When My Love Bloom

When My Love Bloom
Terjaga Semalaman



Clara telah sampai di apartemennya, sekalipun sudah malam ia ingin kembali mandi untuk menenangkan perasaannya yang tidak tenang.


Aku berdiri di bawah guyuran air shower malam ini, bagaimana bisa hatiku menjadi tak tenang seperti sekarang ini. Dalam 26 tahun, baru kali ini aku merasakan ada pria yang menggenggam erat tanganku, dan mencium pucuk kepalaku. Apakah hatiku berdebar? Ya tentu saja, tapi aku menutupinya dengan senyuman yang mungkin pria itu pun tidak tahu maksudnya. Apakah aku senang? Aku gak tahu pasti, hatiku gelisah dan perasaanku tak tenang, seolah-olah satu bunga mekar dengan sendirinya di hatiku, tapi bunga itu layu seketika, karena pria itu adalah atasanku sendiri, Raffael Saputra.


Aku masih dapat merasakan bagaimana tangannya yang dingin menggenggam tanganku, tangan itu perlahan menjadi hangat dan menyatu dengan sempurna di sela-sela jariku. Huhhh, perasaan apa ini. Dari awal seharusnya aku membuat kesepakatan bahwa tidak ada kontak fisik selama menemaninya reuni, kini aku sendiri yang merasa hampir gila. Bagaimana perasaannya Malam ini? Apakah dia juga merasakan hal yang sama sepertiku, atau biasa-biasa saja? Sebelumnya semuanya menjadi taking terkendali, aku harus melupakan semua ini. Aku tak ingin berlarut-larut dalam perasaan yang tidak jelas ini.


Puas mengguyur dirinya dengan air dari Shower, Clara merebahkan dirinya ke tempat tidurnya. Ia akan segera tidurnya, dan bangun esok hari untuk bekerja. Tetapi, sebelum itu dia terlebih dahulu mengecek handphonenya apakah ada pesan, telepon, atau email yang masuk di sana.


Mata Clara membulat dengan sempurna, saat mendapatkan pesan dari atasannya yang membuatnya berpikir keras usai menemani Raffael ke acara reuni.


 


[Raffael: Malem Cla.... Thanks ya tadi sudah bantuin aku.]


Saat ia baru saja menata hatinya, justru orang yang baru saja ia pikirkan mengiriminya pesan. Lalu, dengan sigap Clara pun membalas pesan dari atasannya itu.


[Clara: Iya Pak. Makasih juga tadi saya juga udah dibantuin waktu ketemu sama Mas Dio.]


 


[Raffael: Oh, itu. Gak papa. Aku seneng kok membantumu. Dulu jadi kamu satu kampus sama Dio?]


[Clara: Iya Pak, Kak Dio kakak kelas saya.]


[Raffael: Dio dulu naksir kamu? Kok enggak diterima jadi pacar?]


[Clara: Mungkin Pak, pastinya saya juga kurang tau. Karena saya nya gak suka Pak, gak ada perasaan apa-apa juga ke dia.]


Di seberang sana, Raffael justru tersenyum membaca jawaban chat pesan dari Clara. Apa mungkin gadis itu yang aneh, Dio yang merupakan salah satu bintang di SMA ditolak oleh Clara. Di SMA padahal tidak ada seorang pun yang bisa menolak pesona Dio. Cowok tampan, pintar, dan berkepribadian hangat pasti menjadikan Dio sebagai bintang di SMA nya dulu, dan Raffael yakin di Universitas pun Dio akan menjadi bintangnya. Tetapi, seorang bintang itu justru ditolak oleh Clara.


Di SMA saja banyak murid-murid perempuan antri untuk menarik perhatian seorang Dio. Clara justru sebaliknya, terang-terangan menyatakan tidak suka sama cowok itu. Raffael jadi berpikir, sebenarnya cowok seperti apa yang disukai Clara.


Akan tetapi, di satu sisi ia enggan menanyai seperti apa pacar idaman Sekretarisnya itu. Bukan karena gengsi, ia hanya tak mau membuat Sekretarisnya menjadi canggung kepadanya. Padahal mereka sudah bekerja bersama selama 5 tahun, tetapi Raffael sebisa mungkin tidak bertanya hal-hal pribadi kepada Clara.


Baik Raffael dan Clara sama-sama hanyut dalam pikiran sendiri-sendiri. Lebih-lebih, Clara ketika ia akan memejamkan mata untuk tidur, tiba-tiba saja ia seolah-olah kembali merasakan bagaimana Raffael mengecup puncak kepalanya. Clara sama sekali tidak menyangka pengalaman pertamanya bergandengan tangan dan dikecup keningnya justru dengan Boss-nya. Clara semakin tidak bisa memejamkan matanya, dia berputar-putar di tempat tidurnya. Dari posisi menjadi, telentang, dari telentang menjadi tengkurap. Pikirannya benar-benar kacau. Hingga tengah malam, ia masih tidak bisa tidur. Clara mencoba menghitung deretan angka supaya bisa tertidur, tapi hasilnya nihil.


Akhirnya Clara mencoba merilekskan pikirannya, membuang semua hal yang memberatkan otaknya, hingga akhirnya ia bisa tertidur. Walaupun hanya beberapa jam, Clara cukup beruntung karena bisa tidur. Pagi ini, ia kembali untuk mandi dan bergegas untuk berangkat ke kantor.


Baru ia akan melangkahkan kakinya keluar dari pintu rumahnya, handphonenya bergetar. Kali ini, terdapat panggilan masuk di sana.


Pak Raffa Calling


Clara tidak menyangka akan mendapatkan telephon dari atasannya sepagi ini. Ia kemudian menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


[Halo Pak Raffa... ]


^^^[Ya, Halo Clara.... ]^^^


[Ada apa Pak?]


^^^[Kamu sudah siap berangkat kerja?] ^^^


[Iya Pak, ini saya mau berangkat ke kantor.]


^^^[Ya udah, buruan turun. Saya sudah di bawah, di luar ya.]^^^


[Haaa?? Di luar apartemen saya maksudnya?]


^^^[Iya, buruan cepat.....]^^^


Tanpa menunggu waktu lama, Clara segera turun ke bawah dan mencari keberadaan atasannya di sana. Pandangannya mencari-cari, menoleh ke kanan dan kiri, mencari di mana atasannya itu. Clara berjalan ke arah parkiran, dan di sana ia menemukan atasannya sedang berdiri, menyandarkan badannya ke mobil, dengan kaki menyilang, dan satu tangannya masuk di dalam saku celananya.


“Ah, itu dia.” Clara segera mempercepat jalannya menuju ke arah atasannya berdiri itu.


 


Raffael yang sudah melihat keberadaan Clara yang tengah berjalan ke arahnya, sontak melambaikan tangannya.


“Clara.... Di sini.” Clara pun yang melihat lambaian tangan Raffael sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mempercepat langkahnya untuk sampai kepada Raffael.


“Ada apa Pak? Tumben pagi-pagi kok sudah di sini?”


 


“Gak papa. Pengen ke kantor bareng kamu aja.”


 


“Haa.... Saya?”


“Iya...”


“Kok tidak sama Pak Hermawan, Pak? Pak Raffa nyetir sendiri ya?”


 


“Iya, hari ini Pak Hermawan mengantar Mama ke Bandara mau pulang ke Surabaya.”


“O.... Kalau gitu biar saya saja yang menyetir mobilnya, Pak."


 


“Eh, gak perlu. Biar saya saja. Yuk, kita berangkat.”


Raffael dengan santainya membukakan pintu mobilnya bagi Clara dan mempersilakan Sekretaris itu untuk segera masuk ke dalam mobil. Setelah itu, barulah ia mengitari mobilnya lalu duduk di kursi kemudi.


“Pak Raffa...."


“Hemm..”


“Bapak enggak kenapa-kenapa kan?”


“Hemm, kenapa?”


“Gak biasanya Bapak jemput saya sepagi ini.”


“O... Gak papa, sih. Kebetulan tadi saya dari arah sini, jadi sekalian aja. Oh, iya ni sarapan buat kamu.” Raffael memberikan Chicken Muffin dan secangkir Teh Hangat untuk Clara.


“Makasih Pak.”


“Iya, saya tahu kamu pasti belum sarapan. Mau dimakan sekarang juga boleh."


“I.. Iya Pak. Makasih ya Pak.”


“No problem.”


Setelah itu, Raffael melajukan mobilnya menuju kantor perusahaannya. Clara duduk di dalam mobil sambil berpikir kenapa tingkah atasannya sangat aneh pagi ini. Mulai dari menjemputnya hingga memberinya sarapan. Walaupun demikian, Clara tetap berusaha bersikap biasa kepada bosnya yang hari ini sangat aneh itu