
Hari sudah cukup malam saat Clara telah tiba di apertemennya. Begitu selesai membersihkan dirinya, Clara segera merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.
Sesekali gadis berselancar jari-jarinya yang terus menerus mengusap layar handphonenya.
Kamu landing jam berapa sih Mas? Kok sampai sekarang belum memberiku kabar. Pesan pun belum masuk. Kamu di mana, dengan siapa. Kuharap kamu sungguh-sungguh menjaga hatimu.
Apa hanya aku yang memendam rindu di sini? Tadi kamu bilang akan segera menghubungiku, sekarang tidak ada kabar apa pun darimu.
Semua pertanyaan retoris itu berputar-putar dalam kepalanya. Akhirnya Clara seakan memilih menyerah. Gadis itu berusaha berpikir positif bahwa kekasihnya baik-baik saja di sana. Mungkin Raffa hanya kecapean atau langsung tidur sehingga tidak menghubunginya.
Baru saja Clara berhasil menenangkan dirinya, rupanya sebuah panggilan video masuk ke handphonenya.
Pak Raffa Calling
Clara mengernyitkan keningnya ketika mengetahui ada sebuah panggilan video dari Raffa. Tidak biasanya pria itu melakukan video call.
Kemudian Clara mengubah posisinya yang semula rebahan, kini ia duduk bersandar di headboard tempat tidurnya. Jarinya menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
Terlihatlah wajah Raffa di sana.
[Halo Clara, sudah mau tidur?] tanyanya melalui sambungan video call nya.
[Belum Mas.] jawabnya singkat. Hati Clara masih sedikit sebal mengingat pria itu tidak segera memberikannya kabar begitu landing.
[Baru ngapain?] tanya Raffa sembari mengamati wajah Clara yang muncul di layar handphonenya.
[Gak ngapa-ngapain.]
Melihat raut wajah Clara terlihat kesan bahkan cara dia berbicaranya pun ala kadarnya, membuat Raffa menyadari bahwa pasti ada yang salah dengan dirinya, hingga Clara bersikap seperti ini.
Hening sejenak. Raffa berpikir, barulah ia ingat bahwa dia tidak memberi kabar kepada Clara saat ia landing. Gadis itu pasti mengkhawatirkannya.
[Clara, aku kelupaan tadi tidak mengabarimu saat landing tadi. Maafkan aku ya, karena tadi aku langsung mengecek lapangan. Ini saja baru sampai di hotel terus mandi. Pasti sebel sama aku karena itu ya?]
[Apa susahnya ngasih kabar sih Mas? ngetik pesan cuma satu menit juga bisa loh.]
[Iya, maaf ya. Jangan marah.]
[Tau deh.] jawab Clara tetap mengisyaratkan gadis itu tengah kesal dengan Raffa.
[Kalau marah, ngambek nanti cantiknya hilang loh.] ucap Raffa yang sedang ingin mengubah suasana Clara. Sebenarnya pria itu juga tidak tahu jika Clara dalam mode ngambek seperti ini.
[Enggak ada hubungan baru kesel sama cantik. Aneh banget sih.]
[Ada dong, kalau enggak ngambek kan tambah cantik. Kalau marah ya tetap cantik sih, kan pacarnya Mas Raffa selalu cantik iya kan?]
[Jangan gombal ya Mas, enggak mempan.] ucap Clara dengan nada bicara yang sengit.
[Bukan gombal, aku kan bicara faktanya kalau kamu memang cantik.] ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.
[Ya sudah ya Mas, sudah malam. Sebaiknya Mas Raffa istirahat buat pekerjaan besok.]
[Ya udah, aku temenin dulu. Mas Raffa sudah makan?] tanya Clara kepada kekasihnya itu.
[Sudah, tadi makan Rawon sama Rino. Kamu nanti kalau aku balik Jakarta mau dioleh-olehi apa?]
[Enggak perlu Mas, cukup Mas kembali dengan selamat itu oleh-oleh yang melebihi apa pun.]
Raffa tersenyum mendengar ucapan Clara. [Oke, tunggu aku pulang. Tunggu kedatanganku. Aku akan secepatnya menyelesaikan urusan di sini dan secepatnya aku akan kembali. Aku sendiri juga gak bisa lama-lama jauh dari kamu.]
[Hmm, iya. Semoga urusan di sana lancar ya Mas. Oh iya, tadi Papa dan Mama Mas Raffa ke Paradise Hotel. Mas Raffa pergi ke Surabaya tanpa berpamitan dengan Beliau ya?]
Raffa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal sama sekali. [Aku kelupaan. Mama dan Papa apa marah?]
[Tidak marah, tapi sebaiknya kemana pun pergi lebih baik pamit, Mas.]
[Oke, ingatkan aku untuk berpamitan kepada orang tuaku. Baik Clara, istirahatlah. Ini sudah malam. Besok aku akan menghubungimu lagi. Good night... I Love U....]
[Selamat malam Mas, Love U Too...]
***
Malam telah berlalu ketika surya kembali menyapa. Langit malam yang semula kelam tergantikan dengan langit biru dan awan putih dengan semburat warna oranye ketika Sang Penguasa Siang terbit memancarkan cahayanya.
Pagi ini di kota Surabaya, Raffa telah bersiap. Sepagi mungkin ia akan menyelesaikan setiap pekerjaan di Surabaya, sehingga ia bisa segera kembali ke Ibukota.
Raffa turun untuk mengikuti sarapan, rupanya di sana Kakaknya, Marcel telah menunggunya.
"Hai Raff, gimana?" sapa Sang Kakak pada adiknya itu.
"Hari ini akan kembali menyelesaikan pembebasan lahan Kak, untuk investor sudah selesai semalam. Jika terkait lahan selesai, aku akan secepatnya kembali ke Jakarta."
Marcel menanggapi serius pembicaraan adiknya itu. "Kau tidak ingin mengunjungi kakak iparmu terlebih dahulu. Atau kau ingin aku kenalkan dengan salah satu temanku di Surabaya ini. Jangan terus-terusan sendiri. Lihatlah, memiliki istri itu juga bisa membuatmu bahagia."
Raffa menggerakkan bahunya. "Jangan coba-coba mengenalkanku pada siapa pun Kak, karena aku sudah tak sendiri. Aku sudah memiliki seorang gadis yang sangat kucintai." ucapnya tanpa basa-basi kepada Sang Kakak.
Marcel menepuk bahu adiknya itu. "Wow, tak ku sangka adikku ini akhirnya akan sold out. Siapa dia? Sudah bilang pada Mama dan Papa?"
"Belum. Aku belum mengenalkannya pada Mama dan Papa. Karena kami baru berpacaran satu bulan. Masih terlalu baru untuk mengenalkannya pada Papa dan Mama."
Marcel mengangguk setuju. "Tetapi kenalkan saja terlebih dahulu, aku hanya takut terjadi gosip atau skandal yang menimpa gadis itu. Karena tentu dia menjadi gadis beruntung yang akhirnya bisa mendapatkan hati adikku ini."
"Sudah kurencanakan Kak. Mama dan Papa agaknya juga mendesakku untuk segera menikah. Tetapi, aku masih terlalu santai. Namun, setelah dia menerima perasaan, kami memiliki perasaan yang sama, rasanya aku ingin segera mempersuntingnya. Kendati demikian, aku tidak bisa gegabah Kak. Aku ingin dia pun nyaman, menjalani hubungan step by step, dari pacaran, pertunangan, baru pernikahan."
"Good. Aku setuju denganmu Raff, tetapi jangan lama-lama. Semakin cepat kau meresmikannya akan jauh lebih baik. Tetapi siapakah gadis ajaib yang bisa menaklukkan adikku yang sudah seperti manusia es ini?"
Raffa hanya tersenyum, "Rahasia pastinya Kak. Tunggu saat aku sudah mengenalkannya secara resmi kepada Papa dan Mama. Setelah itu aku mengenalkannya secara langsung kepadamu, Kak. Tolong tunggu dan bersabarlah."
"Hmm, baiklah. Aku akan menunggu kau membawa dan mengenalkan adik iparku. Kakak iparmu tentu juga akan senang mendengar kabar ini. Jangan lama-lama Raff, aku sudah tak sabar ingin berkenalan dengan adik iparku itu."