
Pesawat yang Raffa dan Clara telah mengudara. Perlahan-lahan dengan obrolan yang mereka bangun, Clara mulai lebih rileks. Tangannya pun tidak dingin. Obrolan yang mengalir begitu saja justru bisa membuatnya lebih rileks dan tidak begitu ketakutan saat pesawat hendak take off.
Kini wanita itu tengah melihat segerombolan awan putih dari balik kaca jendela pesawat itu. Ia cukup takjub dengan apa yang ia lihat.
"Kau sedang lihat apa Clara?" tanya Raffa lantaran beberapa saat istrinya hanya diam dan menatap awan-awan putih di angkasa biru itu.
"Euhm, aku sedang melihat awan-awan ini saja Mas. Kenapa? Aku tidak tidur kok Hubby. Aku akan selalu menemanimu." ucap Clara kepada Raffa.
"Jika kamu tidur pun aku tidak masalah, aku akan membangunkanmu ketika pesawat akan landing nanti. Jadi, apakah kamu capek dan terasa mengantuk?" tanya Raffa.
Clara segera menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak kecapean dan mengantuk. Tenanglah, aku adalah orang yang tidak akan tertidur dalam perjalanan baik itu perjalanan darat, laut, dan udara." kata Clara sembari terkekeh geli.
Ya Clara memang orang yang tidak akan tertidur selama dalam perjalanan. Kemana pun ia menemani Raffa dalam perjalanan bisnis, atau sekadar berkunjung ke villa orang tua Raffa, Clara tak pernah tertidur. Terkadang ia bernyanyi, mengobrol dengan Pak Hermawan yang merupakan supir keluarga Saputra, atau pun mengecek berbagai pekerjaan dengan tabletnya.
Hanya saat bulan madu ini saja, Clara pergi tanpa membawa serta tabletnya. Itu karena Raffa telah mewanti-wanti supaya Clara tidak memikirkan pekerjaan saat berbulan madu. Demikian pula dengan Raffa, ia juga meminta Rino untuk tidak mengganggunya selama ia menikmati perjalanan bulan madunya bersama sang istri tercinta.
Sebagai gantinya, Papa Saputra lah yang akan menghandle apabila ada pekerjaan darurat di Paradise Hotel.
Tidak terasa, pesawat pun akan segera landing di Changi International Airport. Begitu pengumuman bahwa pesawat akan segera landing, Clara langsung mengalihkan pandangannya pada tangan Raffa yang bersidekap di dada.
"Hubby, bolehkah kau meminjamkan tanganmu? Sudah saatnya landing. Kau tahu kan, aku ketakutan jika landing." ucap meminta tangan suaminya untuk ia pegang.
Raffa tersenyum, lalu dengan segera ia menggenggam tangan Clara. "Tidak hanya tanganku, semua yang kumiliki ini juga milikmu. Pergunakanlah sesukamu." balas pria itu tetap di telinga Clara.
Ucapan disertai hembusan nafas di telinga Clara cukup membuat wanita itu merinding seketika.
"Bicaranya jangan tepat di depan telinga dong Hubby. Geli tau." ucapnya sembari bibirnya cemberut.
Raffa terkekeh geli. Kemudian ia hanya diam menunggu waktu untuk pesawat segera landing.
Dalam sekian menit kemudian, pesawat sudah landing dengan sempurna. Itu berarti Clara sudah bisa bernafas lega. "Terima kasih sudah meminjamkan tanganmu, Hubby. Hari di mana kamu meminjam tangan ini, rasanya ketakutanku sirna sudah. Aku percaya dengan ucapanmu bahwa tanganmu ini bisa menenangkanku dan menguatkanku. Thanks Hubby."
"Benar kan apa yang pernah ku bilang sebelumnya bahwa tangan ini bisa menghilangkan ketakutanmu. Sekarang, selalu genggamanlah tanganku. Apa pun yang akan kita lalui ke depannya, ku harap kita akan menjalaninya bersama-sama dengan saling bergandengan tangan seperti ini." ucap pria itu dengan serius.
Keduanya kini memasuki Bandara dan menunggu sebuah mobil dari hotel untuk menjemput mereka. Kali ini Clara benar-benar buta dengan transportasi dan akomodasi, sebab Raffa sendirilah yang memilihnya sendiri tanpa melibatkannya.
"Kau ingin langsung jalan-jalan atau beristirahat terlebih dahulu di hotel?" tanya Raffa.
"Aku ikut apa pun keputusanmu saja, yang penting jangan lupa belikan aku es potong Singapura ya By ... karena aku sudah sangat menginginkannya." balas Clara.
Lantaran mengingat sudah betapa sang istri menginginkan es potong Singapura yang berharga satu dollar itu, Raffa memutuskan untuk langsung mengajak Clara menuju salah satu tempat penjual es potong legendaris di Orchard Road. Jika dulu, mereka membeli es potong di Cavenagh Bridge sekarang Raffa berniat mengajak Clara membeli es potong di tempat yang lain. Lagipula es potong itu berada tepat di AEON Mall Orchard, siapa pun tahu Raffa bisa sekalian membelanjakan Clara di sana.
Tanpa menunggu lama, ketika mereka telah selesai check in di hotel, Raffa segera membawa istrinya menuju Orchard Road.
"Kali ini kita akan mencoba es potong di Orchard Road ya? Kau tidak keberatan kan? Jika rasanya tidak cocok, tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, besok kita ke Singapore River untuk membeli es potong di tempat yang sebelumnya." ucap Raffa.
Clara pun mengangguk setuju. "Oke, baiklah. Mencoba es potong di tempat yang baru, aku rasa tidak masalah. Terima kasih karena sudah membelikanku es potong." ucap Clara sembari tersenyum lebar kepada suaminya.
Begitu sampai di Orchard Road, es potong legendaris itulah yang pertama kali dibeli oleh Clara. Melupakan statusnya kini sebagai istri Bos Raffa, Clara justru memilih duduk di anak tangga yang berada di bagian AEON Mall Orchard. Dengan penuh perasaan bahagia ia memakan es potong itu.
"Pelan-pelan saja makannya. Aku tidak akan memintamu." Raffa mengingatkan Clara, pasalnya sejak tadi ia mengamati bahwa Clara cukup cepat memakan es potongnya.
Clara pun tertunduk malu. "Maaf, ini karena aku begitu menginginkan es potong ini. Aku bahagia saat memakannya. Hmm, baiklah aku akan makan pelan-pelan. Lagipula jika ini habis, aku bisa meminta lagi kepada suamiku ini untuk membelikanku es potong lagi. Benarkan Hubby?"
"Ya, aku bisa membelikanmu. Bahkan memborongnya semua aku bisa, tetapi aku tak akan membelikan semuanya, karena justru itu bisa membuatmu batuk. Jadi makan saja sepuasmu, dan jangan terlalu banyak. Apakah seperti ini sudah membuatmu bahagia?" tanya Raffa.
Dengan cepat Clara menganggukkan kepalanya. "Ya aku bahagia, sangat bahagia. Ini sepotong kebahagiaan yang sangat berharga untukku. Aku tahu, es potong ini sangat murah dan semua orang bisa dengan mudah membelinya. Namun, es ini menjadi spesial karena kamu yang membelikannya. Ini sungguh sepotong kebahagiaan istimewa buat aku. Terima kasih untuk kebahagiaan ini untukku." balas Clara dengan tulus kepada Raffa.
Raffa, pria itu tidak hanya bisa menjaganya, tetapi pria itu pun kini mampu memberinya berbagai kebahagiaan dalam hidup. Melalui sepotong es krim, Raffa telah sukses membuat istrinya itu begitu bahagia. Cara menghadirkan kebahagiaan itu cukup sederhana, lakukan yang terbaik dengan perasaan yang tulus bagi orang yang kita sayangi. Karena perbuatan yang tulus akan terasa hingga sampai ke dalam hati.
Selamat berbahagia...
Happy Reading... 🥰