You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Heart



......


“Sreng”


Suara engsel pintu besi dibuka dan ditutup kembali.


Cody tersenyum melihat siapa yang sudah ada di depannya, ia mengunjungi Mila di rumah tahanan pusat kota siang itu.


"Hai Mil" sapa Cody dengan senyum lebar,


Mila, gadis manis itu divonis dua puluh tahun penjara karena terbukti menjadi kaki tangan dokter Dody dan lainnya, juga diketahui ia adalah anak kandung dokter Yunita yang kerap mengikutinya ke mana saja, besok atau lusa mungkin ia sudah akan dipindahkan ke penjara wanita di luar kota, hingga mungkin ini adalah hari terakhir Cody bisa melihatnya di sana.


Wajah Mila tidak lagi seperti dulu, yang terawat layaknya anak gadis seumurannya yang memakai makeup yang menutupi kekurangan kulitnya, ia kini hanya seorang pesakitan, dengan wajah pucat, minim makeup, rambut yang diikat seadanya ke atas, pakaian berwarna biru tua dengan nomor tahanan di dada untuk semua penghuni di sana. Ia tidak bisa mengangkat wajahnya dengan bangga saat melihat Cody kini di depannya, pemuda, yang sangat disukainya, hingga kini.


"Hai Cod"


"Hi Mil, bagaimana kabarmu? aku, dengar soal vonismu, em, waktu dua puluh tahun itu mungkin tidak sebentar, tapi, kau akan bebas setelahnya khan, masih banyak waktu untukmu Mil, jadi, tetap semangat yah"


Mila tersenyum datar, ia mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Cody yang teramat dirindukannya, seorang pemuda yang bersinar dan bisa membuat dunia yang tadinya gelap menjadi sangat terang, itu yang membuat ia sangat menyesali apa yang selama ini ia lakukan, dan rasanya sangat malu karena ia sempat berani menyukai Cody yang jauh di atasnya yang hanya seorang kriminal tanpa hati.


"Cody, maaf yah, terakhir, aku hampir mencelakaimu, harusnya aku tidak melakukan itu, hampir membuat kesalahan paling besar dalam hidupku lagi" Mila menurunkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang kembali turun "ems"


Cody diam, ia berusaha serius, melihat Mila dengan dalam, gadis itu terlihat sangat terluka.


"Mil jangan terus meminta maaf, kau yang menolongku, Riana bilang kalau bukan karena kau yang memberitahu semua mungkin akan sangat terlambat, jadi terimakasih banyak, dan karena itu kau tidak boleh menyerah akan dirimu sendiri, kau bisa jadi orang yang sangat baik Mil, percaya itu yah jangan menyerah"


Mila mengangkat kepalanya kembali, melihat Cody lama, dikeluarkan tangannya yang sejak tadi ada di bawah, menaruhnya di atas meja, mendorongnya hingga ke lubang kecil di bawah kaca di mana ia bisa memberikannya pada Cody.


Cody menaikkan alisnya, melihat benda kecil yang hendak diberikan gadis itu padanya.


"Ini.."


"Sebelum ke sini, aku memohon pada penjaga agar aku bisa memberikan ini padamu, dulu, aku mendapatkannya, dari seorang pria yang sangat baik, beliau sangat baik hingga percaya padaku dengan sepenuh hatinya, walau, pada akhirnya, aku justru membuatnya celaka" ujar Mila.


"Ini sangat penting untukmu khan, kau pegang saja sebagai pemberi semangat"


Mila menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku, tidak pantas mendapatkannya Cod, beliau, memberikan ini, dengan harapan, aku bisa menjadi seorang anak yang baik, tapi,..ems, justru aku sangat mengecewakannya, tolong, jaga benda ini baik-baik, sampai aku keluar dari sini Cod, kumohon"


Cody meraih benda kecil itu, sebuah leontin kecil, dengan bentuk botol kaca di mana ada benda menyerupai gulungan kertas di dalamnya, ada tulisan "heart" di atas kertas berwarna coklat di dalam botol kecil tersebut, ukurannya sekitar satu-dua sentimeter, leontin kecil yang menarik.


Cody tersenyum, meraih benda kecil itu dan mencengkeramnya erat.


"Okay, aku akan simpan ini untuk Mila, saat kau keluar dari sini kau akan mengambilnya kembali khan, itu janji yah"


Mila tersenyum, di balik air matanya yang belum kering ia tersenyum melihat wajah ceria Cody, gadis itu mengangguk.


*-*-*-*-*


Rio melirik ke sekitarnya, ia mengajak Cody ke kamar jenazah melihat mayat pria muda yang ditemukannya dua Minggu lalu dan dinyatakan sebagai kasus bunuh diri. Tapi sesuatu menganggu Rio, membuatnya berpikir kalau kasus itu tidak sesederhana itu. Ada yang mengganjal dan membuat ia curiga, itu menurutnya yang tidak mau melupakannya begitu saja, ditambah lagi pihak keluarga yang masih tidak percaya kalau anggota keluarganya akan melakukan hal seperti itu, membuat Rio tambah semangat.


"Ayo Cod, nanti ada yang datang, cepat" bisik Rio, Cody mengerutkan dahinya, ia sudah kesal saat datang kembali ke kantor tempat duduknya sudah diambil orang lain, ia harus pindah dekat Rio yang menurutnya tidak nyaman, dan belum juga duduk polisi muda bagian forensik itu tiba-tiba menarik tangannya ke sana.


"Rio, tidak ada kerjaan yah, katamu kasusnya sudah selesai kenapa menarikku ke sini, kalau ketahuan Georgie bisa dimarahi loh, beliau khan paling tidak suka ada yang masuk tanpa permisi, Georgie saja sudah bilang ini bunuh diri kita bisa apa di sini?"


Rio melirik beberapa lemari pendingin jenazah di dinding, setelah yakin ia menarik salah satunya.


"Sudah jangan bawel, cepat katakan apa yang kau lihat pada jenazah ini"


Rio menyibak selimut putih yang menutupi tubuh dingin dari lemari yang ditariknya keluar, Cody mendekat, wajah pucat itu, sudah hampir tidak berbentuk, setengah dari wajahnya remuk karena saat jatuh dengan posisi wajah di bawah, banyak luka yang tak terkira membuat pemuda yang usianya tidak terlalu jauh di atasnya itu tewas seketika saat menyentuh aspal.


Ada bercak kehitaman di lengan tepat di bawah ketiaknya, menyerupai pegangan tangan, tapi juga agak samar hingga polisi mungkin tidak cukup yakin juga, ada bekas luka seperti tendangan di dadanya, Cody hendak menyentuhnya, mungkin akan mendapat petunjuk lebih seperti yang biasa ia dapatkan, tapi, suara keras dari pintu mengejutkan keduanya.


"Waaah ada tamu rupanya!"


Beberapa orang masuk melalui pintu, dua polisi muda yang gagah berbadan atletis yang kini sudah berdiri agak jauh di belakang Rio.


Rio menelan ludahnya bulat, ia agak terkejut melihat dua polisi dari team buru sergap sudah ada di sana.


"Eh Rio, lama tidak berjumpa, kau akhir-akhir ini sangat sibuk yah sampai kita cuma bisa bertemu di kamar mayat seperti ini" seru Bryan, polisi muda yang memang sangat gagah, ia polisi sebenarnya, polisi muda yang bekerja di lapangan menangkap penjahat dengan tangannya sendiri, salah satu andalan team sergap yang sebentar lagi mungkin akan naik pangkat sebagai wakil chief karena keahliannya, otot tubuhnya terlihat jelas dari hasil latihan gym dan beladiri hampir setiap hari, benar-benar pemuda yang tangguh.


Dani, rekan yang ikut dengannya menoleh pada Cody yang berdiri mematung di tempatnya, Cody bahkan belum sempat menyentuh jenazah itu.


"Hei ada Cody di sini rupanya! Bryan" seru Dani.


Bryan mendekat pada Cody, meliriknya dari atas kepala hingga kaki.


"Waah Cody yah, senang akhirnya melihatmu, kau tahu tidak Rio ini pelit sekali, berapa kali kami memintanya untuk meminjamkan dirimu tapi ia selalu bilang kau sibuk, memang begitu yah, wah dia manis sekali, pantas saja Rio tidak rela meminjamkannya"


Ucapan Bryan berubah menjadi seperti ledekan saat ia dan Dani tertawa.


"Hehehehe pantas saja yah"


Rio menatap Bryan kesal, ditarik Cody ke arahnya.


"Kau ini kurang kerjaan yah! Ayo Cody kita kembali ke ruangan, kok jadi bau busuk yah di sini yah"


Cody menurut saja saat Rio mengajaknya keluar, sementara Bryan dan Dani masih tertawa meledeknya,


"Hahahaha dia marah Bryan"


+-+-+-+-