When My Love Bloom

When My Love Bloom
Kejutan & Dedikasi



Setelah hampir dua hari berada di kota Bandung. Pada hari yang ketiga, Raffa segera membawa Clara menuju ke Bandara. Tanpa sepengetahuan Clara, Raffa memesan sendiri tiket pesawat bahkan hotel yang akan mereka tempati di Singapura nanti.


Memberi kejutan bagi Clara itulah yang terpikirkan oleh Raffa. Kemarin saat Clara mengatakan bahwa ia rasanya ingin mengunjungi Singapura, membuat Raffa berinisiatif memberikan kejutan kepada Clara. Lagipula, membahagiakan istri sendiri tidak ada salahnnya.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Clara yang diajak begitu saja oleh suaminya itu.


"Aku mau menculikmu, Clara. Menyenangkan bisa menculik istri sendiri." jawabnya sembari terkekeh geli.


Clara memutar bola matanya malas. "Please, jangan bermain-main Mas." tanya dengan wajah cemberut.


Raffa menoleh menatap istrinya itu. "Kita akan beli es potong favoritmu di Singapura. Kau bisa makan es krim potong itu sesukamu, aku tidak akan melarangnya."


"Serius, kita akan ke Singapura?" tanya Clara.


Raffa menganggukkan kepalanya. "Ya, kita akan kesana. Mau berapa lama kamu ingin berada di Singapura tidak masalah. Kita nikmati perjalanan liburan kita."


Senyuman terbit di wajah Khaira. "Wah, makasih Mas... Aku seneng banget. Baru kemarin aku bilang pengen ke Singapura dan sekarang kau mewujudkannya." Dengan menunjukkan mata layaknya puppy eyes, Clara menatap wajah suaminya itu. "Nanti beneran aku boleh beli es potong itu Mas? Beli beberapa potong boleh?"


Raffa tersenyum. "Boleh, tapi juga jangan terlalu banyak ya nanti justru batuk karena kebanyakan makan es." jawab Raffa. "Ya udah, yuk kita sudah mau boarding. Sekarang gak ada alasan lagi bagi kamu untuk naik pesawat ya, karena sudah ada aku, suamimu. Sudah pasti aku akan menjagamu. Dan, kamu bisa terus memegang tanganku ini. Hmm."


Clara langsung mengangguk setuju. "Oke, makasih banyak Hubby."


Begitu keduanya telah berada di dalam pesawat, tanpa malu-malu lagi Clara langsung memegang tangan Raffa saat pesawatnya akan mulai take off. Telapak tangannya cukup dingin, karena itulah ia menggenggam erat tangan suaminya.


"Padahal kau sudah menggenggam tanganku, kenapa telapak tanganmu justru sedingin ini?" tanya Raffa kepada istrinya itu.


Clara mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Padahal sekarang sudah ada tanganmu yang bisa ku genggam, tetapi tanganku justru dingin seperti ini. Padahal hatiku tidak terlalu ketakutan. Aneh rasanya." sesekali Clara juga memegangi dadanya.


Rasanya begitu aneh, ia tidak ketakutan tetapi mengapa justru kedua telapak tangannya terasa begitu dingin.


Raffa mengernyitkan keningnya. "Kau yakin tidak ketakutan? Jantungmu tidak berdebar-debar? Akan tetapi, kenapa tanganmu dingin sekali. Di lain waktu aku akan beli penghangat tangan seperti di drama Korea yang terbiasa kau lihat itu. Supaya tanganmu tetap hangat." ucap Raffa sembari memegangi telapak tangan Clara.


"Boleh. Aku rasa panggilan 'Hubby' cukup bagus dan unik. Oke, kau boleh memanggilku Hubby." jawab Raffa dengan penuh percaya diri.


Clara begitu bahagia, karena kali ini dia yang berinisiatif dan memberanikan diri untuk memanggil suaminya dengan sebutan 'Hubby'. Bagi Clara rasanya panggilan itu sangat cocok bagi Raffa. Beruntungnya, Raffa pun menyetujui panggilan itu.


Kendati sudah menjadi sepasang suami istri, jika berada di dalam kantor, Clara tetap akan bersikap formal layaknya seorang sekretaris dan Raffa adalah atasannya. Bagiamana pun ia tetap harus membedakan antara kehidupan rumah tangga dan kehidupan professional di kantor sebagai Atasan dan sekretarisnya. Jika tidak dipisah-pisahkan, maka profesionalitas bekerja yang menjadi taruhannya.


Mereka sudah menjalani dan membedakan peran sejak mereka berpacaran, di kantor mereka berdua tetap Bos dan Sekretarisnya, di luar kantor barulah mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Puas mengatakan apa yang menjadi isi hatinya, Clara kemudian menyadarkan kepalanya di bahu Raffa. "Terima kasih sudah selalu ada bersamaku selama ini. Terima kasih karena sudah menemaniku bahkan selama 5 tahun belakangan, aku yakin kamu selalu menemaniku, menjagaku, tentunya dengan caramu. Terima kasih banyak Hubby." ucap Clara tulus.


Raffa pun menaruh dagunya di atas kepala Clara. "Jangan berterima kasih, sudah sepantasnya dan sewajarnya aku menjaga wanitaku. Memastikan dia aman dan baik-baik saja. Dengan caraku, aku sebenarnya membuatmu selalu ada di sisiku. Walau pun harus membuatmu lembur di akhir pekan. Aku akui, semua itu kulakukan supaya aku bisa membuatmu selalu berada di sisiku, di dekatku. Lagipula, jika bukan aku, siapa lagi yang akan menjagamu. Hmm."


Clara terkekeh geli mendengar ucapan Raffa. Ia pun mengingat bagaimana Raffa selalu menahannya selama ini, membuat Clara selalu berada di sisinya. Tanpa Clara sadari dan ketahui itulah cara seorang Raffael Saputra menjaga Clara.


Walau pun pernah Clara merasa bekerja keras bagai kuda, lantaran ia tetap harus masuk di kala weekend. Jika staf lain bisa libur di akhir pekan, bersenang-senang untuk sekadar nongkrong di Coffee Shop, jalan-jalan ke Mall, berpacaran seperti anak muda pada umumnya. Sementara Clara tetap bekerja, menghabiskan masa mudanya untuk bekerja dan terus berada di sekitar Raffa.


Sekarang dengan telinganya sendiri, ia mendengar bahwa Raffa mengakui bahwa itu adalah caranya untuk membuat Clara bisa berada tetap di sisinya. Kini Clara pun semakin yakin bahwa Raffa sesungguhnya sudah menyimpan perasaan cukup lama kepadanya.


"Wewenang seorang CEO sangat besar ternyata ya, bisa membuat sekretarisnya kerja keras bagai kuda, tanpa bisa menikmati libur akhir pekan. Hmm, masa mudaku sudah kuhabiskan untuk bekerja setiap hari denganmu." Clara sembari tertunduk lesu.


Raffa mengacak gemas puncak kepala istrinya itu. "Bukan hanya kamu, masa mudaku pun kuhabiskan setiap hari untuk bekerja dan menjagamu. Karena, aku tak akan membiarkanmu untuk dekat dengan pria manapun. Aku tak akan membiarkannya."


Clara merotasi bola matanya malas. "Berarti kamu posesif dong Hubby?"


Raffa hanya mengedikkan bahunya. "Bukan posesif. Kan sudah kukatakan sebelumnya, itu adalah caraku untuk menjagamu. Menjaga wanitaku, wanita yang kucintai. Apakah aku salah?" tanya Raffa.


"Akui saja kalau memang posesif. Lebih baik mengakuinya secara langsung kepadaku. Lagipula, aku tidak keberatan jika kamu posesif, sekarang kamu adalah suamiku. Aku akan tunduk dan taat kepadamu. Aku akan mengabdikan hidupku kepadamu." ucap Clara dengan tulus.


Raffa mengulas senyuman yang begitu manis. "... dan aku pun akan menjadi suami yang mengasihi istriku ini dengan sepenuh hati, menjagamu, dan mengusahakan yang terbaik bagimu. Aku pun akan mendedikasikan hidupku bagi istriku ini. Love U Clara...."