
"Bagaimana kalau kita langsung makan saja, Ma? Ini sudah menjelang jam makan malam juga." Raffa berkata kepada Mamanya. Ia hanya enggak untuk bertemu dengan Veronika.
"Ya sudah, Mama panggil Papa dulu, kalian bisa bersiap di meja makan." ucap Mama Ratna yang mulai jengah dengan sifat Raffa.
Tidak berselang lama, Veronika juga berjalan menuju meja makan. Gadis cantik tersenyum manis kepada Raffa dan Clara.
"Hai Raff..." sapanya sembari duduk di samping Raffa.
Justru sedikit pun Raffa tidak menghiraukan sapaannya, pria itu berubah menjadi dingin dan acuh. Pemandangan aneh ini langsung bisa ditangkap oleh Clara.
Seketika Clara berpikir apakah orang tua Raffa berniat menjodohkan Raffa dan Veronika, tetapi secara visual keduanya sangat cocok. Tetapi mengapa Raffa justru seolah-olah menabuh genderang perang.
Sementara Veronika yang nampak dicuekkan Raffa, gadis itu berusaha mengobrol dengan Clara.
"Kamu sekretarisnya Raffa kan?" tanyanya dengan suaranya yang lembut.
Clara yang semula menunduk, kini menatap gadis yang duduk di samping Raffa itu, "Ah, iya. Saya sekretarisnya Pak Raffa." jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Sudah berapa lama menjadi sekretarisnya Raffa?" lagi Veronika bertanya kepada Clara.
Belum Clara menjawab, rupanya kedua orang tua Raffa sudah datang dan mereka pun duduk di kursi masing-masing.
Clara yang sejujurnya tidak harus berada di tempat itu pun menjadi canggung, tetapi ia berusaha bersikap tenang. Ia segera menyapa bos besarnya yang sekaligus Papa dari Raffael.
"Selamat malam Tuan Wijaya." sapanya sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada bos besarnya itu.
Papa Raffael yang sudah mengenal Clara, tentu menyambut hangat kedatangan sekretaris anaknya itu.
"Iya Clara, sama Raffa tadi ya? Ayo, silakan makan jangan sungkan." ucapnya hangat.
"Terima kasih Tuan." sahut Clara dengan sopan.
"Kamu juga makan Vero, ambil sendiri ya." Mama Ratna juga mempersilakan Vero untuk mengambil menu makan malamnya sendiri.
Clara sangat canggung kali ini, Raffa yang berubah menjadi sangat dingin dan kehadiran Veronika juga membuat Clara semakin canggung. Tetapi, Clara tak bisa berbuat apa-apa. Bersyukurnya, usai makan malam Veronika langsung berpamitan pulang kepada keluarga Saputra.
"Saya pamit pulang ya Om dan Tante, terima kasih untuk makan malamnya."
Gadis itu pun undur diri dari kediaman Saputra. Sementara Raffa dan Clara masih berada di ruang keluarga bersama kedua orang tua Raffa.
"Habis lembur ya Clara?" tanya Papanya Raffa.
Gadis itu hanya tersenyum, tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa Raffa melakukan sidak ke kafe yang ia datangi.
"Iya, Raff. Juga kamu jangan terlalu ketus sama Veronika. Dia anaknya baik, Mama sama sekali gak bermaksud apa-apa. Lagi pula, kamu tahu Mama gimana kan. Mama bukan tipe orang tua yang memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Walau pun Veronika terlihat cocok sama kamu." ucap Mama Ratna.
Raffa hanya acuh, tentu saja ia tidak suka dengan sikap Mamanya yang nampak sangat bersemangat mendekatkannya dengan Veronika.
"Raffa sudah besar Ma... Raffa tahu mana gadis yang cocok buat Raffa, mana yang enggak. Tapi, please Ma, jangan memaksa Raffa untuk dekat pada seseorang yang membuat Raffa tidak nyaman." ucap Raffa tak kalah tegas dari Mamanya.
"Itu benar Ma, biar Raffa yang memilih dan menentukan sendiri gadis mana yang cocok untuk dirinya. Raffa benar Ma..." kali ini Papa Saputra yang turut andil berbicara.
"Maka dari itu, segera berikan Mama menantu dong, Raffa. Mama kan juga mau bisa jalan-jalan sama menantu Mama."
"Kan Mama kalau ke Surabaya bisa jalan-jalan sama Kak Raina. Bukankah Mama juga selalu begitu setiap mengunjungi Kak Marcel." ucap Raffa dengan kesal.
"Iya, benar. Tapi itu kan kalau Mama ke Surabaya. Kalau di sini, siapa yang Mama bisa ajak jalan-jalan coba? Papa dan kamu sama-sama sibuk." kali ini nampak Mama Ratna seolah sedang merajuk.
"Kami gak masalah kamu berhubungan sama siapa saja Raffa, yang penting dia mencintai kamu, menerima kamu apa adanya. Karena Mama yakin gampang-gampang susah sama kamu ini. Sama harapan Mama sih menantu nanti adalah wanita yang sabar, sabar ngadepin kamu maksudnya." ucap Mama Ratna panjang lebar.
Clara yang mendengar harapan Mama Ratna pun, diam-diam tersenyum sembari menundukkan kepalanya, ia pun setuju kalau Raffa termasuk pria yang gampang-gampang susah, kendati demikian Raffa tetap pria yang baik.
"Tunggu saja, Ma... Nanti cepat atau lambat, Raffa akan mengenalkan calon menantu kepada Mama dan Papa."
Namun saat mengatakan itu, Raffa sesekali melirik kepada Clara.
"Iya, kenalin dulu saja, Raff. Papa dan Mama pasti senang kalau kamu datang membawa calon menantu. Sudah waktunya juga kamu menikah, Raff. Jangan sampai terlalu sibuk dengan bisnis perhotelan membuatmu lupa menikah." ucap Papa Wijaya Saputra menambahkan.
"Hm, kalau misalnya Raffa memilih gadis yang tidak satu kelas sosial tidak apa-apa kan Pa, Ma? Apakah Papa dan Mama juga berpatokan harus mendapatkan menantu yang dari satu kelas sosial? Bagaimana kalau ada gadis yang baik, tetapi dia tidak satu kelas sosial dengan kita?" tanya Raffa blak-blakan kepada Papa dan Mamanya. Bagaimana pun dia juga sekaligus ingin membuktikan kepada Clara bahwa kedua orang tuanya bukan tipe orang yang memandang orang lain berdasarkan kelas sosial dan harta yang mereka miliki.
"Enggak, Nak. Siapa pun tidak masalah. Asal dia mencintai kamu, menerima kamu, dan kalau bisa melihatmu hanya sebagai Raffael bukan sebagai pengusaha yang memiliki Paradise Hotel." ucap Papa Wijaya dengan bijak.
Clara yang mendengar sendiri ucapan Tuan Saputra juga tidak menyangka, bahwa orang sekaya Tuan Saputra rupanya tidak mempermasalahkan jika Raffa memilih gadis dari kalangan di bawah mereka. Clara pun mendengar Tuan Saputra mengatakannya dengan bijak.
Raffa pun merasa lega dengan apa yang sudah diucapkan oleh kedua orang tuanya. Setelah berbincang-bincang, Raffa pun pamit kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Clara pulang.
"Pamit pulang dulu Tuan dan Nyonya." ucap Clara tersenyum kepada orang tua Raffa.
"Hati-hati di jalan. Sering-sering mampir." sahut Mama Ratna yang mengantar mereka hingga ke depan pintu.
Raffa dan Clara kemudian masuk ke dalam mobil, Raffa tidak segera melajukan mobilnya. Pria itu justru bersikap sangat santai.
"Kamu lihat sendiri kan, Papa dan Mama saya tidak menghiraukan kelas sosial menantunya, kamu bisa dengar sendiri kan? Jadi gimana, kapan mau kenalin kepada Papa dan Mama sebagai calon istri saya?"