When My Love Bloom

When My Love Bloom
Pamit dari Bogor



Dengan mata yang masih sangat berat karena mengantuk, Clara berdiri, tangannya membawa laptop dan tabletnya, lalu masuk ke dalam kamarnya. Tanpa menunggu lama, ia langsung merebahkan dirinya di tempat tidurnya dan meringkuk di bawah selimut yang tebal.


Clara tidur hingga pagi, saat alarm harian di handphonenya berbunyi, ternyata sudah jam 6 pagi. Ia kembali mengingat-ingat kejadian semalam.


“Apakah aku benar sudah mengirimkan email kepada Pak Rino? Kenapa kemarin aku bisa tertidur saat menunggu Pak Raffa mengecek laporannya. Aduh, bagaimana ini. Aku merasa bersalah kepada Pak Raffa. Dan, apa... Kemarin dia menungguku yang sedang tertidur? Fakta apa ini! Ingin aku kabur dari sini dan enggan menjumpai wajahnya. Apa yang harus kulakukan? Aku sungguh merasa bersalah dan malu.”


Begitu bangun, Clara segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Guyuran air dari shower membasahi kepalanya, yang terasa berat mengingat-ingat bagaimana ia tidur di depan laptop semalaman, padahal atasannya masih sibuk bekerja. Clara berharapnya Raffael akan memaafkannya karena semalam ia telah bertindak ceroboh, alih-alih bekerja, ia justru tertidur di hadapan Bossnya.


Selesai mandi, Clara segera merapikan barang-barangnya dan memasukkan ke koper kecilnya, ia tak ingin berlama-lama menghabiskan waktu untuk packing karena hari ini ia akan langsung ke Bekasi, ke rumah orang tuanya. Akan tetapi, Clara ingin membantu Nyonya Ratna menyiapkan sarapan lebih dulu.


Clara keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Di sana sudah ada Bibi Tini dan Nyonya Ratna yang sedang menyiapkan sarapan.


“Pagi Nyonya.... Pagi Bi Tini....” Sapa hangat dari Clara kepada dua wanita yang tengah sibuk di dapur.


“Eh, Clara.... Pagi juga. Kok pagi-pagi udah bangun sih, bukannya semalam lemburnya lama kan?” Jawab Nyonya Clara sembari menyeduh kopi.


“Hmm, iya Nyonya. Tapi, saya terbiasa bangun pagi. Ada yang bisa saya bantu Nyonya?” Clara menawarkan bantuan untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


“Ahh, gak perlu Clara. Kamu istirahat aja, pasti kamu masih capek semalaman lembur. Atau kali enggak, kamu bisa jalan-jalan di area sekeliling sini. Mumpung pagi, udaranya masih seger.”


Sebenarnya benar apa yang dikatakan Nyonya Ratna, udaranya masih segar dan bisa melihat tumbuhan-tumbuhan hijau di sekeliling Villa. Akhirnya, Clara memberanikan diri untuk berjalan-jalan sebentar.


“Kalau boleh, saya jalan-jalan di sekitar area ini sebentar ya Nyonya.” Pamit Clara kepada Nyonya Ratna.


“Iya Clara... Eh, Raffa udah bangun juga. Raff, temani Clara jalan-jalan pagi tuh ke sekeliling villa. Udaranya masih seger. Sana kalian jalan-jalan biar sehat.”


Clara yang hendak melangkahkan kakinya pun tertegun melihat Raffa yang kali ini hanya mengenakan kaos dan celana training olahraga, penampilannya sangat jauh berbeda dibandingkan saat atasannya itu bekerja yang selalu rapi dengan setelan jasnya. Mungkin ini pertama kalinya bagi Clara, melihat atasannya itu dalam pakaian sehari-hari.


“Aduh, bagaimana ini. Aku berniat menghindarinya malahan sekarang, sepagi ini udah ketemu Boss lagi.” Clara berbicara dengan hatinya sendiri, sepagi ini justru sudah bertemu Boss nya.


“Ayo, Clara. Lewat sini. Bye Ma.. Raffa jalan pagi dulu.” Raffael berjalan di depan Clara sambil melambaikan tangannya kepada Mamanya.


Clara hanya menundukkan kepalanya, dan kakinya mengikuti Raffael yang berjalan di depannya. Mereka keluar dari pintu gerbang Villa itu, kemudian menyusuri jalanan aspal kecil di sebelah kiri Villa yang penuh pepohonan yang rindang.


Raffael berjalan di depan, dan Clara mengikutinya dari belakang. Mereka hanya berjalanan dan keheningan begitu terasa. Akan tetapi, karena Clara masih merasa tidak enak hati, ia berniat meminta maaf sekali lagi kepada atasannya itu, walaupun semalam ia sebenarnya sudah minta maaf juga.


“Maafkan saya semalam ya Pak Raffa. Saya benar-benar tidak sadar karena tiba-tiba saya justru tertidur. Sekali lagi maaf ya Pak.” Clara menyampaikan permintaan maafnya dengan sungguh-sungguh.


Tiba-tiba saja Raffael yang berjalan di depannya berhenti, dan memandang Clara yang masih berada di belakangnya.


“Udah gak perlu minta maaf Clara, semalam kan udah minta maaf juga. Aku tahu kamu pasti kelelahan, lagipula kamu tidur dalam kondisi pekerjaannya sudah selesai. Jadi menurutku, gak masalah. Aku juga gak berniat memarahimu. Santai saja.” Ucap Raffael dengan pandangan matanya menatap kepada Clara, setelah itu Raffael kembali berbalik dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


“Makasih banyak, Pak Raffa.”


Lalu, Clara kembali pula berjalan mengikuti Raffael. Kadang kala Clara berhenti sejenak memotret pemandangan yang indah dan sejuk di jalan yang dilaluinya. Namun, saat dirasa keberadaan Raffael sudah jauh, Clara segera sedikit berlari supaya tidak tertinggal jauh dari Raffael.


“Sampai kapan kamu akan terus menerus berjalan di belakangku, Clara? Orang akan mengira aku ini pengawalmu.”


Clara bergegas berjalan agak di samping Raffael, tentunya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


“Kamu ingin diantar ke Bekasi jam berapa, Clara?”


“Mungkin siang saja Pak, sehingga saya sampe di rumah orang tua saya tidak terlalu malam.”


“Hemm, nanti aku yang akan antar kamu ke Bekasi.”


“Jangan Pak. Saya justru sungkan kepada Tuan dan Nyonya, Bapak tinggal di sini saja. Mereka pasti masih kangen sama Pak Raffa.”


“Lalu, bagaimana denganmu?”


“Kalau saya boleh minta tolong, saya cukup di drop ke stasiun Bogor saja, Pak. Saya bisa naik KRL darisana.”


“Oke, aku bisa mengantarmu ke stasiun.”


Raffael dan Clara yang berjalan bersampingan pun hanya mengobrolkan bagaimana Clara akan kembali ke Bekasi. Raffael menawarkan diri untuk mengantarkannya, tetapi Clara menolaknya, ia hanya minta diantar ke stasiun saja, karena ia berniat naik KRL dari sana.


Setelah berjalan-jalan pagi hampir setengah jam, keduanya pun kembali ke Villa. Sarapan sudah tersedia di meja. Dan kali ini, Nyonya Ratna dan Bibi Tini menyajikan Bubur Ayam, Roti, dan Teh Hangat. Mereka semua menikmati sarapan mereka. Dan menjelang siang, Clara berpamitan untuk pulang ke Bekasi.


“Tuan, Nyonya.... Saya pamit dulu untuk pulang duluan, karena saya harus ke Bekasi mengunjungi Ayah dan Ibu saya.”


“Sama-sama Clara. Lain kali maen ke sini lagi ya...” Sahut Nyonya Ratna dengan tulus.


“Baik Nyonya. Terima kasih banyak.” Ucap Clara dengan memeluk Mama atasannya itu.


“Mama, Papa. Raffa antar Clara ke stasiun dulu ya. Clara mau naik KRL dari sana.” Pamit Raffael kepada kedua orang tuanya itu.


“Iya.... Hati-hati di jalan Raff.”


Raffael dan Clara bergegas menuju ke mobil yang sudah siap di halaman depan villa.


“Pak Raffa, maaf yang mengantar saya bukan Pak Hermawan saja ya? Saya malahan gak enak dianterin Bapak.” Tanya Clara kepada Raffael yang sedang duduk di kursi kemudi.


“Tidak. Aku yang akan mengantarmu. Santai saja.” Jawab Raffael singkat dan ia segera melajukan mobilnya menuju stasiun kota Bogor.


Mobil itu melaju menyisir jalanan dan sampailah di stasiun kota Bogor.


“Terima kasih sudah mengantar saya Pak.” Ucap Clara dengan mengembangkan senyum di wajahnya.


“Gak papa Clara, hati-hati ya. Aku langsung balik.”


“Baik Pak. Hati-hati juga Pak Raffa. Terima kasih.”


Mereka berdua berpisah di Stasiun Kota Bogor. Clara langsung menuju ke konter loket dan masuk ke dalam ruang tunggu. Sementara Raffael masuk ke dalam mobilnya, tapi ia belum pergi dari stasiun itu. Setelah KRL tujuan Bogor – Bekasi itu berlalu, barulah Raffael menjalankan mobilnya perlahan keluar dari stasiun dan kembali ke villa orang tuanya.