When My Love Bloom

When My Love Bloom
Langkah Selanjutnya



"Jadi setelah mengenalkan Clara secara resmi apa kalian akan langsung menikah?" pertanyaan dari Papa Saputra yang terlontar membuat Raffa dan Clara langsung bersitatap netra.


Sungguh mereka tak membayangkan apabila langsung ditodong dengan pertanyaan "apa langsung menikah" dari Papanya.


Melihat Raffa dan Clara terasa kaget, Mama Ratna justru tersenyum melihat ekspresi keduanya.


"Hmm, tentu Raffa akan menikahi Clara, Pa...," ia kemudian menjeda sejenak ucapannya. "Namun, Raffa perlu melakukannya bertahap. Raffa ingin berkenalan dengan orang tua Clara juga. Meminta restu dan menyampaikan niat untuk meminang Clara."


Mendengar ucapan Raffa, di dalam hatinya Clara begitu terharu. Di hadapannya saat ini ada seorang pria yang benar-benar baik, memiliki niat untuk meminangnya dan ingin meminta restu kepada orang tuanya. Sungguh sikap gentle.


Papa Saputra menganggukkan kepala. "Ya, itu bagus Raffa. Papa setuju denganmu." pria paruh baya itu menjeda ucapannya sejenak. "Jujur, Papa lega setelah seumur hidup melajang, akhirnya kamu membawa pulang gadis yang ingin kau ajak untuk menjalani hubungan serius."


Mama Ratna juga menyetujui ucapan suaminya. Clara lah wanita pertama yang dibawa Raffa ke rumah dan dikenalkannya secara resmi kepada Papa dan Mamanya.


"Karena Raffa tidak mau berganti-ganti pasangan yang jelas, sejak awal begitu menemukan yang tepat Raffa akan melanjutkan pada hubungan yang serius. Jadi, apakah Mama dan Papa memberi restu kepada kami? Menerima Clara sebagai calon pendamping Raffa?" tanya Pria itu dengan pandangannya menatap kepada kedua orang tuanya yang duduk berhadapan dengannya.


Papa dan Mama mengangguk bersama. "Ya, kami setuju."


Mendengar persetujuan dari Papa dan Mamanya, Raffa begitu senang. Ia bagai mendapat guyuran air segar di atas kepalanya. Kerisauan dan kekhawatirannya lenyap sudah.


"Terima kasih Papa dan Mama." ucap Raffa.


"Terima kasih Tuan dan Nyonya." Clara menundukkan sedikit kepalanya dan mengucapkan terima kasih.


Mama Ratna menggelengkan kepalanya dan memincingkan matanya melihat Clara. "Karena sekarang kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini, jadi jangan lagi memanggil kami seperti itu. Panggil kami Mama dan Papa, seperti Raffa. Benarkan Pa?"


Papa Saputra mengangguki setuju, "ya, panggil kami Papa dan Mama. Karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini sekarang. Kami pun memperlakukan menantu kami layaknya anak kami sendiri. Jadi, tentu kamu akan anak perempuan kami."


Begitu bijaknya ucapan Papa Saputra dan Mama Ratna hingga membuat Clara menitikkan air mata. "Hem, terima kasih Papa dan Mama. Terima kasih telah menerima Clara."


Mama Ratna tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian memeluk Clara. "Jangan berterima kasih. Mama yang bersyukur, kini Mama memiliki anak perempuan. Terima kasih sudah mau menerima Raffa. Sudah sabar menghadapi anak Mama. Mama yakin, kamu adalah gadis yang tepat buat Raffa."


Clara menangis dalam pelukan Mama Ratna, hangat pelukan seorang Ibu begitu ia rasakan. "Terima kasih Mama."


Hanya kata terima kasih yang dapat Clara ucapkan.


"Sama-sama Clara." balas Mama Ratna yang mengurai pelukannya dan kembali duduk di samping suaminya.


Raffa sedikit menyenggol lengan Clara. "Semua baik-baik saja bukan?"


Clara mengangguk sembari menyeka air mata di sudut matanya. "Iya." menjeda sejenak ucapannya. "Aku sangat bahagia. Terima kasih."


"Kalau begitu ayo kita makan bersama. Pasti kalian belum makan kan?" Mama Ratna berinisiatif mengajak Raffa dan Clara untuk turut makan bersama.


"Baik Ma, kami akan ikut makan." Raffa menjawab dan turut disetujui oleh Clara.


"Yuk Clara, temenin Mama siapin makan malam yuk... Biar kamu terbiasa, anggap rumah ini seperti rumah kamu sendiri ya."


Clara pun berdiri mengikuti Mama Ratna menuju meja makan. Bersama dengan Mama Ratna, Clara menata piring beserta sendok dan garpu di meja.


Mama yang sedang menata lauk di meja, tiba-tiba mendekati Clara.


"Mama akhirnya lega. Setelah sekian lama Raffa mengenalkan gadis juga kepada Mama dan Papa. Gimana selama ini, Raffa apa menyulitkanmu? Raffa memang tertutup, tetapi dia anak yang baik. Mama harap Raffa tidak merepotkanmu selama ini."


Clara tersenyum. "Tidak Ma, Pak Raffa sangat baik kepada saya." Gadis itu menjawab pertanyaan Mama Ratna sembari tersipu malu.


Mama Ratna menghela nafasnya, terasa begitu lega mendengar jawaban Clara.


"Pak Raffa sangat baik kok Ma..." Clara menjeda ucapannya. "Dibalik sikapnya yang dingin, tetapi Pak Raffa baik."


Mama terkekeh mendengar pujian Clara bagi anaknya sendiri.


"Kalian sudah berpacaran apa kamu masih memanggilnya Pak?" Mama Ratna bertanya yang membuat Clara kebingungan. Antara takut dan malu untuk menjawab yang sebenarnya.


"Hmm, saya kalau di luar kantor, sebenarnya memanggilnya Mas Raffa, Ma..."


Mama justru tambah tertawa mendengar jawaban malu-malu dari Clara.


"Oh... begitu ya." Tawanya kembali terdengar nyaring di telinga. "Lagipula sudah resmi pacaran manggilnya masih Pak, enggak romantis lah. Anak zaman sekarang ini manggilnya Sayang, Baby, Honey, Babe, atau apalah, masak ya kamu manggilnya Pak."


Clara menundukkan kepalanya dan menahan tawa sekaligus malu. "Tetapi, kalau di kantor, kami professional bekerja Ma..., jadi saya tetap memanggil dengan sebutan formal."


"Kalau baru di kantor tidak apa-apa, tetapi di luar itu jangan memanggilnya Pak... Yang romantis dong, kan kamu masih muda."


"Hmm, iya Ma..."


Usai percakapan antara Mama Ratna dan Clara, akhirnya mereka berempat makan malam. Jika biasanya hanya Mama Ratna dan Tuan Saputra yang bersantap malam, kini Raffa dan Clara turut menemaninya.


Layaknya istri yang baik dan pengertian, Clara pun terlebih dulu mengambilkan nasi, sayur, dan lauk di piring Raffa. Perlakuannya yang baik dan tulus justru mendapat perhatian dari Papa dan Mama Ratna.


"Buruan nikah aja, Raff. Biar ada yang ngurusin." celetuk Papa Saputra yang membuat Raffa nyaris tersendak.


"Pelan-pelan, Mas." Clara mengambilkan air minum dan sesekali menepuk punggung Raffa.


"Makasih, Calon Istri." sahut Raffa yang justru menghadirkan tawa bagi Papa dan Mamanya.


"Udah cocok kan Pa?" Kali ini giliran Mama Ratna yang melempar canda.


"Benar Ma, sudah cocok. Kalau mereka segera menikah, cucu kita akan bertambah lagi Ma... Masa tua kita tak akan kesepian, karena cucu-cucu dari Marcel dan Raffa." Papa Saputra menimpali ucapan istrinya.


"Setuju Pa, kita sudah tua. Sudah waktunya untuk membantu anak-anak mengurus cucu ya Pa..."


Mama Ratna lagi berkata-kata yang membuat wajah Clara merah merona.


"Jangan membuat Calon Istriku tidak nyaman Pa, Ma... Biarkan Clara menghabiskan makan malamnya dulu. Jangan terus menggodanya." Raffa sedikit melirik Clara. "Calon Istri, jadi kapan kamu siap kupinang secara resmi?"


Happy Reading🄰


***


Dear All,


Mohon informasi sebentar untuk mempromosikan karya temen aku ya..


silakan mampir dan tinggalkan jejak di sana.


Terima kasih untuk dukungannya.