
.......
Angin berhembus, lembar daun pohon flamboyan yang telah menguning jatuh hingga jauh.
Cody masih berdiri di pinggir jalan di depan cafe, rambut depannya terbelai lembut angin yang lewat seiring dengan hangatnya udara saat itu, perlahan daun daun kecil mendarat di telapak tangannya yang terbuka, ia hanya melihat daun kecil itu lama tanpa bergerak, pikirannya mungkin entah ke mana.
Tak lama Riana yang sudah selesai mengantri membeli jus dingin mereka mendekat, diserahkan satu ke tangan Cody.
"Ini, rasa strawberry kesukaan Cody"
"He thanks Ri, ngantrinya lama juga yah"
Cody membalikkan tubuhnya melihat cafe yang masih dipenuhi pelanggan yang mengantri cukup panjang, counter minuman itu cukup terkenal rupanya.
Segera setelah Cody mengambil jus itu dari tangan Riana gadis manis itu langsung meraih tangan Cody dan menggandengnya erat.
"Ayo! abis ini kita ke mana? Sayang sekali tadi filmnya cepat sekali habisnya yah"
Cody melirik tangan Riana, walau bagaimanapun gadis itu sepertinya tidak akan melonggarkan pegangannya.
"Emm, kita makan, lalu pulang, oh yah Hervant titip ayam goreng"
Keduanya berjalan kembali menelusuri trotoar cantik di mana di sepanjang jalan pohon-pohon dengan bunga-bunga berwarna menarik tumbuh lebat.
Langit sudah gelap, tanpa terasa langit yang tadinya terangpun menjadi malam dengan cepat, pikir Riana karena kencan mereka yang sempat tertunda karena kecelakaan beberapa hari lalu akhirnya terbayarkan.
"Kita nonton lagi minggu depan yah, ada film baru"
"Em sepertinya minggu depan tidak bisa Ri, aku sudah janji dengan Hervant akan menemaninya mencari laptop baru"
Suara Riana langsung melengking.
"Ach Hervant itu manja sekali memangnya tidak bisa cari sendiri yah, menganggu saja"
Cody tertawa kecil, Riana yang sangat ekspresif bisa merubah sikapnya dalam sekejap, ia lucu sekali pikir Cody tersenyum gemas.
"Hehehe tidak apalah Ri, kita khan masih bisa lain waktu"
Mendengar itu Riana mempererat pegangannya, makin nempel dengan Cody, ia paling suka dekat-dekat dengan Cody yang baunya enak dicium dan hangat, tidak peduli apa pandangan orang di sekitarnya.
"Bener yah Cod, hehe asyik, Cody memang the best" tapi entah kenapa sesekali Riana kerap menoleh ke belakang mereka, tidak yakin apa tapi ia merasa ada yang membuntuti mereka sejak tadi, mungkin hanya perasaan Riana saja karena ia tidak menemukan siapapun yang mencurigakan di belakang mereka "hemm"
Dan, sebenarnya memang ada sebuah kendaraan hitam di seberang jalan yang kerap mengambil gambar setiap gerakan Cody dan Riana, mengabadikan dalam kamera dengan moncong panjang.
"Cekrek, cekrek"
*-*-*-*-*-*
Malam hari..
Cody duduk di pinggir jendela apartemennya, pemandangannya langsung mengarah ke langit yang semuanya hanya hitam. Cahaya lampu dari gedung-gedung mempercantik pemandangan malam, angin yang berhembus di luar terlihat lewat saat baleho besar di atas gedung sedikit bergoyang.
"Krek krek"
Cody tidak bisa merasakan itu, tapi, dinginnya ruang apartemennya cukup membuat ia tahu kegelapan, dingin, hampa, seperti apa yang benar ia rasakan saat mimpi itu datang.
Ia masih bisa membayangkan bagaimana sakitnya, kesepian, sendirian di air yang gelap dan tak berdasar, seakan tidak akan ada orang yang tahu ia berada sampai kapanpun, dan akhirnya, ia benar-benar sendirian.
Cody merapatkan jaketnya, mungkin ia harus mengecilkan pendingin ruangannya yang mulai membuat ia tidak nyaman, saat ia membalikkan tubuhnya, Hervant dan Lukas sudah mendekat.
Hervant menyerahkan segelas susu hangat ke depan Cody.
Cody menatap Hervant tajam.
"Apanya yang tidak terurus memangnya aku anak kecil"
Tak lama kemudian,.
Cody, Hervant dan Lukas sudah duduk di ruang tengah, menjelang tengah malam dan ketiganya masih duduk membahas beberapa hal.
"Jadi anak itu benar seperti apa yang kau lihat dalam mimpimu? Ia sudah cukup lama meninggal yah?" Simpul Lukas.
Cody mengangguk "Iyah, sepertinya kejadiannya sudah agak lama, heh, entah kenapa tapi mimpi itu seperti ingin memberitahu sesuatu, mungkin, tempat ia terbunuh" ujar Cody tidak bersemangat.
Hervant menarik nafasnya panjang, ia tahu bagaimana perasaan Cody saat ini, sahabatnya itu punya perasaan yang sangat lembut, ia mungkin akan mengurung diri dan diam selama beberapa waktu jika merasa ia sudah gagal menyelamatkan nyawa orang lain, tapi kali ini mungkin tidak, menurut polisi anak dalam penglihatannya memang sudah lama tidak bernyawa, entah ia cepat atau tidak ia tetap akan terlambat juga.
"Apa, kau akan memberitahukan apa yang kau lihat dalam mimpimu itu Cod? Lalu soal pak Richard" tanya Hervant, Cody mengangkat pundaknya.
"Aku tidak yakin Her, kalau Rio akan percaya, sepertinya aku harus mulai mencari tahu sendiri, kalau tidak semua ini akan membuatku semakin gila"
Lukas menegakkan duduknya.
"Cod, bukan kau, tapi kita, ingat jangan mulai mencaritahu semua sendiri, ingat dulu apa yang terjadi? Kau hampir kehilangan nyawamu"
Cody menahan nafas sejenak, benar apa kata Lukas, tapi, apa ia bisa, saat mengangkat kepalanya melihat Hervant, Lukas, dan Riana yang sama sekali tidak akan membiarkannya sendiri, ia sendiri tidak yakin apa ini berbahaya atau tidak, semua yang ada dalam mimpinya bukan hal biasa, pembunuhan, orang hilang, dan mungkin semua mengarah pada hal yang lebih besar dari yang ia duga, ia yakin itu, dan tidak mungkin membiarkan sahabatnya juga terluka karenanya.
"Eh guys.." sebelum Cody melanjutkan ucapannya Hervant yang kembali menegakkan duduknya.
"Awas saja kalau kau mau jadi pahlawan kesiangan sendiri, kita tidak akan memaafkanmu Cod, ingat itu"
*-*-*-*-*-*
Siang yang sangat panas, Rio sampai harus membuka jaketnya dan meninggalkan kaos putih tipis yang sedikit basah oleh keringat karena pendingin ruangan sepertinya tidak bisa bekerja maksimal, otot lengannya hasil berlatih setiap hari di gym terlihat jelas, ia perlu semua itu untuk mengejar dan menghajar penjahat tentunya, walaupun ia berada di divisi crime scene unit, paling sedikit berhubungan dengan penjahat sebenarnya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini jadi semakin banyak terlibat dengan penjahat secara langsung, kalau bukan karena kepolisian memangkas budget untuk merekrut kadet baru, apalagi memperbaiki pendingin ruangan.
"Heh panas sekali"
Tony mendekat.
"Rio, aku sudah dapat alamatnya, orang yang dilihat penjaga malam waktu koper itu dibuang" ia meletakkan selembar kertas ke depan meja Rio,
Rio melihat isi kertas itu.
"Ini orangnya?" Tanya Rio lagi.
Tony mengangguk "yah, tadinya Anna tidak menemukannya di bank data, tapi setelah mencari di data lain akhirnya menemukannya, karena sebelumnya orang ini juga pernah menjadi tersangka pencopetan, tapi karena satu dan lain hal entah kenapa datanya tidak dimasukkan ke data pusat, saat itu katanya sih karena system 'sedang ada gangguan"
Rio berdiri dari duduknya, disambar jaketnya di bahu kursi.
"Ayo tunggu apalagi, kita ke sana sekarang"
Keduanya bergegas ke arah pintu, Tony sesekali masih melihat ke belakangnya.
"Eh, Cody mana? Tumben belum datang" tanya Tony.
"Dia sedang ada urusan pribadi katanya, mungkin tidak akan datang"
Tony mengerutkan bibirnya, biasanya Rio itu tidak bisa membiarkan Cody tenang di apartemennya, ia akan jahil menariknya ikut ke manapun, tapi kenapa tidak dengan hari ini, padahal katanya ia sedang libur kuliah.
"Hemm"
+-+-+-+-+-+--+