
Pagi hari, Clara kembali bekerja di Paradise Hotel. Sekali pun Raffa tengah melakukan perjalanan bisnis, tetapi Clara tetap rajin berangkat pagi dan pulang bahkan melebihi jam kerja.
Dengan tidak adanya Raffa bukan berarti, ia bisa duduk-duduk dan bersantai ria. Justru saat tidak ada Raffa, pekerjaan Clara justru berlipat-lipat banyaknya. Akan tetapi, sekretaris andalan si Bos itu tak pernah mengeluh. Ia selalu mengerjakan setiap pekerjaan dengan sebaik mungkin.
Dedikasi untuk bisa membantu pimpinannya benar-benar dilakukan oleh Clara. Pekerjaannya tidak tergantung pada ada atau tidaknya Raffa, tetapi Clara selalu kompeten setiap waktu. Dia adalah tipe sekretaris yang bisa diandalkan.
Singa hari ketika, Clara turun ke lantai satu untuk memimpin file dari Divisi Marketing dan mengecek kembali laporan dari HRD di Front Office. Clara mendengar bagaimana pegawai di sana menggunjingkannya.
Nina, salah satu staf Divisi Marketing menggunjingkan bahwa Clara selama ini tidak hanya sekretaris, tetapi perempuan itu telah memperdaya Raffael.
"Gaes, tahu enggak Bu Clara itu. Sekretarisnya si Bos. Diam-diam ternyata menghayutkan. Tanpa sepengetahuan kita, ternyata dia memperdaya si Bos selama ini. Makanya selama ini Bos Raffa memperlakukan dia spesial. Ya gak sih?"
Ucapan Nina sempat memecah belah tim Divisi Marketing, pasalnya ada staf yang mempercayai ucapan Nina, tetapi ada juga yang tidak percaya.
Namun entah darimana Nina bisa menunjukkan foto saat Raffa dan Clara berjalan-jalan di sekitar Singapore River beberapa waktu yang lalu.
"Kalian masih enggak percaya kan? Mana ada sih Bos sama sekretarisnya berpegangan tangan seperti ini?"
Salah satu staf di situ pun bertanya, "Jangan sembarang menuduh Nina, lagipula apa foto itu asli?"
Dengan suara lantang Nina menjawab, "Asli dong. Gue dapat foto-foto ini dari mantan staf yang dulu bekerja di Paradise Hotel ini."
Sontak beberapa staf justru tidak bekerja, tetapi sibuk mengamati foto-foto di layar handphone Nina saat itu.
"Masih enggak percaya? Buktinya ada loh. Pinter banget ya sekali menjala yang didapat ikan besar. No kaleng-kaleng. Pasti sudah macem-macem tuh sampai bisa naklukin Bos yang beraura dingin macem Pak Raffa."
Clara yang mendengar pergunjingannya itu dari balik pintu, enggan memasuki ruangan Divisi Marketing siang itu. Ia memilih kembali ke ruangannya. Dengan menahan rasa sakit atas tuduhan dan pergunjingannya yang ditimpakan kepadanya.
Ya Tuhan, baru pertama kali jatuh cinta. Pertama kali mencintai, justru terjebak dalam skandal seperti ini. Apa salah jika aku mencintai Pak Raffa. Apa salah jika kami sama-sama mencintai. Apa aku memang tidak layak bagi Mas Raffa?
Bukan masalah hubungannya dengan Raffa yang diketahui orang banyak yang disesalkan Clara, gadis itu merasa sesak di dada karena tuduhan yang ditimpakan padanya bahwa dia bukan perempuan baik-baik yang bisa menghalalkan segera cara untuk mendapat Raffa.
Sebelum Clara menerima Raffa pun, dia sudah berpikir betapa tidak layaknya dia untuk bersanding dengan Raffa. Akan tetapi, Raffa lah yang terus berusaha dan berjuang meyakinkan Clara bahwa perasaannya tulus. Karena itulah, Clara membuka hati dan dirinya menerima Raffa. Kesungguhan Raffa lah yang membuat Clara dengan yakin melabuhkan perasaannya untuk pertama kalinya kepada seorang pria.
Sayangnya kini justru mereka menggunjingkan Clara yang seolah bersikap tidak benar. Itu sungguh melukai perasaan Clara.
Gadis itu terduduk di tempat kerjanya sendirian, dan air matanya berlinang. Penilaian orang yang tidak berdasar memang sering kali menyakiti hati seseorang. Alih-alih menyebar skandal yang tidak berdasar, jauh lebih untuk bertanya kebenarannya secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
Clara mengetuk-etuk meja kerjanya dengan jari-jemarinya. Gadis itu berpikir bagaimana caranya supaya kabar ini tidak sampai di telinga Raffa. Terlebih saat ini Raffa sedang berada di luar kota untuk mengurus pekerjaan yang cukup berat. Jika Raffa mendengar berita ini tentu saja fokus dari pria itu akan terganggu.
Tidak masalah apabila Clara yang mendapat gunjingan, tetapi tidak bagi Raffa. Karakter serta kepribadian mereka berbeda, sudut pandang keduanya melihat masalah ini pun berbeda.
Sekian jam berlalu, Clara mencoba merelaksasi dirinya sendiri dengan menghirup oksigen dengan hidungnya lalu mengeluarkannya perlahan-lahan dengan menggunakan mulutnya. Hal itu ia ulangi berkali-kali sampai ia benar-benar merasa tenang. Selain itu, ia juga merasakan riasannya memastikan matanya sudah tidak merah lantaran beberapa saat lalu ia sempat menangis.
Setelah tenang dan kembali rileks, Clara kembali turun ke bawah dia memasuki Front Office dan Bagian Marketing dengan setenang mungkin, memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak mendengar gosip yang disebarkan oleh Nina.
Melihat kedatangan Clara pun, staf di sana memandang Clara dengan pandangan yang berbeda. Tetapi Clara berusaha menahan diri sebisanya dan semampunya.
Beberapa menit Clara berada di ruang Divisi Marketing, menstabilkan diri dan raut wajahnya. Berusaha tenang dan tidak terkecoh dengan gosip yang barusan dia dengar.
Usai keluar dari ruangan itu, beberapa staf pun mulai menggunjingkannya.
"Mana mungkin sih Bu Clara ngedeketin si Bos, bukankah selama ini dia memiliki kinerja yang bagus. Mungkin si Bos memang tertarik padanya."
Yang lain berkata, "Memang cantik sih, jadi lumrah aja kalau Pak Raffa terpikat."
"Cantik-cantik menghanyutkan ya, sasarannya pinter bener si Bos."
Ruangan Marketing rasanya berubah menjadi ajang gosip panas yang tidak surut-surutnya membahas tentang Clara. Jelas mereka tidak menggunjingkan Raffa karena dia adalah pemilik Paradise Hotel, sementara Clara hanya seorang sekretaris yang tentu saja tidak selevel dengan si Bos.
***
Di Surabaya, siang hari usai jam makan siang Rino memberitahu Raffa bahwa mereka harus memperpanjangkan hari mereka di Surabaya untuk mencapai kesepakatan dengan investor.
Raffa pun setuju dengan Rino, jauh lebih baik jika semua urusan di Surabaya di selesaikan barulah kembali ke Jakarta dengan perasaan tenang.
Akan tetapi, tiba-tiba Rino mengernyitkan keningnya dan menunjukkan pesan dari grup Divisi Marketing yang cukup membuatnya berpikir.
"Bos, kayaknya ada yang tidak beres di Jakarta." ucap Rino yang langsung mendapat perhatian Raffa.
"Kenapa Bro?" tanya Raffa yang kelihatan penasaran.
"Ada gosip panas di kantor, Bro."
"Gosip apa?"
"Lo beneran sudah jalan sama Clara ya? Ni keliatannya anak-anak di Divisi Marketing menggunjingkan Clara katanya dia perempuan yang membuat Si Bos yang dingin sampai jatuh hati. Dicap perempuan enggak bener sama anak-anak."
Raffa terpancing emosi mendengar ucapan Rino. "Berani-beraninya mereka bekerja dan mendapat gaji hanya untuk menggunjingkanku dan Clara."
***
Dear All,
silakan mampir ke Novel karya temen aku juga ya..