You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Glow like Diamonds



...........


Rio melihat coretan di papan putih di depannya, Tony sudah menyusun beberapa petunjuk untuk kasus mereka, photo-photo korban dan barang bukti, hanya wajah pembunuh yang belum diketahui, disusun dengan sedemikian rupa untuk memudahkan penyelidikan mereka.


"Jadi semua seperti pembunuhan berantai yah? Saling berhubungan begitu?" Tanya Tony, Rio menyenderkan pundaknya ke kursinya.


"Heh bisa jadi, tapi, apa hubungan Irsan ini dengan dua korban pertama, kalau dengan Rika memang sedikit ada hubungan karena bergabung dengan country klub yang sama, tapi apa yah hubungannya dengan paket yang dikirimkan untuknya?"


Tony mengamati selembar kertas tanda terima yang dimasukkan ke dalam plastik barang bukti di tangannya kini.


"Ini dari Jodi, pria ini ditemukan tewas bulan lalu saat memancing di tengah laut, katanya sih karena sakit jantung, hmm"


Rio menarik nafas panjang.


"Orang-orang ini saling berkaitan, tapi hubungannya apa? Itu yang hilang"


"Besok pagi kau coba pergi ke kediaman korban Jodi, cari tahu apa yang mereka ketahui soal paket yang dikirim ke Rika, siapa tahu mereka mengetahuinya" lanjut Rio.


Tony mengangguk "oke, di sini sih cuma tertulis aksesories" ia menunjuk pada lembar kertas tanda terima kurir di tangannya.


"Yah aku malah curiga ada yang lebih besar dari sekedar aksesories, mana ada orang yang akan membunuh hanya karena aksesoris biasa"


Mendengar ucapan Rio, Tony seperti tersadar, ia menatap Rio yang sudah menatapnya dengan mata besar.


"Maksudmu, bisa jadi.."


Rio mengangguk "yah siapa tahu"


Saat keduanya masih asik menebak dan berpikir, Anna mendekat dengan membawa lembaran kertas hasil laboratorium.


"Rio, hasilnya sudah keluar" gadis manis berambut ikal panjang itu menyerahkan kertas hasil ke tangan Rio yang sudah terjulur di depannya, tak lama setelah membacanya, diserahkan laporan itu pada Tony.


"Ini apa Rio?"


"Berlian itu, entah bagaimana tapi menurut Cody kalau lebih dari setengah isi kantong itu tidak semuanya adalah berlian asli, dan tenyata benar"


Anna melanjutkan.


"Isi limapuluh butir hanya ada lima yang merupakan berlian asli, masing-masing berlian ada trademark penjualnya dan tebak, siapa pemiliknya"


Rio dan Tony melihat Anna seksama, menunggu gadis manis itu melanjutkan ucapannya,


"Loh kok diam, ayo dong tebak"


Rio menatap tajam pada Anna dan menyentil kening gadis muda itu "ayo cepat jangan membuat orang menunggu"


"Aww sakit Rio"


Anna cemberut, Rio memang menyebalkan, pikirnya karena tidak bisa membuat rekannya itu mengikuti permainannya.


"Kalian ini memang tidak asik, Rio kau harusnya menebaknya donk"


Rio mengangkat tumpukan file hendak menghempas pundak gadis itu tapi Anna menghindar cepat "ichh"


Anna tersenyum geli "hehehe, ini" Anna menyerahkan selembar kartu yang sejak tadi ada di kantong jubah labnya.


Rio dan Tony melihat kartu itu bersamaan.


"Apa ini? Glow and Shine co? Apa itu?" Tanya Tony.


Anna menahan nafas melihat dua pria muda di depannya, ia agak kesal sebenarnya, harusnya keduanya mengatakan sesuatu yang lebih dari kata apa itu, kenapa bisa tidak tahu? Atau hanya pura-pura saja? Pikirnya mengerutkan dahinya.


"Kalian pasti tidak pernah punya pacar jadi tidak tahu apa itu Glow and Shine Co"


Rio dan Tony menatap Anna, keduanya menggeleng bersamaan.


"Heh payah deh" hesah Anna.


*-*-*-*-*-*-*


Cody berjalan di belakang Rio, ia baru selesai kelas siang itu dan Rio mengajaknya keluar untuk mencari informasi soal kasus mereka.


"Aku khan bukan detektif Rio buat apa mengajakku segala, kau ini" wajahnya terlihat agak kesal dengan alis yang mengkerut karena Rio mengajaknya walau tidak ada kasus baru, mereka memasuki salah satu mall besar di pusat kota.


"Tidak apalah Cod, kata Gus boleh mengajakmu kau juga sudah selesai kuliah khan? aku tahu sebentar lagi libur daripada nganggur di rumah"


"Siapa yang menganggur, aku banyak kegiatan tahu" protes Cody, keduanya berhenti di depan sebuah toko perhiasan mewah, Glow and Shine.


Toko yang sangat berkilauan dari luar itu sesuai dengan namanya, dekorasi exterior dan interior yang mewah seketika tampak walau dari jarak jauh sekalipun, kalau tidak memiliki dompet yang tebal tidak ada orang yang berani masuk ke sana sekedar melihat-lihat, bukan tempat semacam itu.


Seorang penjaga pintu toko perhiasan mewah itu tadinya tidak ingin membuka pintu untuk Rio, tapi saat melihat tanda pengenal yang ditunjukkan Rio, pria muda itu mau tidak mau melebarkan pintu untuknya


"Silahkan pak"


Rio tersenyum sinis "terima kasih"


Beberapa penjaga toko melihat Cody dan Rio dengan mata waspada, dua orang dengan penampilan sangat biasa saja, pakaian keduanya juga tidak mencolok, sama sekali.


Rio menyadarinya hingga dikibaskan tangannya membersihkan jaketnya yang sedikit kena debu saat meringkus copet tadi pagi.


"Ach harusnya kita ganti pakaian yah tadi" bisiknya.


Cody dengan kaos putih, celana jeans sobek gaul layaknya anak muda pada umumnya "he kau tidak bilang akan ke sini tadi" bisik Cody kembali.


Rio berhenti di depan counter, dua wanita cantik di balik counter menyambutnya ramah, walau bagaimanapun toko yang sangat terkenal karena barang-barangnya yang sangat berkelas dan mahal Glow and Shine co harus menunjukkan pelayanan mereka yang maksimal, walau pelanggan yang datang adalah Rio dan Cody sekalipun.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"


Rio tersenyum, dikeluarkan tanda pengenalnya "Kami dari kantor polisi pusat, em, kalian, menjual berlian dalam bentuk butiran juga yah?" Tanyanya langsung tanpa basa basi, dua petugas itu sejenak saling berpandangan bingung dengan pertanyaan Rio.


"Em, maksudnya apa pak? Anda ingin beli berlian butiran?" Tanya wanita di depan Rio.


Rio melihat petugas itu sejenak, hingga dirogoh saku jaketnya dan mengeluarkan plastik bening kecil berisi sebutir berlian kecil.


Tak lama kemudian, Rio dan Cody sudah duduk di ruang manager, seorang pria sebaya dengan rambut yang hampir memutih semua, bukan karena umurnya karena Cody masih berpikir pria di depannya tidak terlalu tua, ia necis dan wangi parfum importnya tercium jelas mendominasi ruangan kerjanya, ia melihat sebutir berlian tadi dengan kaca pembesar miliknya dengan teliti.


"Yah benar, ini buatan perusahaan kami, tapi, aku sudah menjadi manajer cabang selama dua tahun, belum ada yang memesan berlian butiran seperti ini selama saya bekerja, dan dari desainnya bisa jadi ini sudah cukup lama, kami harus melihat berkas kami untuk menemukan siapa yang memesannya"


Rio tersenyum, pria yang dari tanda pengenalnya bernama August seperti tahu apa yang diinginkannya.


"He, anda tahu tujuan kami ke sini yah?"


August tersenyum lebar, pria itu menjadi manajer perusahaan sebesar itu bukan tanpa alasan kalau bukan karena keahliannya mengenali orang, terutama pelanggan yang datang ke tokonya, ia melirik dengan matanya yang bulat besar penampilan Rio dan Cody dari ujung kaki hingga atas kepala.


Rio seorang petugas dari kepolisian yang gajinya tidak lebih besar dari karyawan swasta level supervisor ke bawah, pikirnya, dan Cody, yang sepertinya seorang mahasiswa yang mungkin sangat pintar hingga mengandalkan beasiswa, pemuda itu bahkan membiarkan rambutnya yang coklat jatuh begitu saja di dahinya tanpa minyak rambut, penampilan keduanya yang sangat sederhana, sangat kecil sekali kemungkinan keduanya menjadi salah satu pelanggan yang akan membeli perhiasannya, yang di mana harga perhiasan mereka berkisar sepuluh bulan gaji polisi muda itu, itu pikirnya.


"Emm"


Rio mengibaskan tangannya, ia mengerti apa maksud tatapan pria itu.


"Oke oke jangan terlalu jelas gitu donk, jadi kapan saya bisa minta data pemesannya, yang menurut anda sudah ada sebelum anda menjabat"


August mengerutkan dahinya berpikir.


"Emm, aku harus bertanya dulu dengan atasanku, mungkin beliau akan mengijinkan, mungkin juga tidak, anda harus mengerti klien kami itu berasal dari kalangan atas, bahkan beberapa pejabat penting, dan sejak awal kami memiliki policy tidak akan memberikan informasi pribadi soal siapa pelanggan kami, ini bisnis kami punya kode etik masing-masing"


Rio menatap August lama, sepertinya pria itu serius dengan ucapannya, walau mengingat ia membawa tugas sebagai seorang polisi ke sana.


"Anda, tidak bergurau khan, kami tuh dari kepolisian, dan ini juga bukan main-main, kami ada surat tugas dan segalanya, memangnya anda pikir kami asal-asalan menuju ke tempat anda, iseng gitu maksudnya?" Serunya ketus.


August tersenyum lebar.


"Hehe maaf pak, tapi saya hanya karyawan, semua ini milik bos besar kami, kami hanya menjalankan tugas, harap dimengerti"


Rio menatap August lagi, lama, namun ia tidak bisa apa-apa, ia dan Cody saling berpandangan sejenak, hingga Rio mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya, kartu namanya.


"Oke, baiklah, tolong sekali yah pak, hubungi bos besar anda, dan bilang kalau kami, dari kepolisian membutuhkan informasi, dan setelah itu tolong, hubungi saya yah"


August menerima kartu nama Rio, ia ikut berdiri saat Rio dan Cody berdiri menuju ke pintu, ia menunjuk ke arah Cody yang sejak tadi hanya diam.


"Lalu, anak manis ini siapa?"


Cody membalikkan badannya, tersenyum melihat August "eh aku Cody Had.." sedikit lupa, Cody baru menganti nama terakhirnya sejak opanya sudah memasukkan namanya ke dalam kartu keluarga, ia jadi bingung sekarang namanya siapa.


"He, aku Cody Gunther"


August mengerutkan dahinya, walau ia hampir tidak mempercayainya tapi ia sangat mengenal nama itu, amat sangat mengenalnya, ditelan ludahnya bulat menatap Cody dengan mata besar "eh ap apa? Anda, Cody Gunther?"


Rio menarik tangan Cody saat pria itu belum juga melepaskannya jabatan tangannya, walau tidak ingin mengakuinya tapi Cody membuat ia cemas, ia cemas karena pesona Cody bisa menyerang siapa saja di mana saja, apalagi pria itu agak mencurigakan, pikirnya.


"Eh sudah ayo Cod, jangan lama-lama kita masih ada urusan"


Tiba di area parkir,


Rio membuka mobilnya yang diparkir tak jauh dari lift. Ia dan Cody bergerak masuk ke masing-masing sisi, Cody masih bisa merasakan mata Rio menatapnya.


"Apa?" Tanya Cody, Rio berdiri setelah membuka pintu mobilnya, melihat Cody sambil mengerutkan dahinya.


"Seingatku nama belakangmu bukan Gunther, saat kau melamar jadi sepertinya bukan itu yah?"


Cody merunduk masuk, tak lama Rio menyusulnya dan menyalakan mesinnya.


"Yah mau bagaimana lagi, aku juga sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan nama belakang, tapi sepertinya opa bersikeras, beliau sudah merubah semuanya pelan-pelan, lewat asistennya kak Nina beliau mengubah semua dokumenku, tabungan, asuransi, hmmh.." setelah memikirkannya membuat Cody lelah sendiri.


Rio tersenyum lebar, diputar stir kendaraan sedan Baleno miliknya keluar area parkir gedung.


"Hehe bagi orang seperti opamu, yang sepertinya orang yang sangat berpengaruh, nama belakang itu sangat penting Cod, jadi harus mengubah semua semuanya yah, benar merepotkan sich"


+-+-+-+-+


Glow like Diamonds