When My Love Bloom

When My Love Bloom
Shopping Time



Tepat di depan Orchard Road, Clara begitu menikmati es potong Singapura seharga 1 dollar Singapura yang dia inginkan sejak di Indonesia. Bagi Clara, bisa menikmati es potong ini hatinya begitu bahagia. Hingga Raffa harus mengingatkannya supaya makan dengan pelan-pelan.


Lagipula suaminya telah berjanji, bahwa dia akan membelikan es potong itu untuk Clara. Walau pun tetap tidak boleh terlalu banyak lantaran bisa-bisa Clara justru batuk karena terlalu banyak memakan es potong itu.


"Pelan-pelan saja Clara. Nikmati es potong kesukaanmu itu." Raffa mengingatkan istrinya untuk menikmati es itu pelan-pelan.


Clara hanya tersenyum sembari terus memakan es potong itu. "Kamu mau Hubby? Aku bisa menyuapkannya untukmu?" tawarnya sembari memberikan satu sendok es potong itu kepada suaminya.


Dengan cepat Raffa menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah kenyang melihatmu memakan es potong itu. Jadi habiskanlah." ucapnya sembari mengamati betapa bahagianya Clara memakan es potongnya.


Merasa mendapatkan lampu hijau dari suaminya, Clara dengan segera menghabiskan es potongnya. Puas dengan es potong, Raffa akhirnya mengajak Clara untuk memasuki AEON Mall Orchard.


"Kenapa kita ke sini Hubby?" tanya Clara yang justru terkejut ketika suaminya mengajaknya memasuki sebuah Mall yang terkenal dengan berbagai outlet barang-barang branded di Singapura.


"Aku ingin mengajakmu shopping, Honey. Belilah apa pun yang kamu mau." ucap Raffa sembari menggandeng tangan Clara.


Mata Clara mengerjap, mendengar kata shopping agaknya tidak cocok dengannya. Para wanita shopping menjadi sebuah hobi. Akan tetapi, itu tidak terjadi pada Clara. Sejak dulu, Clara adalah wanita yang gigih dan bekerja keras. Alih-alih untuk shopping, ia lebih suka menabung uangnya.


"Agaknya kau membawaku ke tempat yang tidak tepat, Hubby." ucap Clara dengan lirih.


Raffa pun memperlambat kakinya. "Kenapa, apa aku salah?" tanya Raffa menyelidik.


Clara hanya mampu menggelengkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya. "Aku bukan wanita yang suka shopping. Bahkan hadiah hantaran pernikahan darimu saja masih utuh dan belum ku buka sama sekali. Jangan membeli hanya karena kita menginginkan sesuatu, tetapi membelilah karena kita memang membutuhkannya. Dengan demikian kita bisa mengelola keuangan dengan baik." jawab Clara panjang lebar.


Raffa mendengkus mendengar jawaban Clara. Sebagai pria, terlebih saat ini ia adalah seorang suami, sudah pasti ia menginginkan membelanjakan istrinya, membawanya shopping. Namun, rupanya istrinya begitu enggan untuk shopping.


"Baiklah. Aku tidak akan menyuruhmu membeli apa pun yang kamu mau. Tetapi, aku minta supaya kamu membeli satu barang saja di sini, di Mall ini. Biarkan aku membayarnya. Dari semua yang ada di sini, kau boleh membeli satu hal. Bisa kan?" tanya Raffa sembari bola matanya menatap tajam kepada istrinya itu.


"Apa yang harus ku beli? Aku sendiri pun tidak tahu?" jawab Clara sembari menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan.


Raffa justru tertawa melihat istrinya yang tengah kebingungan. "Apakah menentukan untuk memilih satu barang saja untuk dibeli sesukar itu?" tanya Raffa kepada istrinya.


Clara segera menganggukkan kepalanya. "Iya ... karena aku memang jarang berbelanja. Lebih baik aku memilih lembur di akhir pekan daripada harus shopping ke Mall." ucap Clara dengan jujur.


Sebagai seorang wanita memang Clara sering ke Mall, tetapi itu jika hanya sebatas makan siang dan tentunya bersama Raffa. Sangat jarang ia mengunjungi Mall sendirian. Maka sangatlah pantas apabila Clara merasa kesusahan menentukan harus membeli apa di Mall saat ini. Alih-alih berbelanja, Clara memang lebih memilih untuk lembur di akhir pekan.


Raffa lalu mengedikkan bahunya. "Aku tidak mau tahu, pilihlah satu. Jika tidak aku akan membelikan banyak hal untukmu."


"Jangan. Lebih baik, ayo kita melihat-lihat dulu jika ada yang aku inginkan, aku akan membelinya." ucap Clara.


Beberapa kali Raffa juga menunjukkan barang-barang yang bagus menurutnya, akan tetapi agaknya Clara memang belum tertarik. Clara sungguh benar-benar bingung, tetapi ia tidak mau jika suaminya harus membelikannya banyak hal. Raffa memang memiliki segalanya, tetapi Clara pun tak pernah mengharapkan sesuatu dari Raffa. Sejak bekerja, ia selalu tulus dengan atasannya itu.


Masih dengan berjalan, akhirnya Clara berhenti di salah satu counter parfum. "Bisakah kau membelikanku itu saja?" tunjuknya pada salah satu parfum.


"Parfum?" tanya Raffa.


Clara segera menganggukkan kepalanya. "Iya, parfum saja. Kebetulan parfumku tinggal separuh, tidak ada salahnya jika aku membeli satu kali. Bagaimana?"


Raffa pun setuju dengan Clara. Mereka memasuki counter parfum keluaran Paris itu, dan Clara mencium beberapa varian yang ada.


"Anda suka parfum beraroma manis, lembut, atau segar?" seorang pegawai menanyakan kepada Clara.


"Aku suka parfum beraroma lembut, tetapi tetap terkesan segar." jawab Clara.


Kemudian pegawai itu menyerahkan salah satu varian, dan Clara langsung tahu memang itu adalah varian yang selalu ia pakai selama itu.


Clara pun langsung menerima parfum itu dan membelinya.


Tanpa sepengetahuan Clara, Raffa ternyata juga memilihkan satu parfum dengan varian yang lainnya. Rasanya tidak masalah jika istrinya memiliki dua varian parfum.


"Sudah. Aku sudah membelinya Hubby." ucap Clara sembari menunjukkan paper bag nya.


Raffa pun tersenyum. "Ya, aku tahu. Ada lagi yang kau inginkan? Mumpung kita masih di sini. Aku masih bisa membelanjakanmu yang lainnya."


Clara segera menggelengkan kepalanya. "Sudah. Ini sudah cukup. Ayo, kita kembali ke Hotel. Aku sudah lelah berjalan, sejak dari Indonesia hingga sekarang kita sama sekali belum istirahat. Bolehkah?"


Raffa pun tersenyum. "Baiklah, lain waktu kita bisa jalan-jalan lagi. Memang lebih baik kita istirahat."


Memilih keluar dari pusat perbelanjaan, keduanya segera memesan taksi yang akan mengantarkannya kembali ke hotel.


Bagi Raffa, rasa lelahnya berakhir saat melihat Clara yang begitu bahagia di sisinya. Memberikan apa yang diinginkan istrinya tidak menguras isi dompetnya. Hanya memberikan es potong dan membelikannya sebuah parfum, wajah istrinya sudah terlihat begitu bahagia.


"Jika menginginkan hal yang lainnya, jangan sungkan Clara. Aku bisa memberikannya untukmu. Kau punya aku sekarang." ucap Raffa.


Clara menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Hubby. Baiklah, aku tidak akan segan untuk meminta sesuatu padamu. Akan tetapi, jangan menyuruhku untuk berbelanja, karena jujur aku sangat bingung tadi. Banyak kesenangan yang bisa kita dapatkan, selain shopping. Cukup cintai aku saja, jaga dan lindungi aku saja, itu sudah cukup bagiku." jawab Clara sembari menatap wajah suaminya.


"Jika mencintaimu, itu sudah ku lakukan sejak dulu. Jika menjaga dan melindungimu, sudah pasti aku juga akan melakukannya." ucapnya dengan penuh keseriusan.