
Hampir sebulan Raffa dan Clara sama-sama mempersiapkan pernikahan impian mereka. Hingga keduanya sampai pada hari bahagia yang mereka impikan bersama.
Bertempat di salah satu venue outdoor di Kota Bandung yang hanya memanfaatkan hijaunya pemandangan alam dan dipermanis dengan berbagai bunga, pita berwarna putih, dan juga lampu-lampu yang memancarkan cahaya.
Clara telah berhias sedemikian rupa dengan wedding dress berwarna putih dengan bentuk off-shoulder, dan bucket bunga tulip yang ia pegang di tangannya. Gadis itu begitu cantik dengan rambut yang sudah dihias sedemikian rupa dan make-up flawless menghiasi wajahnya yang ayu.
Sementara itu Raffa telah bersiap dengan mengenakan tuksedo berwarna hitam. Pria itu terlihat begitu tampan.
Sesekali Raffa berusaha menetralkan kepanikan yang melandanya. Akan tetapi saat ini, dia telah berdiri menyambut sang mempelai wanitanya yang akan segera datang menuju pelaminan.
Detik demi detik berlalu, menit berganti dengan menit, hingga akhirnya Clara berjalan menuju ke pelaminan dengan tangannya yang digandeng oleh sang Ayah.
Dengan langkah pelan dan perlahan, Clara berjalan menuju pelaminan, matanya berkaca-kaca merasakan ia benar-benar telah sampai di hari bahagianya. Bersatu, mengikat janji suci dengan pria yang merupakan cinta pertamanya, ya Raffael Saputra.
Beberapa langkah ketika Clara semakin dekat dengan Raffa, gadis itu memberikan senyuman masih dengan matanya yang berkaca-kaca.
Dengan sigap Raffa menerima tangan dari Clara yang diserahkan oleh Ayahnya. Menerima tangan gadis yang amat dicintainya dengan sepenuh hati.
Hingga akhirnya Pendeta yang telah berdiri di situ menengadahkan tangan dan membacakan sebuah firman Tuhan dengan berseru,
"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia."
Usai itu sang Pendeta mempersilakan kedua mempelai untuk saling berhadap-hadapan dan mengambil janji suci pernikahan keduanya.
"Saya Raffael Saputra, mengambil engkau, Clara sebagai istri saya untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah mau pun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Raffa mengucapkan janjinya dengan kesungguhan hati, hingga membuat Clara meneteskan air matanya.
Kini, giliran Clara yang mengucapkan janji pernikahannya.
"Saya Clara Ariella, mengambil engkau, Raffael Saputra menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.”
Derai air mata mengiringi setiap kata yang terucap ketika Clara menyatakan janji sucinya. Sementara terus menggenggam kedua tangan Clara, menyalurkan kekuatannya dari genggaman tangannya.
Janji yang mereka ucapkan berdua bukan sekadar janji yang didengar oleh pengantin mau pun para hadirin yang ada saat itu. Janji suci pernikahan mengikat keduanya di hadapan Tuhan hingga maut yang bisa memisahkan.
Ketika janji suci pernikahan sudah diucapkan, Raffa mendekati Clara memberikan ciumannya (wedding kiss) sebagai tanda keduanya telah resmi menjadi suami dan istri.
Prosesi dilanjutkan acara santai, makan bersama, dan tentunya foto bersama kedua pengantin yang menjadi Raja dan Ratu sehari.
"Kamu benar-benar cantik Clara, wedding dress nampak sempurna. Rasanya aku terpesona saat tadi aku melihatmu melangkah menuju podium." ucapnya sembari sedikit berbisik di telinga Clara.
"Terima kasih Mas, wedding dress ini adalah pilihanmu. Terima kasih sudah memilihkan gaun yang begitu indah ini untukku." sahut Clara.
Raffa tersenyum dan menggenggam tangan Clara. "Akhirnya hari ini tiba, hari saat aku bisa menjadikanmu sebagai pengantinku, menjadi tulang rusukku, menjadi teman hidupku. Aku sangat bahagia." ucapnya dengan penuh kesungguhan.
"Aku juga bahagia. Aku menikah dengan pria yang aku cintai, terima kasih banyak Mas sudah meminangku. Aku akan berusaha menjadi Istri yang tunduk dan taat kepadamu." sahut Clara.
Clara dan Raffa berdiri menerima ucapan terima kasih dari setiap tamu undangan. Mengingat besarnya nama Saputra Corp. sudah pasti undangan yang menghadiri pernikahan Raffa dan Clara begitu banyak. Tidak hanya saudara, keluarga, tetapi juga rekan bisnis turut hadir di hari bahagia itu.
Pun demikian, Raffa dan Clara menyambut setiap tamu yang memberikan ucapan selamat dengan senyuman mereka. Seolah keduanya tidak mereka kecapean, justru mata mereka penuh binar bahagia mendengar ucapan dan doa yang tulus dari seluruh undangan yang hadir.
Menjelang pukul sepuluh malam barulah acara resepsi keduanya selesai.
Ketika acara resepsi usai, Ayah Harsa dan Ibu Erna yang merupakan orang tua Clara datang menemui Raffa.
"Nak Raffa, Ayah dan Ibu mau pamit sekarang juga. Sekaligus Ayah ingin menitipkan Clara kepada Nak Raffa. Tolong dibimbing anak Ayah ini, sekarang tugas Ayah telah selesai, tanggung jawab Clara ke depannya Ayah serahkan kepadamu sebagai suaminya." ucap Ayah dengan matanya yang nampak berkaca-kaca.
Setelahnya Ayah Harsa menggenggam tangan Clara. "Sekarang kamu sudah menjadi Istri, Clara. Belajar untuk mengasihi suami, menjadi Istri yang taat kepada suamimu." ucap Ayahnya yang justru membuat Clara menangis berderai air mata.
Clara memeluk Ayahnya. "Terima kasih Ayah, terima kasih selalu menjadi Ayah yang hebat buat Clara. Pasti Yah, Clara akan mengasihi Mas Raffa dan taat kepadanya."
Ayah menepuk-nepuk punggung anak bungsunya itu. "Jangan menangis di hari bahagiamu, Ayah sangat yakin kamu akan bahagia bersama dengan Nak Raffa. Ayah yakin suamimu akan menjaga dan menyayangi kamu. Belajar terus menjadi Istri yang baik ya." ucap Ayahnya.
Raffa juga kini memeluk Ayahnya. "Tentu Raffa akan melindungi, membahagiakan, dan menyayangi Clara, Ayah. Terima kasih Ayah untuk semuanya. Percayakan Clara kepada Raffa, Raffa janji tidak akan pernah menyakiti Clara karena Raffa sangat mencintai Clara." ucapnya dengan kesungguhan hati.
"Iya Raffa, Ayah percaya kepadamu. Baiklah kami pamit. Bahagialah selalu, jangan lupa juga untuk main ke rumah Ayah. Pintu rumah itu akan selalu terbuka untuk kalian berdua."
Usai mengharu biru dengan kedua orangnya, akhirnya kini Raffa dan Clara berjalan bersama menuju kamar pengantin mereka yang sengaja dipesan di sekitar lokasi pernikahan.
"Kau capek, Sayang?" tanya Raffa yang menggandeng tangan Clara menuju kamar pengantin mereka....