You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Extra : Malam Halloween



......


"Buk buk buk!"


"Berhenti!"


Rio lewat, ia dan Tony sibuk mengejar maling, lagi, akhir-akhir ini banyak pencopet yang berkeliaran di jalan, tentu saja ini malam Halloween, walau tidak begitu banyak yang turun ke jalan tapi suasana libur membuat banyak anak-anak hingga orang dewasa kadang memakai kostum yang aneh dan berjalan di taman dan sekitarnya, dan kebetulan malam ini memang sedang acara di pusat keramaian agak jauh di tengah kota, dekat pusat perbelanjaan di mana Rio kebetulan sedang patroli, dan Cody juga sedang kencan bersama Riana dekat-dekat sana.


Rio berhenti saat melihat Cody berdiri di pinggir jalan.


"Cody, jangan berdiri saja bantu kejar tuh copetnya!"


Cody melirik pria muda yang sudah lari cukup jauh di depan Tony yang masih sangat bersemangat mengejarnya.


"Sudah ada Tony, lagipula aku khan bukan polisi, buat apa ikut-ikut"


Rio kelelahan, diraih gelas jus di tangan Cody dan menyeruputnya,


"Rio"


"Duh enaknya, awas saja tuh copet kalau tertangkap, habis saya cubit nanti"


Setelahnya Rio meneruskan larinya menyusul Tony, suasana trotoar yang cukup ramai sempat membuat pelaku kerepotan menghindar hingga ia mungkin tidak bisa terlalu cepat berlari.


Cody menggelengkan kepalanya, dalam sekejap Rio menghabiskan jus dinginnya, tak lama Riana yang selesai mengantri makanan di pinggir jalan mendekat.


"Itu Rio yah?"


Cody mengangguk.


"Yah biasa"


Tak lama beberapa orang mendekati Cody, salah satu di antaranya seorang gadis yang mengenakan pakaian putih panjang, di ujung gaun putih yah modelnya sudah agak tua itu kemerahan seperti berlumur darah, kostum yang bagus menyerupai aslinya, pikirnya.


Ia melihat Cody dengan mata diam, mungkin mengenakan kontak lensa berwarna putih hingga tampak seperti asli, sungguh menakutkan.


"Permisi, saya mau tanya jalan Rose Garden 5 yang mana yah? Saya sudah putar-putar tidak ketemu" tanya gadis itu.


Cody mengerutkan dahinya berpikir sebentar, lalu ia menunjuk ke arah jalan di depannya.


"Ikutin jalan ini, belok kiri lalu lurus saja ada plang jalannya di sana, tinggal cari nomornya"


Gadis itu seperti mengikuti arah petunjuk Cody, ia mengangguk dan berlalu pergi.


"Yah sama-sama" senyum Cody membalas lambaian tangan gadis itu, tak lama seorang anak kecil dengan kostum anak sekolah dengan luka di kepalanya juga mendekat, ia ikut melambaikan tangannya pada Cody.


"Bye"


Riana mengerutkan dahinya, ia merunduk melihat wajah Cody yang berseri-seri melihat ke bawah.


"Emm Cod, senyum sama siapa?" Tanya Riana.


Cody menunjuk pada rombongan yang melewatinya, dua orang dewasa dan seorang anak kecil yang lucu, ketiganya memakai kostum yang sangat menyerupai aslinya, sangat meyakinkan sekali, mereka mungkin akan mengikuti festival di pusat kota.


"Itu, mereka sepertinya mau ada acara, seru sekali"


Riana mengikuti arah tangan Cody, tapi ia mengerutkan dahinya, tidak ada siapapun di depan mereka, bahkan jalan mulai sepi karena pejalan kaki mulai berkumpul di tengah kota, lalu, Cody bicara dengan siapa, Riana merinding, ia mendekati pemuda itu merapat dan menahan tangannya.


"Cod jangan bercanda donk, tidak ada orang di sana, memangnya, benar ada yang lewat yah?"


Cody gagap, sosok orang itu ada di sana, berjalan agak jauh di depannya, dengan anak kecil yang masih kerap menoleh ke arahnya, tapi Riana tidak melihatnya sama sekali.


"Eh itu, di depan Ri, benar tidak lihat yah, ada ibunya, lalu bapaknya, bajunya sih biasa saja tapi ada darah di kepalanya, tadi bapaknya kalau tidak salah juga tangan kanannya seperti agak mengantung gitu penuh darah, ibunya kepalanya mengeluarkan darah dengan salah satu matanya seperti hampir keluar gitu, lalu anak kecilnya sih biasa saja cuma ada darah di kepalanya, make-upnya seperti asli loh keren"


"Achh Cody mah itu bukan make up, itu beneran kali ach!" Seru Riana merinding merapat kian dekat dengan Cody.


"Masach sih RI, pantas itu tangannya kenapa bisa menggantung begitu yah hebat sekali"


"Sudah ach Cody aku gak mau dengar!" Riana menyingkir pergi sambil menutup telinganya.


Cody menyusulnya.


"Tadi juga ada gadis yang memakai baju putih panjang bertanya soal jalan, kau tidak lihat juga Ri?"


"Sudah Cody ach!"


"Ri!"


Jalan semakin ramai, manusia yang hidup dan arwah seakan berkumpul menjadi satu, bahkan di malam yang kian larut dan gelap demikian Cody yang berlari mengejar Riana terlihat sangat berkilau, beberapa mata gelap dan kemerahan menatapnya lekat dan tajam, mengikuti setiap langkahnya.


"Whooooohh"


...Gelap malam, mungkin akan menghilang seiring matahari yang datang keesokan harinya, tapi, gelapnya hati, mungkin tidak akan pernah menghilang begitu saja....


...Continued on Vol.2...