
Satu hari yang melelahkan dilalui Raffael dan Papanya untuk mengecek lahan yang rencananya akan dibeli untuk pengembangan bisnis Saputra Corp. Sepanjang hari, Raffael dan Papa Saputra mengelilingi kota Tanjung Pinang, pulau Bintan untuk melihat beberapa wilayah. Satu hari benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengecek lokasi lahan.
"Capek tidak, Pa?" Tanya Raffael kepada Papanya begitu keduanya telah kembali tiba di hotel untuk makan malam.
"Lumayan, Raff. Akan tetapi, Papa senang bisa melihat pulau ini. Sejenak refreshing dari keriuhan ibukota, iya enggak?"
"Benar Pa... Raffa juga senang bisa ke sini, banyak potensi yang bisa digali dari tempat ini, Pa. Tetapi, sebenarnya Raffa justru kepikiran untuk mengembangkan bisnis ke Batam, Pa."
Papa Wijaya Saputra nampak penasaran dengan apa yang dikatakan anaknya, mengapa ia justru ingin mengembangkan bisnis ke kota Batam.
"Mengapa justru ingin mengembangkan bisnis ke Batam, Raff?"
"Informasi yang Raffa dapatkan kota Batam lebih maju, Pa. Masyarakat di sana juga lebih banyak, kotanya juga berhadapan langsung dengan Singapura sehingga banyak wisatawan dari Singapura yang berkunjung ke Batam, Pa. Lokasinya sangat strategis untuk mengembangkan bisnis perhotelan dengan konsep pantai tentunya."
Papa Saputra menimbang-nimbang alasan yang diberikan anaknya tersebut, tanpa diketahui oleh Raffa, Papa Saputra justru senang dengan ide yang dimiliki oleh anaknya. Di lain waktu, menginvestasikan uang untuk pengembangan di Batam tentu akan masuk dalam projek Saputra Corp.
"Bagus Raff... Sekarang kamu bisa memetakan bisnis ini akan ke mana, karena bisnis perhotelan harus berkembang dan tidak harus di Jawa tentunya."
"Iya Pa..."
"Raff, tapi Papa juga ingatkan jangan terlalu sibuk bekerja. Usiamu sudah mendekati kepala tiga, kurangi kesibukanmu. Bukankah sudah waktunya kamu menikah? Mama tentu juga memikirkan itu, Raff."
"Hem, pelan-pelan Pa..." Raffael sejenak membuang nafasnya pelan. "Raffa yakin sudah tersedia jodoh untuk Raffa, menunggu saja Pa..."
Papa Saputra mengamati raut wajah anaknya. "Jangan hanya menunggu, Raff. Kalau kamu terus menunggu dan tidak berani maju, bagaimana kalau keduluan orang lain?"
"Tenang Pa... Raffa akan berusaha, menemukan terlebih dulu tentunya." Raffa tertawa sembari menikmati makan malamnya.
"Semoga berhasil, Raff... Ya sudah, Papa istirahat dulu. Besok kita akan kembali ke Jakarta, Papa harus segera istirahat."
"Ya Pa... Selamat beristirahat."
Raffael pun segera menyelesaikan makan malamnya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar hotelnya. Pertama yang ia lakukan adalah membersihkan dirinya, setelah seharian mengecek lokasi lahan, badannya tentu berkeringat. Mandi adalah cara terbaik untuk membersihkan dan menyegarkan badannya.
Setelah badannya terasa segar, Raffa membereskan kopernya. Memasukkan pakaian dan peralatannya, menghemat waktu untuk packing keesokan harinya. Setelah memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal, Raffa mengambil handphonenya yang sejak pagi hingga malam sama sekali tidak ia lihat apa saja notifikasi di sana.
Dengan posisi rebahan di tempat tidur, ia mengusap-usap layar handphonenya, dan tentu ada email pekerjaan yang dikirimkan Clara, juga pesan dari sekretarisnya itu.
Raffa tersenyum membaca pesan-pesan yang dikirimkan Clara sejak siang hari.
[Selamat siang Pak Raffa, saya sudah mengirimkan email laporan perhotelan bulan ini tolong dicek.]
[Oh, iya besok Pak Raffa tiba di Jakarta, jam berapa?]
[Pak Raffa, ada perubahan agenda minggu depan, sudah saya perbaiki di aplikasi kalender.]
Pesan Clara memang hanya sebatas pekerjaan, tetapi justru Raffa tak henti-hentinya tersenyum membaca pesan dari Clara. Dengan inisiatifnya sendiri, Raffa justru menelpon Clara.
[Raffa: Halo Clara...]
[Clara: Halo, malam Pak Raffa... ] Sahut Clara dalam sambungan teleponnya.
[Raffa: Bagaimana kantor sepanjang hari ini?]
[Clara: Semua aman, Pak.]
[Raffa: Good. Terima kasih Clara. Saya besok sampai di Bandara sekitar jam 1 siang, kamu bisa menjemputku di bandara?]
[Clara: Ya Pak, saya akan menjemput Pak Raffa besok.]
[Raffa: Oke Clara, makasih. Beristirahatlah. Good night.]
Keesokan harinya Raffa dan Papa Saputra telah cek out dari hotel, mereka menuju bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang untuk kembali ke Jakarta. Dengan menaiki burung besi sekitaran 2 jam, akhirnya mereka telah sampai kembali ke ibukota.
Papa Saputra telah dijemput oleh supir pribadinya, sementara Raffael menunggu di pintu kedatangan. Ia masih menunggu sekretarisnya, Clara.
Hampir sekian menit, Raffa menunggu, akhirnya Clara tiba. Sekretarisnya itu agak berlari menuju di tempat Raffa berdiri. Lantaran tidak hati-hati, Clara justru nyaris terjatuh karena ia menggunakan high heels yang tentunya tidak aman apabila digunakan untuk berlari.
Sebelum Clara nyaris terjatuh, untuk sepasang tangan yang tokoh berhasil memegangi Clara.
"Pak Raffa..." Ucap Clara begitu mengetahui bahwa Raffa yang telah menolongnya.
Posisi keduanya begitu dekat satu sama lain, nyaris seperti orang yang tengah berpelukan.
"Hati-hati Clara... Aku tidak terburu-buru kok."
Clara pun mengendurkan posisinya yang semula nyaris berada dalam pelukan Raffa.
"Maaf Pak... Maafkan saya. Tidak sengaja Pak, karena saya mencari-cari Pak Raffa." Ucap Clara dengan wajahnya memerah nampak malu dengan tindakannya yang ceroboh.
"Tak masalah. Ayo..." Raffael pun berjalan dengan mendorong kopernya menuju mobil yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Begitu sampai di mobil, Raffael memasukkan kopernya di bagasi, dan Clara masih menunggu atasannya itu hingga selesai.
"Biar aku yang bawa mobilnya saja, Clara..."
"Eh, jangan Pak. Biar saya saja, kan saya kesini untuk menjemput Pak Raffa."
"Sudah, tenang saja. Kamu duduk saja, aku yang akan mengemudikannya." Raffa membuka pintu untuk Clara, dan ia menyuruh sekretarisnya itu untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Bukankah Pak Raffa juga capek? Ini tidak benar, biar saya saja yang mengemudikannya."
Raffa justru terlihat cuek, ia perlahan mendekatkan dirinya kepada Clara, dengan pandangan matanya yang terus menatap Clara.
"Pak, apa yang Bapak lakukan?" Clara begitu terkejut dan tidak nyaman berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Raffa.
Raffa hanya tersenyum, lalu tangannya meraih seat belt di samping Clara. Menarik seat belt itu, lalu memasangkannya hingga berbunyi. "Klik...."
Raffa mulai menjauh dari Clara, kembali ke posisinya semula.
"Pakai seat belt, Clara. Kamu pikir apa yang akan aku lakukan? Hem."
Akhirnya Clara pun merasa lega, sebab jantungnya berdebar-debar saat wajah Raffa begitu dekat dengan wajahnya, hingga Clara menahan nafasnya karena panik. Wajah Clara pun kembali memerah, lagi-lagi ia malu dengan reaksi wajahnya.
"Tidak Pak Raffa... Maaf."
Raffa justru tersenyum melihat wajah Clara yang merah, tidak biasanya sekretarisnya itu malu-malu begitu.
"Apa kamu pikir, aku akan menciummu, Clara?" Tanya Raffa secara langsung.
Clara langsung memutar bola matanya, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan atasannya itu. Selama lima tahun bekerja bersama Raffael, bahkan atasannya itu tak pernah sama sekali berkata yang bukan-bukan. Namun, sejak Clara setuju menemaninya ke reuni SMA nya, mengapa justru Raffael terlihat lebih berani untuk mendekatinya?
***
Dear All,
Silakan mampir ke karya teman aku ya...
Bukan Pernikahan Impian - Teh Ijo🤗