When My Love Bloom

When My Love Bloom
Mengunjungi Orang Tua Clara



Setelah menghabiskan waktu liburan sejenak tapi tetap lembur pada akhirnya, Clara telah duduk di dalam KRL tujuan Bogor – Bekasi. Ia memilih duduk di dekat jendela, supaya ia bisa melihat-lihat pemandangan dari balik jendela kereta.


Sesungguhnya Clara masih merasa capek, tapi ia sudah berjanji untuk mengunjungi Ayah dan Ibunya yang sudah merindukannya.


Kereta listrik itu mulai berjalan, dan Clara hanya duduk melihat pemandangan dari balik jendelanya.


Berselang sekian lama, Clara telah sampai di rumah orang tuanya.


Tookkk tokkk tokkk...


Clara mengetuk pintu rumahnya.


“Ayah.... Ibu...., Clara datang.” Sapa Clara saat memasuki rumahnya.


“Anak Ayah akhirnya datang juga, setelah hampir 2 bulan.”


“Maaf Ayah, Clara sibuk sekali sampai belum bisa mengunjungi Ayah dan Ibu. Maaf ya Ayah, Ibu.” Clara memeluk satu per satu orang tua.


“Iya Nak, Ayah tahu kamu pasti sibuk bekerja. Yang penting jangan lupa jaga kesehatan.” Nampak kerinduan di mata kedua orang tua Clara. Ayahnya mengelus dengan lembut kepala anak bungsunya itu.


Betapa bahagianya Clara, ketika baru sampai di rumah, Ibunya sudah memasakkan menu kesukaan Clara yaitu Cumi-cumi asam manis, kangkung blacan, dan mendoan.


“Hmm, bau masakannya harum sekali, Bu.” Senyum mengembang di wajah Clara saat mencium aroma masakan Ibunya yang sangat lezat.


“Iya, kan Ibu sudah janji kalau Clara datang, Ibu akan masakin kesukaannya Clara. Cuci tanganmu dulu, setelah itu ayo kita makan sama-sama. Ayahmu sampai belum makan siang, karena menunggumu datang.”


Hati Clara semakin bahagia karena sekalipun Ibu Erawati bukan Ibu kandungnya, tetapi Ibu Erawati selalu menyayangi Clara dengan tulus dan selalu memperlakukan Clara seperti anak kandung sendiri.


“Makasih ya Ibu, sudah mau masakin kesukaannya Clara.” Clara menyadarkan kepalanya di bahu Ibunya sebagai ucapan terima kasihnya.


“Iya.... Karena hari ini semua menunya kesukaan Clara, jadi Clara harus makan yang banyak ya...” Tutur Ibu Erawati dengan lembut.


Clara pun segera mencuci tangannya dan menikmati makan bersama dengan Ayah dan Ibunya. Melepas rindu sembari menyantap makanan lezat rasanya sungguh menyenangkan. Ayah dan Ibu Clara nampak bahagia karena kedatangan anak bungsunya itu, sementara bagi Clara, dia pun bahagia karena momen makan bersama sambil ngobrol dengan orang tuanya sangat ia rindukan. Kesibukannya bekerja di Jakarta, dan tinggal sendiri di apartemen sesungguhnya membuat Clara hidup dalam kesepian. Sering kali tidak ada orang yang bisa diajak Clara mengobrol, berbagi cerita. Saat mengunjungi orang tuanya lah, Clara bisa mendengar cerita orang tuanya, dia pun bisa menceritakan pekerjaannya, dan bercanda tawa bersama. Suasana kebersamaan yang hangat ini yang selalu Clara rindukan setiap harinya. Tetapi, ia tidak mau menunjukkan rasa sepinya kepada orang di sekitarnya, ia selalu ceria dan ramah kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya.


“Kamu akan di Bekasi berapa hari Clara? Sebenarnya kalau bisa sih agak lama di sini. Ayah dan Ibu masih kangen.” Ucap Ayahnya sembari meminum air putih sehabis makan.


“Mungkin besok sore Clara kembali ke Jakarta lagi, Yah. Karena Senin, Clara harus kembali bekerja.” Clara pun masih merindukan kedua orang tuanya, tetapi Senin ia harus kembali bekerja.


“Oh, ya udah. Gak papa. Kamu bisa dateng ke sini aja, Ayah dan Ibu udah seneng.” Sambung Ayahnya Clara.


“Gimana kerjaanmu? Anak Ayah udah jadi wanita karier yang mandiri dan sibuk sekarang.”


“Bersyukur kerjaan Clara baik, Yah. Pak Raffa juga selalu baik sama Clara.”


“Ayah ikut senang Nak, karena kamu memiliki atasan yang baik.”


Clara bersama kedua orang tuanya larut dalam nostalgia, mereka melepas rindu sambil mengobrol dan tertawa bersama. Sungguh, momen seperti ini sangat berharga bagi semua orang yang bekerja di luar kota dan jauh dengan orang tua dan keluarga. Sehingga saat bisa mengunjungi orang tua di rumah, menjadi momen langka yang sayang untuk dilewatkan.


Tidak terasa hari sudah malam, dan mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Clara pun masuk ke dalam kamar yang ia tempati dari kecil hingga SMA. Tidak banyak yang berubah dari kamar tidur itu, masih dengan cat berwarna pink pastel. Clara merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang hanya berukuran single bed itu, dan membuka handphonenya. Sejak sampai di rumah, Clara sama sekali tidak melihat handphonenya, ia benar-benar memanfaatkan waktu untuk bercengkerama dengan Ayah dan Ibunya.


Jari-jari tangannya mulai mengusap handphonenya, pertama yang Clara buka adalah aplikasi pesan. Ternyata di sana ada beberapa pesan dari Raffael.


[Raffael: Clara, kamu nikmati saja waktu dengan orang tuamu. Kamu bisa masuk ke kantor hari Selasa. Tapi, ada syaratnya. Gimana mau enggak?]


Mata Clara berbelalak membaca pesan dari Boss nya itu. Dia seakan tak percaya, Boss nya akan mengiriminya pesan, menawarkan kesepakatan. Tidak biasanya Raffael akan bersikap seperti ini.


[Clara: Maaf Pak Raffa, baru membalas. Soalnya saya baru memegang handphone. Sejak tadi ngobrol sama Ayah dan Ibu.]


Sekarang sudah jam 9 malam, Clara pun tidak tahu atasannya itu sudah tidur atau belum. Sebab pesan yang Raffael kirimkan padanya sudah sejak jam 7 malam tadi.


Ternyata tak berlangsung lama, handphone Clara bergetar, terdapat notifikasi pesan masuk di sana.


[Raffael: Gak papa Clara, aku tau itu.]


[Clara: Makasih Pak, tapi maaf maksudnya gimana ya Pak? Syarat apa Pak?]


[Raffael: Kamu bisa cuti sehari, masuk kantornya hari Selasa. Tapi ada syaratnya.]


[Clara: Syaratnya apa Pak?]


[Raffael: Hari jumat nanti tolong temani saya ke reuni SMA saya. Saya hanya males datang sendiri.]


[Raffael: Gimana, kamu mau?]


Clara yang sedang berbalas pesan dengan atasannya itu tampak tak percaya, ia mengerutkan keningnya untuk memilih keputusannya, tinggal lebih lama di rumah orang tua tapi Jumat harus menemani atasannya ke reuni SMA. Atau, pilihan kedua besok ia harus kembali ke Jakarta, dan berpisah lagi dengan Ayah dan Ibunya. Pilihan yang cukup sulit. Belum dia menjawab, Raffael sudah mengiriminya pesan lagi.


[Raffael: Clara gimana?]


Clara masih memandangi pesan dari atasannya, keliatannya Raffael memang perlu seseorang untuk menemaninya ke reuni.


[Clara: Iya Pak, saya Terima tawaran Bapak.]


[Clara: Saya masuk ke kantor hari Selasa ya Pak, nanti Jumat saya akan ikut Bapak ke reuni SMA nya Bapak.]


Betapa senangnya Raffael menerima pesan dari Clara. Sebenarnya Raffael hanya benar-benar malas bertemu teman SMA nya, dan ia enggan menjawab pertanyaan dari teman-temannya siapa pacarnya, karena itulah Raffael berniat mengajak Clara ke reuni SMA nya.


[Raffael: Oke Clara, Thanks. Sampai Selasa nanti.]


Clara pun bahagia tidak menambah sedikit waktunya bersama orang tuanya walaupun hanya 1 hari. Dia ingin memasakkan masakan kesukaan Ayah dan Ibunya, pergi ke pasar pagi bersama Ibunya untuk belanja sayur, dan mengobrol bersama di malam hari. Untuk mendapatkan kesempatan bersama orang tuanya sedikit lebih lama, Clara tak keberatan untuk menemani Raffael hari Jumat nanti.