
Keesokan harinya di Paradise Hotel Jakarta, Raffa dan Clara pagi-pagi telah sampai di kantor. Sekali pun usai dari perjalanan bisnis, badan pun masih capek tetapi tidak ada kata bermalas-malasan untuk keduanya.
Clara tiba di kantor lebih pagi, banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan, dan hari ini akan ada salah satu fotografer yang akan menggunakan Paradise Hotel sebagai lokasi untuk pemotretan berbagai koleksi prewedding impian. Oleh karena itu, Clara mengecek kembali kelengkapan data dari pihak klien dan setelahnya ia akan melihat apakah sesi pemotretan akan berjalan lancar.
Selang satu jam setelah kedatangan Clara, Raffa pun tiba di kantor. Pria itu langsung tersenyum bahagia ketika melihat Clara telah duduk stand by di meja kerjanya.
"Hai Pagi Clara...." sapanya manis.
"Selamat pagi juga Pak Raffa..." sahutnya.
"Kau tidak kecapean? Kenapa hari ini sudah datang begitu pagi, padahal aku ingin menjemputmu." tanya Raffa yang masih berdiri di depan meja Clara.
"Lihatlah file dokumen ini Pak, saya harus segera mengeceknya sehingga Pak Raffa memiliki pekerjaan hari ini." balas Clara sembari nyengir.
"Padahal kamu bisa sedikit lebih santai."
"Terima kasih untuk kebaikan hati Pak Raffa, tetapi file-file ini sudah menunggu saya bahkan sejak beberapa hari lamanya."
"Ternyata aku kalah dari file-file itu ya?" ucap Raffa sembari merajuk di hadapan Clara.
"Kenapa memangnya Pak?" sahut Clara cepat.
"Iya, karena aku menunggumu semalaman untuk bisa kembali bertemu denganmu pagi ini. Ternyata file-file itu sudah menunggumu lebih dulu." jawab Raffa sembari cemberut.
Clara menyunggingkan senyuman di wajahnya, "Tuh mulai lagi kan. Jangan gitu dong Pak. File-file ini tidak akan bisa menggantikan Pak Raffa kok."
"Hmm, oke baiklah. Clara bisakah kau memanggilku dengan panggilan 'mas' sekali saja. Rasanya aneh kau kembali berbicara formal dan memanggilku 'Pak'."
"Tidak bisa Pak, kita kan sudah membuat kesepakatan. Di dalam kantor ini kita tetap bertindak professional, Pak Raffa atasan saya, dan saya adalah sekretaris Pak Raffa. Jadi mari kita jalani peran ini. Okey?"
Raffa seketika terlihat cemberut, "Kenapa kau perhitungan sekali Clara, padahal sekarang cuma ada kita berdua di sini. Tidak akan ada yang mendengarnya."
Usai mengatakan itu pun, Raffa langsung berlalu pergi memasuki ruang kerjanya masih dengan wajah yang cemberut. Niat hati ingin merajuk, tetapi Clara nyatanya tetap kukuh pada pendiriannya untuk bersikap professional selama berada di dalam kantor.
***
Siang hari usai makan siang, Clara memasuki ruang Raffa. Ia berniat untuk mengecek lokasi yang akan digunakan untuk sesi pemotretan prewedding.
"Pak Raffa..." sapanya begitu memasuki ruangan atasannya itu.
"Hmm. Ada apa?" sahutnya cepat.
"Saya akan mengecek lokasi yang akan digunakan untuk sesi pemotretan prewedding. Jika nanti Pak Raffa membutuhkan saya, silakan hubungi saya saja ya Pak." Clara berniat pamit kepada Raffa, berjaga-jaga jika atasannya itu mencarinya atau membutuhkan bantuannya.
"Iya..." jawabnya pun masih singkat.
Merasa atasannya entah marah atau kecewa karena dia tidak mau memanggilnya dengan sebutan 'mas', Clara pun memilih berlalu pergi. Toh, saat ini masih termasuk jam kerja, dan mereka sudah membuat alasan sebelumnya. Jadi Clara pun memilih pergi dan meninggalkan Raffa.
Sementara usai kepergian Clara, Raffa justru uring-uringan sendiri. Dia merasa gagal merajuk, dan Clara pun tetap berdiri pada kesepakatan mereka berdua sebelumnya. Ia merasa kode ngambek yang ia lakukan pun tidak memberi efek yang berarti untuk Clara.
"Halo Pak, saya Clara sekretaris di Paradise Hotel ini. Bagaimana untuk lokasi apakah masih ada yang kurang?" tanya Clara memastikan bahwa klien pun puas dengan pelayanan dari Paradise Hotel.
Pria bernama Jonathan itu pun menyambut baik kedatangan Clara.
"Ah iya Bu, sudah. Ini sudah sangat baik. Terima kasih." balasnya sopan.
"Baik, jika membutuhkan sesuatu Anda bisa menghubungi saya atau pun staff lainnya. Silakan dilanjutkan." ucap Clara dan sekaligus ia meminta undur diri.
Clara mengamati setiap dekorasi dan berbagai set yang sengaja dibuat untuk mempercantik konsep fotografi itu. Matanya begitu dihiburkan dengan berbagai ornamen bunga, dekorasi yang indah, bahkan beberapa kostum yang digunakan para model pun terlihat begitu indah.
Ternyata apa yang sedang diamati Clara tak luput dari netra sang atasan sekaligus kekasihnya.
"Jadi, seperti apa prewedding impian kamu?" tanya Raffa sembari berdiri di belakang Clara.
"Eh, Pak Raffa. Kok di sini sih." Clara begitu kaget melihat kehadiran Raffa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Mau lihat-lihat, sapa tau dapat ide buat konsep prewedding pernikahan kita nanti." jawabnya sembari berbisik di dekat telinga Clara.
Clara pun seketika wajahnya merona malu. "Apaan sih Pak, nanti kalau ada yang denger gimana coba?" sahut Clara.
Raffa pun bersikap santai, "Tenang aja, gak ada yang denger. Orang aku juga cuma membisikkannya pelan sama kamu kok. Jadi yang denger ya cuma kamu."
"Pak Raffa ini emang ya..." jawabnya bercampur antara kesal dan gemas dengan Raffa.
"So, konsep prewedding seperti apa yang kamu impikan?" tanyanya dengan suara sangat pelan.
"Belum kepikiran Pak, lagipula pacaran saja masih dalam hitungan jari. Bukankah terlalu cepat untuk membicarakan konsep prewedding."
"Tidak, karena sapa tahu aku akan segera menikahimu. Hmm."
"Pak Raffa jangan bercanda dan jangan aneh-aneh ya. Belum tentu kedua orang tua akan memberikan restu. Kalau akhirnya tidak ada restu dari orang tua kita bagaimana?" tanya Clara.
"Tenang saja. Aku akan berusaha meyakinkan orang tua kita. Dan, kamu juga berusaha meyakinkan orang tuamu. Jangan takut, kedua orang tua akan memberikan restu kok. Percaya saja, kalau aku ini tidak akan menyerah. Aku ini pejuang, Clara." ucapnya meyakinkan.
Clara terkekeh geli, ia menyadari bahwa tingkat kepercayaan diri seorang Raffael Saputra begitu tinggi. Walau pun begitu, Clara percaya bahwa Raffa sosok pejuang yang tidak mudah putus asa, itu terlihat dari etos yang dimilikinya saat bekerja.
"Hmm, baiklah Pak Raffa. Saya nantikan perjuangan Anda." jawab Clara.
"Siap.. Aku akan buktikan bahwa aku ini pejuang. Aku tak akan menyerah begitu saja. Dan, kau bisa menyaksikannya sendiri. So, jadi konsep prewedding impian kamu yang seperti apa? Casual, Modern, Etnik, atau apa?"
"Fiary tale Pak Raffa... Keliatannya lucu aja prewedding ala-ala negeri dongeng. Ya gak sih Pak?"
"Hmm, seleramu lumayan juga. Oke, baiklah besok kalau kita akan melakukan prewedding, kita akan usung konsep Fairy tale..."
Happy Readingš„°