When My Love Bloom

When My Love Bloom
Pengajuan Syarat



Negosiasi cukup alot antara Clara dan Raffael. Hanya sekadar meminta libur di akhir pekan, rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Clara harus mengatakan alasan kenapa ia akan mengambil libur di akhir pekan.


Memang bukan mencari alasan, tetapi kenyataan Ayah Clara memang berencana mengenalkannya dengan anak sahabatnya. Hanya memintanya kenalan. Mungkin sebagai orang tua, Ayah Clara merasa anaknya yang berusia 26 tahun sudah waktunya untuk memiliki pasangan dan serius membina hubungan dengan pria. Akan tetapi, selama 26 tahun Clara nampak tidak mempedulikan perihal pasangan, ia hanya terus bekerja keras bagai kuda. Tujuannya memang mulia, ia ingin mengumpulkan sejumlah uang yang akan bisa diberikannya untuk hari tua Ayahnya nanti. Akan tetapi, Ayah dan Ibu justru merasakan kekhawatiran yang berbeda, lantaran terlalu bekerja keras Clara justru tidak mempedulikan untuk membina hubungan yang serius dengan pria. Oleh karena itu, Ayah Clara berencana untuk mengenalkannya dengan anak dari sahabatnya.


"Jadi... Bagaimana Pak Raffa, apakah saya boleh tidak lembur pada akhir pekan ini?" Kembali Clara bertanya kepada Raffa.


Raffa pun sebelumnya telah mengajukan berbagai macam pertanyaan yang akhirnya membuat Clara harus mengatakan kebenaran bahwa ia diminta Ayahnya untuk menemui anak dari sahabatnya.


"Hmm, okay. Sabtu nanti kamu boleh tidak lembur." Ucap Raffa dengan nampak meyakinkan.


"Baik, makasih Pak Raffa..." Sahut Clara dengan senyuman merekah di wajahnya.


"Tapi ada syaratnya...."


Sontak mata Clara menjadi membelalak, ia sungguh tak menyangka bahwa hanya meminta libur di akhir pekan yang memang seharusnya libur saja, Raffa justru mengajukan persyaratan. Bukankah ini serasa berlebihan bukan?


"Syaratnya apa Pak Raffa? Padahal juga sebenarnya Sabtu-Minggu kan waktu libur saya." Clara tertunduk lesu. Jeda sejenak. "Masak untuk meminta hak saya sendiri ada persyaratannya sih Pak? Rasanya tidak adil deh."


Clara terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Ia merasa bahwa sering kali Raffa berlaku tidak adil. Meminta tidak lembur di waktu liburnya, nyatanya memang susah sekali. Akan tetapi, kali ini Raffa justru nampak santai dan tidak mengintimidasi dengan ucapan Clara.


"Ya boleh... Kamu menemui pria itu boleh, syaratnya juga mudah kok." Sahut Raffa sembari sesekali menengok ke arah Clara.


"Apa syaratnya Pak?"


"Syaratnya cukup kamu kasih tahu lokasi kamu aja. Share lokasi kamu kepada saya saat kamu menemui pria itu. Mudah kan?" Ucap Raffa dengan entengnya.


"Ya ampun Pak... Untuk apa juga saya harus share lokasi saya kepada Bapak. Orang paling ketemuannya juga hanya di Coffee Shop aja kok. Ngopi-ngopi aja." Kali ini Clara terlihat semakin kesal dengan sikap Raffa.


"Eits, gak boleh minum kopi ya kamu. Kamu punya asam lambung, jadi gak menemuinya di Coffee Shop, dan kamu gak boleh minum kopi."


Kali ini giliran Raffa memperingatkan Clara dengan tegas. Bisa dibilang pertemuan Clara dan Raffa yang nyaris setiap hari, membuat keduanya mengenal dekat satu sama lain, apa makanan kesukaan masing-masing, hobi, bahkan sakit yang diderita pun juga diketahui keduanya. Raffa pun sangat tahu, bagaimana perut Clara akan sakit setelah meminum kopi. Oleh karena itu, Raffa pun mengingatkan Clara untuk tidak meminum kopi.


Sementara mendengar peringatan dari Raffa, Clara justru ingat bahwa ia memiliki asam lambung yang membuatnya langsung sakit perut setelah meminum kopi.


"Ah iya... Saya sampai lupa kalau saya mengidap asam lambung. Makasih sudah mengingatkan Pak... Tetapi, rasanya berlebihan deh bila saya harus memberitahukan kemana saya akan pergi kepada Pak Raffa."


"Saya gak punya maksud apa-apa ya. Saya kan cuma ingin tahu saja, lagipula ketika ada pekerjaan mendesak kan saya bisa menjemputmu segera. Emang gak boleh?"


"Ya gak boleh dong Pak. Gak sopan Pak... Lagian saya menemui pria itu paling juga satu sampai dua jam saja kok. Gak lama-lama."


"Jangan berdebat denganku ya Clara, aku kecapean belum istirahat sama sekali sejak datang dari Tanjung Pinang. Pokoknya, kalau kamu mau libur hari sabtu nanti, cukup share lokasi kamu aja kepada saya. Udah gitu aja." Kali ini dari nada bicaranya, justru Raffa terlihat ketus. Seolah-olah ia tidak ingin berdebat lagi dengan Clara. Dan, tentu saja ia tidak ingin penolakan.


Tidak berapa lama, Clara telah sampai di apartemennya. Dengan ia keluar dari mobil Raffa, dan ia mengucapkan terima kasih kepada Atasannya itu.


"Terima kasih Pak Raffa, sudah mengantar saya pulang. Maaf merepotkan." Ucap Clara sembari membungkukkan badannya sebagai tanda ia menghormati Raffa.


"Sama-sama Clara. Selamat malam." Sahut Raffa sembari ia melajukan mobilnya.


Dengan langkah gontai Clara memasuki apartemennya. Ia masih berpikir, untuk alasan apa Raffa meminta persyaratan konyol seperti itu.


****


Keesokan paginya, Clara tiba di Paradise Hotel lebih pagi dari biasanya. Masih ada laporan dari Divisi Marketing yang harus ia cek, sebelum akhirnya dicek final oleh Raffa.


Bekerja di pagi hari, di mana otak masih segar dan belum banyak instruksi lainnya menjadi pilihan Clara untuk menyelesaikan beberapa tugas yang memang semalam belum ia rampungkan.


Saat Clara fokus dengan beberapa file dan juga komputernya, sapaan seseorang membuyarkan konsentrasinya.


"Pagi Clara... Kau datang pagi sekali." Raffa rupanya yang juga memilih berangkat lebih pagi saat itu. Pemandangan yang biasanya, sebab memang sering kali Raffa dan Clara memilih berangkat lebih pagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.


"Pagi Pak Raffa... Iya, ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan segera sebelum difinalisasi Pak Raffa." Sahut Clara.


"Oke, baiklah. Segera selesaikan dan berikan saya ya."


"Baik Pak..."


"Oh, ya Clara. Bisa minta tolong buatkan secangkir kopi untuk saya ya." Pinta Raffa kepada Clara untuk membuatkan secangkir kopi.


"Baik Pak, akan saya bawakan ke ruangan Pak Raffa."


Mendengar permintaan Raffa pun, Clara bergegas ke pantry, ia menaruh 3 sendok kopi dan 2 sendok gula dalam cangkir. Kopi hitam yang biasa Raffa minum memang tidak terlalu manis, sehingga rasa pahit dari kopi pun masih terasa.


Usai kopi yang ia buat selesai, segeralah ia membawakannya ke ruangan Raffa.


"Permisi Pak Raffa... Ini kopi nya Pak." Ucap Clara sembari menaruh secangkir kopi di meja yang berada di dekat sofa karena saat itu Raffa tengah duduk di sofa, bukan di kursi kerjanya.


"Ah, iya... Terima kasih." Balas Raffa.


Clara meminta undur diri untuk menyelesaikan pekerjaan, sebelum ia berbalik rupanya Raffa memanggil namanya.


"Clara, tunggu dulu..."