When My Love Bloom

When My Love Bloom
First Date



Usai pernyataan cinta di tempat yang spesial, Raffa dan Clara akhirnya kembali lagi ke hotel tempat mereka menginap di Clarke Quay.


Sekali pun enggan untuk berpisah, tetapi esok pagi keduanya harus mengikuti afiliasi jam 9 pagi waktu Singapura (Waktu di Singapura lebih cepat 1 jam dari waktu di Indonesia - WIB).


"Baiklah Clara, istirahatlah. Besok kita harus bersiap untuk acara presentasi di pagi hari. Gunakan waktu untuk beristirahat." ucap Raffa begitu mengantarkan Clara hingga ke depan pintu kamar hotelnya.


"Terima kasih Pak Raffa." ucapnya sembari tersenyum manis kepada Raffa.


"Jangan lupa satu lagi." lanjut Raffa yang seolah-olah ingin mengingatkan Clara perihal pekerjaan.


"Ya Pak, ada apa?"


"Aku memberi izin padamu untuk memimpikanku malam ini, dan kamu harus memberi izin padaku supaya aku bisa mengunjungimu dalam mimpi. Okey?" ucapnya sambil mengerlingkan matanya.


Wajah Clara nampak merona, tak pernah sebelumnya ia berpikir akan menuju ke hubungan yang seperti ini bersama atasannya sendiri.


Clara nampak tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Raffa.


"Saya masuk ya Pak... Selamat beristirahat."


Akhirnya kedua pun berpisah malam itu. Raffa kembali ke dalam kamarnya, sementara Clara juga masuk ke dalam kamarnya.


Begitu sudah berada di dalam kamar, Clara mengganti pakaiannya dan membersihkan sisa make up di wajahnya. Di depan cermin, jemarinya menyentuh sebuah kalung dari Raffa yang masih melingkar indah di lehernya. Dia pun kembali mengingat bagaimana Raffa menyatakan perasaannya kepadanya.


"Terima kasih sudah sabar dengan saya dan memilih saya Pak Raffa." ucap Clara sembari menatap sendiri bayangan wajahnya di cermin.


***


Keesokan harinya, ketika keduanya mengikuti presentasi dari pengusaha hotel dan restoran se Asia Tenggara, Clara nampak cekatan menyiapkan berbagai file yang dibutuhkan Raffa. Bahkan ketika Raffa melakukan presentasi singkat selama 15 menit, Clara juga sudah mempersiapkan slide PowerPoint untuk Raffa.


Clara sungguh-sungguh bekerja dengan baik. Sebisa mungkin ia akan melakukan hingga atasannya tidak akan kesulitan. Dan, itu yang membuat presentasi Raffa hari ini berjalan lancar, karena Clara telah menyiapkan setiap hal yang dibutuhkan atasannya.


Pertemuan hari itu, berakhir pada sekitaran jam 11.30, acara selanjutnya akan dilanjutkan keesokan harinya.


"Sehabis ini apa yang ingin kau lakukan Clara?" tanya Raffa ketika keduanya berjalan bersama kembali ke kamar masing-masing.


"Kalau masih membutuhkan file dan dokumen untuk acara besok, ya berarti saya akan bekerja usia ini Pak."


"Hmm, baiklah. Tetapi, ketika kamu butuh bantuan atau merasa bosan, kamu bisa segera menghubungiku."


Clara hanya mengangguk sembari mengutas senyuman di wajahnya.


Begitu tiba di kamar, Clara merebahkan dirinya sejenak di tempat tidur, meregangkan otot-ototnya yang terlalu lama duduk ketika acara berlangsung. Setelah itu, ia bangun dan menghidupkan kembali laptopnya mengecek berbagai laporan dari Paradise Hotel yang masuk ke emailnya.


Baru setengah jam Clara berkutat di depan laptop, rupanya sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya.


Pak Raffa Calling


Dengan segera Clara mengusap tombol hijau di layar handphonenya.


[Ya Pak Raffa, ada apa?]


[Bergantilah baju Clara, pakailah baju santai. Ayo kita keluar mencari angin sebentar.]


[Eh, tapi Pak...]


[10 menit lagi aku jemput di depan pintu kamarmu ya... Ingat 10 menit.]


Telepon pun dimatikan begitu saja. Clara pun segera mengganti pakaiannya dengan mengenakan jeans, kaos putih, dan kemeja kotak-kotak yang ia tenteng di tangannya. Tidak lupa ia hanya mengenakan sepatu sneakers yang akan memudahkannya untuk berjalan.


Belum sampai 10 menit, ternyata Raffa sudah mengetuk pintu kamar Clara. Mendengar pintu kamar telah diketuk, Clara segera berlari untuk keluar.


"Sudah siap kan?" tanya Raffa menunjukkan senyuman termanisnya.


"Belum juga 10 menit, Pak. Untung saya sudah siap." ucap Clara sembari sedikit menggerutu.


Raffa terkekeh melihat ekspresi Clara. "Sudah. Yuk, kita jalan-jalan. Kamu mau kemana hari ini? Mau kita sewa mobil dari hotel?" tawarnya sembari masih berdiri di hadapan Clara.


"Kalau kita naik transportasi publik, Pak Raffa keberatan tidak?" tanya Clara hati-hati.


"Tidak. Naik apa pun asal sama kamu, aku tidak keberatan."


"Boleh, ayok...."


Keduanya lantas berjalan keluar dari hotel, menuju stasiun terdekat, tidak lupa membeli ezzlink (kartu untuk membayar transportasi publik di Singapura, bisa diisi ulang dengan uang).


"Kita mau kemana?"


"Ke Merlion Park, mau tidak Pak?"


"Boleh. Kalau waktunya masih, tempat kedua aku yang pilih ya?" jawab Raffa.


Clara langsung mengangguk setuju.


Mereka menaiki MRT dan turun di pemberhentian kedua. Perjalanan menuju Merlion Park dilanjutkan dengan berjalan kaki.


Raffa tersenyum kecil mengamati Clara, ia sangat tidak tahan untuk menggoda gadis itu. "Kamu sebenarnya ingin jalan-jalan sama aku ya?"


Sontak mata Clara langsung membola, "Maksudnya apa ya Pak?"


Raffa hanya tersenyum, satu tangannya secara tiba-tiba langsung menyambar tangan Clara. Menggenggamnya sembari terus berjalan. "Kamu suka kita bergandengan tangan sambil jalan-jalan seperti ini kan?"


"Eh, tidak Pak. Kapan lagi jalan-jalan di luar negeri, Pak. Lagipula di sini tidak polusi udara, hari ini udaranya juga sejuk. Cocok sih untuk jalan-jalan. Tapi kalau Pak Raffa keberatan kita bisa balik pulang aja deh."


"Iya. Cocok buat jalan-jalan, tapi lebih cocok kalau kita sambil gandengan kayak gini. Ya kan?" ucapnya sambil mengerlingkan mata pada Clara.


"Ish, Pak Raffa genit deh." cibir Clara.


"Genitnya cuma sama kamu."


Langkah kaki Clara agak melambat, melihat sesuatu di depan sana. "Pak Raffa, kita beli es krim itu mau tidak?"


Tangannya menunjuk pada penjual es krim potong yang begitu legendaris di Singapura, es krim potong dengan harga 1 dollar Singapura.


"Es krim potong Singapura?" tanya Raffa.


"Iya..." jawabnya cepet sambil menganggukkan kepalanya.


"Boleh... Ayokkk...."


Keduanya membeli es krim potong sembari duduk-duduk bersama di area Cavenagh Bridge.


"Clara, kalau kayak gini sih kencan pertama kita kayak anak kecil tahu enggak?" ucap Raffa sembari masih memakan es krim potongnya.


"Maksudnya gimana Pak?"


"Nih kita duduk berdua, kaki kamu goyang-goyang sambil makan es krim potong yang harganya cuma 1 dollar Singapura."


Clara tertawa mendengar perkataan Raffa. "Pak Raffa keberatan? Abis udah ke Singapura kan gak afdol kalau belum jajan ini Pak."


"Kamu mau lagi es krimnya, aku akan belikan."


"Mau satu lagi boleh Pak?"


"Boleh. Mau rasa apa?"


"Pak Raffa yang pilihkan saja rasanya ya."


"Hmm, oke baiklah. Kamu tunggu di sini saja. Aku belikan sebentar."


Raffa lalu berjalan, kembali membeli es krim potong. Sesekali ia melihat Clara yang duduk di belakangnya. Setelah membeli es krim, ia kembali kepada Clara.


"Ini aku pilihkan yang dua rasa." ucapnya sembari menyodorkan es krim pada Clara.


"Makasih Pak Raffa. Loh Pak Raffa enggak beli lagi?"


"Enggak, kebanyakan makan manis nanti kalau aku bicara yang manis-manis kamu bisa diabetes."


Clara kembali terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. "Bisa aja Pak...."