
Malam penuh kebahagiaan membuai Raffa dan Clara dalam perasaan cinta yang dinikmati dan direngguk keduanya. Malam spesial yang tidak akan pernah mereka lupakan satu sama lain.
Dibalut suasana kota Bandung yang sejuk, sepasang pengantin baru itu masih bergelung di bawah selimut dengan saling memeluk. Ketika matahari mulai menyapa, membuat Raffa mengerjap. Kelopak matanya bergerak-gerak, perlahan mata itu terbuka. Bibirnya mengulas senyuman melihat Clara yang masih terlelap damai dalam pelukannya. Pria itu kemudian merapikan untaian rambut yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya itu. Jarinya membelai lembut pipi, hidung, dan bibir Clara.
"Cantik...." ucapnya sembari memandangi wajah istrinya di pagi hari.
Sentuhan dari Raffa nampaknya sedikit mengusik tidur Clara, hingga membuat Clara perlahan membuka kelopak matanya. Wanita itu nampak kaget melihat Raffa yang berada di depan wajahnya dan melihatnya dengan pandangan yang sukar di definisikan.
Clara berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya, memori dalam otaknya memutar kembali serangkaian aktivitas panas yang mereka lalui semalam. Ia begitu malu mengingat aktivitas malam spesial mereka, bertambah malu ketika suaminya menatapnya begitu intens. Dengan segera Khaira menaikkan selimut hingga kepala, menyembunyikan wajahnya yang benar-benar malu.
Raffa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Morning, my Lovely Wife...." ucapnya sembari menurunkan selimut yang menutupi wajah Clara.
Mata Clara membelalak sempurna harus kembali menghadap suaminya di pagi pertama mereka. "Morning...." balasnya sembari menahan selimut yang mulai turun hingga ke lehernya.
"Hanya itu? Kamu tidak ingin memanggilku dengan panggilan sayang? Hmm." tanya Raffa sembari tangannya masih berusaha menurunkan selimut yang dipakai Clara.
Clara menggerakkan bulu matanya. "Panggilan sayang?" tanyanya balik, ia kemudian memikirkan sesuatu bahwa selama ini ia memang hanya memanggil Raffa dengan sebutan 'Mas' saja. Oleh karena itu, Clara akan memanggil suaminya dengan panggilan biasanya. "Morning, Mas Raffa...."
Raffa hanya tersenyum mendengar panggilan dari istrinya itu. Ditambah sikap Clara yang malu-malu, justru membuat Raffa begitu gemas.
"Bagaimana tidurmu semalam, nyenyak?" tanya Raffa sembari menahan selimut yang Clara kenakan.
Hanya mengangguk, Clara tersenyum kepada suaminya. Perlahan Clara bergerak ingin menuruni tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi, membersihkan badannya yang terasa lengket dan berharap guyuran air bisa menyegarkan dirinya.
Seolah tahu, isyarat yang terlihat dari wajah Clara. Raffa terlebih dahulu berdiri. Pria menyingkapnya selimutnya, hingga membiarkan tubuh polosnya terpampang nyata. Clara membuang muka, melihat suaminya yang seolah tanpa malu memperlihatkan tubuhnya tanpa balutan busana sama sekali itu.
Perlahan Raffa mendekati Clara, ia pun menyibak selimut yang dikenakan Clara. Membuatnya melihat pemandangan indah yang tersimpan di balik selimut berwarna putih itu. Kedua tangannya merengkuh bagian punggung dan pantat wanita itu, dengan satu gerakan pria itu berhasil membopong Clara dan membawanya ke kamar mandi.
"Aku tahu, kau pasti ingin ke kamar mandi kan? Aku juga tahu pasti kakimu akan kesulitan digunakan untuk berjalan. Oleh karena itu, biarkan aku yang menjadi kakimu sepanjang hari ini. Tubuhku sangat kuat untuk membawamu kemana pun." ucap Raffa dengan penuh percaya diri.
Sementara Clara hanya mengalungkan tangannya melingkari leher Raffa, sesekali ia mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Begitu sampai di kamar mandi, Raffa segera mengisi penuh bath up, dan menuang sabun cair yang memberikan kesan harum dengan aroma yang menenangkan. Ia terlebih dahulu memasuki bath up yang penuh busa itu, setelah itu tangannya terulur untuk menerima tangan Clara dan mengajaknya serta memasuki bath up itu. Keberadaan keduanya di dalam satu bath up yang sama, mengoyakkan air hangat serta busa yang berada di dalam bath up itu.
Dengan perlahan Clara menggosok punggung pria yang telah menjadi suaminya itu. Beberapa kali mata indah Clara mengerjap melihat otot-otot liat yang tercetak sempurna di bagian tubuh suaminya.
"Sudah selesai Mas...." ucap Clara begitu pelan.
Raffa pun segera memutar posisi duduknya, ia bisa memandangi dengan jelas dan tentunya puas, menatap pemandangan indah maha karya sang Pencipta itu.
Dalam satu hentakan, Raffa membawa Clara untuk duduk di pangkuannya. Setelah Clara mendarat dengan sempurna di pahanya, pria itu segera menyambar bibir ranum nan indah milik Clara. Merasai kembali manisnya bibir bak madu, yang tiada pernah habis kadar manisnya. Tangannya menahan tengkuk Clara dan satu tangan bergerilya menjelajahi lapisan epidermis yang basah dan licin lantaran terkena air dan juga busa sabun.
Sensasi yang justru menimbulkan gelenyar dalam diri Raffa, membuat tangan itu ingin semakin meraba semua yang ada pada diri Clara. Sungguh, Raffa tak berdaya dengan rasa yang ia alami. Tetapi, menyingkirkan ketidakberdayaannya, Raffa memberanikan menjelajahi epidermis yang putih bersih milik istrinya itu.
Pun demikian dengan Clara, ia begitu terbuai dengan sentuhan Raffa yang membuatnya bagai tersengat arus listrik ribuan volt. Sentuhan lembut dan memabuk, yang justru membuatnya menggila seketika. Sentuhan yang menimbulkan gelenyar dan juga lenguhan yang tidak dapat dihindari lagi baik oleh Raffa mau pun Clara.
Kegiatan pagi mereka berdua barulah selesai satu jam kemudian, dengan kadar air yang hanya menyisakan setengah dari bath up dan busa sabun yang terkoyak keluar memenuhi lantai kamar mandi. Pergolakan yang cukup sengit di pagi itu.
***
Satu jam kemudian.
Clara duduk di sebuah sofa yang berada di dalam kamar hotel itu. Wanita itu menaruh kedua tangannya di depan dada, dengan mata yang memandang pada hijaunya pemandangan yang berada di sekitar hotel yang ia tempati.
Sementara Raffa tengah keluar untuk mengambil sarapan bagi mereka berdua. Pria itu kembali dengan membawa nampan dan berbagai menu sarapan yang begitu menggugah selera. Kondisi perut yang sudah mengirimkan sinyal untuk segera diisi lantaran aktivitas malam dan pagi yang mereka berdua barusan sangat menguras energinya.
Begitu masuk ke dalam kamar, Raffa tersenyum melihat istrinya yang tengah memandangi alam sekitar dari balik jendela kaca itu. "Apa yang kau lihat, Honey?" tanyanya sembari menyerahkan secangkir teh hangat kepada Clara.
Dengan senyuman dan tangan yang terulur, Clara menerima secangkir teh hangat itu. "Pemandangannya bagus, Mas. Hijau dan segar. Udaranya juga adem." jawabnya sembari sesekali menyeruput tehnya yang masih hangat.
Raffa mengelus lembut puncak kepala Clara. "Aku punya Morning view yang lebih indah." ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.
Clara menoleh menatap wajah suaminya itu, "Apa?" tanya kepada sang suami.
"Kamu. Morning view terindah dalam hidupku adalah kamu...."