
Mendengar penerimaan baik dan juga restu yang diberikan oleh Ayah dan Ibu Clara membuat Raffa begitu lega. Wajahnya sedari tadi tersenyum, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Jadi sudah hilang groginya Mas? Masak selevel Mas Raffa di hadapan Ayah dan Ibuku aja grogi? Ayah dan Ibu kan cuma orang biasa saja." Clara berbicara sedikit dengan nada mencibir kekasihnya itu.
"Grogilah. Kan bicara di hadapan investor atau rekan bisnis kan aku udah terbiasa, kalau berbicara di hadapan calon mertua kan baru kali ini. Jadi rasanya grogi banget malahan. Bersyukurnya Ayah dan Ibu langsung memberi lampu hijau di pertemuan pertama. Kalau percobaan pertama aku bertemu Ayah dan gagal, kapan lagi aku bisa mencobanya. Jujur, aku takut banget gagal. Aku gak abis pikir andai Ayah dan Ibu menolakku, aku pasti akan down banget."
"Hmm, lega banget sih aku. Sekarang kita cuma harus berpikir ke depan, kalau orang tua sudah sama-sama tahu kita menjalaninya kan lega. Tidak perlu Backstreet. Sebab saat aku menyatakan cintaku kepadamu, aku serius untuk membawa hubungan kita hingga ke pernikahan. Tujuanku ingin mempersuntingmu dan menua bersamamu. Itu satu-satunya tujuanku, Clara. Setelah memilikimu nanti aku tidak menginginkan hal lainnya." Raffa mengatakan dengan nada yang serius yang seketika membuat mata Clara berkaca-kaca.
Gadis itu menahan air matanya. Baru pertama ia jatuh cinta, ia langsung dipertemukan dengan pria yang sebaik Raffa. Clara sungguh bersyukur untuk itu. Raffa adalah cinta pertamanya yang ingin mengajaknya untuk membina hubungan yang serius. Hubungan berlandaskan cinta suci, bukan sekadar nafsu belaka. Sama seperti Raffa, Clara pun tidak menginginkan hal yang lainnya. Clara pasti akan menjadi gadis paling berbahagia karena mendapatkan Raffa sebagai pasangan hidupnya. Mengisi tangki cinta bersama, menjalani hari-hari dengan cinta, dan akhirnya menua bersama.
Hidup bergelimang harta sama sekali bukan menjadi tujuan Clara. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapatkan pendamping hidup yang sepadan dan seimbang. Pendamping hidup yang mencintai dengan tulus.
Lagi Raffa melirik pada Clara, pria itu kemudian memegang tangan Clara lalu memegangnya. "Jangan khawatir ya, kita sudah berhasil melaluinya sampai sejauh ini. Kita pasti bisa terus menjalani dan melalui semuanya asalkan kita selalu bergandengan tangan seperti ini. Kamu percaya kan? Seberat apa pun masalah yang ada di depan, asalkan kita terus bersama, kita akan melaluinya bersama-sama. Kita akan melewatinya bersama dengan kekuatan cinta, kasih, dan kepercayaan, serta pengharapan yang sama-sama kita miliki. Okay!"
Clara melempar senyumannya dan menatap Raffa. "Iya Mas, terima kasih ya. Terima kasih karena sudah mau melangkah hingga sejauh ini. Terima kasih telah menunjukkan keseriusan di dalam hubungan kita ini. Ya, kita akan melewati semua dengan bergandengan tangan seperti ini. Saling menguatkan dan menopang. Selain itu dalam satu iman, satu pengharapan, dan satu kasih yang akan memperkokoh ikatan kita berdua ini." Clara berkata dengan penuh kesungguhan hatinya.
Raffa turut tersenyum, "Aku juga berterima kasih karena kamu menerimaku. Terima kasih mendampingiku sejak di awal karierku hingga sekarang. Terima kasih sudah sabar menghadapiku. Juga, kamu selalu mengingatkanku untuk sabar. Terima kasih banyak ya...."
Raffa tau betul, tanpa dukungan Clara yang benar-benar berkontribusi penuh selama bekerja, Raffa akan kepayahan dengan pekerjaannya. Namun beruntungnya, ia memiliki orang-orang kepercayaan yang siap menolong dan mendukungnya.
"Tanpa aku, kamu tentu akan sukses Mas. Aku tahu kemampuan dan potensimu. Siapa pun yang bekerja bersamamu, kamu tetap akan sukses karena kamu memang pemimpin yang hebat Mas. Apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya, keberhasilan perusahaan itu karena pemimpinnya yang memimpin anak buahnya, memiliki jiwa kepemimpinan, dan kemampuan lainnya. Kamu memiliki semuanya itu, Mas. Sudah sepantasnya dan selayaknya kamu berhasil."
Clara memuji Raffa dengan sungguh-sungguh, karena memang Raffa adalah pemimpin yang sangat kompeten. Dia sangat mengenali kemampuannya, sehingga selama ini Clara hanya berusaha saja menjalankan tugasnya sebaik mungkin tanpa harus mempersulitkan Raffa.
"Kamu berlebihan Sayang," ucapnya sembari mendaratkan satu kecupan di punggung tangan Clara. "... kalau memujiku jangan terang-terangan seperti ini dong, aku kan jadi malu mendengarnya. Belum ada loh yang melempar pujian sebanyak itu kepadaku."
"Kok cium-cium sih Mas?" Clara bertanya sembari mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raffa.
"Gak papa Sayang, cuma cium tangan, belum cium yang lainnya kok," ucapnya sembari mengerlingkan satu matanya.
Clara justru memincingkan matanya. "Mas, ingat pesan dari Ayah tadi apa saja coba. Gak boleh macem-macem. Kita harus menahan diri, sehingga pernikahan yang kita jalani benar-benar sakral dan kudus. Hmm. Belum sehari aja sudah main cium. Kalau Ayah tahu, pasti kamu langsung di-blacklist sama Ayah."
Raffa kini justru mengacak gemas puncak kepala Clara. "Iya-iya, aku ingat. Aku juga akan menjaga amanat dari Ayah ini. Kamu percaya kan sama aku?"
Clara menganggukkan kepalanya, "Iya, aku percaya."
"Terima kasih sudah mempercayaiku. Untuk gosip yang terjadi di kantor biarkan saja. Gosip akan hilang dengan sendirinya yang pasti gosip itu tidak memberi dampak pada hubungan kita berdua. Kita akan buktikan saat kita telah siap menikah saja, saat kita benar-benar resmi. Bagaimana?"
Clara mendengar penjelasan Raffa, dan Clara percaya bahwa Raffa melakukan itu karena cara untuk melindunginya. Gosip memang ada, tetapi ada kalanya gosip akan menghilang dengan sendirinya. Biarkan saja semua terjadi, asalkan ia masih bisa berjalan bersama dengan Raffa semuanya itu rasanya telah cukup. Bagi Clara sendiri, ia cukup memperkuat tekadnya, menutup telinganya terhadap omongan dari orang-orang sekitar yang bahkan tidak tahu kebenarannya.
"Iya, aku juga percaya kalau gosip akan hilang dengan sendirinya. Tenang saja Mas, aku cukup kuat untuk menghadapi semuanya." Clara berkata dan menenangkan Raffa.
"Aku tahu, tetapi saat kamu merasa tidak sanggup menahannya kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" Raffa menjeda sejenak ucapannya. "Kamu memiliki aku, jadikan aku tempatmu bersandar. Jadikan aku tempatmu berkeluh kesah. Bisa? Hmm."
Clara mengangguki ucapan Raffa. Hatinya entah mengapa tenang mendengar setiap ucapan Raffa. Clara pun tahu, jika bukan pada Raffa kepada siapa lagi dia akan bersandar. Jika bukan pada Raffa, kepada siapa lagi ia akan berkeluh kesah.
"Iya Mas, aku pasti akan melakukan itu. Jadi, terkait apa pun omongan staf nanti biarkan saja. Jangan sampai itu memancing emosimu ya. Kita hadapi bersama-sama dengan cara kita."