
Untuk pertama kalinya di hadapan kedua orang tua Clara, Raffa mengatakan bahwa sebenarnya ia telah menaruh hati, menyukai Clara sejak 5 tahun yang lalu. Saat Clara masih fresh graduate dan mulai bekerja di Paradise Hotel hingga perlahan Clara menjelma dengan gadis dewasa dan memiliki kinerja yang baik.
"O ... ceritanya diam-diam suka sama anak saya." celetuk Ayah yang membuat Raffa mengulum senyuman di wajahnya.
"Iya Ayah. Tetapi, saya tidak mau gegabah, saya mau mengenal Clara dulu. Menjaganya juga. Bersyukur jika akhirnya kami berdua bisa sampai di tahap ini." Raffa menceritakan perasaan dan rasa syukurnya.
Bagi Raffa tidak apa terlambat menyatakan perasaan, asalkan dia bisa menjaga Clara dari dekat. Dan, ketika kesempatan emas itu datang, maka Raffa tidak akan menunda. Dia akan menggunakan kesempatan itu untuk menyatakan perasaannya kepada Clara.
Gayung pun bersambut, akhirnya Clara juga menerima Raffa. Sungguh-sungguh penantian panjang yang berbuah manis.
"Ayo Nak, tehnya diminum lagi pisang gorengnya juga. Maaf ya cuma seadanya di sini," ucap Ibu Erna yang kembali menyodorkan piring berisi pisang goreng.
Raffa mengangguk lalu kembali mengambil sebuah pisang goreng. "Terima kasih Bu ... pisang gorengnya enak sekali. Ini pisang goreng terenak yang pernah saya makan."
Ibu Erna tersenyum, "Ini hanya pisang goreng biasanya. Bukankah lebih enak pisang goreng yang disajikan di Hotel milik Nak Raffa."
"Oh tidak Bu, lebih enak pisang goreng buatan Ibu. Rasanya begitu khas masakan rumahan dan baunya harum." jawab Raffa yang seketika membuat Clara menoleh kepadanya.
Ibu Erna pun memperhatikan Raffa, mengapa bahkan seorang pria yang terbiasa duduk di belakang meja seperti Raffa bisa mengetahui bau harum dari pisang goreng itu. Ibu Erna pun penasaran untuk bertanya kepadanya.
"Kok bisa tahu kalau pisang goreng ini beraroma harum?" tanya Bu Erna dengan sesopan mungkin.
"Oh, ini karena dulu waktu kuliah perhotelan ada mata kuliah memasak juga Bu, jadi sedikit banyak saya tahu tentang makanan dan masak-memasak," jawabnya sembari tersenyum.
Akhirnya rasa penasaran Ibu Erna, Ayah Harsa, dan Clara sendiri pun terjawab sudah. Rupanya memang Raffa pernah mendapat mata kuliah seputar memasak saat kuliah dulu.
"Dalam adonan pisang ini, Ibu tambahkan sedikit vanili, sehingga adonannya memberikan aroma yang harum pada pisang gorengnya," jawaban dari Bu Erna membuat Raffa menganggukkan kepalanya.
"Oh, pantas. Aromanya harum Bu." sahutnya singkat.
"Kuliah perhotelan ada mata kuliah memasaknya ya Mas? Kayak Tata Boga berarti ya?" Clara giliran bertanya kepada Raffa.
"Iya ada. Dulu waktu magang di Stalker Hotel kan juga harus tahu berbagai menu makanan yang disajikan di Hotel itu. Ya jadi sedikit-sedikit tahu." Raffa menjawab sembari menatap pada Clara.
"Sembari ngobrol, Ayah mau tanya apa ada niatin kalian untuk menikah?"
Clara membola matanya seketika saat mendengar pertanyaan dari Ayahnya. Baru pertama kalinya ia pulang dengan membawa seorang pria, baru sekian menit tadi dia mendapatkan restu dari Ayahnya, kini Ayahnya justru menanyakan perihal pernikahan.
Jujur, semua terasa begitu terburu-buru, padahal hubungan keduanya baru 2 bulan. Jika pacaran baru 2 bulan, kemudian sudah ditanyai orang tua perihal pernikahan bagi Clara itu sangat tergesa-gesa.
Raffa pun menatap Clara, ia tahu pasti pertanyaan dari Ayahnya membuat Clara merasa tidak nyaman. Maka dari itu, Raffa lah yang akan mencoba menjawabnya.
"Impian saya ke depannya memang ingin meminang Clara, Yah. Tetapi mengingat hubungan serius kami yang baru 2 bulan rasanya kami masih perlu saling mengenal lagi."
Clara menghela sejenak nafasnya, kemudian ia memilih duduk di sisi Ayahnya. "Yah, Clara dan Mas Raffa memang sudah mengenal lama, tetapi kami kenal sebagai atasan dan sekretaris. Sedangkan untuk mengenal sebagai pasangan, kami masih perlu waktu Ayah. Apa Ayah menginginkan Clara cepat-cepat menikah?" tanya Clara sembari menggenggam tangan Ayahnya.
"Ayah tahu, tetapi jika sudah sah, kan Ayah lebih lega. Ada pria baik yang menjaga kamu setiap hari, memastikan kamu sehat, aman, dan bahagia. Lagipula di lingkungan sekitar kita ini, gadis seumuran kamu sudah menggendong anak semua. Ayah juga pengen anak gadis Ayah terkecil ini segera menikah. Sehingga Ayah lega, ketiga anak perempuan sudah menikah semua." Ayah menjelaskan panjang lebar kepada Clara.
"Hmm, doakan kami saja ya Ayah. Begitu kami siap, tentu kami akan membawa hubungan ini ke tahap selanjutnya. Ya kan Mas?" Clara memberi kode melalui pertanyaan kepada Raffa.
Raffa mengangguk. "Iya Ayah, begitu kami sudah ke tahap selanjutnya, Raffa akan meminta Papa dan Mama untuk datang ke sini bersilaturahmi dan melamar Clara."
"Iya baiklah. Ayah setuju saja, yang penting ingat syarat yang Ayah sampaikan ya."
"Iya Ayah. Raffa ingat dan akan memenuhinya." jawab Raffa dengan penuh keseriusan.
Usai berkenalan dan beramah-tamah dengan orang tua Clara, akhirnya menjelang sore keduanya berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Clara pun juga kembali ke Jakarta, tanpa menginap di rumah orang tuanya karena kesibukannya yang cukup banyak selama perjalanan bisnis Raffa ke Surabaya beberapa hari lalu.
"Baik Ayah dan Ibu, kami pamit ya. Lain waktu Raffa akan main lagi ke sini." pamit Pria itu sembari mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.
"Iya Nak Raffa, hati-hati. Ayah minta tolong dijaga Clara nya ya. Hati-hati berkendara." ucap Ayah Harsa.
"Iya Ayah, Raffa akan menjaga Clara. Kami pamit ya Ayah dan Ibu." Raffa kembali berpamitan sembari membungkukkan badannya.
Begitu di dalam mobil, Raffa perlahan mulai mengemudikan mobilnya.
"Akhirnya lega sudah, kedua orang tua kita sudah sama-sama tahu dan memberi restu untuk hubungan kita berdua," ucapnya sembari menghela nafasnya dengan wajah penuh senyuman.
Clara pun ikut tersenyum. "Hmm, aku juga lega. Ayah dan Ibu juga memberikan restu. Sebahagia ini rasanya," senyuman di wajah gadis itu merekah sempurna layak kuncup bunga yang bermekaran.
Raffa sekilas melirik Clara. "Tadi ada yang bilang kalau Ayahnya galak, ternyata Ayah sama sekali enggak galak. Ayah orang yang baik." ujar pria itu sembari mengendalikan stir mobil dengan tangannya. " ... jangan-jangan tadi cuma akal-akalan kamu buat bikin aku grogi ya?" ucapnya sambil memincingkan matanya.
Enggan menjawab, Clara justru terbahak-bahak. "Seru kan dikerjain. Ayahku memang sebenarnya tidak galak kok, tetapi beliau adalah pribadi yang tegas dan berprinsip. Jadi tadi Mas Raffa deg-degan? Grogi?" tanyanya.
"Grogi lah kan di hadapan Calon Mertua. Takut kalau sampai salah. Untung aku diterima dengan baik oleh Ayah dan Ibu." ujarnya dengan penuh percaya diri.
***
Dear All,
Mampir ke karya teman aku ya di Novel Berbagi Cinta: Ketulusan Cinta Istri Pertama.