When My Love Bloom

When My Love Bloom
Buah Tangan



"Clara, tunggu dulu...."


Ucapan dari Raffa langsung menghentikan langkah kaki Clara. Dengan perlahan, Clara membalikkan badannya menghadap Raffa yang tengah duduk di sofa.


"Ya, ada apa Pak Raffa?"


"Duduklah di sini sebentar."


Clara justru kebingungan melihat Raffa yang menyuruhnya untuk duduk di sofa. Walau pun enggan, ia pun menuruti instruksi Atasannya itu untuk duduk di sofa. Clara mengambil tempat duduk berhadapan dengan Raffa dengan sebuah meja kecil yang memisahkan keduanya.


Raffa pun lalu mengeluarkan sebuah paper bag berwarna cokelat dan menyerahkannya kepada Clara.


"Ini untukmu." Ucap Raffa sembari memberikan paper bag itu.


"Apa ini Pak?" Tanya Clara masih dengan kebingungan.


"Buka saja. Kau boleh membukanya sekarang."


Walau pun ragu, Clara membuka paper bag itu. Di dalamnya ada kue oleh-oleh dari Tanjung Pinang, beberapa kemasan Teh Tarik, cokelat, dan tentunya ada pula dua potong sandwich.


"Banyak sekali Pak Raffa." Ucap Clara sembari tersenyum melihat banyaknya oleh-oleh dari Raffa itu.


"Itu, hanya sedikit sih. Hanya buah tangan saja, aku membelinya di bandara. Dan, Teh Tarik itu produksi lokal dari kota Tanjung Pinang, aku ingat kau sangat suka Teh kan, jadi aku membelikannya untukmu." Jelas Raffa panjang lebar.


Clara mengutas senyuman di wajahnya, Raffa memang atasan yang baik. Setiap pria itu dari luar kota, pasti ia memberikan buah tangan untuk sekretarisnya itu. Yang membuat Clara tersipu malu, karena Raffa selalu tahu apa yang menjadi kesukaan sekretarisnya itu.


"Makasih ya Pak Raffa... Lalu, ini sandwich nya?"


Sambil tangan Clara mengangkat dua sandwich di tangannya.


"Oh, itu untuk kita berdua dong. Aku yang membuatnya tadi pagi. Ayo, kita sarapan bersama."


Kali ini giliran mata Clara membelalak mendengar ucapan Raffa, mengapa segitu mudahnya Raffa mengatakan ingin sarapan bersama dengannya.


Tanpa menunggu lama, Raffa mengangkat tubuhnya, meraih satu sandwich di tangan Clara.


"Sudah ayo dimakan. Temani saya makan. Saya tahu, kamu juga pasti belum sarapan kan?"


Clara memang belum makan, ia sengaja datang lebih pagi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda kemarin.


Raffa membuka plastik yang membungkus sandwich nya lalu menyerahkannya kepada Clara.


"Ini, kamu makan yang ini..." Lalu, ia menyahut sandwich yang masih terbungkus rapi di tangan Clara.


"Eh, iya Pak..." Clara sungguh kaget dengan tindakan Raffa yang impulsif. Mengapa hanya perkara sandwich saja, Raffa bisa seperhatian ini kepadanya hingga ia mau mengotori tangannya dengan membukakan bungkus plastiknya.


Dengan enggan, akhirnya Clara memakan sandwich buatan Raffa pagi itu. Raffa pun juga menikmati sandwich yang ia buat itu. Sembari mengunyah, sesekali keduanya saling mencuri pandang.


"Jadi gimana pekerjaan di sini selama aku pergi selama tiga hari?" Tanya Raffa sembari mengunyah sandwich.


"Aman kok, Pak. Usai ini saya berikan notulen rapat yang diwakili Pak Rino. Saya pindahkan ke tablet terlebih dulu, Pak."


"Oke, bagus. Kamu tidak mengalami kesulitan kan selama tiga hari ini?"


"Tidak kok Pak, aman Pak." Jawab Clara sembari tersenyum.


"Kamu aman, saya nya yang tidak aman." Gumam Raffa pelan.


"Apa Pak? Pak Raffa bilang apa barusan?" Clara seolah mendengar Atasannya sedang berkata, namun sangat lirih hingga tak terdengar di telinganya.


"Lupakan saja, bukan apa-apa kok. Gimana sandwich nya enak enggak?"


Aduh, ini kenapa sih pagi-pagi Si Bos udah tanya macem-macem, semuanya ditanyakan.


"Hem, enak Pak. Makasih ya Pak Raffa."


Usai sarapan dadakan yang hanya sekian menit tetapi, terasa sangat lama itu akhirnya Clara meminta izin untuk meninggalkan ruangan Raffa dan kembali bekerja. Tidak lupa ia membawa paper bag berisi buah tangan dari Raffa.


Baru saja, Clara duduk sejenak di tempatnya, Mama Raffael datang dengan seorang gadis yang sangat cantik. Berperawakan tinggi, kulitnya kuning langsat, dengan wajahnya yang nyaris model.


Nyonya Ratna itu memeluk Clara dan mencium kedua pipi Clara.


"Ah, iya. Pak Raffa ada di dalam. Silakan masuk Nyonya."


Nyonya Ratna pun mengangguk dan tersenyum kepada Clara.


"Ah, iya. Kenalkan Clara, ini Veronika anak temennya Mama. Mau Mama kenalkan sama Raffa."


Wanita cantik nan anggun itu pun, tersenyum manis dan menjabat tangan Clara.


"Vero..." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Clara, sekretarisnya Pak Raffa." Balas Clara yang juga sembari tersenyum kepada Veronika.


"Saya masuk ya Clara..." Mama Ratna pun masuk ke ruangan Raffael bersama Veronika.


Clara pun kembali duduk, ia merasa bahwa Pak Raffa sangat beruntung bila akhirnya bisa bersama Veronika. Raffa yang tampan, kaya, dan kariernya cemerlang memang pantas bersama wanita secantik Veronika.


"Mungkinkah Nyonya Ratna berencana menjodohkan Pak Raffa juga? Terlebih memang Pak Raffa sudah dalam usia siap menikah."


Pikiran itu tiba-tiba terlintas di benak Clara. Lagipula sudah lumrah apabila keluarga kaya akan menjodohkan anak-anak mereka dengan rekan bisnis orang tuanya, supaya bisnis yang dijalani lebih berkembang. Mengembangkan skala bisnis memang menjadi hal yang lumrah di antara anak-anak pebisnis. Dengan pernikahan, kedua orang tua bisa menjalin kerja sama dan kesepakatan.


Sementara di dalam ruangan Raffa, justru Raffa terkesan dingin dan biasa saja dengan kepada Mama Ratna dan Veronika.


"Ada apa Mama kesini?" Tanya Raffa dingin dan enggan melihat wanita cantik yang datang bersama Mamanya itu.


"Masak Mama mengunjungi anaknya sendiri gak boleh sih, Raff." Balas Mama Ratna santai.


"Tapi kan, Raffa masih sibuk Ma... Terlebih, setelah tiga hari Raffa menemani Papa ke Tanjung Pinang."


"Ini, Mama mau ngenalin kamu sama Veronika, dia anak temen Mama. Kalian bisa saling kenalan dulu, berteman dulu."


Raffa barulah melihat wanita cantik bernama Veronika itu, dan menjabat tangannya untuk sebatas berkenalan.


"Vero..."


"Raffa..."


"Kalian ini hampir seumuran, jadi Mama harap kalian bisa saling dekat. Temenan dulu gitu maksud Mama."


"Ya kenalan aja Ma, enggak perlu dekat juga Raffa masih sibuk." Sahutnya dingin.


Sementara Vero hanya tersenyum melihat Raffa. Dalam hatinya Vero berkata, "Pria tampan, tetapi dingin."


"Bicara sama kamu emang susah ya Raff. Mama gak punya maksud apa-apa juga, gak mau menjodohkan kamu juga, cuma kan kenalan, nambah teman. Masak temen kamu dari dulu cuma Rino aja. Gak ada yang lain." Kali ini giliran Mama Ratna yang kesal dengan Raffa.


"Jangan mikiran Raffa, Mama. Gini-gini, Raffa bisa membawa diri dengan baik kok. Ah, sampai lupa Mama mau minum apa? Biar Clara buatkan."


"Gak usah, Mama ke sini juga cuma mampir kok. Tadi kebetulan lewat sini sama Vero, jadi mampir. Ya kan Ver?"


"Eh, iya Tante..." Jawab Vero sambil tersenyum.


"Ya udah, kayaknya kamu baru sibuk. Mama sama Vero lanjut ya. Kalian gak mau tukeran nomor telepon?"


Vero hanya tersenyum, sementara Raffa langsung bersikap cuek.


"Tidak perlu, Ma..."


***


Dear All,


Mampir ke karya teman aku ya...


Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku karya Ruth89