
Raffael dan Clara masih menikmati makanan yang mereka pesan berupa Beef Tenderloin Steak. Sembari menyantap makanan mereka, keduanya pun berbincang-bincang perihal pengembangan bisnis perhotelan Saputra Corps. di Tanjung Pinang.
"Pak Raffa memang lapar ya Pak?" Tanya Clara yang memperhatikan bagaimana Raffa begitu lahap menyantap makanannya.
"Iya... Karena aku melewatkan jam makan siang, dan tadi pagi aku hanya makan sedikit." Balas Raffa sembari mengunyah makanannya.
"Pelan-pelan makannya Pak." Clara tetap mengingatkan Atasannya itu untuk tidak terburu-buru.
"Iya, terima kasih. Karena ini sudah sore, kamu ingin kembali ke kantor atau langsung pulang?"
"Saya masih harus ke kantor Pak, tas saya berada di kantor Pak. Juga masih ada satu laporan yang perlu saya selesaikan dahulu." Sahut Clara.
"Baiklah, kita akan ke kantor terlebih dulu."
"Eh, jangan Pak... Pak Raffa kan baru saja dari bepergian jauh, sebaiknya Pak Raffa langsung pulang, istirahat. Saya bisa memesan taksi online dari sini saja, tidak masalah."
Clara memberikan saran untuk Atasannya supaya langsung pulang ke apartemennya. Bagaimana pun, Raffa baru saja tiba dari Tanjung Pinang, masih memerlukan istirahat.
"Bagaimana aku bisa pulang, jika sekretarisku saja masih akan bekerja di kantor. Sudah, ayo cepat habiskan. Setelah itu kita akan langsung ke kantor."
Usai menghabiskan makanan mereka, kemudian Raffa kembali mengemudikan mobilnya menuju kantor, Paradise Hotel. Lagi pula, satu bulan ke depan akan banyak acara yang dilakukan di Paradise Hotel, ada yang menyewa Ballroom untuk pernikahan, Seminar salah satu perusahaan, dan kerja sama dengan Pemerintah Kota untuk menggelar lokakarya di Paradise Hotel. Oleh karena itu, semuanya harus dikerjakan sedemikian rupa dari jauh-jauh hari.
Setelah berkendara hampir 30 menit, akhirnya Clara dan Raffa telah tiba di kantor. Mereka segera menuju ruangan mereka. Dan, Clara mulai mengerjakan tugas-tugasnya.
"Kalau sudah selesai bekerja, kabari aku Clara. Aku akan istirahat dulu di dalam."
"Baik Pak Raffa."
Pertama yang Clara kerjakan adalah membuat notulen rapat yang sebelumnya diikuti oleh Pak Rino, memastikan hasil rapat dinotulasi dengan baik sehingga ia bisa melaporkan notulennya kepada Raffa.
Selesai mengetik notulen, Clara mulai mengecek keseluruhan jadwal acara yang akan dilakukan di Paradise Hotel untuk satu bulan ke depan.
Mengerjakan satu per satu tugasnya kadang kala membuat Clara lupa, bahwa hari sudah malam. Sudah jam 7 malam, dan Clara masih fokus berada di depan Personal Komputernya.
Barulah ia ingat, bahwa Raffa memintanya untuk mengabarinya apabila ia sudah selesai bekerja. Sebenarnya masih ada laporan dari Divisi Marketing yang harus ia kerjakan, tetapi ia tidak enak bila harus bekerja terlalu lama dan membuat Atasannya yang baru pulang dari luar kota menunggunya lama.
Akhirnya, Clara memutuskan untuk mengecek laporan dari Divisi Marketing esok hari. Mulailah ia menyimpan semua file yang telah kerjakan dan membereskan meja kerjanya. Belum sempat ia selesai, Raffa telah keluar dari ruangannya dan berdiri di depan meja kerja Clara.
"Mau bekerja sampai jam berapa Clara?" Tanya Raffa dengan tangannya yang berada di dalam saku celananya.
"Eh, Pak Raffa... Ini sudah selesai kok Pak, saya sedang membersihkan meja kerja saya sebelum pulang."
"Baiklah, aku tunggu di sini saja." Raffa pun tetap berdiri di depan meja kerja sekretarisnya itu dan menunggunya hingga selesai.
Clara justru nampak sungkan, lantaran Raffa menunggunya. Tetapi, sebagai seorang perfeksionis Clara tak ingin terburu-buru, karena terkadang sikap terburu-buru justru membuat seseorang menjadi ceroboh dan akhirnya melakukan kesalahan karena kecerobohannya sendiri.
Raffa pun kini menyandarkan badannya di pintu, ia sembari mengamati Clara yang masih merapikan file-file di atas meja kerjanya.
"Kamu selalu rapi, Clara. Sejak kau bekerja di sini, meja kerjamu selalu rapi, file-file juga kau simpan sesuai tanggal dan bulannya. Tak pernah kulihat meja kerjamu berantakan." Raffael membatin dalam hati, sekretarisnya itu memang sosok yang rapi, disiplin, dan teliti.
"Saya sudah selesai Pak. Mari..." Clara berbicara kepada Raffa, sembari ia mengalungkan tasnya di bahunya.
"Biar saya yang mengantarmu pulang, Clara. Ini sudah malam."
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri."
"Jangan menolak, Clara. Ini perintah." Ucap Raffael dingin, ia mengatasnamakan semuanya adalah perintah yang harus dituruti.
"Hem, baik Pak. Maaf merepotkan."
Akhirnya, Raffael pun mengantarkan Clara pulang ke apartemennya. Sesungguhnya jarak apartemen Clara dengan Paradise Hotel tidak terlalu jauh, bahkan bisa ditempuh dengan bus kota, tetapi Raffa tetap bersikeras untuk mengantar Clara.
"Pak Raffa, weekend ini tidak ada jam lembur kan Pak?" Tanya Clara hati-hati.
"Kenapa? Kamu ada acara?" Raffael mengangkat alisnya ingin menelisik, sebab tidak biasanya Clara menanyakan tentang waktu lembur.
"Iya, Pak... Orang tua saya berniat mengenalkan saya dengan seorang pria yang merupakan anak dari sahabat Ayah. Jadi, saya diminta untuk menemui pria itu. Kenalan dulu."
Raffa nampak kaget mendengar cerita Clara, itu artinya berarti kemungkinan besar Clara akan dijodohkan oleh orang tuanya.
"Jangan-jangan..." Raffa menoleh melihat Clara, "Kamu mau dijodohkan ya Clara?" Raffa semakin ingin menyelidiki kebenarannya, bagaimana mungkin gadis sepandai dengan karier yang stabil seperti Clara justru akan dijodohkan kedua orang tuanya.
"Saya kurang tahu, Pak... Ayah hanya bilang untuk kenalan dulu, menemui dulu sekali untuk kenalan." Ucap Clara perlahan.
"Kalau aku memintamu untuk masuk bekerja gimana Clara? Kamu memilih bekerja atau menemui pria itu?"
Rupanya akan cukup sulit mendapatkan izin dari Raffa, terlihat ia tidak langsung memberikan izin, justru mengutarakan pilihan kepada Clara.
"Kenapa Pak Raffa justru mempersulit saya sih Pak? Lagipula hampir setiap hari saya juga lembur Pak." Sahut Clara, ia merasa tidak terima harus memilih antara bekerja atau menemui pria yang dipilihkan Ayahnya itu.
"Bukan begitu, aku kan hanya memberikanmu pilihan. Kenapa kamu langsung cemberut?" Raffa tersenyum melihat wajah Clara yang nampak cemberut. "Apa kamu begitu ingin menemui pria itu?"
Clara nampak menimbang-nimbang ucapan Raffa, sebenarnya ia memang tidak berniat menemui pria itu, tetapi karena Ayahnya yang meminta, jadi minimal Clara akan mencoba sekali menemui pria itu.
"Sebenarnya, saya pun tidak terlalu ingin menemui pria itu Pak. Tetapi, saya menghargai Ayah saya saja. Minimal saya menemuinya sekali. Itu saja cukup." Ucap Clara dengan perlahan, entah kenapa ia pun tak ingin menemui pria itu. Ia hanya ingin sekadar menemuinya sebagai formalitas saja.
"Bagaimana kalau kamu menyukainya pada pandangan pertama?" Tanya Raffa tiba-tiba.
"Ah, saya rasa tidak Pak. Saya bukan tipe orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Mengenal lebih dulu, tahu karakternya, punya tujuan yang sama jauh lebih penting." Ucap Clara dengan sungguh-sungguh.
"Oke, baiklah. Hari Sabtu, kamu boleh menemui pria itu. Aku memberikanmu libur sehari." Raffa berkata penuh keyakinan.
Clara pun senang karena Atasannya itu memberikannya hari libur di akhir pekan seharian untuknya.
"Makasih Pak Raffa..."
"Sama-sama. Tetapi, tentu ada syaratnya..."
(Kira-kira apa ya syaratnya?) 😆