When My Love Bloom

When My Love Bloom
Niat Baik



"O...." hanya satu huruf ini sajalah yang mampu diucapkan oleh Ayah Clara.


Sementara ketegangan masih terasa melingkupi Raffa. Bahkan kini kedua tangannya terasa dingin. Raffa yang selalu percaya diri di hadapan rekan bisnisnya, kali ini dirinya benar-benar grogi.


Pengalaman pertamanya meminta restu kepada orang tua pacar perdananya, Clara. Semua rasa berkecamuk menjadi satu. Detik demi detik menunggu ucapan Ayah Clara selanjutnya pun menjadi waktu yang paling dinantikannya.


"Begini Pak Raffa, apa tidak salah jika Pak Raffa mencintai anak saya, Clara. Seperti yang Pak Raffa ketahui. Keluarga kami benar-benar sederhana, apa itu tidak masalah? Yang kedua, apa Clara juga memiliki perasaan yang sama dengan Pak Raffa?" Ayah Clara berkata dengan sangat hati-hati dan penuh sopan santun, bagaimana pun yang ia hadapi sekarang ini adalah Bos anaknya.


"Sebelumnya maaf Ayah, panggil saya Raffa saja. Jangan sungkan kepada saya Ayah." Raffa pun meminta kepada calon mertuanya untuk tidak sungkan kepadanya.


"Jangan, bagaimana pun kan Pak Raffa atasan Clara. Saya tidak enak." sanggah Ayahnya Clara itu.


"Jangan merasa tidak enak Yah. Karena saya juga memiliki naik baik. Niat tulus untuk meminang putri Ayah." ucap Raffa yang masih menautkan jari jemarinya.


Ayah pun menghela nafasnya. "Bagaimana Clara, yang disampaikan Nak Raffa apa benar?"


Ditodong dengan pertanyaan dadakan oleh sang Ayah, Clara hanya mengangguk. "Iya, benar Ayah." Clara menjeda sejenak ucapannya. "Awal mula Clara memang enggan menjalin hubungan dengan atasan Clara sendiri, Yah. Tetapi, Mas Raffa terlampau baik dan dia selalu meyakinkan Clara untuk menjalin hubungan yang sehat. Bahkan kemarin, Mas Raffa juga mengenalkan Clara secara resmi kepada orang tuanya, Yah. Bersyukurnya kedua orang tua Mas Raffa menerima Clara dengan sangat baik."


Ayah mendengar setiap ucapan Clara. Di dalam hatinya, Ayah sangat merasa lega karena keluarga dari Raffa menerima Clara dengan baik.


"Apa benar Nak Raffa mencintai Clara?" tanya sang Ayah kepada Raffa.


"Ya Ayah, saya mencintainya melebihi diriku sendiri."


Mendengar jawaban Raffa, Ayah perlahan lega, tetapi ia masih memiliki pertanyaan lainnya untuk Raffa.


"Apa Nak Raffa bisa menjanjikan untuk setia kepada Clara? Tidak akan ada perempuan lagi sekarang hingga nanti?"


"Ya Ayah, saya akan memastikan itu. Saya akan setia kepada Clara."


Merasa lebih lega. Pasalnya Ayah memang melihat pria itu begitu mencintai Clara, Ayah hanya berharap bahwa pria itu akan mencintai dan akan setia kepada Clara.


Setelah menimbang-nimbang, rasanya sudah cukup bagi Ayah untuk memberikan keputusannya.


"Jika demikian, Ayah akan mengizinkan Nak Raffa untuk menjalin hubungan dengan Clara. Tetapi, dengan beberapa syarat. Yang pertama, cintai Clara dengan sepenuh hati. Yang kedua, berlaku setia. Yang ketiga, jagalah Clara. Sebab seorang Ayah tidak ada yang membiarkan anaknya menderita atau menikahi pria yang salah. Karena penderitaan yang didapat ketika salah memilih pasangan itu akan berkelanjutan." Demikian syarat-syarat yang Ayah berikan kepada Raffa.


Raffa menghela nafasnya, ia sungguh lega karena calon Ayah mertuanya telah memberinya restu, tentunya dengan syarat-syarat yang telah Ayah sampaikan.


"Terima kasih Ayah untuk izin yang Ayah berikan. Raffa akan berusaha memenuhi setiap syarat yang Ayah berikan, seumur hidup - sepanjang usia saya akan selalu mencintai Clara dengan sepenuh hati, setia kepadanya, dan akan selalu menjaga Clara." Dengan sungguh-sungguh Raffa pun mengucapkan janjinya kepada Ayah.


Mendengar kesungguhan dan keseriusan Raffa, setetes air mata jatuh begitu saja dari sudut mata Clara. Sungguh, Raffa adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Rasanya melabuhkan hatinya kepada Raffa adalah keputusan yang tepat.


"Hmm, baiklah. Ayah sekarang lega karena putri Ayah sudah dewasa, sudah berani pulang dengan mengenalkan kekasihnya. Oh, iya karena kamu di Jakarta juga tinggal sendiri, kamu harus bisa menjaga diri ya Clara. Sekali pun Ayah sudah mengizinkan tetapi kalian harus menjaga diri, Ayah sungguh-sungguh meminta mulailah pernikahan yang kudus dan suci, rasakan kesakralannya."


"Nak Raffa juga ya, tahan sampai kalian benar-benar sudah bersatu dalam ikatan pernikahan yang sah."


"Iya Ayah." Raffa pun menjawab sembari menganggukkan kepalanya.


Lega sudah rasanya restu dari kedua orang tua benar-benar sudah dikantongi. Menjalin hubungan dengan restu dari kedua orang tua jauh lebih melegakan.


"Hem, Nak Raffa ... apa Ayah boleh tahu, meminta restu dan berkenalan secara resmi apa memang kalian berdua ingin menikah?"


Raffa dan Clara pun saling bersitatap. Tidak menyangka keduanya akan mendapat pertanyaan dadakan seperti ini.


"Kami serius Ayah. Lagipula saya ingin berkomitmen dengan Clara. Sekali pun menikah bisa beberapa waktu lagi, tetapi lebih baik menjalin hubungan dengan restu dari orang tua Clara. Sebagaimana pria dipercaya karena ucapannya dan perilakunya, jadi saya juga harus bertanggung jawab kepada Ayah dan Ibu sebagai orang tua Clara."


Ayah menganggukkan kepala mendengar jawaban penuh kesungguhan dari Raffa.


"Ya, ya, ya ... Ayah tahu. Aku terima niat baik kamu. Ayah dan Ibu merestui hubungan kalian berdua. Tetapi ingat syarat-syarat dari Ayah tadi ya."


Sosok yang sejak tadi hanya menjadi pendengar yaitu Ibu Ernawati, Ibu sambung Clara akhirnya turut mengeluarkan suara.


"Ibu senang karena Clara membawa pria yang baik dan serius ke rumah. Ibu doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Ya sudah, sambil di minum dulu Teh nya. Maaf ya Nak Raffa, di sini cuma ada seadanya, hanya teh hangat dan pisang goreng."


Raffa tersenyum, "Ini sudah lebih dari cukup Bu. Saya makan pisang gorengnya ya Bu."


"Silakan-silakan. Jangan sungkan Nak Raffa."


Karena kelupaan, Raffa baru memberikan buah tangan yang ia bawa berupa beberapa kue setelah ia memakan pisang goreng.


"Maaf Ayah dan Ibu, ini ada sedikit buah tangan," ucap Raffa sembari menyerahkan buah tangan kepada Ibu Ernawati.


"Repot-repot loh Nak. Gak usah bawa apa-apa saja gak apa-apa," ucap sang Ibu.


"Enggak repot kok Bu. Hanya kue saja isinya," sahut Raffa.


"Oh, iya ... Nak Raffa ini usianya berapa? Berapa bersaudara?" Ayah masih melanjutkan bertanya-tanya lebih lagi kepada Raffa.


"Usia saya 28 tahun Ayah, saudara kandung hanya ada satu. Kakak saya sudah menikah dan sekarang tinggal di Surabaya," balas Raffa.


"O... Berarti selisih 2 tahun ya usianya sama Clara. Tidak begitu jauh selisihnya. Kenapa kok bisa suka sama anak saya? Padahal anak saya ini biasa saja." Lagi Ayah bertanya kepada Raffa.


"Sebenarnya saya menyukai Clara sejak 5 tahun yang lalu Yah, tetapi baru berani untuk menyatakan perasaan 2 bulanan yang lalu," ucap Raffa sembari sedikit menundukkan kepalanya.


"O... ceritanya diam-diam suka ya."