
................
Siang hari yang cerah, hari libur di apartemen Cody.
Hervant mengerutkan dahinya mendengar cerita Cody barusan.
"Psikiater? Kamu? Memangnya kau stress?" Tanya Hervant sedikit mengejek.
Cody meraih bantal sofa dan menghempaskan tubuh ke atasnya.
"Yah mau bagaimana lagi, kata pak Gus karena aku sempat hampir jadi korban, untuk jaga-jaga saja siapa tahu aku memang agak stress menurutnya"
Hervant duduk di samping Cody,
Ia menyeringai.
"He kau? Stress? Yang ada aku yang butuh psikiater Cod, membayangkan kau melihat hantu gak jelas hampir setiap hari, ada yang bahkan hampir membunuhmu, yang deg-degan tuh aku bukan dirimu yang flat"
** Flat \= minim ekspresi, tidak ada perasaan.
Cody menghempas bantal di tangannya ke perut Hervant, mendengar ejekan sahabatnya itu di kalimat terakhirnya.
"Siapa yang flat? Memangnya aku robot"
Hervant tertawa, sambil mengarahkan remote control tv menganti saluran yang diinginkannya.
"Yah habis apa donk, orang paling tidak punya perasaan, kau bahkan tidak menunjukkan sedikitpun takut saat melihat mayat yang kepalanya sudah pecah, yang lehernya hampir putus, yang tenggelam di air sampai badannya mengembung ..."
Cody kembali mendorong pundak Hervant menghentikan ucapannya temannya yang kian terdengar mengejeknya.
"Sudah hentikan!"
Hervant tak bisa menghentikan dirinya mengejek Cody, sahabatnya itu memang terkadang pemarah hingga membuat ia dan Lukas senang sekali mengganggunya, lagipula kapan lagi bisa menganggunya, Cody itu khan memang selalu minim ekspresi, bahkan jarang sekali mengutarakan isi pikirannya yang sangat penuh misteri.
"Hahaha kau ini" tapi, Hervant kemudian menghentikan tawanya, melihat perlahan wajah Cody yang terlihat serius sangat cepat merubah ekspresinya.
"Hei kenapa lagi Cod? Masih ada masalah lain?"
Cody menggelengkan kepalanya, dipeluk bantal sofa di atas perutnya.
"Tidak Her, dibanding saat diikuti Richard, sekarang aku sangat jauh lebih baik, tapi, heh, kenapa banyak sekali penampakan arwah yah? ke mana pun aku pasti akan menemukan mereka, seakan, dunia memang bukan tempat yang sama sekali aman, semua orang, pada akhirnya akan menjadi seperti itu, apa, mungkin aku yang terlalu banyak ingin mencampuri urusan mereka yah Her?"
Pembicaraan mulai sangat serius, Hervant membenarkan duduknya.
"Siapa yang bilang begitu Cod? Justru karena dirimu para arwah itu bisa beristirahat dengan tenang, kurasa mereka sangat mengandalkanmu"
Cody menatap Hervant sejenak, lalu membuang pandangannya jauh.
"Tapi, semua makhluk pada dasarnya memiliki takdir mereka masing-masing, kalaupun lain, aku seharusnya tidak berdiri di antara mereka, selama ini aku berpikir, mungkin sudah terlibat cukup jauh"
Hervant menepuk paha Cody, menghentikan ucapannya, ia tersenyum melihat wajah serius Cody saat melihatnya.
"Lalu kenapa? Aku ingat dulu ada yang pernah bilang begini, walau apapun yang terjadi, selama aku bisa melakukan sesuatu walaupun itu kecil, aku akan terus berusaha, itu, siapa yang bicara yah?"
Cody tersenyum, sahabatnya itu walau seringkali menggodanya tapi mereka memang selalu bisa di andalkan, itu kalimat yang ia katakan dulu waktu membantu beberapa arwah yang bisa pergi dengan tenang, walau sebelumnya banyak hal yang menghalangi mereka.
"He Her, thanks yah, karena tidak pernah meragukanku"
Hervant mengangkat tangannya merangkul pundak Cody, tersenyum lebar menepuk pundaknya, hingga lagi-lagi dengan jahil ia mengacak rambut Cody dengan gemas.
"Iyah baby nya Riana"
Cody yang kesal kembali mengambil bantal dan menghempaskan ke tubuh Hervant, Hervant sampai harus bangun dari duduknya melarikan diri sedangkan Cody terus mengejarnya.
"Hervant!"
*-*-*-*-
Tik tok, tik tok!
Suara detak jarum jam dinding mendominasi ruangan.
Dan dokter Cody untuk siang itu, tak lain seorang wanita yang dalam usianya yang mungkin sekitar empat puluhan itu masih terlihat sangat menarik, dokter Yunita, kebetulan ia menjadi dokter yang ditunjuk kepolisian karena dokter sebelumnya sedang liburan selama beberapa waktu.
"Eh.."
Cody agak gugup, sebenarnya ia punya riwayat yang tidak cukup bagus dengan dokter wanita itu pada pertemuan pertamanya.
Cody menggaruk kepalanya, dokter Yunita hanya melempar senyum padanya karena ia rupanya tidak mengingat dan punya dendam dengan perlakuan Cody tempo hari, itu menurut Cody, tidak tahu dengan apa yang dipikirkan wanita itu karena sesungguhnya dokter itu juga gugup melihat Cody di depannya kini, setelah lama membuntutinya dari jauh.
"Jadi, kita bisa mulai?"
Dokter Yunita menyenderkan pundaknya ke belakang sedikit lebih santai.
Cody menarik nafas panjang, ia tersenyum dan mengangguk.
"He Iyah, maaf, menyita waktu anda"
*-*-*-*-*
Lukas berdiri di depan Cody, Cody kembali ke apartemen setelah pertemuannya dengan dokter yang dulu pernah diceritakan Hervant.
"Yang, kata Hervant pernah kau, eh lecehkan itu yah?"
Cody mengerutkan alisnya, menatap Lukas tajam "siapa yang melecehkan? Aku tidak.., eh Her apa yang kau ceritakan pada Lukas, membesarkan dech" Cody melirik Hervant dengan mata tajam.
Hervant menahan tawa,
"he itu, emm yah, kau memang agak keterlaluan waktu itu Cod, padahal kau tidak mengenalnya khan, itu aneh sekali"
Cody menurunkan kepalanya, berpikir lama dengan alis masih berkerut.
Lukas menepuk pangkuan Hervant sahabatnya itu saat melihat pandangan Cody berubah sangat serius.
"Eh dia marah tuh, salahmu yah aku cuma mengatakan apa yang kau katakan padaku dulu"
Hervant menggeser tangan Lukas, sepertinya bukan karena hal itu kini Cody berubah jadi sangat serius, pikir Hervant.
"Cod, apa yang kau pikirkan?"
Cody menoleh, menatap Hervant dan Lukas satu persatu.
"Eh, entah kenapa, aku tiba-tiba teringat mimpiku dulu Her, bukan mimpi, sebenarnya ingatan pak Richard, tepat sebelum beliau dibunuh, ada, empat orang yang berdiri di depan mobil yang lampu sorotnya menyala, aku tidak bisa melihat wajah orang-orang itu dengan jelas, tapi.."
Lukas memajukan duduknya, penasaran dengan arah bicara Cody selanjutnya.
"Maksudmu apa Cod, kalau, dokter Yunita, mungkin ada hubungannya dengan kasus ini? Yang, sudah selesai menurut kepolisian?"
Hervant menoleh pada Lukas.
"Luk, kenapa kau bisa langsung berpikir begitu?"
Bahkan Hervant tidak berpikir ke sana sebelumnya.
"Yah, karena kau yang bilang khan, Cody, saat kesurupan pak Richard berbicara dengan dokter itu seolah ia mengenalnya, kalau bukan pak Richard siapa lagi, sedangkan Cody sama sekali tidak mengenal dokter Yunita sebelumnya khan"
Hervant baru menyadarinya, apa yang dikatakan Lukas mungkin ada benarnya, ia menoleh kembali ke arah Cody, yang perlahan mengangguk.
"Yah, aku pikir juga begitu Her, wanita itu, yang tertawa bersama orang-orang itu, kemungkinan adalah dokter Yunita, suaranya cukup jelas"
Hervant menarik nafas panjang.
"Heh semua akan semakin muncul kepermukaan guys, Cod, mungkin kau harus mulai sangat hati-hati, kita tidak tahu apa yang orang-orang itu tahu tapi aku punya firasat buruk soal ke mana semua hal ini akan mengarah selanjutnya, dan pula, kurasa Rio memang harus tahu masalah ini khan, tidak mungkin kau bisa menyelesaikannya sendiri"
Cody mengelus dagunya, mengerutkan dahinya berpikir keras.
"hmm"
+-+-+-+-+-+-