You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
This is Personal



.......


"Aw" Cody merintih saat perawat muda itu membubuhkan alkohol ke permukaan luka lecet di pipi Cody.


"Maaf maaf, sakit yah" ia Mila, salah satu penggemar Cody yang tempo hari bertemu di depan klinik psikiater, Rio paling parah, tangannya masih sempat tergores pecahan botol bir hingga mereka harus ke rumah sakit, Lukas dan Hervant tak luput dari memar sama seperti Cody.


"Aduh Cod, kalau tahu akan jadi begini aku gak ikutan deh" gerutu Lukas sementara perawat lain membersihkan lukanya.


"Aku juga tidak mau, ini urusannya Rio harusnya dia sendiri saja yang mengurusnya, kenapa kita harus ikut-ikut" protes Cody melirik Rio.


Rio menggetok kepala Cody.


"Aww Rio!" Mata Cody menatap Rio tajam.


"Enak saja, kalau bukan karena kau cari gara-gara, mengatakan soal penampakan itu, lalu mengajak mereka diplomasi semua juga gak akan terjadi, aku bisa dihukum oleh kantor kalau sampai ketahuan berkelahi begini" seru Rio.


"Aduh sakit" Cody masih merintih.


Mila dengan sangat hati-hati memberi obat di permukaan luka di tulang pipi Cody "duh maaf tahan sebentar yah"


Hervant menyenggol tangan Lukas "Luk, Lihat tuh"


Keduanya mengamati Cody yang dilayani sangat spesial oleh Mila, perawat muda cantik itu sangat senang, entah apa yang ada dalam pikirannya kini, namun melihat Cody di dekatnya, dan bisa menyentuhnya merupakan hal paling indah seharian itu baginya, terlihat dari wajahnya yang bersinar.


"Aku mau tahu apa pendapat Riana kalau melihat ini" Lukas mengeluarkan ponselnya mengambil photo Cody di dekat perawat muda itu.


"Eh namamu Mila yah?" Mila menghentikan gerakannya, pipinya merah saat sadar Cody masih mengingat namanya.


"Iyah, he, aku pikir kau sudah lupa"


“He mana mungkin lupa" Mila menegakkan berdirinya, ia tambah malu saat Cody ternyata masih mengingat hal yang begitu memalukan itu.


"Maaf"


"He he he he maaf, aku tidak akan mengungkitnya lagi deh, kerja di sini yah? Sudah lama? Waktu itu, ketemu di depan kantor praktek dokter Yunita sedang apa?"


Mila gagap "Itu, eh, aku, aku salah satu murid dokter Yunita, kebetulan, eh aku sempat ambil mata kuliahnya dulu di kampus"


Cody mengembungkan mulutnya. "Ooh, begitu, aku pikir dokter Yunita itu hanya seorang psikiater, dia mengajar juga di sekolah perawat"


Mila tersenyum "Iyah, seorang perawat butuh pelajaran psikologi juga, kalau tidak tahan stress tidak akan bisa bekerja dengan baik"


Lukas dan Hervant mendekat, Mila yang pemalu hendak menghindar, namun tangan Lukas menahannya.


"Eh mau ke mana, di sini dulu donk sebentar"


"Luk" Cody menatap Lukas tajam, curiga dengan apa yang akan dilakukan sahabatnya yang jahil itu.


"Jadi, kamu ini namanya Mila yah" tanya Lukas, Mila mengangguk.


"I iyah"


"Begini saja, eh ini, nomor telepon Cody" Lukas mengeluarkan ponselnya.


"Luk ngapain lagi" protes Cody, namun Lukas tidak menghentikan niatnya.


"Mana handphonemu? Mau catat tidak?" tanya Lukas pada Mila, sedikit malu, Mila mengeluarkan ponselnya dari dalam saku pakaiannya, Cody berusaha merebut ponsel Lukas sebelum ia memberitahu Mila nomor miliknya.


"Luk apa-apaan sich, jangan begitu donk"


"Santai saja Cod, si Mila ini jinak kok, iyahkan Mil"


Cody menggaruk kepalanya, ia memang tidak bisa berpikir panjang tentang apa yang Lukas dan Hervant sering lakukan padanya, keduanya senang sekali menggodanya.


"Heh kalian ini"


+-+-+-+-


Tak lama setelah mereka keluar gedung rumah sakit.


"Tadi itu apa maksudnya" tanya Rio, Lukas menoleh.


"Hah? Oh yang perawat itu? Dia itu salah satu penggemar Cody, penggemar berat"


"He he he he biar Cody tahu rasa" sambung Hervant.


"Kalian ini memang tidak ada kerjaan yah, sembarangan memberi nomorku, kalian seperti tidak tahu saja kalau Riana paling suka mengecek handphoneku" protes Cody.


Lukas mendekat pada Hervant. "Her, kalau sudah begini saja, ingat Riana, dia berusaha cari perlindungan dari Riana"


"He he he aku sudah tahu Luk, Cody itu setia sama Riana, dia tidak akan melirik cewek lain deh, kita memang sekali-kali harus memberinya pelajaran"


Cody gagap "Bu bukan itu maksudku, eh, kalian tidak mengerti, Riana itu bawel sekali, aku tidak mau dengar ia protes hanya karena urusan kecil.."


Lukas dan Hervant merangkul pundak Cody.


*-*-*-*-*-*-*


Hari berikutnya.


Rio duduk di belakang stir, kendaraannya terlihat di salah satu daerah pemukiman mengawasi rumah pria bernama Gordon, yang kemarin gagal mereka temui di klub malam.


Cody duduk di sampingnya, wajahnya cemberut.


"Rio ini waktu kerja, kenapa mengajakku ke sini? Aku lapor sama pak Gus yah" ia mendumel kesal.


"Sudah Cody jangan bawel, kita cuma sebentar, aku tidak sabar ingin menyelesaikan urusan dua hantu itu, kalau tidak aku tidak akan bisa tidur dengan tenang"


"Memangnya mereka mengganggumu lagi semalam?"


"Yah, bukan itu saja, mereka sudah keterlaluan, aku sudah muak menghadapi mereka, segera cepat selesai dan usir mereka dari rumahku"


Seorang pria bertubuh gempal keluar dari dalam rumah, menuju ke kendaraannya di mana pengawal dan supir pribadinya sudah menunggu, tanpa pikir panjang Rio keluar.


"Ayo Cody"


"Rio!"


Cody terlambat mencegahnya. "Heh orang itu benar-benar"


Mau tidak mau Cody ikut keluar, tepat saat Rio telah berdiri menghadang pria itu menuju ke mobilnya.


"Gordon!" pria itu gentar, ia kenal wajah Rio yang semalam datang mencarinya, segera ia menuju ke rumahnya kembali, namun tangan Rio langsung menahan pakaiannya.


"Eits mau ke mana?" seorang pria bertubuh besar, pengawal pribadi Gordon hendak maju, namun Rio mengeluarkan lencananya.


"Hati-hati man, kau pasti tidak mau berurusan dengan polisi khan?"


Terpaksa pria itu mundur kembali.


"Kau mau ku pecat yah!" teriak Gordon.


Cody mengambil gambar Gordon dan lainnya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat itu, namun sebagai seorang photographer dan calon anggota forensik ia tidak mau diam saja, lagipula kebetulan ia membawa kameranya serta.


"Kau ambil gambar apa? sial!" umpat Gordon hendak menyongsong Cody, Rio menahan tangan Gordon dan memukul mulutnya.


"Hei jaga bicaramu, kau ini" Rio gemas ingin memukulnya lebih keras.


"Anda tidak bisa melakukan ini, aku punya hak!" seru Gordon angkuh.


"Hak? Boleh? Mari bicarakan soal hakmu, dan juga soal tindak kejahatanmu, karena menyebabkan seorang anggota polisi dan koleganya terlibat perkelahian semalam, dan terluka!" suara Rio yang keras membuat Gordon menelan ludahnya bulat, gawat, pikirnya, bukan hal yang bagus berurusan dengan polisi, ia merubah mimik wajahnya cepat tersenyum lebar, coba menawar, ia harus cari jalan diplomasi.


"Eh he he he pak, eh sebagai anggota polisi, anda tidak mau donk, sembarang pukul, he aku khan juga warga yang bayar pajak pak, salah seorang yang melaksanakan kewajibannya pada negara, he"


"Siapa yang mau memukulmu? Kalau kau tidak langsung lari dan membuat keributan hingga kami berkelahi di klub semalam, siapa yang akan memukulmu?" Seru Rio jengkel.


"Yah siapa yang mau ditangkap sembarang, sebagai orang yang punya kebebasan aku harus menyelamatkan diri donk"


Rio menggulung lengan bajunya, makin gemas dengan ucapan dan wajah cengar-cengir pria dengan perawakan tubuh pendek, gendut dan berkepala botak itu, yang ternyata adalah seorang mucikari terkenal.


"Err kau ini"


Cody menahannya.


"Rio jangan, kalau begini urusanmu kapan selesainya" benar kata Cody, walau ia gemas setengah mati pada orang itu, tetap saja urusan yang paling penting dulu, Rio menegakkan tubuhnya.


"He kalau bukan karena urusanku yang sangat penting, kau tidak akan bisa bebas seperti sekarang"


Gordon lega karena Rio mengatakan tidak akan menangkapnya.


"Wah benar nich pak? Wah tidak percaya aku, tapi, emm.." disipitkan matanya, menatap Rio dan Cody curiga.


"Hmm, tapi aku curiga, kalian, mau suruh aku jadi informan yah?"


"Jangan banyak bicara Gordon, cepat bayar hutangmu, aku masih banyak urusan nich" seru Rio mengulurkan tangannya, Gordon mengerutkan dahinya.


"Eh he hutang? Hutang apa?" lama ia berpikir, tapi, dinaikkan pangkal bibirnya, rupanya ia semakin tahu maksud ucapan tersirat Rio, dan ia begitu bersikeras, tidak salah lagi.


"Oohh iyah, aku mengerti" dikeluarkan sesuatu dari balik jasnya, segepok uang kertas yang langsung diserahkan ke tangan Rio.


Rio dan Cody bingung, keduanya saling bertatapan bertanda tanya, namun wajah Gordon yang terus saja tersenyum membuat Rio tahu apa maksudnya, memukul kepala Gordon dengan segepok uang tadi.


"Ini apa maksudnya?"


Gordon berusaha melindungi kepalanya saat Rio kian kesal dan terus memukulnya berapa kali.


"Aduh salah lagi, apa donk kalau begitu"


+-+-+-+-