When My Love Bloom

When My Love Bloom
Merasa Beruntung



Tiga hari perjalanan bisnis sekaligus afiliasi pengusaha perhotelan dan restoran se Asia Tenggara berakhir sudah.


Dengan demikian, Raffa dan Clara pun harus kembali ke Ibukota, kembali pada aktivitas rutin mereka, meninggalkan Singapura yang mulai saat ini akan menjadi tempat istimewa bagi keduanya. Negeri Singa ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa di hati Raffa dan Clara, di tempat inilah kedua hati bersama. Di tempat inilah, dua sosok anak manusia ini merasakan jatuh cinta. Lembaran hidup mereka kian berwarna, lantaran keduanya sama-sama menemukan sisi-sisi lain dari setiap sisi hidup mereka yang baru dibuka setiap lembarnya. Seperti Raffa yang selama ini dingin, serius, dan cuek, nyatanya pria itu adalah pribadi yang hangat dan suka gombal. Sementara Clara adalah sosok yang ceria dan jutek kadang iseng gombalin Raffa.


Sungguh hari yang indah untuk bisa dijalani bersama-sama. Tidak ada yang bisa menghentikanmu saat jatuh cinta. Itulah yang saat ini dialami Raffa dan Clara. Mata mereka berbinar memancarkan kebahagiaan.


Sore ini, Raffa dan Clara akan kembali ke Ibukota. Keduanya tengah duduk bersama di Changi International Airport.


"Mas, mau jalan-jalan sebentar waktu keberangkatan masih lama kan?" tanya Clara yang berniat mengajak Raffa untuk jalan-jalan sebentar.


"Iya, ayo boleh. Kamu mau kemana? Hmm." tanya Raffa memastikan.


Clara menunjuk salah satu stand penjual roti lapis yang sering lalu-lalang di berbagai drama Korea yang sering ia lihat. "Aku mau beli Subway itu."


Raffa pun berdiri, sepertinya pria itu memiliki kebiasaan baru yaitu menautkan jari jemarinya mengisi setiap sela di jari Clara dan menggenggamnya erat. "Ayo..." ucapnya manis.


Clara pun tak keberatan tiap Raffa menggandeng tangannya. Justru ia merasa bahagia, karena tangan Raffa nyatanya justru membuat Clara merasa aman dan nyaman pastinya.


Ketika mereka telah sampai di tempat yang diinginkan Clara, keduanya lantas memesan club sandwich yang paling recommended di situ. Raffa pun juga memesan, namun dengan varian yang berbeda dari Clara.


"Mau minum apa Mas? Biar aku belikan." Clara menawarkan minum kepada Raffa.


"Kamu mau minum apa emangnya?"


"Aku mau beli es coklat. Karena kan aku gak bisa minum kopi hitam macam Americano gitu."


"Iya tahu, karena asam lambung kamu kan?" sahut Raffa.


"Hmm, iya."


"Kamu saja yang beli minum Clara. Aku makan sandwich ini saja."


Akhirnya Clara mengangguk, ia hanya membeli satu minuman untuknya.


Kemudian Clara pun membuka kemasan Sandwich dan memakannya. Enak! Satu kata yang terlintas ketika menikmati sandwich ini.


Saat Clara tengah mengunyah sandwichnya, tiba-tiba Raffa mendekatkan tangan Clara yang memegang sandwich itu mendekat ke arah mulutnya. "Aku cobain punya kamu ya..." ucapnya, lalu langsung menggigit sandwich milik Clara. "Varian yang ini enak juga ternyata." ucapnya sambil mengunyah sandwich. "Mau cobain punyaku?"


Clara menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas, terima kasih. Ini saja sudah cukup."


"Padahal sandwichku tak kalah enak dari punyamu loh." Terdapat raut kekecewaan dari wajah Raffa.


Melihat perubahan raut wajah Raffa, akhirnya Clara menyodorkan gelas minumannya kepada Raffa. "Mas mau cobain minumanku. Enak loh cokelatnya."


Sementara Raffa hanya menatap Clara, ia enggan untuk mencicip minuman yang dipesan Clara. Raffa justru asyik menikmati roti lapisnya.


Kegiatannya mengunyah roti lapis terhenti saat melihat bibir Clara belepotan terkena saus. Dengan segera, Raffa membersihkan sisa saus di sudut bibir Clara dengan ibu jarinya. "Kamu makan kayak anak kecil, belepotan banget."


Clara kaget menyadari ibu jari Raffa yang tengah berada di sudut bibirnya. "Eh, Mas... Ini."


"Aku cuma membersihkan sisa saus ini. Lucu banget sih, makannya sampai belepotan." Raffa terkekeh geli dan ibu jarinya masih berada di sudut bibir Clara.


Kegiatan biasa itu justru terasa seperti slow motion, seolah ibu jari Raffa enggan beranjak dari sudut bibir Clara.


Akhirnya Raffa tersenyum, menarik kembali ibu jarinya. "Sudah..."


Lega.


Ya, seketika Clara merasa lega saat ibu jari Raffa telah menghilang dari sudut bibirnya.


Usai makan sandwich, keduanya kembali menuju ruang tunggu keberangkatan. Raffa hanya duduk sembari sesekali menggenggam tangan Clara, sementara Clara sibuk dengan tablet pekerjaannya lantaran beberapa laporan yang diberikan Rino dan juga dari Divisi Marketing.


"Kenapa kamu sibuk sekali sih?" tanya Raffa yang sejak tadi merasa dicuekkan Clara, karena pacar dan sekretarisnya itu sedari tadi berkutat dengan tabletnya.


"Kerja Mas, kalau tidak ku kerjakan, besok Mas Raffa gak bisa bekerja dong. Masak ya kerjanya nunggu aku selesai cek semuanya?" ucapnya enteng.


"Rajin banget sih... Pacarnya siapa sih ini, kok rajin banget. Bikin gemes deh." ucap Raffa sembari mengacak puncak rambut Clara.


Clara tersenyum melihat Raffa. "Pacarnya Mas Raffael Saputra dong, emang siapa lagi coba?"


"Padahal bisa kamu kerjakan besok, karena kerjaan itu, aku jadi dicuekin deh." Raffa merajuk rupanya, tidak mau dicuekin.


Clara menghela nafasnya perlahan, "Karena besok kita harus melihat sesi foto pernikahan dari salah satu Fotografer yang memakai Paradise Hotel sebagai tempat pengambilan gambarnya, Mas."


"O..." Raffa yang ber-O ria mendengar ucapan Clara. "Rasanya aku terkadang tidak menbutuhkan agenda bahkan reminder di agendaku deh." ucap Raffa.


"Emang kenapa Mas?" tanya Clara.


"Karena kamu sekretaris yang handal banget. Sebelum notifikasi reminder di kalender digitalku berbunyi, kamu sudah lebih dulu mengingatkanku. Jadi ngerasa beruntung banget aku memilikimu sebagai sekretarisku."


Clara hanya tersenyum mendengar ucapan Raffa.


"Tetapi sekarang aku jauh beruntung, karena aku memilikimu sebagai kekasihmu. Bahkan aku menjadi pacar perdanamu. Hmm, betapa beruntungnya aku ini." kembali Raffa melanjutkan bicaranya. "Karena itu, tetaplah di sisiku ya. Entah itu sebagai sekretarisku mau pun sebagai pacarku. Bahkan aku berharap, kamu pun bisa menjadi pendamping hidupku, Clara."


Blush!


Wajah Clara seketika merona-rona, ia sesungguhnya merasa malu mendengar semua ucapan Raffa.


"Mas...." Clara seketika memanggil Raffa.


"Hmm, apa?"


"Udahan dong mujinya, malu tahu. Bagaimana pun aku cuma orang biasa, aku cuma berharap membantumu sebagaimana yang aku bisa. Membuatmu tidak mengalami kesulitan dalam bekerja adalah kebahagiaan buatku. Jadi sebenarnya aku tidak sehandal itu. Aku hanya berhasil beradaptasi dengan ritme kerjamu saja sih, Mas. Dan, aku merasa puas ketika aku bisa melakukan yang terbaik dan membuat atasanku tidak kesulitan." jawab Clara panjang lebar.


"Tidak, aku sampai bisa seperti sekarang ini karena kamu juga, Clara. Makasih ya sudah bekerja keras bersamaku, makasih sudah mau lembur bersamaku, dan sekarang terima kasih karena mau bersamaku sebagai kekasihku. Love U Clara..." ucap Raffa dengan sorot mata yang memandang Clara begitu lekat. "Gak dijawab nih pernyataan cintaku."


"Enggak." sahutnya cepat.


"Balas dong." Raffa masih menggoda Clara.


"Enggak..."


"Ya udah deh, I Love U Clara...."


Happy Reading🄰