You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
In The Rain...



.........


Hujan turun hingga membuat genangan di beberapa tempat.


Garis polisi sudah dipasang, setelah pencarian selama seharian akhirnya team Gus, Rio dan Tony berhasil menemukan lokasi Richard hilang, lebih tepatnya, dibunuh.


"Shaaaah!"


Hujan turun sangat deras sore itu, menjelang gelap jadi polisi bersama team SAR sudah harus bekerja ekstra cepat sebelum kehilangan cahaya alami mereka.


Rio dan Tony di balik payung besar melihat evakuasi jenazah yang ditemukan di dasar dermaga.


"Drap drap drap!"


Suara hujan mengenai payung keras, seolah butiran yang sangat besar benar-benar dijatuhkan sebanyak-banyaknya.


Bukan hal aneh kalau tidak ada yang menemukannya setelah dua tahun karena dermaga itu sebenarnya sudah ditutup untuk umum dan penggalangan kapal muatan sejak dua tahun lalu, dan dikarenakan kondisi dermaga yang sudah cukup rapuh kegiatan pengangkutanpun dipindahkan ke sisi lain, hanya kebetulan saja Cody pernah melintas sekali di sana.


Mereka berhasil menemukannya karena Cody melihat nama kapal terakhir yang berlabuh dua tahun lalu di sana, kapal angkut Alily yang juga berhenti beroperasi dan merapat sejak dua tahun lalu karena mengalami kebocoran.


Rio hanya menarik nafas panjang.


Dua tahun, kasus orang hilang yang kemudian dilimpahkan pada team mereka karena ini berubah menjadi kasus pembunuhan.


Dan kasus yang hampir dipeti-eskan itu, berhasil dipecahkan oleh Cody, lewat mimpinya, semua ini, masih di luar pemikiran Rio sebenarnya.


"Heh dua tahun.."


Tony mengerti hal itu, mereka berdiri mengambil nafas sebentar saat regu pencari berhasil mengangkut seonggok jenazah dengan bantuan alat berat crane, jenazah yang sudah menjadi tulang berbalut pakaian dari dasar dan menurunkannya di tepian.


Gus mendekat.


Ditepuk pundak Rio bangga atas kerja keras anak buahnya.


"He kalian hebat! ini akan jadi topik bulan ini, kasus yang bagian orang hilang tidak bisa dipecahkan bisa kalian selesaikan dengan cepat, kalian akan dapat poin ganda bulan ini" ia berbicara seperti itu dan lalu bergerak mendekati jenazah.


Rio dan Tony saling berpandangan, keduanya tahu ini bukan hasil kerja keras mereka, kalau bukan karena Cody, mereka juga tidak akan bisa berpikir sampai ke sana, memikirkan itu keduanya menarik nafas panjang bersamaan "heh"


*-*-*-*-*-*


Hujan turun sangat deras.


Cody berdiri diam di tempatnya.


Tanpa memperdulikan air hujan dan petir yang mengguncang hingga menyebabkan langit berpendar beberapa kali.


Ia berdiri di bawah air hujan yang turun tak terbendung, berteduh di bawah payung lebar berwarna merah, sekitarnya gelap, walau demikian Cody terlihat cukup jelas di bawah remang lampu gantung yang sedikit bergoyang tertiup angin.


Seonggok tubuh yang tinggal tulang berbalut pakaian yang telah usang, yang telah diangkat dan di letakkan di pinggir dermaga perlahan menjelma, tak lama hingga berubah menjadi sosok seorang pria dewasa dengan wajah tampan dan senyum lebar menghiasi wajahnya, ia pak Richard, pikir Cody.


Wajah pria itu bercahaya, tersenyum sangat indah. Ia tak lebih dari seberkas cahaya yang membentuk bayangan Richard dulu semasa ia hidup.


"Cody, Terima kasih, kau membuatku bisa pergi sekarang"


Cody tersenyum, pria itu Richard, yang memang terlihat sangat baik dan kharismatik seperti apa yang dikatakan istrinya.


Akhirnya, ia bisa kembali utuh, ia bisa melanjutkan perjalannya untuk selanjutnya setelah ini.


"Apa, anda tidak akan kembali, ke rumah anda?"


Richard menggeleng.


"He, mungkin, tidak akan bisa, selama ini, aku sudah berusaha kembali tapi tidak bisa, dan aku, juga sudah merelakan mereka, heh maaf, karena akhir-akhir ini membuatmu susah, saat melihatmu di sini waktu itu aku selalu berusaha untuk muncul di depanmu tapi tidak bisa, sekuat apapun aku berusaha berbicara denganmu tapi tidak bisa, yang ada justru malah menyakitimu"


"Sekali lagi terima kasih Cody, kau, sangat baik, terima kasih untuk semuanya" dan akhirnya perlahan ia pun menghilang, bersama dengan air hujan yang berbaur dengan cahaya yang terang, ia sudah bisa melanjutkan perjalanannya, yang mungkin baru dimulainya.


Cody lega, seakan, semua tekanan yang ada di dadanya hilang, tiba-tiba menjadi sangat ringan, sakit kepalanya juga sudah jauh lebih baik, ia tidak merasakan semua kesesakan itu kembali.


Selama ini Richard selalu ada di sampingnya. Telinganya yang berdengung karena pengalaman Richard saat peluru menembus tempurung lututnya, ia merasa sesak nafas karena Richard yang mendesak berusaha berkomunikasi dengannya, semua pengalaman tidak menyenangkan yang selama ini Cody alami adalah milik Richard.


Karena perbedaan alam, Richard yang tewas di dalam air, membuat ia tidak bisa memunculkan dirinya secara utuh di depannya, mungkin, juga karena beberapa hal lain yang masih jadi misteri.


Apapun itu, Cody kini bisa jauh lebih lega.


Ia bisa melihat pria itu pergi dengan tenang pada akhirnya, semoga saja.


Suara hujan semakin deras, dan sepertinya belum akan berhenti walau genangan air sudah terbentuk di mana-mana.


*-*-*-*-*


Suara gemericik air.


.


Sentuhan yang hangat.


.


Jari-jari yang menyentuh pipinya lembut.


Cody membuka matanya, sekilas matahari menyilaukan matanya, tapi perlahan saat ia menoleh ia bisa melihat wajah Riana terbentuk di depannya.


Gadis itu tersenyum menyambutnya.


"Pagi Cody sayang" lembut, Cody merasa handuk kecil yang tadi dicelupkan ke dalam air hangat itu mengenai kening dan juga wajahnya, setidaknya bisa membuat ia sedikit lebih nyaman.


Gadis itu terlihat sangat bercahaya dan indah.


"Ri"


Riana tersenyum, sejak pagi ia sudah duduk di sana seperti biasa. Membasuh kening dan wajah Cody yang berkeringat dengan penuh cinta, tidak ada yang sangat menikmati apa yang ia lakukan seperti dirinya saat ini.


"Cody sudah baikan? Syukurlah panasnya sudah turun, dokter bilang sudah tidak ada masalah, Cody bikin orang cemas saja, kau sudah tidur dua hari dua malam"


Cody lelah, rasanya tubuhnya remuk menjadi satu dengan ranjang, tak bisa bergerak, berat sekali.


Namun, walau masih terasa sangat tersiksa karena demamnya tapi Cody tahu Riana selalu ada di sisinya selama ini, ia yang selalu menggenggam tangannya, membelai wajahnya saat ia penuh peluh, membuat semua menjadi lebih baik.


Gadis cantik yang sangat menyayanginya lebih dari dirinya sendiri.


Pipinya mulai agak tirus, pikir Cody, mungkin karena berapa hari ini tidak memperhatikan gadis itu.


"He maaf yah, sudah membuatmu repot"


Riana tersenyum, pasti karena panasnya yang tinggi ucapan Cody belum ada yang serius, pikirnya, diangkat tangan Cody dan membasuhnya, lalu menggenggam telapak tangan besar itu erat, ia yakin, selamanya tidak akan pernah melepaskan tangan itu, walau Cody mendorongnya sekeras apapun ia akan tetap di sana.


Cody memejamkan matanya kembali, ia terlalu lemah, entah karena pengaruh obat atau memang karena demamnya, semua seperti terus bergoyang, ranjang yang ditidurinya juga seperti bergoyang pelan layaknya perahu.


"Heh Ri" dibalas genggaman Riana erat, berusaha memejamkan matanya, walau di pojok ruangan samar ia bisa melihat beberapa bayangan hitam melihat lurus ke arahnya, menunggunya, hawa gelap mereka seakan tidak pernah pergi, beberapa mungkin sudah terlalu lama berkeliling hingga energi yang di keluarkan semakin gelap dan berat.


Dalam sekejap, sesosok gadis, merundukkan kepala melihat Cody dekat, membuatnya sangat terkejut namun tak bisa berbicara apapun karena kelelahan yang membuat matanya sangat berat.


"Tolong kami" suara terakhir yang masih sempat didengar Cody sebelum matanya tertutup rapat kembali lelah.


+-+-+-+-+-