
Keseriusan dua anak muda yang tengah bekerja itu menjadi pemandangan nyata bagi Tuan dan Nyonya Saputra, kali ini mereka sungguh-sungguh menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana anak bungsu dan sekretarisnya itu bekerja. Terasa hening, hanya terdengar suara keyboard laptop, semua berkutat dengan data di hadapannya.
“Mereka kok setipe ya Pa? Cara mereka berpikir tentang jodoh, dan sekarang cara mereka bekerja. Lihat, Pa mereka benar-benar serius hanya fokus ke tablet dan laptop mereka. Iya kan Pa?” Ucap Mama Ratna kepada suaminya.
“Nyaris setipe aja, Ma. Mungkin karena kebersamaan mereka selama 5 tahun, membuat keduanya nyaris sama. Walau pun lebih banyak diam anaknya ya, Ma. Hmm, bagaimana pun Papa bersyukur karena Raffa benar-benar pemimpin yang masih muda, tapi bisa diandalkan. Urusan Paradise Hotel Jakarta, Papa tidak banyak terlibat, Raffa bisa handle semuanya sendiri.” Ucap Papa nya dengan rasa bangga dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Papa senang, Ma. Bisa melihat anak-anak muda yang semangat bekerja, tidak menunggu-nunggu waktu untuk menyelesaikan deadline-nya. Papa pikir, Raffa beruntung memiliki sekretaris seperti Clara karena terlihat bagaimana Clara bisa mengikuti ritme kerja Raffa.” Tambah Papa yang lagi-lagi terkesan bangga dapat melihat semangat kerja keras Raffa dan sekretarisnya.
“Pa, Mama ke dapur buatkan mereka kopi untuk Raffa dan Teh hangat untuk Clara dulu ya Pa. Biar nemenin mereka kerja, sama ambil buah dan camilan buat mereka biar enggak mengantuk.” Kemudian Ratna berdiri tempat duduknya, ia menuju ke dapur membuatkan kopi hitam panas dan juga teh, mengupas buah, dan menaruh beberapa camilan di piring. Semua itu sudah siap dalam satu nampan, dan Ratna sendiri yang membawanya untuk Raffa dan Clara.
“Clara, Raffa, ini Mama bawakan minuman, buah, dan cemilan buat nemenin kalian kerja. Biar enggak ngantuk, tambah semangat kerjanya ya.” Kata halus itu keluar dari Mama Ratna yang kemudian menepuk punggung putra bungsunya itu.
“Iya Nyonya, Iya Mama.” Sahut mereka berdua serempak.
“Jangan terlalu lembur ya, kalian kan perlu istirahat juga. Ya udah, Mama kembali ke ruang keluarga mau nonton film sama Papa di sana.” Bergegaslah Mama Ratna ke ruang keluarga yang tidak jauh dari tempat Raffa dan Clara bekerja.
Di sisi lain, Raffael dan Clara masih berkutat dengan laptop mereka, dan kali ini Raffa mengambil handphonenya untuk menelpon langsung kepada Rino, sahabat dan orang yang ia percaya di kantor.
“Hallo Rino, lo kok kasih kerjaan malam-malam gini sih.”
Di seberang sana, Rino pun menjawab panggilan Raffael, atasannya itu.
“Iya sorry Bos. Mau gimana lagi karena penting, Bos.”
“Hmm, gue coba cek dulu deh. Dasar lo ya, gue baru liburan masih aja diteror email dari lo.”
“Sorry sorry Bos. Thanks Bos.”
Usai selesai menelpon Rino, Raffael kembali fokus dengan laptopnya. Sementara Clara juga masih berkutat dengan pekerjaannya itu.
Samar-samar Raffael membuka suaranya, “Clara, minum dulu kopinya mumpung masih panas. Nanti dingin.” Ucapnya sambil menyodorkan secangkir kopi hitam di dekat laptop Clara.
“Ah, iya. Terima kasih Pak.”
Clara mengalihkan pandangan dari laptop pada secangkir teh panas di depannya. Tangannya terarah pada cangkir teh itu, mengangkatnya perlahan, mencium aroma melati pada tehnya, dan mencecap rasanya. Teh yang harum dan enak, walaupun terlihat sangat kental, tapi teh ini benar-benar enak.
Gerak-gerik Clara meminum teh dan terlihat menikmatinya, rupanya diperhatikan oleh Raffael yang duduk di depannya.
“Lucunya dia, menarik cangkirnya perlahan, menghirup aromanya, dan barulah meminum kopinya tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Mungkin dia berpikir supaya tidak menggangguku yang berada di sini. Hmm, tapi bukanlah di kantor pun Clara memang jarang berisik dan hanya terdengar suara jari-jarinya mengetik keyboard PC-nya. Gadis itu masih saja bisa menikmati hal-hal sederhana di depannya, walaupun itu hanya perihal meminum kopi hitam yang panas ini.” Seutas senyum keluar begitu saja dari sudut bibir Raffael melihat sekretarisnya menikmati secangkir kopi dengan perlahan.
Malam baru jam 8 malam, tapi suasana sunyi di Villa itu membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Tak berselang lama terdengar suara rintik-rintik air jatuh. Oh, rupanya gerimis turun malam itu. Bogor yang berhawa sejuk terasa kian dingin karena gerimis yang turun saat itu.
Raffael kembali melihat Clara di depannya, ia melihat bahwa Clara hanya menggunakan dress dengan bahan yang tidak terlalu tebal, pastilah gadis itu merasa kedinginan. Mulailah Raffael beranjak dari kursi tempat duduknya, ia berniat mengambil room heater (mesin penghangat ruangan portabel) yang akan ia bawa di tempatnya bekerja.
Raffael bergegas masuk ke kamarnya, mengambil room heater dari sana, dan ia menyalakan mesin itu dan menaruhnya di dekat Clara.
“Ini room heater, penghangat ruangan. Karena di luar gerimis, udaranya makin dingin, kita butuh ini supaya tidak kedinginan selama bekerja di sini.” Jelas Raffael cukup lebar kali ini.
Clara hanya menganggukkan kepala nya dan ia mengucapkan. “Terima kasih Pak Raffa.”
“Hemm, No Problem.” Jawab Raffael singkat dan kembali mendudukkan dirinya di kursinya.
Clara masih tertegun melihat room heater yang berdiri di atas lantai tepat di sebelah tempat duduknya. Memang sih, terasa lebih dingin, tapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa Raffael akan berinisiatif mengambil room heater dari kamarnya dan membawanya ke sini. Menurutnya, Boss itu memang dingin, meskipun tidak buruk dan menyebalkan. Dan, Bossnya memang tipe orang yang tidak banyak bicara, dia tipe orang yang talkless do more. Entah mengapa hatinya pun turut menghangat malam itu. Gerimis semakin deras, kini hanya mereka berdua yang masih terjaga di Villa itu. Sementara kedua orang tua Raffael telah masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
“Clara, kalau kamu capek atau ngantuk bisa istirahat. Sudah hampir jam 10 malam juga.” Ucap Raffael masih fokus dengan laptop di depannya.
“Tidak apa-apa Pak. Saya masih bisa kerjakan, karena saya belum mengantuk.” Jawab Clara memastikan bahwa dia masih bisa mengerjakannya.
Sebenarnya Raffael dan Clara memang terbiasa lembur bersama. Akan tetapi, baru kali ini mereka lembur bersama, duduk saling berhadapan dalam satu meja. Apakah mereka canggung? Entahlah. Yang pasti mata keduanya fokus menatap laptop di depannya. Tetapi, apa yang dirasakan dalam hati siapa yang tahu bukan?
Raffael kemudian kembali meminum kopinya yang kini sudah menjadi dingin. Tapi, dia tidak mempermasalahkannya. Dia berusaha menikmati kopi dingin di cangkirnya itu sambil sesekali mencuri pandang pada wajah Clara yang mulai terlihat mengantuk, tapi Raffael hanya melihatnya sekejap saja, tanpa bersuara sama sekali. Sekalipun nampak mengantuk, tetapi Clara masih semangat menyelesaikan pekerjaannya.
“Pak Raffa, sudah saya selesaikan. Saya emailkan ke Bapak ya, tolong dicek terlebih dahulu. Kalau Bapak sudah selesai, saya akan kirimkan ke Pak Rino.” Ucap Clara kepada atasannya itu.
“Okey, makasih.” Jawab Raffael singkat.
Kini giliran Raffael yang membuka emailnya dan mengecek pekerjaan yang sudah dikerjakan Clara. Sementara Clara menaruh kepalanya di laptop, dia menaruh earphone di telinganya untuk memutar playlist favoritnya sembari menunggu Raffael. Mungkin karena memang sudah malam, suasana yang dingin karena gerimis, dan otak yang kelelahan bekerja, Clara tertidur sejenak di depan laptopnya.
“Clara....” Raffael memanggil sekretarisnya karena dia sudah memastikan pekerjaan Clara semuanya bagus tidak ada bagian yang salah. Tapi tidak ada jawaban dari gadis yang duduk di depannya itu.
“Clara....” Sekali lagi Raffael memanggil, tapi masih tak ada suara menyahut.
Mulailah Raffael sedikit berdiri, dan dia mendapati Clara tengah tertidur dengan kepalanya yang bersandar di meja dengan earphone yang terpasang di telinga.
“Hmm, mungkin dia lelah. Kasihan juga dia sudah mengerjakan semua ini, padahal aku sudah selesai mengeceknya. Biar aku yang emailkan kepada Rino saja, biar Clara istirahat sebentar.” Katanya dalam hati.
Maka Raffael mengemailkan semua kerjaan yang telah diselesaikan malam itu kepada Rino. Selesai mengemailkan, Clara masih tertidur di sana. Raffael berdiri dan berjalan ke arah Clara, dia simpan dan tutup semua file yang masih menyala di laptopnya dan mematikan laptopnya. Dia kemudian melepaskan jaket yang masih dipakainya dan menyelimutinya ke bahu Clara. Matanya tertegun melihat wajah ayu Clara yang malam itu sama sekali tanpa make up, bulu matanya yang lentik, dan wajahnya yang kecil membuatnya semakin nampak ayu.
“Hmm, perasaan apa ini. Mengapa aku bisa mengatakan dalam hatiku kalau gadis ini ayu.” Dengan membuang nafas dari mulutnya, Raffael kembali ke tempat duduknya. Dia berniat duduk di situ hingga Clara terbangun. Dia tidak berniat meninggalkan Clara, dan ingin menemaninya di sana.
Menjelang tengah malam, Clara terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan-lahan, ia begitu kaget karena ia tidur di ruangan tempatnya bekerja. Laptopnya sudah tidak menyala, dia ingat bahwa tadi harus mengemailkan kepada Pak Rino.
“Kenapa Clara, kau terbangun? Aku sengaja masih di sini karena takut kau tiba-tiba terbangun dan kebingungan.” Sebuah perkataan terucap dari Raffael yang masih duduk di depan Clara dengan memainkan handphonenya.
“Maaf Pak Raffa, saya justru ketiduran. Saya akan emailkan terlebih dahulu kepada Pak Rino.” Sambil mengusap-usap matanya, Clara hendak kembali menyalakan laptopnya.
“Tidak perlu Clara, aku sudah mengemailkannya. Kamu tidurlah sekarang, sudah tengah malam. Lagipula, besok kamu akan kembali ke Bekasi. Istirahatlah. Selamat malam Clara.”