
Satu hal yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta adalah bahagia. Hati Raffa dan Clara penuh dengan kebahagiaan. Bahkan senyuman yang saat ini terpancar di wajah mereka adalah senyuman kebahagiaan.
Pasangan baru yang baru sehari merajut kasih tentu hatinya sangat berbunga-bunga. Lagipula siapa yang menyangka bahwa hubungan profesional keduanya akan berkembang sejauh ini.
"Apa kau bahagia, Clara?" tanya Raffa ketika mereka berdiri melihat Merlion yang berdiri kokoh.
"Iya, aku bahagia. Terima kasih sudah memberi kebahagiaan ini." ucap Clara sembari tersipu malu melihat wajah Raffa.
"Aku tidak memberimu kebahagiaan Clara. Jauh lebih baik apabila kita menciptakan kebahagiaan itu bersama-sama. Bagaimana?"
"Apa berarti saya juga membuat Mas Raffa bahagia?" tanyanya sambil malu-malu.
"Iya, tentu saja. Bersamamu aku selalu bahagia. Bahkan sejak bekerja bersamamu, aku selalu bahagia." ucap Raffa.
"Sejak bekerja bersama denganku? Selama lima tahun ini?"
"Ya, selama bekerja bersama dalam waktu lima tahun ini aku selalu bahagia." Raffa kembali mengenang bagaimana ia selalu bersemangat untuk masuk bekerja untuk melihat Clara, melakukan berbagai perjalanan bisnis, hingga berbagai event yang mereka hadiri bersama. Semua moment itu membuat Raffa benar-benar bahagia.
Clara sedikit mengangguk mendengar ucapan Raffa. "Kalau bahagia, kenapa sih kok aku nya disuruh lembur terus. Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa? Hmm." sahut Raffa.
"Mau modusin ya, biar bisa deket-deket sama aku ya?" giliran Clara yang menggoda Raffa.
"Hmm, iya. Sehari saja gak ketemu sama kamu rasanya ada yang kurang. Maka dari itu, aku rela membuat banyak-banyak pekerjaan biar kamu bisa masuk kerja setiap hari."
"Tuhhh, jahat kan berarti. Ada niatan tersembunyi berarti. Jahat ihhh..." Clara sembari memukul lengan Raffa yang membuat Raffa justru semakin tertawa puas.
"Ya tapi kan faktanya kamu juga tidak pernah menolak untuk lembur di akhir pekan kan? Itu berarti juga kamu mau bertemu denganku setiap hari. Iya kan?"
"Enggak juga sih, aku menganggap untuk mengisi liburan saja sih. Lagipula daripada hanya bermalas-malasan di rumah."
"Pacarku rajin juga ya ternyata." ucap Raffa sembari mengacak lembut puncak kepala Clara. "Habis ini kita mencari makan mau tidak? Sudah waktunya makan. Ada yang ingin kamu makan, mumpung kita ada di Singapura sapa tau ada makanan khusus yang ingin kamu makan."
"Tidak ada sih, yang aku pengen sudah terkabul kok. Es potong tadi yang paling aku pengen. Aku sudah senang bisa memakannya sampai tambah. Makasih ya Mas Raffa..." ucap Clara dengan nada penuh kebahagiaan.
"Lucu banget sih, bikin gemas. Masak jauh-jauh kesini cuma pengen makan es potong seharga 1 dollar loh."
"Hehehe... Bahagia itu akan sederhana Mas. Jika bisa makan es potong aja sudah bahagia, ya sudah. Intinya kan di kebahagiaan itu." sahut Clara.
"Dan, sekarang kita janji akan sama-sama bahagia ya. Kita ciptakan kebahagiaan kita berdua." Raffa sembari mengangkat jari kelingkingnya. "Janji?"
Clara pun menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Raffa. "Janji. Dan, juga dalam hubungan ini harus ada keterbukaan satu sama lain. Jangan menyembunyikan apa pun dariku ya Mas. Kamu bisa menceritakan apa saja padaku. Aku siap menjadi telinga untukmu."
"Iya, kamu juga ya. Ceritakan apa pun padaku. Cerita keseharianmu juga aku mau mendengarkannya. Okay."
"Ya sudah, kita makan yuk. Perutku sudah lapar." ucap Raffa sembari mengelus perutnya yang memberi sinyal untuk minta di isi.
Dari Merlion Park, keduanya lantas menuju menu makanan yang wajib disantap saat mengunjungi Singapura yaitu Chili Crab. Chili crab adalah olahan kepiting yang ditumis dengan saus cabai dan tomat dengan rasa perpaduan pedas, asam, dan manis. Hidangan ini masuk dalam urutan 35 dari 50 hidangan paling lezat di dunia.
"Kita makan ini ya?" Raffa menunjuk restoran bernama Palm Beach, salah satu restoran yang menjual Chili Crab paling enak dan legendaris di Singapura.
"Iya, mau makan apa saja asal sama Mas Raffa, semuanya terasa enak buat saya." sahut Clara sembari terus mengekori langkah kaki Raffa.
"Kamu bisa aja deh. Tetapi, kamu jangan gombal ya, karena gombalin kamu itu kan tugasku." Raffa terkekeh geli saat mengucapkan tugasnya untuk menggombali Clara.
"Iya. Tetapi, sesekali saya balas gombalin kan juga gak papa. Kan cuma Mas Raffa aja yang digombalin."
"Harus dong. Cuma boleh sama aku. Awas ya kalau berani gombalin yang lain. Ya sudah, yuk sambil dimakan. Aku sudah kelaparan."
Mata Raffa begitu berbinar ketika seporsi chili crab dan nasi putih telah tersaji di hadapannya. Aroma masakan yang menggugah selera membuat Raffa ingin segera menyantapnya.
Namun, sebelum ia makan, Raffa terlebih dahulu mengenakan appron pada Clara. Tangannya begitu gesit ketika mengalungkan appron dari plastik keep leher Clara.
"Pakai ini dulu Clara. Kamu mengenakan baju berwarna putih, sebenarnya kalau memakan chili crab jangan memakai baju berwarna putih. Tapi tidak masalah, kita bisa memakai appron ini."
"Eh, aku bisa memakai sendiri Mas." sergahnya merasa tidak enak dengan tindakan Raffa.
"Tidak apa-apa, biar aku pakaikan."
Clara mengamati setiap gerakan Raffa, seketika hatinya terasa hangat. Karena Raffa adalah orang yang terlihat dingin di luar, tetapi hangat kepadanya. Lebih dari itu, Raffa juga sosok yang begitu perhatian. Padahal hanya sekadar memakai appron, tetapi Raffa pun rela memakaikan appron itu untuk Clara.
"Terima kasih Mas..." ucap Clara begitu appron plastik telah terpasang.
"Sama-sama Clara." balas Raffa.
Setelah itu, Raffa juga memotong-motong kepiting dengan alat pemotong, jari-jarinya bergerak sangat cekatan saat memotong-motong capit kepiting. Bahkan pria itu memberikan bagian kepiting dengan dagingnya yang banyak kepada Clara.
"Ayo, makanlah. Habiskan ya, kalau kurang kita bisa pesan lagi."
"Makasih Mas... Kok kamu baik banget sih sama aku. Aku jadi terharu deh." ucap Clara yang bola matanya justru sibuk memperhatikan Raffa. Bukan sekadar ucapan terharu, tetapi ia sungguh terharu melihat Raffa yang begitu perhatian.
"Biasakanlah. Aku senang melakukan banyak hal untukmu. Aku ingin jadi sosok yang berguna untukmu. Perlu, apa kupaskan cangkangnya untukmu?" tawar Raffa untuk sekaligus mengupaskan cangkang kepiting yang keras itu.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri kok."
Setelah itu keduanya sama-sama lahap menyantap Chili Crab sembari mengobrol bersama. Dengan Raffa yang begitu perhatian, bahkan selalu mendahulukan Clara justru membuat gadis itu terharu sekaligus bahagia. Biasanya ketika bekerja, Clara adalah orang yang melayani dan mendahulukan Raffa, kini justru situasinya berbalik. Raffa lah yang kini justru sibuk melayani Clara. Sungguh pria yang manis.