
Kunjungan ke rumah orang tua sudah berakhir, Clara kembali menjalani rutinitasnya untuk bekerja di Paradise Hotel. Hatinya jauh lebih senang karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya dan memiliki ekstra waktu yang diberikan Raffael untuk belanja ke pasar pagi, memasak menu masakan kesukaan orang tuanya, membersihkan rumah, dan merawat beberapa tanaman orang tuanya. Aktivitas yang tidak bisa Clara setiap hari, jadi ketika ada kesempatan untuk pulang ke rumah orang tuanya, Clara akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Di kantor, Clara segera berkutat dengan PC di meja kerjanya. Dia memulai dengan mengecek semua email yang masuk hari itu, dan mempersiapkan agenda penting atasannya dalam satu minggu depan. Semua Clara kerjakan satu per satu dengan teliti, dia pastikan tidak ada yang terlewat.
Menjelang makan siang tiba, interkom di depan Clara menyala.
“Clara, tolong temui saya dan bawa agenda saya ya.” Ucap Raffael di sambungan interkom itu.
Seperti biasanya, tanpa menunggu waktu lama, Clara mengetuk pintu ruangan atasannya dengan membawa tablet di tangannya.
“Selamat siang Pak Raffa, berikut jadwal agenda penting Anda dalam satu minggu.” Tangannya terulur menyerahkan tablet kepada atasannya yang sedang duduk di meja kerjanya.
“Agendanya sudah saya masukkan ke kalender digital dan menambahkan fitur pengingat juga Pak.” Imbuh Clara.
“Oh Oke, Bagus.” Jawab Raffael sambil jari-jarinya mengusap layar tablet di depannya.
“Ayo, temani saya keluar sebentar Clara. Kita perlu membeli sesuatu dan ada yang perlu saya sampaikan tentang reuni nanti.” Raffael kembali berbicara, ia mengajak Clara keluar dan membahas acara reuni SMA nya nanti.
“Hemm, Baik Pak.” Jawab Clara singkat.
Raffael dan Clara segera keluar menuju lobby. Raffael berniat mengajak Clara ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli baju dan sekaligus makan siang.
“Ayo, masuk Clara.” Raffael mempersilakan Clara untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Saya Pak?”
“Iya, emang mau siapa lagi.”
“Pak Hermawannya mana Pak?”
“Oh, Pak Hermawan hari ini diminta tolong Kak Marcell untuk menjemput istrinya.”
“Oh, begitu ya Pak.”
Dengan enggan, Clara masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi co-driver. Clara menggerak-gerakkan jarinya, dia sesungguhnya berpikir atasannya ini kenapa kok kali ini lagi-lagi dia yang membawa mobilnya sendiri. Sedangkan Raffael pun yang sudah di mobil tanpa banyak bicara langsung menjalankan mobilnya, mereka menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.
Begitu memasuki perbelanjaan, Raffael berhenti di salah satu store. Dia berniat membeli kemeja yang akan ia pakai untuk acara reuni nanti. Sekaligus ia berniat membelikan sebuah dress untuk Clara. Tapi, entahlah apakah sekretarisnya itu akan setuju.
“Kita ke sini sebentar Clara.” Tunjuk Raffael ke salah satu clothing brand ternama itu.
“Ya, Pak....” Ucap Clara sembari mengikuti langkah kaki Raffael memasuki toko pakaian dengan brand ternama itu.
Raffael berhenti di bagian kemeja-kemeja, ia lalu melihat dan memilih kemeja apa yang hendak ia pakai. Ia berniat menyamakan warnanya dengan dress yang akan ia belikan untuk Clara. Jadi mereka akan memakai warna yang senada. Baru, sekian menit tangannya memegang beberapa kemeja, pandangannya berhenti ketika ia melihat deretan dress di sebelah kanannya. Segera saja ia meninggalkan bagian kemeja dan beranjak ke bagian dress.
“Kau pilihlah satu dress Clara, pakailah di reuni nanti. Jangan perhatikan harganya, kamu cukup memilih satu dan pakailah Jumat nanti.” Ucap Raffael memerintahkan sekretarisnya untuk membeli satu dress.
Clara nampak bingung harus merespons seperti apa kepada Boss nya itu, dia tahu clothing brand itu sangat mahal, satu dress saja bisa nyaris gajinya sebulan.
“Hmm, kalau kamu tidak mau. Aku sendiri yang akan memilihkannya untukmu.” Raffael mulai melihat dress di depannya, ia memperhatikan size, warna, dan motifnya, lalu terkadang melihat ke Clara untuk memastikan apakah sizenya akan muat untuk Clara. Karena, beberapa kali diamati Raffael, akhirnya Clara pun melunak.
“Bapak tunggu saja, saya akan memilih sendiri Pak. Tidak enak banyak pembeli yang melihat Bapak mengamat-amati dress ini.” Clara mendekati Raffael, kemudian memilih-milih dress di sana.
“Tema reuninya nanti apa Pak? Resmi atau casual?” Tanya Clara.
Raffael tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu membuka handphonenya dan melihat undangan reuni di aplikasi pesannya. Dalam hati ia berkata, “Benar juga ya, cewek kalau membeli pakaian akan disesuaikan dengan tema acaranya.”
“Aku rasa acaranya akan lebih santai, karena reuninya hanya digelar di auditorium SMA ku.” Raffael menjawab pertanyaan Clara.
Clara kembali memilih dress, ia berpikir untuk menemukan dress yang santai tapi tidak terlalu terbuka, karena yang ia temani Jumat nanti adalah Boss nya. Bagaimana pun ia harus tampil tidak terbuka untuk menjaga reputasi Boss nya itu. Tangannya berhenti pada dress dengan desain sederhana dengan motif putih-hitam. Perlahan-lahan ia sedikit mengangkat dress itu, ia berniat melihat terlebih dulu harganya.
Matanya terbelalak dress yang dipegangnya dibanderol sekian juta. Mahal sekali untuk ukuran dress yang hanya digunakan untuk reuni.
“Itu bagus Clara, kamu mau itu?” Raffael menanyakan apakah Clara mengambil dress itu, tapi Raffael pun tahu bahwa sekretarisnya sedang memperhatikan harganya.
“Sudah jangan perhatikan harganya.” Kembali Raffael berbicara kepada Clara.
“Dress ini bagus sih Pak, tapi buat saya harganya sangat mahal.” Jawab Clara dengan jujur.
“Kan saya sudah bilang, kamu cukup memilih satu saja untukmu, jangan lihat harganya.” Kali ini Raffael bersuara dengan sedikit lembut karena Raffael tahu sekretarisnya akan menolak pemberiannya.
Clara pun menimbang-nimbang dalam hatinya, akhirnya ia memilih dress bercorak putih-hitam itu. “Baiklah Pak Raffa, saya ini saja.” Dengan jarinya menunjuk ke dress di depannya itu.
“Oke, baiklah. Pilihlah sesuai size kamu ya, jangan sampai kekecilan atau pun kebesaran. Sekarang temani saya kembali ke bagian kemeja ya.” Raffael kembali lagi ke bagian kemeja-kemeja, setelah tahu dress yang dipilih Clara, ia pun memilih kemeja berwarna putih yang memiliki garis merah dan navy di satu lengannya itu.
Lalu, Raffael pun beranjak ke kasir untuk membayar pakaian yang ia beli barusan.
“Tolong paper bag nya dua ya Kak.” Ucap Raffael kepada petugas kasir di depannya.
“Baik Pak, ini total harganya ya Pak, bisa cash, debit, atau kredit.” Jawab petugas kasir itu.
“Saya debit saja.” Raffael mengambil debit card dari dompetnya dan menyerahkannya kepada kasir itu.
“Ini ya Pak kartu Bapak, dan ini belanjaan dan struknya. Terima kasih Pak.” Petugas kasir itu menyerahkan barang belanjaan berupa dua paper bagian kepada Raffael.
“Iya.” Jawab Raffael singkat.
Keduanya pun berjalan keluar dari clothing brand itu, dan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan itu.
“Paper bag nya biar saya yang bawakan, Pak. Oh, iya sehabis ini kita kemana lagi Pak Raffa?” Tanya Clara yang masih mengikuti langkah kaki jenjang atasannya itu.
“Lebih baik kita makan siang di sini sekalian Clara, ini sudah mendekati jam makan siang. Kamu ingin makan apa?” Kali ini pun Raffael menanyakan kepada sekretarisnya itu ingin makan siang apa di pusat perbelanjaan itu.