
Gosip yang sedang panas di Paradise Hotel Jakarta nyatanya sampai juga di telinga Raffa. Pria itu seketika naik darah dan uring-uringan.
"Bisa-bisanya aku menggaji mereka, tetapi mereka justru menggunjingkanku dan Clara." Mata Raffa memincing tajam dan kedua tangannya mengepal.
Emosi sungguh melingkupi pikiran Raffa saat ini, juga Raffa memikirkan Clara. Bagaimana bisa kekasihnya saat ini bertahan di tengah para staf yang menggunjingkannya dan menuduhnya macam-macam. Terlebih saat ini, dia sendiri tidak berada dekat Clara. Sebatas melegakan hatinya saja rasanya susah lantaran jarak jauh yang memisahkan keduanya.
"Tenanglah, Bos. Jangan naik darah dan tersulut emosi." ucap Rino seraya menepuk-nepuk punggung atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Bagaimana mereka bisa mendapatkan fotoku dan Clara saat di Singapura?" tanya Raffa kepada Rino.
"Kabar yang ku dengar ada mantan staf Paradise Hotel yang melihat kalian tengah berjalan-jalan di Singapura. Bukankah gosip akan seperti itu, akan mudah menyebar dan saat ini foto-foto dibagikan ulang kepada Nina, salah satu staf Marketing." Rino menjelaskan dengan pelan-pelan kepada Raffa.
"Kendati demikian, menurutku bukankah Clara memang wanita hebat yang bisa menaklukkan manusia beraura dingin sepertimu." ucap Rino sembari menahan tawa.
Raffa menatap Rino lantaran pria itu tengah berusaha menertawakannya. "Clara memang hebat, dia tidak hanya sekretaris yang hebat dan bisa diandalkan, gadis itu pun memiliki karakter yang baik dan menebar aura positif. Salah besar jika orang-orang menggunjingkannya tanpa melihat bagaimana kinerja Clara selama 5 tahun ini."
Raffa membuang nafasnya secara kasar. "Sayang sekali mereka tidak melihat bagaimana kecakapan Clara dalam bekerja. Mereka hanya melihat seolah-olah Clara menggoda dan memperdayaku. Ironis!" Masih dengan emosi tinggi, Raffa memang sangat menyayangkan bagaimana stafnya tidak melihat kinerja dan dedikasi yang sudah Clara berikan.
"Itu semua mungkin karena kalian berbeda dunia, Raff. Kau adalah Bos, sementara Clara hanyalah seorang sekretaris. Latar belakang keluarganya pun tidak seperti keluargamu. Jadi memang wajar jika gosip yang beredar seolah-olah menyudutkan Clara." ucap Rino.
"Dunia memang aneh. Mengapa selalu mengotak-otakkan tentang cinta dengan harta. Padahal saat kita jatuh cinta, harusnya kita jatuh cinta pada orangnya, bukan pada hartanya. Bagiku Clara adalah gadis yang memandangku benar-benar sebagai seorang Raffa, bukan sebagai Direktur Paradise Hotel. Dia gadis yang mati-matian bekerja membantu, tak mempeduli jam dan waktu. Gadis yang tidak silau dengan kekayaan dan kemewahan. Bahkan saat di Singapura ketika aku bisa membelikan dia segalanya, yang dia minta hanya es krim potong Singapura berharga 1 Dollar Singapura yang jika dirupiahkan hanya sekitar Rp. 13.000. Hmm, berani-beraninya mereka menjelekkan gadis sebaik Clara."
Rino menatap Raffa dengan sorot mata yang tak kalah tajam, tanpa ia bertanya justru sekarang ia tahu bahwa Raffa telah menjalani hubungan yang serius dengan Clara. Namun, hatinya menghangat mendengar bagaimana Raffa mengungkap bukti bahwa Clara adalah gadis sederhana yang tidak silau dengan semua kekayaan yang dimiliki seorang Raffael Saputra. Di dalam hatinya Rino justru menahan tawa, bagaimana mungkin bersama Raffael Saputra justru Clara hanya meminta es krim potong Singapura.
"Karena orang hanya melihat apa yang ada di depan mata mereka. Mereka tidak akan melihat bagaimana kinerja dan kepribadian Clara karena dia satu ruangan denganmu terus. Namun, aku sebagai sahabatmu aku bersyukur akhirnya temanku itu akan sold out juga. Aku senang kau tidak akan menjadi bujang lapuk." Rino terkekeh seolah melemparkan ejekan kepada Raffa.
"Tutup mulutmu itu Rino. Jangan menambah-nambahi emosiku. Bisa-bisanya kau mengataiku bujang lapuk. Aku memang bujang, tetapi aku tidak lapuk." sarkasnya sembari memincingkan matanya kepada Rino.
"Sorry Bos." Rino menundukkan kepalanya. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
Raffa pun kembali berpikir, apa yang akan ia lakukan sekarang. Tetapi terbang kembali ke Jakarta sekarang rasanya tidak mungkin karena pekerjaannya masih ada, dan baru akan selesai esok.
"Yang pasti aku akan melindungi Clara. Tetapi, saat ini rasanya aku tak bisa melakukannya. Aku ingin memecat staf yang menggunjingkannya saja juga bukan sikap bijak seorang pemimpin bukan?"
Rino mengangguki, dia setuju dengan ucapan dan pola pikir Raffa. Ya, memecat orang dengan gegabah memang bukan sikap bijak seorang pemimpin. Lagipula bila staf memang bekerja dengan baik dan tidak melakukan kecerobohan atau kesalahan yang fatal di sana.
Tiba-tiba Rino membuka suara. "Bagaimana kalau mengumumkan secara resmi hubungan kalian berdua saja Bos?"
Raffa mendengarkan saran dari Rino. Saran dari Rino ada benarnya, tetapi jika mengumumkan secara resmi itu tentu tidak sejalan dengan rencananya semula. Dalam rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya Raffa ingin terlebih dulu mengenalkan Clara kepada Mama dan Papanya. Setelah itu, dia akan mengenalkan dirinya secara resmi kepada kedua orang tua Clara, bertunangan, melamar, lalu melangsungkan pernikahan. Raffa ingin menjalaninya step by step.
Raffa menggelengkan kepalanya sekilas. "Aku tidak akan melakukannya, karena aku sudah memiliki rencana yang ku susun rapi di kepalaku. Aku ingin mengenalkan Clara dulu secara resmi kepada Mama dan Papa. Kepada kedua orang tuaku lah aku harus meresmikan hubunganku ini." ucap Raffa dengan penuh percaya diri.
Rino mengangguk dan mempersilakan Raffa untuk keluar.
Ketika Raffa telah menjauh dari Rino, pria itu seketika melakukan panggilan kepada Raffa.
Raffa
Calling
Tak berselang lama, teleponnya bersaut terdengar suara dari gadisnya yang diyakininya sedang tidak baik-baik saja.
[Halo Clara...] sapa Raffa begitu teleponnya tersambung.
[Ya, halo Pak... Ada yang bisa dibantu?] Retorika seorang sekretaris ketika mendapat panggilan dari Bos nya.
Raffa bersikap biasa, seolah-olah ia tak mendengar gosip yang terjadi di kantornya.
[Kau sedang apa? Hmm. Aku sudah rindu.] ucapnya seraya terkekeh dalam sambungan teleponnya.
[Seperti biasa aku bekerja. Sekali pun tidak ada atasanku, aku tetap bekerja giat di sini.] balas Clara.
[Kau di mana? Apa panggilan ini boleh kualihkan menjadi panggilan video?] tanya Raffa sembari mengernyitkan keningnya. Dalam hatinya Raffa hanya ingin melihat keadaan Clara sekarang ini.
[Jangan. Aku sangat sibuk. Nanti malam saja jika ingin video call.] Clara mengelak seketika.
Dari sana Raffa pun tahu, pasti sibuk hanya menjadi alasan bagi Clara.
[Hmm, baiklah. Ternyata aku ditolak lagi kali ini. Baiklah Clara, lanjutkan pekerjaanmu. Tapi ingat, jangan terlalu sibuk. Sesekali kau bermalas-malasan aku tidak mempermasalahkannya.]
[Mana bisa aku menerima gajiku penuh ditambah bonus lembur tetapi aku justru bermalas-malasan.] sahut Clara.
[Kau memang luar biasa, apa jadinya aku tanpamu Clara. Aku tanpamu butiran debu.] ucap Raffa dalam sambungan teleponnya yang justru membuat Raffa terasa lega karena Clara justru tertawa dan tawa itu ia dengar dengan indera pendengarannya.
[Kamu memang paling bisa.] sahut Clara masih terkekeh geli.
[Baiklah Clara, hati-hati di sana. Ingat ya, bahwa aku tanpamu butiran debu. Itu bukan lirik lagu, jangan tertawa.] ucap Raffa dengan nada datarnya yang justru membuat Clara semakin tertawa.
"Syukurlah aku bisa membuatmu kembali tertawa Clara. Setidaknya aku bisa menenangkanmu dari sini." batin Raffa dari dalam hatinya.