
.......
Tony menaruh tumpukan file ke atas mejanya.
"Brukk!"
Terlalu tebalnya hingga mengeluarkan suara keras saat diletakkan.
"Heh kerjaan yang membosankan"
Ditarik kursi "krekk!!" Dan duduk di atasnya.
Rio mendekat.
"Waah, banyak sekali Ton, ini laporan yang kata pak Gus belum kau periksa yah?"
Tony mengangguk "Iyah yang mana lagi, pak Gus bilang mumpung tidak ada kasus lapangan jadi semua data ini sudah harus selesai dalam minggu ini, tanpa terkecuali!"
Rio duduk di kursinya, menahan tawa melihat wajah Tony yang cemberut.
"He yah kalau tidak ada kasus lagi yah, hari ini masih panjang"
Menyadari itu Tony menaikkan kepalanya, mengerutkan alisnya dalam.
"Hemmh, Iyah yah Rio, apa, kau tidak menyadari, sejak ditemukannya jenazah pak Richard, semua kasus seolah berhenti total, tidak ada lagi mayat yang jatuh dari langit, mayat yang ditusuk, mayat dalam koper, kok, tiba-tiba menghilang yah"
Mendengar itu Rio mengangkat wajahnya, ia juga sebenarnya sempat berpikir ke sana juga, tapi ia juga berpikir mungkin tidak terlalu aneh, penjahat juga butuh liburan, pikirnya santai.
"He, Iyah memang aneh, tapi itu pertanda bagus khan, siapa tahu memang orang-orang sudah mulai insaf, nikmati saja Ton"
*-*-*-*-
Waktu menunjukkan pukul satu siang, saat Tony mengangkat kepalanya dan melihat Cody yang masuk melewati pintu.
"Hai Cod! Sudah selesai kuliahnya?" Tanya Tony.
Rio melirik Cody dari atas kepala hingga bawah kaki, malah membuat Cody mengerutkan dahinya, Cody memang cukup manis, untuk ukuran anak laki-laki ia seperti anak gadis yang imut, wajah yang manis, kulit yang putih bersih hingga pipinya yang memerah karena kepanasan, bibir yang penuh merekah, gigi kelinci yang sesekali muncul kalau ia tersenyum, walau ia jarang tersenyum pada Rio, menyadari itu Rio cepat-cepat mengalihkan pandangannya sambil menelan ludah bulat.
"Kenapa? Melihat seperti itu?" Tanya Cody risih.
"Ehemm kakimu sudah tidak apa-apa? Kata dokter apa?" Tanyanya mencairkan suasana, Cody menaruh tasnya di atas meja dan duduk di kursinya, walau ia merasa Rio memang terlihat gagap seperti habis melakukan kesalahan, ia menghindari pandangannya.
"Tumben perhatian"
Suasana kantor divisi crime scene investigasi tidak begitu ramai siang itu, hanya beberapa staf lapangan termasuk Rio dan Tony dan lainnya sibuk berada di ruangannya masing-masing.
Divisi itu memang kurang populer dibanding divisi lain seperti bagian pencurian, perdata seperti laporan kehilangan yang banyak di kenal warga di ruang depan.
"Katanya sudah tidak masalah, hanya tidak boleh terlalu dipaksakan saja, yah untuk sementara mungkin tidak boleh main basket, atau kejar penjahat lagi seperti terakhir" Cody duduk dan menaruh peralatan seperti laptop dan tas di tempatnya seperti biasa.
Rio menepuk pundak Cody,
"Yah memang seharusnya kau tidak ikut-ikut kejar penjahat, itu bukan wilayahmu Cod, ingat itu lain kali"
Cody mengerutkan dahinya, teringat sesuatu.
"Lalu, apa, penjahatnya sudah dipastikan memang itu orangnya?"
Tony menunjuk ke arah papan putih di mana banyak photo milik tersangka, juga korban dipajang di sana.
Cody berdiri dari duduknya dan mendekat, seperti mengenali salah satu photo di papan. Wajah yang pernah dilihatnya sesaat sebelum ia ditabrak pelaku. Ia menunjuk photo itu dan menoleh pada Rio.
"Eh, dia korban juga yah? Aku sudah menduga karena melihatnya di depan gedung saat itu, yang aku bilang ada orang yang berdiri di sebrang itu loh"
Rio berdiri dari duduknya, ia mendekati papan dan mengerutkan dahinya melihat photo siapa yang ditunjuk Cody.
Ia dan Tony saling berpandangan sejenak.
"Eh Cod, kau yakin tidak salah lihat, tidak mungkin dia yang kau lihat di depan gedung itu"
"Eh siapa yang dilihat? Rio kalau memang pria itu yang dilihat Cody berarti benar donk dia khan pelaku tabrak lari itu"
Rio menoleh pada Tony, Tony mungkin tidak mengerti dengan maksud Cody yang 'dilihatnya'
Ia kembali menatap Cody, pemuda itu mengangguk.
"Iyah dia, aku lihat jelas Rio, memang kenapa?"
Rio mengambil photo itu, seorang pria, di papan jelas tertulis di bawah photo sebagai 'Tersangka'
Cody mengerti hal itu, ia menurunkan tangannya kembali.
"Eh, maksud kalian, dia yang kalian temukan di mobil, yang katanya habis terbakar itu?"
Rio mengangguk "yups, dia, dia tersangka, yang ditemukan tewas di mobil yang dipakai untuk menabrak mu Cod, apa kau benar-benar yakin ia yang kau lihat saat itu?"
Cody mengerutkan dahinya. Ia berpikir keras. Perlahan ia duduk di kursinya.
"Tapi kalau dia yang ku lihat saat itu, lalu, yang membawa mobil siapa Rio? Tidak mungkin khan, orang yang sudah meninggal..eh"
Ucapan itu juga membuat Rio berpikir keras. Sesuai dengan perkiraannya, kasus ini memang jauh dari kata selesai.
Tony yang seakan tidak diikut sertakan dalam pembicaraan menggaruk kepalanya, ia jadi bingung dengan apa yang dua orang di depannya bicarakan.
"Eh guys, apa, kalian mau memberi pencerahan padaku? Kok, aku merasa gak nyambung yah?"
*-*-*-*-*-*
Malam datang dengan cepat.
Lewat tengah malam.
Nyala cahaya senter dari ponsel terlihat disela-sela pergudangan yang sudah tua dan terbengkalai. Tidak ada lampu di sana yang masih berfungsi hingga kondisi benar-benar gelap gulita, semakin mencekam karena suara hewan malam terdengar seakan itu adalah daerah perhutanan yang jauh dari jangkauan manusia.
Tiga orang, mengendap masuk semakin dalam ke pergudangan yang terletak agak jauh di pinggir kota. Dua wanita muda dan seorang pria muda, sang pemuda membawa sebuah kamera pocket merekam peristiwa dalam videonya, mereka mungkin sedang uji nyali, tidak mungkin tanpa sebab tiga anak muda itu berjalan-jalan di sana karena iseng.
"Katamu di sini seram, ini tidak ada apa-apanya, kurang seram ach" bisik salah satu gadis yang berjalan paling depan setelah pemuda yang memegang perekam video, ia Emili. Gadis di belakangnya memukul lengan Emili agak keras.
"Apanya yang tidak seram? Ini sudah mencapai puncak kau ini, sudah ach aku nyerah saja dech guys" ia Donna, dan pemuda paling depan adalah Teddy, ketiganya merupakan mahasiswa salah satu universitas di tengah kota.
Memang tujuan mereka ke sana tidak lain adalah untuk uji nyali, Teddy yang ceritanya memiliki vlog yang membahas tempat-tempat angker di kota dan salah satu tujuan mereka malam ini adalah gudang tua yang sudah hampir setengah abad tidak beroperasi, kabarnya anker karena banyak yang mengaku melihat penampakan di sana.
Donna menempel pada Emili yang semakin risih dengan tingkah penakut gadis itu, menurut dirinya yang sangat pemberani.
"Sudah tenang, tidak akan ada yang menganggumu selama kita ada di sini, Ted di depan sepertinya ada pintu lagi, ayo kita ke sana"
Perekam video Teddy terarah ke pintu rusak tertutup sedikit terbuka agak jauh di depan mereka.
"Yakin mau ke sana? Donna pegangan yang erat yah, siapa tahu ada yang loncat keluar"
Donna memukul pundak Teddy keras "acch Teddy mah, jangan menakuti orang begitu dech!"
Suara burung malam, atau mungkin musang, atau entahlah, pikir Donna yang gemetar memegang erat pakaian Emili.
"Ich Donna jangan keras-keras pegangannya kamu tuh berat tahu gak?"
Teddy menggeser pintu perlahan.
"Prangg!!"
Ketiganya meloncat kaget mendengar barang jatuh begitu keras tepat saat pemuda itu mendorong pintu.
"Apa itu?" Terutama Donna yang semakin menempel, ia mungkin akan mengompol di celana sebentar lagi karena ketakutan setengah mati, entah kenapa ia ikut dua sahabatnya uji nyali ke sana sejak awal, padahal ia bukan tipe pemberani dan penasaran hingga mau melakukan hal seperti uji nyali ini.
+-+-+-+-+-