
"Bagaimana tanganku bisa meredakan ketakutanmu kan?" ucap Raffa dengan penuh percaya diri.
Clara memutar bola matanya, ia sungguh tidak menyangka Raffa akan menjadi sepercaya diri ini. "Tetapi Pak Raffa sedang tidak modus kan?"
Raffa tertawa, "Modus? Katamu aku ini modus? Kalau aku modus, aku tak akan puas hanya dengan menggenggam tanganmu." ucapnya sembari sedikit menggerakkan tangannya yang sedang menggenggam tangan Clara.
"Setiap kau ketakutan, dan membutuhkan tanganku, maka kau boleh memegangnya karena aku mengizinkanmu untuk memegang tanganku." ucap Raffa dengan penuh percaya diri sekali lagi.
"Ish, Pak Raffa sangat percaya diri ternyata." ucap Clara, lalu ia membuang pandangannya dari Raffa.
Setelah itu keduanya diam, Clara melihat awan-awan putih yang terlihat dari jendela pesawatnya, sementara di bawah lautan biru dan landscape negara Singapura telah terlihat jelas di sana.
Akan tetapi, lamunannya berakhir ketika diberitahukan bahwa pesawat akan segera landing. Lantaran ketakutan, Clara berusaha merelaksasi dirinya lagi dengan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya perlahan. Ia mengulanginya hingga dirinya merasa lebih tenang.
Raffa sesekali mencuri pandang pada Clara yang nampak tegang dan beberapa kali memejamkan matanya.
Begitu pesawat siap untuk landing, secara tiba-tiba Clara mencengkeram kuat tangan Raffa. Sembari menahan ketakutannya sebisa mungkin. Begitu pesawat sudah kembali menapak tanah, barulah Clara merasa lega.
"Akhirnya..." ucapnya sembari menepuk-nepuk dadanya.
Raffa terkekeh melihat Clara, "Sudah. Kita sudah mendarat. Tetapi, kalau kamu masih mau menggenggam tanganku, it's okay. No problem."
"Eh, ini... Maaf, Pak." ucap Clara sembari melepaskan tangan Raffa.
"Lihatlah tanganku hingga merah karena kau menggenggamnya sangat kencang." Raffa sembari menggerakkan telapak tangannya di depan wajahnya.
Clara yang menyadari bahwa telapak tangan Raffa memang merah, langsung tertunduk malu. "Maafkan saya, Pak. Gara-gara saya, tangan Pak Raffa jadi merah deh."
"Tidak apa-apa Clara. Ayo sebaiknya kita segera keluar dari pesawat."
"Baik Pak."
Lalu keduanya keluar dari pesawat dan menunggu koper mereka. Clara langsung menelpon pihak hotel yang juga menyediakan layanan penjemputan untuk menjemput mereka.
"Pihak hotel sudah dalam perjalanan, Pak. Kita masih harus menunggu terlebih dulu."
"Berapa lama kita harus menunggu Clara?" tanya Raffa sembari melihat jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kurang lebih setengah jam, Pak." jawab Clara.
Akhirnya Raffa memikirkan ide untuk mengajak Clara jalan-jalan sejenak di Jewel Changi Waterfall yang berada di area sekitar itu.
"Keliatannya kita masih punya banyak waktu sembari menunggu, maukah kita jalan-jalan terlebih dahulu?" Raffa menawarkan jalan-jalan terlebih dulu pada Clara.
"Kemana Pak?" tanya Clara ragu.
"Ke Jewel Changi Waterfall yang berada di area ini. Bagaimana mau?"
"Baiklah Pak."
Keduanya pun berjalan bersama menuju Terminal 1 Changi International Airport. Jewel Changi Waterfall merupakan air terjun indoor tertinggi di dunia yang memiliki ketinggian 40 meter. Air terjun ini berada di tengah-tengah jewel dan dikelilingi oleh taman dan hutan buatan yang sangat cantik.
Air terjun yang sebenarnya bernama The Rain Vortex ini juga merupakan destinasi wisata bagi para peloncang yang mencari suasana indoor dengan konsep berbeda di Negeri Singa.
Di air terjun dalam ruangan Raffa dan Clara beristirahat sejenak. Menikmati air terjun dan percikannya yang terasa segar, menikmati taman dan hutan buatan yang sangat asri.
"Bagaimana kamu suka Clara?" tanya Raffa kepada Clara yang nampak sangat menikmati pemandangan sejuk di Jewel Changi Waterfall saat itu.
Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya suka Pak. Suka banget malahan. Bisa relaksasi sejenak." ucapnya sembari tersenyum cerah. Senyuman indah yang seketika mampu mengalihkan dunia Raffa.
Raffa termangu melihat senyuman indah di wajah Clara. Senyuman yang membuatnya seketika jatuh cinta. Diam-diam, Raffa mengambil potret Clara dengan jepretan lensa handphonenya.
"Cantik!" ucapnya lirih sembari melihat layar handphone yang terdapat potret Clara.
"Hadaplah ke sini, Clara. Aku akan mengambil gambarmu. Buat kenang-kenangan." ucap Raffa yang seolah-olah tengah menjadi fotografer professional.
"Eh, Pak... Tidak usah." jawab Clara sungkan.
"Tidak apa-apa, hadaplah ke sini. Senyum ya. Satu.... Dua.... Tiga...." ucap Raffa memberikan aba-aba.
"Sekarang ayo kita foto berdua, Clara. Kemarilah..." ucap Raffa yang tiba-tiba berdiri di samping Clara. "Senyum dong biar fotonya bagus. Satu... Dua... Tiga..." Raffa tersenyum bahagia melihat hasil jepretan di handphonenya.
Clara justru nampak sangat kaget karena jarak keduanya yang sangat dekat. Bahkan Clara hingga bisa mencium aroma Woody yang merupakan parfum yang dipakai Raffa. Aroma yang harum dan menenangkan itu tercium di hidung Clara.
"Ayo lihat ke kamera Clara, supaya foto kita bagus. Senyum..." lagi-lagi Raffa mengarahkan Clara untuk tersenyum.
Akhirnya Clara pun mengangguk dan ikut tersenyum, mengikuti instruksi yang diberikan Raffa.
"Bagaimana bagus bukan?" ucapnya sambil memperlihatkan layar handphonenya kepada Clara. Bukan Raffa namanya jika tidak percaya diri, dan saat itu kepercayaan dirinya meningkat lantaran bisa berfoto wefie (foto berdua) dengan Clara dan hasilnya tentu bagus.
"Iya bagus, Pak." jawab Clara sembari mengamati foto-foto di layar Raffa.
"Oke, aku kirimkan foto ini kepadamu. Lain kali, kalau kamu ingin foto-foto, kau bisa minta tolong padaku, karena hasil jepretanku tak kalah dari fotografer handal di luar sana." ucap Raffa sembari terkekeh.
Clara pun ikut tertawa melihat Raffa, "Anda lucu, Pak." tawanya terdengar riang hingga wajahnya merah lantaran menahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Aku bahkan tidak keberatan terlihat lucu di depan, Clara." ucap Raffa sembari mengerlingkan matanya.
"Ah, Pak Raffa mulai deh. Gak jadi deh, Pak Raffa enggak lucu. Saya tarik ucapan saya." ucap Clara spontan.
"Kau itu yang lucu Clara, memangnya perkataan bisa ditarik apa. Kamu mau foto lagi? Aku bisa memotretmu. Jangan sungkan padaku. Kapan pun, kau bisa menggangguku dan meminta tolong padaku. Aku sangat senang bisa menolongmu untuk hal apa pun."
Mendengar ucapan Raffa barusan, hati Clara terasa berdetak melebihi ambang batasnya. Perkataan spontanitas yang terasa begitu tulus, lagi-lagi membuat Clara menjadi salah tingkah.
"Baiklah, aku sudah mengirimkan foto-fotonya ke handphonemu. Simpanlah untuk kenang-kenangan kita berdua." ucap Raffa sembari mengirim foto melalui aplikasi pesan di handphonenya.
Dengan segera beberapa foto dengan latar Jewel Changi Waterfall telah terkirim di handphone Clara.
Puas berjalan-jalan sejenak di Jewel Changi Waterfall, keduanya lantas menuju pintu keluar karena pihak hotel telah menjemput mereka.
"Jangan lupa makan malam nanti jam 7 malam Pak." Clara mengingatkan Raffa tentang jam makan malam.
"Baiklah. Nanti aku akan bersiap."