
"Kau capek Sayang?" tanya Raffa kepada Clara yang kini telah resmi menjadi istrinya.
Clara tersenyum, masih dengan menggandeng tangan Raffa, gadis yang baru saja melepas masa lajang itu tersenyum. "Iya, tentu saja aku capek. Lebih-lebih kakiku yang terasa sangat pegal, mungkin karena terlalu lama memakai high heels untuk waktu yang lama."
Raffa pun turut tersenyum. "Masih kelelahan juga untuk berjalan? Aku bisa menggendongmu sampai ke kamar kita."
Clara segera menggelengkan kepalanya. "Tidak aku masih bisa berjalan."
Keduanya terus berjalan hingga kini mereka telah sampai di kamar hotel yang dikhusukan bagi kedua pengantin baru itu.
Begitu sampai di kamar, Clara segera melepas high heels yang ia pakai. Ia merasa lebih nyaman kakinya. Kemudian ia duduk di meja rias, ingin membersihkan wajahnya yang masih tertutup make up dan juga rambutnya yang masih tersanggul. Sementara Raffa pun mulai melepas jas yang ia pakai, akan tetapi ia masih mengenakan kemejanya yang berwarna putih.
"Biar aku yang melepaskannya." ucap Raffa sembari ia mendekati Clara yang telah kesusahan melepaskan aksesoris rambut yang masih berada di rambutnya.
"Terima kasih, Mas." sahut Clara.
Dengan perlahan, Raffa melepas satu per satu aksesoris rambut yang masih berada di rambut Clara. Sesekali matanya bersitatap dengan mata Clara yang sesekali melihatnya dari cermin.
Usai dengan aksesoris rambutnya, Raffa masih berdiri di belakang Clara. "Apa lagi yang mau kubantu?"
Clara segera menggelengkan kepalanya. "Hmm, tidak. Aku rasa sudah cukup Mas."
Jujur dalam hatinya, Clara begitu malu. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia berduaan dengan seorang pria di dalam sebuah kamar. Clara termasuk gadis yang hidupnya lurus, tidak pernah terlibat percintaan dengan pria.
Pun demikian dengan Raffa, Clara juga adalah wanita pertamanya. Gadis pertama yang mampu mencuri hatinya dan berhasil ia bawa hingga ke pelaminan untuk mengikrarkan janji suci. Segala sesuatu merupakan hal yang serba pertama bagi keduanya.
Raffa masih memandang wajah Clara, dari pantulan cermin terlihat jelas bagaimana pria itu nampak menatap sang istri. Dengan sedikit perasaan gugup, Raffa memberanikan diri untuk menawarkan sedikit bantuan lagi kepada Clara.
"Apakah kau tidak ingin jika aku membantumu menurunkan resleting gaunmu?" tanyanya sembari mengalihkan arah pandangannya.
Pipi Clara merona merah, mendengar pertanyaan dari Raffa. Pertanyaan yang ingin membuat Clara menyembunyikan wajahnya seketika.
Belum juga Clara menjawab, Raffa terlebih dahulu memegang kedua bahu Clara. "Berdirilah Sayang, aku bantu melepasnya."
Seolah terhipnotis, Clara turut berdiri mengikuti instruksi dari Raffa. Kini gadis itu tengah berdiri di hadapan Raffa.
Bukan mencoba membukakan resleting, Raffa justru memegangi dagu Clara. Pria itu segera mendaratkan bibirnya di sana. Bukan lagi sebatas menempel. Perlahan dengan pasti, bibirnya mulai mengecupi bibir halal milik istrinya. Bibir ranum yang pertama kali ia rasai. Merasai lipatan atas dan lipatan bawah yang begitu lembut dan manis.
Raffa menjeda sejenak ciumannya, ia kini menatap Clara dengan sorot mata yang lembut, tetapi terkesan begitu dalam.
"Please, be mine." ucapnya yang membuat Clara merona. Hatinya berdesir kencang mendengar ucapan Raffa.
Tanpa menunggu jawaban dari Clara, pria itu kembali menundukkan kepala, tangannya membelai lembut sisi wajah Clara. Ia kembali menciumi bibir semanis madu milik istrinya itu.
Gerakan bibirnya pun beralih tempat menyusuri leher jenjang istrinya, dengan tangan yang bergerilya menyusuri epidermis kulit Clara yang begitu lembut. Dengan gerakan perlahan, tangannya mulai menurunkan resleting wedding dress yang tengah digunakan membuat gaun itu jatuh seketika, merosot hingga ke lantai. Menampakkan pemandangan indah yang baru Raffa untuk pertama kalinya.
Tanpa menghentikan ciumannya, Raffa segera membawa tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Tangannya semakin berani menjamah setiap bagian inci epidermis kulit itu.
Begitu juga Clara, seolah tanpa sadar tangannya dengan cukup gesit membuka setiap kancing demi kancing kemeja Raffa. Membuat pria itu kini bertelanjang dada memamerkan dada bidangnya yang sempurna.
Clara nampak seolah membuang muka, malu dengan apa yang ia lihat saat ini. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama karena Raffa kembali menciumi dan membelai lembut puncak bukit yang begitu lembut dan tampak begitu pas dalam genggamannya. Tangannya bahkan menyusup hingga ke punggung Clara, melepas pengait berwarna hitam yang masih bertautan. Membuat bukit kembar itu terpampang sempurna.
Seolah tak ingin membuang waktu, Raffa menjalankan aksinya secara pelan-pelan dan tentunya bertahap. Membuat Clara bergerak gelisah dengan meremas sprei tempat tidur yang ia tempati sekarang ini. Merasa bahwa Clara telah siap, Raffa segera merapatkan diri mencoba menembus pertahanan terakhir berupa selaput tirai yang berada dalam inti tubuh istrinya itu.
"Aku akan pelan-pelan, Clara." ucapnya dengan suara parau.
Sementara Clara hanya bisa memekik dan merasakan sesuatu menembus dirinya. Membuatnya menahan napas, hingga akhirnya ia meneteskan air mata. Rasa ingin menyudahi lantaran rasa perih yang terasa dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Dengan perlahan, Raffa mengusapi air mata Clara. Kini tangannya menggenggam erat tangan Clara, menyalurkan kekuatannya di sana.
"Sakit...." Clara mengeluh dan hanya bisa memejamkan matanya.
"Maaf, tahanlah Clara. Ini tidak akan lama." sahut Raffa.
Setelah merasakan Clara terlihat lebih rileks dan siap menerimanya seutuhnya dan sepenuhnya, Raffa mulai bergerak perlahan. Gerakan seduktif yang nampaknya berhasil membuat rasa sakit itu perlahan hilang dan digantikan dengan rasa nikmat dengan membuat Clara melenguh merasai sebuah rasa yang pertama kali ia rasai.
Gerakan seduktif yang pelan, lambat, dan lembut itu tiba-tiba berganti menjadi lebih cepat, semakin cepat, hingga membuat Raffa menggeram dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Clara. Itulah pelepasannya yang pertama. Merasakan kenikmatan surga dunia yang begitu indah dan membuat sepasang pengantin baru itu mereguk manisnya cinta mereka.
Menstabilkan deru nafasnya, Raffa beringsut turun. Dibawanya tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Tangannya juga bergerak untuk menarik selimut guna menutupi tubuh mereka berdua.
"Ingatlah malam ini Clara. Malam yang tidak mungkin kita lupakan. Malam di mana kita sama-sama mengungkapkan perasaan cinta kita. Terima kasih Sayang, aku benar-benar mencintaimu." ucapnya sembari mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya itu.
Clara pun sejenak mendongakkan kepalanya menatap wajah Raffa. "Aku juga mencintaimu, Suamiku. Love U So Much My Hubby." balasnya dengan perasaan cinta yang membuncah di dalam hatinya.