
.......
Garis polisi sudah dipasang melingkari sepanjang perimeter gedung tua tersebut. Beberapa warga tampak penasaran dan berkumpul agak jauh di belakang perimeter polisi. Tiba-tiba lingkungan yang sangat sepi dan tak ada kehidupan lain itu menjadi sangat ramai, bahkan beberapa kendaraan seperti milik wartawan sudah diparkir tak jauh dari TKP.
"Ada apaan di sana pak?" Tanya seorang ibu rumah tangga kepada seorang bapak yang berdiri di sampingnya, sepertinya ia mungkin lebih tahu, tapi bapak itu mengangkat pundaknya.
"Tidak tahu pasti, tapi tadi dengar-dengar bisik-bisik ada kasus pembunuhan yang terjadi di dalam sana"
Beberapa wanita langsung merinding mendengarnya,
"Ich yang bener" kejadian begitu mengerikan ada di dekat mereka selama ini dan mereka tidak mengetahuinya.
"Harusnya tuh gedung dari dulu diruntuhkan saja, jadi banyak yang aneh-aneh khan di sini" seru salah satu wanita, beberapa ibu-ibu lainnya langsung mengiyahkan.
"Iyah bener, sudah lama di sini bukannya di urus malah dibiarkan begitu saja, buat jadi sarang preman dan penjahat saja"
"Iyah tuh bener, sudah ada kali sepuluh tahunan gitu sejak anak pertama saya lahir sudah tidak dipakai nich gedung" warga mulai saling bersahutan heboh.
Di dalam gedung.
Rio dan Tony, juga Gus dan team dari Georgie bersama team pendukung lainnya sudah masuk ke dalam gedung tua bekas rumah sakit.
Di lantai dua di mana Cody menemukan ruangan dengan banyak sekali koleksi aneh dan mengerikan. Suara Shutter dan flash kamera mendominasi di mana team CSU mulai melakukan pengumpulan data, beberapa mengenakan pakaian pelindung karena kondisi yang tidak menyehatkan, mengerikan malah, ini lebih seperti laboratorium ala dokter Doom yang melakukan eksperimen dengan menyiksa pasien hingga mati konyol.
Rio menggelengkan kepalanya, beberapa tabung sudah diberi tag dan dipindahkan ke atas troli untuk di bawa ke markas.
"Eh, ini, semua organ manusia yah?" Tanya Tony yang sebenarnya tidak mau masuk, tapi ia polisi yang harus menjalankan tugasnya walau agak mengerikan, Rio melirik beberapa kertas usang di atas meja, seperti beberapa catatan pasien dengan nama yang disebutkan sebagai angka, 01, 20, tidak ada nama pasien.
"Heh semua ini semakin gila, hal sebesar ini terjadi di sekitar sini tapi tidak ada yang tahu sedikitpun"
Tony mendekat dengan catatan di tangannya, hasil investigasinya.
"Yah, gedung ini sudah lama ditinggalkan pemiliknya karena konon banyak hantunya, dan masih ada sengketa dengan pembagian warisan hingga belum ada yang mengurusnya hingga sekarang, lokasinya juga agak jauh dari perumahan warga dan dari jalan masuk langsung menuju ke sini, jadi walaupun ada banyak orang lewat warga tidak akan menyadarinya"
Rio menyingkir saat team forensik mendorong troli dengan beberapa tabung melewatinya, di bagian ruangan lain di mana beberapa lemari pendingin besar berada, team juga mengeluarkan beberapa potongan tubuh yang masih membeku, ini kasus yang besar, pikir Rio, dan pelakunya pasti lebih dari satu, masih banyak yang harus mereka lakukan, pekerjaan mereka bukannya berakhir, tapi baru dimulai, memikirkan itu Rio kembali menarik nafas berat.
"Heh semua ini semakin membesar"
*-*-*-*-*-*
Menjelang malam hari.
Suasana di rumah sakit seperti biasa masih ramai. Beberapa pasien dan keluarga yang mengantarnya seakan terus berdatangan tanpa henti.
Riana baru melewati apotek yang dipenuhi pasien rawat jalan setelah memutuskan untuk keluar mencari makanan sebentar. Ia baru meninggalkan kamar sekitar sepuluh menit dan entah kenapa ia sangat tidak tenang meninggalkannya, langkahnya sangat cepat, ia harus kembali ke kamar.
Di dalam kamar.
Seseorang dengan tubuh tinggi besar berpakaian mantri baru saja masuk dan sesaat berdiri tepat di samping ranjang, merundukkan kepalanya melihat Cody yang masih tak sadarkan diri.
Lama melihat wajah pemuda itu, terdengar sedikit suara seringai dari pria misterius itu, di angkat tangannya merapihkan rambut depan Cody yang jatuh di dahinya.
"He sayang sekali yah"
Cody berusaha melawan, ia berusaha membuka matanya tapi berat sekali, ada suara yang terus memanggil namanya.
"Cody bangun!"
Entah siapa, Cody juga tidak mengenal suara itu, tapi sangat jelas suara itu seperti berteriak tepat di telinga nya menyuruhnya untuk membuka matanya, tapi bagaimanapun ia mencoba seakan sesuatu mencegahnya membuka matanya, ia berusaha dengan segenap tenaganya.
"Cody bangun!"
"He, kau tidur saja yang tenang yah, jangan pikirkan yang lain" ia hampir menghabiskan isi jarum suntik ke dalam infus yang seketika menguning, saat tiba-tiba pintu dibuka dari luar.
Riana sudah berdiri di pintu, sejenak ia tertegun dan membelalakkan matanya lebar melihat apa yang dilakukan pria itu.
"Ap apa yang kau lakukan!?"
Riana yakin orang itu bukan dokter dan perawat yang biasa datang, dengan segera ia membalik keluar dan berteriak.
"Tolong!!"
Tanpa pikir panjang pria yang terkejut itu bergegas keluar, menabrak Riana di depan pintu hingga terjatuh.
"Tolong! Akh!"
Suara Riana membuat semua orang waspada, walau terjatuh ia berusaha menahan kaki pria itu tapi tidak bisa, pria itu berlari secepatnya menuju lorong dan menabrak beberapa pasien lainnya.
"Kejar dia!"
Beberapa petugas keamanan yang sigap mengejar pria mencurigakan itu, sementara Riana berusaha berdiri dan menyongsong Cody, ia sempat kebingungan, tapi hal pertama yang harus ia lakukan adalah menarik jarum infus di lengan pemuda itu, ia yakin melihat orang itu melakukan sesuatu pada selang infusnya, semoga ia tidak terlambat.
"Cody, Cody!"
Dibelai wajah Cody, jantungnya hampir berhenti melihat kejadian yang hampir bisa membuat Cody celaka.
Tak lama dokter berlari masuk dari luar kamar, Riana sampai harus mundur dan membiarkan semua orang itu memeriksanya.
"Ems Cody"
*-*-*-*-*-*
Riana duduk dengan tangan gemetar di depan kamar, Rio mendekat. Ia bergegas secepatnya ke rumah sakit saat mendengar kabar seseorang berusaha melukai Cody.
"Ri bagaimana ini bisa terjadi?"
Riana masih shock.
"Ta tadi, ada orang, aku tidak kenal, ia masuk ke kamar Cody dan.., oh harusnya aku tidak keluar kamar tadi, Riana bodoh" ia mulai memukul kepalanya sendiri penuh dengan penyesalan, jantungnya masih berdebar kencang berusaha mencegah orang itu tadi.
Hervant dan Lukas yang mendapat kabar dari Riana datang secepat mereka bisa.
"Ri, bagaimana dengan Cody?"
Riana menggeleng, ia sudah duduk di luar selama setengah jam dan dokter belum juga keluar dari kamar, rasa cemasnya makin jadi hingga tak bisa menahan diri.
"Tidak tahu, hoh aku ini bodoh, harusnya tadi aku tidak ke mana-mana ini salahku, ems Cody"
Hervant membelai punggung Riana berusaha menenangkannya, saat ini mereka hanya bisa berusaha untuk tenang sampai dokter keluar.
Tak lama kemudian dokter memperbolehkan Riana dan lainnya masuk, gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat melihat Cody sudah membuka matanya di atas ranjang, menatapnya dengan mata sayu.
"Huks Cody" tanpa peduli apapun Riana maju dan menyongsong ke arah Cody, langsung memeluknya erat.
"Cody"
Walau masih lemah tapi Cody berusaha mengangkat tangannya menepuk punggung Riana yang terisak berat, berusaha menenangkannya.
"He Ri"
+-+-+-+-+-+-