When My Love Bloom

When My Love Bloom
Rencana Dadakan



Apabila boleh berkata jujur, Clara sangat tidak nyaman dengan sikap atasannya hari ini. Sebenarnya sejak awal ia menjadi sekretaris Raffael, atasannya itu selalu bersikap baik kepadanya. Sekalipun Raffael adalah orang yang dingin, tetapi Clara terkadang merasakan sisi hangat atasannya itu. Akan tetapi setelah berpura-pura menjadi pacarnya dan Raffael yang tanpa sengaja atau tidak justru mencium sedikit puncak kepalanya membuat Clara merasa was-was dan canggung.


“Minum dulu Teh hangatnya, Clara. Sebelum itu menjadi dingin.” Ucap Raffael membuyarkan lamunan Clara.


“Ah, iya Pak. Saya sampai lupa dengan Teh nya.”


“Kamu sejak tadi melamun saja sih, cuma bengong liatin jalan.”


“Heheheh, gak melamun juga kok Pak.”


“Ya udah, sambil di minum Teh nya. Kamu suka teh hangat kan, aku tahu kalau kamu suka Teh.”


Clara mengerutkan keningnya, sejak kapan Boss-nya ini tahu kalau dia suka Teh, padahal ia sendiri sama sekali gak pernah mengatakannya secara langsung. Apa memang, diam-diam atasannya ini memperhatikannya.


 


“Iya Pak Raffa. Ini sambil saya minum Teh nya. Makasih ya Pak.”


 


“Hemm....” Jawab Raffael singkat.


Mobil yang mereka kendarai menyisir jalanan pagi di ibukota itu, tanpa tidak terasa mobil itu telah sampai di Perusahaan.


Clara segera keluar dari mobil, begitu pula Raffael. Mereka masuk ke dalam Paradise Hotel, menunggu lift yang akan membawanya mereka ke ruangannya. Begitu pintu lift terbuka, Clara mengangkat sedikit tangannya mempersilakan Raffael untuk masuk ke dalam lift terlebih dahulu.


“Mari, silakan Pak...” Ucap Clara mempersilakan atasannya. Setelah Raffael masuk ke dalam lift, barulah ia akan masuk, memencet tombol lantai, lalu berdiri di belakang atasannya itu."


 


“Ya, terima kasih.”


Satu sikap yang sangat baik dari seorang Raffael, dia selalu mengatakan “terima kasih” untuk hal-hal yang dilakukan orang lain baginya. Begitu juga saat bersama Clara, Raffael selalu mengucapkan terima kasih atas kerja keras sekretarisnya itu.


Keluar dari lift, keduanya berjalan menuju ruangannya mereka yang berada di lantai teratas bangunan Paradise Hotel.


“Sehabis ini, tolong bawakan agenda kerja saya ya Clara.”


“Baik, Pak.”


Clara mengambil tabletnya, mengecek setiap jadwal yang masuk untuk atasannya, lalu mengaturnya dalam kalender digital, sekaligus mengatur fitur pengingat, setelah itu ia masuk ke ruangan atasannya.


“Permisi Pak Raffa....”


“Ya masuk.”


“Ini agenda Bapak untuk hari ini, Pak.” Ucap Clara sembari menyerahkan tabletnya kepada Raffael.


“Sebentar Clara, tiba-tiba Papa saya menelpon. Kamu bisa tunggu dulu kan.”


“Ah, iya Pak.” Clara kemudian meninggalkan ruangan atasannya itu.


Papa Calling


Raffael segera menggeser tombol hijau di handphonenya.


 


[Halo Papa.....]


[Raffa sudah di kantor Pa. Ada apa Pa?]


[Bisa tidak kamu temani Papa ke Tanjung Pinang sekarang? Kita akan mengecek lahan di sana. Papa berniat mengembangkan bisnis ke sana.]


[Tanjung Pinang itu di mana Pa? Tanjung Pinang, Kepulauan Riau bukan?]


[Iya benar ke sana Raff. Bisa tidak temani Papa ke sana?]


[Kapan Pa?]


[Hari ini Raff. Pesawat jam setengah 3. Bagaimana?]


 


[Berapa hari di sana karena Raffa harus delegasikan tugas di sini juga Pa. ]


[3 hari Raffa. Kita hanya akan ke Bintan saja, usai itu kita balik lagi ke Jakarta.]


[Baik Pa. Kita ketemu di bandara nanti saja sekalian ya Pa. ]


[Oke Raffa. Papa tunggu nanti di bandara.]


Usai menerima telepon dadakan dari Papanya, Raffael memanggil Clara untuk masuk ke dalam. Raffael memencet tombol interkomnya dan sekretarisnya itu segera masuk ke dalam ruangan atasannya.


“Ya Pak Raffa, bagaimana?”


“Clara, hari ini mendadak aku harus menemani Papa ke Tanjung Pinang, bisa tidak beberapa agenda saya di undurkan terlebih dahulu? Untuk pekerjaan yang bisa kamu kerjakan, tolong kamu handle dulu. Sementara rapat yang penting minta tolong Rino untuk mewakili saya”


“Ah iya Pak. Berapa lama di sana Pak?”


“3 hari, Papa akan mengembangkan bisnis nya ke sana. Papa memintaku untuk menemaninya.”


“Oh.... Sudah mendapatkan tiket Pak? Saya akan carikan segera.”


“Ah, iya. Tolong carikan ya Clara. Laporan yang penting dan mendesak kamu kerjakan dalam soft file saja dan taruh di Drive saya ya Clara. Supaya bisa sambil ku kerjakan di perjalanan."


“Baik Pak.”


Clara berbicara dengan Raffael membahas tugas-tugasnya sembari tangannya menjelajahi handphonenya memberi tiket penerbangan secara online untuk Raffael. Tanpa membuang waktu lama, sekretarisnya sudah mengirimkan e-ticket melalui aplikasi pesan dan email kepada Raffael.


“Sudah saya kirimkan ya Pak e-ticket nya. Perlu bantuan apa lagi Pak?”


“Terima kasih, nanti bisa antarkan saya ke bandara? Setelah itu, kamu bisa membawa mobil saya. Karena tadi pagi saya membawa mobil sendiri, Pak Hermawan sedang mengantar Mama.”


Clara mengangguk, mengisyaratkan ia paham dengan tugasnya.


“Baik Pak. Karena pesawat jam setengah 3, jam 12 akan saya antar ke bandara Pak. Untuk menghindari kemacetan juga Pak. Hem, tapi bagaimana dengan barang-barangnya Pak Raffa? Apa saja yang akan dibawa?”


“Ah iya, saya sampai lupa. Saya membawa baju yang ada di kantor saja Clara. Ada koper pula di sini, saya akan bawa itu saja.”


“Baik Pak. Saya ke meja saya terlebih dahulu, saya siapkan file-file yang penting dan saya unggah ke Drive.”


 


Clara kembali ke meja kerjanya, dan mulai mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk dikerjakan atasannya itu.