
..........
"klek!"
Suara pintu dibuka dari luar, Riana dan Lukas masuk ke dalam apartemen suite milik Cody.
"Hallo Riana datang!"
Seru Riana semasuknya ke dalam, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi hanya ada Hervant yang duduk di ruang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Eh Ri, pagi bener, wah Luk, kok tidak bilang-bilang kalau sudah sampai kita khan bisa jemput di bandara" sambut Hervant. Lukas tersenyum, langsung menjatuhkan dirinya ke sofa empuk ruang tengah, matanya tak habis mengagumi apartemen yang sangat besar ukurannya.
"Waah apartemennya besar sekali yah, opah Cody pasti orang yang sangat kaya yah, ini perabotnya mahal semua ini high class"
Hervant mengangkat pundaknya.
"Tidak tahu juga, sampai sekarang belum bertemu, beliau khan tinggal di luar negeri"
"He, opa yang aneh, ketemu cucu setelah sekian lama bukannya ditemui dulu, apa benar opa kandungnya?"
Di depan pintu kamar Cody, Riana tersenyum geli sendiri, bayangan indah dan sedikit nakal muncul di kepalanya.
Tangannya masih memegang handel pintu kamar.
Dalam mata Riana yang bersinar.
Matahari menerjang masuk melewati tirai. Hari itu Sabtu, tidak ada pekerjaan tambahan di hari Sabtu, hingga Cody masih bisa tidur dengan tenang di ranjangnya yang empuk.
Tentu saja saat itu Riana yang paling senang, ia duduk di samping ranjang Cody, memangkukan dagu nya di atas meja, menatap Cody yang masih tertidur pulas.
Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibirnya yang merah jambu, kulitnya yang mulus dan putih, tidak aneh kalau Cody banyak yang suka, siapapun pasti akan sangat menyukainya.
"Heh Cody kok cakep banget yah" perlahan agar tidak membangunkan Cody, disentuh rambut depan Cody yang sedikit ikal terjatuh di dahinya.
Saat itu, mungkin Riana adalah gadis yang paling beruntung, ia tidak bisa meminta lebih hanya melihat pujaan hatinya tidur dengan nyenyak di depannya sudah sangat membuatnya bahagia.
"Heh Cody"
Tapi,
itu hanya bayangan di kepala Riana saja, karena saat pintu kamar dibuka, ranjang Cody sudah kosong dan rapih.
"loh?"
Nada romantis berhenti tiba-tiba karena bayangan di kepalanya tidak sesuai kenyataan.
Riana keluar kamar dan menghentakkan kakinya di depan Hervant dengan wajah kesal.
"Cody mana? tidak ada di kamar kok gak bilang-bilang?"
Dengan santainya Hervant melihat wajah Riana yang cemberut Ia dan Lukas hampir meledak karena menahan tawa.
"Hehe tadi kau tidak tanya main masuk saja, tidak permisi"
"Yah khan aku sudah bilang sama Cody kalau pagi ini akan datang, ini tuh Sabtu pagi, harusnya khan hari libur, aku saja libur" Riana duduk di samping Hervant dengan wajah merengut kesal.
Lukas menepuk lengan Hervant.
"Iyah Her, ini hari Sabtu, memang tuh anak tidak libur yah?"
Hervant meneruskan pekerjaan di laptopnya.
"Tiba-tiba ada panggilan pagi-pagi, sepertinya kasus lagi, sejak magang di kepolisian, hari Sabtu, bahkan kadang minggu juga dia akan pergi kalau ada tugas"
Lukas meraih camilan kacang goreng di dalam toples di atas meja.
"Loh memangnya tidak capek yah? Sudah anemia begitu, ke sana-ke mari, kalau pingsan bagaimana tuh"
Riana menepuk lengan Lukas.
"Cody itu sehat, kalau ada Riana dia tidak akan sakit donk jangan meremehkan Cody-ku yah"
"Yah aku cemas saja, energinya banyak terkuras, belum lagi selalu didatangi tamu tak diundang, kuliah, kerja magang, heh Cody itu"
Hervant menyadari ucapan Lukas memang sangat benar, ia jadi ingat ekspresi Cody semalam, saat melihat sesuatu di ruang dapurnya, dan itu juga sangat mengganggunya karena tidak tahu bagaimana bisa membantu sahabatnya.
"Heh"
*-*-*-*-*-*-*
Nyala lampu flash beberapa kali berpendar, Cody dengan sangat serius mengambil setiap jengkal photo sebanyak yang ia bisa.
Tubuh dingin seorang wanita muda berpakaian merah ditemukan oleh pejalan kaki tadi pagi, begitu saja terbujur kaku di trotoar di mana banyak pejalan kaki berlalu lalang.
Wajahnya masih lengkap dengan make-upnya hanya kulitnya yang putih berubah menjadi kebiruan pucat dengan mata masih membelalak lebar, seperti kengerian yang masih tersisa di tatapannya yang terakhir.
Sejenak Cody menghentikan gerakannya, wajah wanita itu, sangat jelas dalam ingatannya kalau ia melihat wanita itu terbunuh seperti di depan matanya sendiri. Tapi apa mungkin? Apa ia kini bisa melihat kematian bahkan saat ia tidak mengenal korban sama sekali.
Kepalanya semakin pening, ia tidak bisa memikirkannya tapi tidak mungkin juga tidak menghiraukannya.
Tony yang sejak tadi mengamati Cody mendekat menyentuh pundak Cody yang masih jongkok di depan jenazah dengan posisi diam.
"Cod, eh, kau sudah selesai?"
Sedikit tersentak, Cody mengangkat wajahnya, ia berdiri, tapi terlalu cepat hingga membuat pandangannya gelap sesaat.
"Ach"
Tony menahan tubuh Cody yang sedikit terhuyung.
"hei pelan-pelan, kau terlalu cepat berdiri, tidak apa-apa khan?"
Cody menggeleng tersenyum pada Tony yang menatapnya cemas.
"He thanks Ton, hanya sedikit lapar mungkin"
Rio mendekat cepat.
Tony mengangguk "siap bos"
Rio menoleh pada Cody.
"Hai Cod, eh apa kau sudah selesai? Aku mencari tahu tentang kamera cctv di sekitar dan ada satu tapi agak jauh, hmm" Rio berputar melihat sekitarnya.
Cody melihat mayat di depannya, wajahnya terlungkup dengan darah yang hampir mengering di bawah tubuhnya.
Seorang wanita dengan penampilan yang sama berdiri di antara kerumunan, hanya diam melihat tubuhnya yang kaku dan mengangkat kepalanya melihat Cody, ia seperti menyadari kalau Cody bisa melihatnya.
"Ini sepertinya perampokan Rio, tasnya tidak ada"
Menyadari ucapan Tony, Cody ingat jelas kalau dalam mimpinya pria yang membunuh wanita muda itu berlari ke arah gang di seberang jalan, tanpa menunggu ia bergegas ke arah jalan raya.
"Mau ke mana dia?" Tanya Tony menunjuk Cody yang menyebrangi jalan.
Seperti tidak menyadari hal lain, Cody hanya berjalan lurus menyebrangi jalan tanpa melihat kanan kiri.
Kendaraan yang berlalu lalang tidak padat tapi ada saja yang lewat, dan itu sangat berbahaya pikir Rio.
"Cody!" Seru Rio.
“Brummm!”
Hampir saja sebuah sepeda motor menyerempet Cody kalau bukan karena seseorang menariknya cepat.
"Hei hati-hati!"
Seperti gerakan lamban, orang itu menarik Cody cepat ke arahnya melindunginya dari motor yang melesat cepat.
Cody tersadar, ia kembali ke dunianya saat ini, pemuda itu menahan tangannya erat setelah menyelamatkannya dari kecelakaan yang mungkin bisa terjadi kalau bukan karena ia sigap.
"Eh, terima kasih"
Pemuda itu tersenyum, dilepaskan pegangannya.
"Jangan melamun begitu, kau tidak apa-apa khan"
Cody menggelengkan kepalanya, pandangannya masih ke arah tong sampah besar di gang antar gedung.
Rio dan Tony sudah mendekat.
"Cody, kau tidak apa-apa khan? Sejak tadi kau linglung begitu, kalau bukan karena dia tadi kau sudah diserempet motor" ujar Rio menunjuk ke arah pemuda tinggi yang masih berdiri di belakang Cody.
Cody menunjuk ke arah tong sampah besar yang tertutup di depannya.
"Eh, kurasa, tas wanita itu ada di sana, pembunuh membuangnya di sana semalam"
Rio, Tony, bahkan pemuda itu diam, seakan tak mengerti apa maksud ucapan Cody, tapi ekspresi Cody yang serius membuat Rio jadi berpikir.
"Hmm bagaimana kau bisa seyakin itu Cod" sambil bicara Rio mendekati tempat sampah besar tersebut, dibuka tutupnya, belum juga selesai melanjutkan ucapannya ia terdiam, Tony berseru saat menoleh ke dalam tempat sampah.
"Ada! A ada tasnya di dalam! ini, punya dia Cod? Ba bagaimana eh.."
Tony kehabisan kata-kata, ia dan Rio saling berpandangan, dan melihat Cody yang masih memasang wajah seriusnya.
Tony yang seakan tidak percaya mengeluarkan isi tas ukuran sedang berwarna merah tersebut, ada dompet panjang di mana kartu pengenal wanita itu langsung muncul di dalamnya.
"Rika Reyes, ini, orang yang sama khan Rio?"
Rio menahan nafas sejenak, sesekali masih melihat wajah Cody.
"Waah, kau ini hebat sekali, kok bisa tahu yah" seru Tony.
Rio mendekati Cody, menarik tangan Cody agak menjauh dari keramaian, keduanya berhenti tak jauh di dekat kendaraan forensik yang diparkir di pinggir jalan.
"Apa?" Tanya Cody,
"Entahlah, aku juga tidak tahu, apa, ada yang ingin kau katakan padaku? Soal, apapun itu Cod"
Cody mengerutkan dahinya,
"Em, soal apa Rio?"
Rio menarik nafas panjang.
"Nanti kita akan ada pembicaraan serius di kantor, jangan lupa itu" ia bergerak kembali ke arah TKP meninggalkan Cody yang justru masih tidak mengerti maksud Rio.
Walau demikian, Cody terdiam, wanita yang dikenal sebagai Rika itu, muncul di depannya kini sebagai arwah yang terikat, wajahnya gelap, darah yang memenuhi pakaiannya, hampir semuanya merah, kondisinya persis sama dengan tubuhnya yang terletak di jalan saat ini.
"Tolong, aku" suaranya yang berat terdengar jelas di telinga Cody, ia tidak mungkin bisa mengabaikannya.
"Kau, kenal siapa pelakunya?" Tanya Cody, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tapi, ada, bau yang tidak mungkin bisa ku lupakan dari orang itu, bau yang sangat kuat"
Cody mengerutkan dahinya "bau?"
Wanita itu mengangguk "Iyah, aku, tidak tahu kenapa ia membunuhku, tapi, mungkin, semua ada hubungannya dengan paket itu, aku, baru mengambilnya sore, bahkan, belum melihat isinya, pengirimnya, adalah sahabatku yang sudah lama meninggal"
Paket dari seseorang yang sudah meninggal? Tapi bagaimana? Pikir Cody.
Wanita itu menunjuk ke arah Tony yang tengah memegang bungkus plastik di mana tasnya dimasukkan sebagai barang bukti.
Sejenak Cody masih berdiri di depannya, sesekali Rio menengok ke arahnya mengecek apa ia masih ada atau tidak, dan saat Cody membalikkan kepalanya, wanita itu sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi.
"Eh, Rika"
Ia sudah menghilang.
^^^Arwah yang terikat, ia yang baru saja keluar dari tubuhnya karena kematian spontan seperti kecelakaan, atau pembunuhan, dan dari pengalaman Cody selama ini, mereka bisa bertahan beberapa lama di dunia ini, untuk Rika mungkin akan ada waktu di mana ia bisa muncul untuk berapa kali sebelum akhirnya ia bisa pergi, atau jika tidak, arwah yang terikat akan terdampar, di mana ia akhirnya akan tertinggal di dunia dan menjadi arwah penasaran.^^^
+-+-+-+-+-+-
Women In Red