When My Love Bloom

When My Love Bloom
Bantu Aku



“Kenapa hari ini Pak Raffa terasa aneh. Selama 5 tahun aku menjadi sekretarisnya, baru kali ini dia mengajakku untuk membeli baju. Bukankah dia kaya dan pasti memiliki banyak baju di lemarinya. Untuk sekadar reuni, bukankah bisa memakai baju apa saja. Kenapa juga, dia membelikan dress dengan harga segitu mahal untukku? Jika untuk sebatas reuni, bukankah ini terlalu berlebihan.” Clara berpikir dengan otaknya sembari terus berjalan mengikuti Raffael yang berjalan di depannya.


“Kita makan siang di sini saja, kamu ingin makan apa Clara?” Tanya Raffael sembari menoleh kepada sekretarisnya yang sedang berjalan di sampingnya itu.


Clara cukup kaget mendengar atasannya yang dingin itu menawarkan kepadanya ingin makan siang apa. “Saya ngikut Pak Raffa saja.” Jawab Clara dengan sedikit tersenyum kepada Raffael.


“Kalau dari restoran Jepang kamu suka gak?” Lagi-lagi Raffael bertanya kepada Clara yang hanya terdiam dan mengikutinya ke mana saja.


“Gak masalah Pak. Pak Raffa mau makan apa, saya juga akan makan itu.” Jawab Clara dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


Tidak menunggu lama, Raffael pun beranjak ke restoran Jepang yang ada di Mall itu. “Ayo kita makan di sini saja.” Kata Raffael kepada Clara.


“Oke Pak.” Clara pun mengikuti Boss nya memasuki restoran Jepang itu.


Keduanya memesan set sushi, salmon belly tempura, jus stroberi, dan Ocha panas. Setelah menunggu selama 15 menit, semua makanan yang mereka pesan sudah tersaji di hadapan mereka.


“Hemm, Clara begini. Sebenarnya aku mengajakmu ke reuni SMA ku karena aku ingin minta bantuanmu.” Buka Raffael memulai obrolan dengan Clara sembari makan sushi di hadapannya.


 


“Bantuan apa Pak?”


“Gini, kamu kan tau kalau reuni biasanya temen-temen akan menanyakan sudah punya pacar belum, sudah menikah belum, anaknya berapa, dan sebagainya. Bagiku itu adalah pertanyaan yang cukup mengganggu karena aku gak bisa menjawab pertanyaan dari teman-temanku itu. Nah, aku ingin bantuanmu. Bisakah kamu berpura-pura menjadi pacarku waktu reuni itu.”


Clara yang sedang meminum jus stroberinya itu hampir tersedak, ia batuk-batuk mendengar permintaan Raffael.


Raffael yang melihat Clara batuk-batuk karena nyaris tersedak, segera meminta satu gelas air putih kepada pelayanan restoran itu. Tidak lama, pelayan itu datang memberikan satu gelas air putih kepada Raffael.


 


“Minum air putihnya dulu Clara, tenanglah.” Dengan tangannya menyodorkan satu gelas air putih kepada Clara.


“Aa apa maksud Pak Raffa tadi berpura-pura menjadi pacar Bapak?” Jawab Clara setelah meminum air putihnya.


“Kamu pasti terkejut ya, tapi suasana seperti itu akan membuatku tidak nyaman. Teman-temanku pasti akan menanyakan hal seperti itu terus kepadaku.” Raffael pun berkata jujur, memang dalam acara reuni biasanya teman-temannya akan menanyakan kabar, siapa pacarnya, siapa istrinya, sekarang bekerja apa, dan sebagainya.


“Kenapa harus saya Pak? Apa tidak ada cewek lain yang bisa menolong Bapak?” Kali ini Clara berbicara dengan nada sedikit kesal.


“Cewek lain siapa lagi Clara, kalau cewek yang aku kenal Cuma Mamaku, Kakak iparku, dan kamu.” Raffael menjawabnya sambil menaruh sumpit yang semula ia pegang dan menatap Clara.


“Hhaaa.... Pak Raffa ini gak punya temen cewek?” Tanya Clara dengan mata membelalak mendengar pernyataan Raffael yang menurutku sangat tidak reasonable. Bagaimana mungkin pria muda, tampan, kompeten, dan sukses seperti Raffael hanya mengenal tiga wanita di hidupnya.


 


“Jangankan teman cewek, satu-satunya temanku Cuma Rino. Aku dekat dengannya karena kami sama-sama orang Indonesia yang sekolah di Amerika dulu.” Raffael menjawab dengan nada datar dan sedikit menundukkan kepalanya, kali ini ia enggan melihat pada Clara. Raffael sebenarnya ragu apa dia harus menceritakan bagaimana ia tumbuh menjadi pria yang tidak banyak memiliki teman.


 


“Oh, begitu ya Pak. Maaf....” Clara yang selalu nampak sebal, kalinya ia melunak. Ternyata pria yang termasuk boyfriend material ini justru memiliki lingkar pertemanan yang sangat sempit.


“Gak perlu minta maaf karena kenyataannya kan seperti itu. Jadi gimana mau enggak membantu saya?”


“Apa kamu sudah punya pacar hingga gak bisa bantuin saya?”


“Pacar dari mana Pak, kalau hampir 7 hari dalam satu minggu saya bekerja Pak, mau pacaran sama siapa.” Kali ini Clara menjawab dengan nada kesal, mana mungkin dia pacaran kalau Boss nya selalu menyuruhnya bekerja di akhir pekan.


“Gini aja deh, saya akan beri kamu bonus tambahan karena sudah mau nolongin saya.”


“Oh, jadi Bapak membayar saya gitu. Bapak pikir saya cewek apaan Pak, yang harus diberikan bayaran tambahan.” Ucap Clara dengan tegas dan ada rasa kecewa dalam perkataannya.


“Maaf Clara bukan itu maksudku.” Raffael meminta maaf karena dia sesungguhnya memang tidak berniat menyakiti hati Clara.


Akhirnya sekian detik keduanya hanya diam. Dua orang yang duduk bersama hanya sama-sama diam, kembali menyantap makanannya pun tidak, hanya benar-benar diam.


“Sorry Clara. Jadi bagaimana mau bantu saya tidak? Apa pun keputusanmu aku gak masalah. Aku akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan aneh dari semua orang di reuni nanti.” Raffael kembali membuka obrolan, kali ini dia sungguh-sungguh akan menghargai apa pun keputusan Clara.


Clara kembali meminum jus stroberinya, setelah itu pun dia menjawab. “Hemmm, oke Pak. Saya akan bantuin Pak Raffa tapi untuk kali ini saja.”


Wajah Raffael yang semula datar, berubah menjadi bahagia, seutas senyuman keluar begitu saja dari sudut bibirnya.


 


“Makasih Clara sudah mau bantuin aku. Tapiii....”


“Tapi apa Pak?”


“Di reuni nanti jangan panggil aku Pak, ya. Gak lucu juga kan orang yang pacaran memanggil Pacarnya dengan sebutan Pak.”


“Lalu, saya harus panggil apa Pak?”


“Terserah kamu saja, yang penting jangan panggil Pak Raffa selama di sana.”


“Aduh, tapi saya sungkan Pak. Kan selama ini saya memanggil Anda, Pak Raffa. Biar bagaimana pun Anda kan atasan saya Pak.”


“Lupakan hierarki atasan dan sekretaris dulu selama reuni ini, ya kamu bisa menganggapku pacarmu.”


“Pacar pura-pura kali, Pak.”


“Apapun itu kan pacar namanya. Jangan berbicara formal juga ya ketika reuni nanti. Kamu bahkan bisa memanggilku dengan namaku saja nanti.”


“Nanti saya pikirkan deh Pak, ternyata membantu Bapak ini syarat dibelakangnya banyak sekali, seperti orang mau ambil KPR aja Pak, syaratnya banyak.” Dengus Clara kesal.


“Hahahaha.... Bisa aja kamu menyamakan kesepakatan kita sama proses KPR. Kamu ya....” Mata Raffael pun melotot kepada sekretarisnya itu.


“Abisnya Bapak kasih syarat banyak banget, saya kan pusing, Pak.” Jawab Clara dengan bibirnya yang cemberut.


“Udah gak usah dibikin pusing. Ayo makan lagi, biar gak pusing kepalanya. Habis ini kita balik ke kantor lagi.”


Dengan sesekali mengobrol, Raffael dan Clara menyantap lagi makanan yang masih ada di atas meja mereka. Sehabis makan siang selesai, Raffael bergegas menuju kasir untuk membayarnya, setelah itu keduanya kembali lagi ke kantor untuk bekerja.