dan memutuskan mungkin ia butuh istirahat "heh aku capek Mil"
Mila tersenyum.
Diangkat selimut Cody hingga ke atas dadanya, dan tak lama pemuda itu sudah benar terlelap. Sedikit ragu, Mila mengangkat tangannya, membelai rambut depan Cody lembut, mendengar desah nafasnya, merasakan pemuda itu seutuhnya untuk dirinya saat itu, hanya saat itu saja mungkin, pikir Mila yang mencondongkan tubuhnya perlahan ke depan dan mengecup kening Cody lembut, sejenak, ia hanya ingin merasakan apa yang mendesak dari dadanya, walau hanya sejenak.
*-*-*-*-*
Rio membuka ponselnya.
Beberapa informasi yang dikirimkan Tony padanya.
Ia duduk di samping ranjang Cody, sudah menjelang siang dan ia berpikir menghabiskan waktu menemani Cody sementara teman-temannya yang lain termasuk Riana sibuk dengan aktivitasnya.
Cody mengultimatum teman-teman mereka, terutama Riana yang kelamaan menunggunya di rumah sakit dan bilang kalau ia tidak suka dengan cewe yang menjadi pengangguran karena bolos kerja untuknya. Ancamannya berhasil, sejauh ini, tentunya para sahabatnya tetap bergantian ke rumah sakit sewaktu-waktu mengingat Cody yang keras kepala bisa membuat dirinya sendiri celaka.
Cody duduk dengan sandaran kepala agak tinggi melirik pada Rio yang sepertinya sibuk.
"Ada kasus baru Rio?"
Rio menarik nafas panjang.
"Yah yang kemarin ditemukan di gudang itu, ternyata beliau adalah seorang direktur perusahaan trading, dikabarkan menghilang sejak awal tahun kemarin"
"Seorang direktur?" Ulang Cody, Rio mengangguk.
"Iyah, mungkin karena masalah hutang, sejak dua tahun lalu perusahaannya semakin mengalami kerugian, ia selalu berhutang untuk menutupi pengeluaran, kabar terakhir hutang yang bisa dilacak Tony dari sekian banyak rekening salah satu saja jumlahnya mencapai milyaran, mungkin ia sudah tidak sanggup bayar hingga diadili seperti itu"
"Tapi menyembunyikan jenazahnya selama ini, semua mungkin sudah direncanakan sebelumnya khan, ini bukan pembunuhan karena masalah kecil"
Rio menoleh kembali pada ponselnya, masuk lagi pesan dari Tony.
"Iyah, em boleh pinjam laptopmu? Tony ada kirim email tapi aku susah membukanya di ponsel hanya kurang jelas"
Cody mengangguk, ia menunjuk ke arah meja di mana laptopnya berada.
"Kalau kau sibuk sebaiknya tidak usah ke sini, aku tidak apa-apa kok sendiri"
Rio menyalakan laptop sambil tersenyum, ia dan lainnya sudah sepakat akan bergantian menjaga Cody agar tetap di kamarnya, siapapun tahu Cody yang keras kepala bisa melakukan hal bodoh kapanpun, seperti apa yang ia lakukan saat Hervant tidak bisa datang tepat waktu dan Cody sudah berkeliling ke mana-mana.
"He apanya yang sibuk, di kantor juga aku akan melakukan hal yang sama, enak di sini jaringan internetnya juga kencang, kau tahu sendiri di kantor seperti apa, hmm"
Cody ikut penasaran dengan informasi yang dikirimkan oleh Tony. Rio melihat dengan dahi berkerut sangat serius.
"Gambar apa Rio?" Tanya Cody.
Rio mengangkat laptop mendekati Cody kembali. Menunjukkan layar laptop di mana ia sudah membuka sebuah photo besar.
Rio menunjuk pada salah satu orang yang berjejer berphoto seperti photo untuk kelulusan sekolah, ada mungkin kurang lebih tiga puluh orang berpose.
"Ini, yang namanya Irsan itu, dulu dia kurus sekali yah? Tony pikir akan mencari informasi soal masa lalu korban karena sejauh ini semua petunjuk masih tidak jelas, kasus ini sangat memusingkan sedangkan bos minta kita segera menutupnya"
Cody lama melihat photo-photo tersebut, Rio hendak mengangkat laptopnya kembali dari ranjang tapi Cody menghentikannya.
"Tunggu Rio, eh, ini, sepertinya kenal yah"
Rio mengikuti arah telunjuk Cody, mengerutkan dahinya.
"Yang ini?" Tanya Rio pada seorang pemuda dalam photo yang ditunjuk Cody.
Sejenak Rio berpikir, memang sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat, tapi di mana? Pikirnya.
"Emm ini, siapa Cod?" Tanyanya.
Cody menunggu Rio berpikir, hingga ia agak tidak sabar menunggunya.
"Kau lupa? Ini, mahasiswa yang satu gedung apartemen denganku, Edward"
Rio membesarkan matanya, ia yakin memang pernah melihatnya di suatu tempat.
"Oh Iyah yah? Mereka, satu SMA? Aneh, ia seperti tidak begitu mengenalnya waktu kita tanya"
Cody menaikkan pundaknya tidak mengerti.
"Tahu, mungkin tidak dekat"
Rio masih berpikir keras.
"Yah tetap saja, aneh"
*-*-*-"*-*-*
Menjelang malam.
Riana sudah datang dan akan menginap sejak besok adalah hari Sabtu, ia sudah tidak sabar secepatnya pulang dari tempat kerjanya dan menemani Cody di rumah sakit.
Dokter Dody baru saja selesai memeriksanya dan tinggal Eni perawat yang dengan lembut mengganti perban di pergelangan kaki Cody dan mengganti tabung infusnya dengan yang baru.
"Terima kasih kak Eni, em, apa, aku bisa segera pulang?" Tanya Cody, wanita yang mendekati usia empat puluhan seorang perawat senior di rumah sakit itu tersenyum.
"He kau dengar sendiri kata dokter Dody, luka di kepalamu yang parah, demammu juga masih cukup tinggi, menginap berapa hari lagi saja tidak masalah khan"
Riana baru selesai memotong apel segar yang di belinya untuk Cody. Ia mendekat kembali.
"Memang Cody ini susah diaturnya, kalau kami tidak tiap hari menjenguknya ia pasti sudah kabur"
Eni tertawa kecil mendengarnya, tidak dengan Cody yang memasang wajah cemberut "siapa Ri? Kalian yang selalu merepotkan nempel terus tidak mau pergi"
Riana meraih tangan Cody memegangnya erat.
"Yah donk, pokoknya kami akan nempel terus sama Cody sampai seterusnya"
Melihatnya membuat perawat itu semakin tertawa, dua anak muda di depannya memang menggemaskan, Riana yang penuh kasih, Cody yang acuh, walau ia tahu pemuda itu sangat menikmati gadis itu menempel padanya.
"Hehe kalian ini lucu sekali"
Eni menurunkan tubuhnya mengganti jarum infus di tangan Cody.
"Ini diganti dulu yah, kau terlalu banyak bergerak hingga longgar begini"
"Aww"
Cody merintih saat perawat itu mencabut jarumnya, tangannya memang agak sedikit bengkak, Cody takut dengan jarum, ia harus mengalihkan pandangannya ke arah Riana karena tidak kuat melihat jarum itu menusuk dagingnya. "akh"
+-+-+-+-+-+-