When My Love Bloom

When My Love Bloom
Roti Bakar Istimewa



Hari Kamis pun tiba, agenda perjalanan bisnis afiliasi pengusaha perhotelan dan restoran se-Asia Tenggara tengah akan segera digelar nanti malam.


Sekitaran pukul 7, Raffa telah sampai di apartemen Clara. Keduanya berencana untuk pergi ke Singapura pagi, sehingga bisa sejenak beristirahat sebelum acara makan malam nanti malam.


Clara telah menunggu kedatangan Raffa di depan apartemennya dengan membawa sebuah koper kabin dan sebuah hand bag.


"Pagi Clara, kau sudah siap?" sapa Raffa begitu tiba di apartemen Clara.


"Pagi Pak Raffa, iya sudah Pak." balasnya sembari menundukkan badan tanda menghormati atasannya.


Kali ini Raffa tidak membawa mobil sendiri, Pak Hermawan yang mengemudikan mobil itu. Pak Hermawan selaku supir pribadi keluarga Saputra segera turun, dan memasukkan koper Clara ke dalam bagasi.


"Pagi Pak Hermawan..." sapa Clara dengan ramah kepada Pak Hermawan.


"Pagi Non..." balas Pak Hermawan tak kalah ramah.


Clara segera mengambil duduk di depan, di kursi co-driver sementara Raffa duduk di belakang.


"Semua data dan beberapa hal yang saya minta kemarin sudah siap kan Clara?" tanya Raffa.


"Sudah Pak." Clara mengusap layar tabletnya lalu menyerahkannya kepada Raffa.


"Laman situs Paradise Hotel sudah diupdate Pak, brosur digital sudah saya masukkan dalam penyimpanan drive juga."


Raffa mengecek sejenak laman situs melalui tablet yang diberikan Clara, memastikan semua informasi yang dipasang di situs itu sudah benar. Lalu, Raffa menyerahkan kembali tablet itu kepada Clara.


"Kerja yang bagus, Clara. Terima kasih."


"Sama-sama, Pak."


Mobil yang mereka tumpangi perlahan dengan pasti telah sampai ke Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Begitu sampai, Pak Hermawan langsung mengeluarkan koper dari bagasi mobil, lalu pamit karena sudah mengantarkan keduanya hingga Bandara.


Begitu sampai ke Bandara, keduanya langsung memilih cek in, dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan. Karena masih pagi, dan ada jeda waktu, Raffa memutuskan mengajak Clara menunggu di VIP Lounge untuk sarapan terlebih dahulu.


"Kita menunggu di VIP Lounge saja, Clara. Sekaligus sarapan, kau pasti belum sempat sarapan kan?" tanya Raffa sembari berjalan bersisian dengan Clara.


"Boleh Pak." sahut Clara sembari berjalan mengikuti langkah kaki Raffa yang besar. "Hmm, tetapi saya membawa bekal Pak, apa saya boleh memakan bekal saya saja? Sudah terlanjur membawa, mubasir kalau tidak dimakan."


Raffa sekilas melirik Clara. "No problem, kamu bisa memakannya dengan tenang." ucapnya sembari tersenyum.


"Makasih, Pak."


Sesampainya di VIP Lounge, Raffa dan Clara memilih tempat duduk yang tidak terlalu ramai di kanan dan kirinya.


"Pak Raffa, minum apa biar saya ambilkan?" tanya Clara sembari menaruh hand bagnya.


"Kamu duduk saja Clara, aku akan ambilkan minum buatmu." sahut Raffa.


Clara justru kebingungan lantaran atasannya justru menyuruhnya duduk dan berkata akan membawakannya minuman.


"Tidak apa-apa, duduklah dan tunggu di sini."


Raffa pun berdiri meninggalkan Clara yang masih nampak kebingungan lantaran biasanya dia yang menyiapkan keperluan Raffa termasuk sekadar membuatkan minuman, tetapi kali ini justru Raffa yang berinisiatif membuat minuman bagi Clara.


Tidak berselang lama, Raffa kembali dengan dua cangkir minuman panas di tangannya.


"Ini Teh hangat untukmu. Minumlah." ucapnya sembari menyerahkan secangkir teh hangat untuk Clara.


"Terima kasih Pak Raffa. Saya jadi tidak enak, seharusnya saya yang membuatkannya untuk Pak Raffa."


"Tidak apa-apa, biarkan aku sekali-kali membuatkan minuman untukmu. Lagipula hanya minuman, bukan hal yang berat. Ayo, minumlah. Bagaimana gula nya sudah pas belum?"


Clara segera meminum secangkir teh panas yang diberikan Raffa. Menghirup aroma teh nya perlahan, lalu meminum tehnya. "Terima kasih Pak, ini enak. Walau sebenarnya lebih enak teh tubruk sih, Pak." ucapnya jujur.


Raffa sedikit tersenyum, lalu meminum secangkir kopi di tangannya. "Kau suka teh tubruk ya Clara?", tanyanya.


Clara menganggukkan kepalanya, "Ya, saya sangat suka teh tubruk, Pak. Apalagi mencampurkan beberapa produk teh menjadi satu, baru diseduh. Rasanya jauh lebih enak."


"Oh ya benarkah?" tanya Raffa dengan penuh antusias. "Kapan-kapan bisa bawakan teh seduhan dari kombinasi teh tubrukmu itu untuk saya?"


Clara tersenyum, "Ya, kapan-kapan saya seduhkan untuk Pak Raffa."


Sembari meminum teh nya, Clara mengeluarkan kotak bekal dari hand bagnya, di dalam terdapat roti bakar dengan selai cokelat dan stroberi.


"Pak Raffa mau? Tadi pagi saya membuat roti bakar dengan toaster (alat pemanggang roti listrik)." Clara menyodorkan kotak bekal berisi beberapa roti bakar.


Raffa tersenyum dan mengambil satu roti dengan tangan kanannya. "Terima kasih ya, pasti enak karena kamu yang membuatnya."


Tanpa disadari, wajah Clara justru menjadi merona-rona, ia malu dengan pujian yang Raffa ucapkan.


"Hanya roti bakar, Pak. Siapa pun bisa membuatnya. " ucap Clara sembari mengunyah roti bakarnya.


"Kenapa rotiku ini isinya selai cokelat dan stroberi ya? Kamu sengaja mencampurnya ya Clara?" tanya Raffa masih sembari mengunyah roti bakarnya.


"Ahh, maaf Pak. Itu tadi punya saya karena saya suka roti bakar dengan perpaduan selai cokelat dan stroberi sekaligus. Aneh ya Pak rasanya?" tanya Clara.


Raffa masih sibuk mengunyah roti bakar dengan selai cokelat dan stroberi itu, berusaha menikmati rasanya. "Tidak, ini enak kok. Ternyata enak juga ya memakan selai cokelat dan selai stroberi sekaligus. Kalau kamu akan membuat roti bakar ini lagi, ingatlah saya ya Clara." ucapnya enteng.


Clara mengerutkan keningnya, "maksudnya mengingat Pak Raffa apa ya Pak? Lagipula jika hanya sekadar membuat roti bakar kenapa saya harus mengingat Pak Raffa coba?" ucap Clara sembari menggali makna tersembunyi dalam ucapan Raffa barusan.


Raffa sedikit tertawa, Clara memang handal untuk berbagai urusan pekerjaan, tetapi jika menyangkut hal lain, gadis itu sangatlah lugu.


"Maksudnya, saat kamu membuat lagi roti bakar dengan selai cokelat dan stroberi seperti tadi ingatlah saya. Ingat untuk membawakannya juga untuk saya, karena saya juga mau roti bakar buatanmu ini. Rasa roti bakarnya unik, sehingga saya mau lagi, jadi buatkan juga untuk saya." ucap Raffa dengan serius tanpa bercanda.


"Tadi mau mencoba teh tubruk seduhan saya, sekarang mau roti bakar buatan saya, lama-lama Pak Raffa justru sekaligus sarapan pagi di tempat saya." ucap Clara dengan ketus.


"Oh, itu tentu. Kapan-kapan saya akan ke tempatmu saja untuk meminum teh tubruk yang kamu seduh dan makan roti bakar itu. Ide sarapan yang bagus." ucap Raffa karena seketika ia mendapat ide cemerlang layaknya Thomas Alfa Edinson yang sedang berhasil melakukan eksperimen bola lampu pijar.