When My Love Bloom

When My Love Bloom
Survei Lahan di Tanjung Pinang



Hari ini adalah hari kedua Raffael dan Papa Saputra berada di Tanjung Pinang, dan agenda mereka sepanjang hari adalah untuk mengecek lahan yang akan mereka kembangkan untuk membangun sebuah hotel di area Pantai Trikora, Pulau Bintan, Kepulauan Riau.


Bagi masyarakat Tanjung Pinang, Pantai Trikora adalah pantai yang indah dengan ombaknya yang tenang. Pantai dengan pasir putih, beberapa bebatuan, dan ombaknya yang landai banyak dilirik para investor baik dari dalam dan luar negeri untuk mengembangkan bisnis hotel dan resort. Pantai Trikora sendiri memiliki empat bagian, yaitu Trikora 1, 2, 3, dan 4.


Sepanjang perjalanan menuju lokasi lahan, Raffael dan Papa Saputra disuguhkan dengan kampung-kampung nelayan yang berjejer rapi, resort mewah, kawasan konservasi padang lamun, rumah makan seafood, dan juga hutan mangrove.


“Suasana baru kan, Raff. Tenang di sini tidak seperti di Jakarta yang sangat padat.” Ucap Papa Saputra sembari melihat pemandangan yang begitu indah dari balik kaca jendela mobilnya.


“Iya sih Pa, tenang. Jalanan juga lengang, tidak merasa diburu-buru waktu. Tetapi, ini masih sepi, Pa. Kawasan ini perlu di kembangkan lebih lagi, supaya lebih ramai.” Sahut Raffa.


“Benar, kawasan ini tetap terhitung sepi untuk golongan pengembangan pariwisata.”


“Benar Pa, tetapi apa Papa yakin ingin mengembangkan bisnis di sini?”


“Kita lihat dulu saja lokasinya, Raff. Papa dengar banyak investor dari luar, khususnya Singapura banyak berinvestasi ke sini. Bahkan pariwisata di Pulau Anambas saja sudah dikuasai investor asing. Investor dari dalam negeri juga perlu bergerak, Raff. Papa dengar beberapa resort mewah yang berdiri di sini karena adanya investor asing juga.”


“Baik Pa... Kita lihat-lihat dulu saja lokasinya sehingga bisa mengambil keputusan selanjutnya.”


Tidak lama kemudian justru Papa Saputra bertanya kepada supir yang menolong mereka untuk mengecek lokasi di kawasan Pulau Bintan.


“Kalau Tanjung Pinang ini yang terkenal apa ya Pak?”


“Kalau untuk Pariwisata yang terkenal Lagoi Treasure Bay, Pak. Kolam renang terbesar di Asia Tenggara, dengan Luas 6,3 hektar."



(Foto Lagoi Treasure Bay sebagai kolam renang terluas di Asia Tenggara - Banyak tempat indah di Tanjung Pinang buat dikunjungi loh.. 🥰)


“Oh, kawasannya apakah jauh dari sini Pak?”


“Lumayan sih Pak. Kalau nanti Bapak mau mampir bisa saya antar ke Lagoi Treasure Bay, Pak. Banyak Pariwisata di kembangkan di kawasan Lagoi, Pak mulai dari Lagoi Bay, Kebun Binatang, hingga Resort Mewah banyak berdiri di sana. Cukup ramai juga pengunjungnya, Pak.” Penjelasan Pak Supir itu Papa Saputra.


“Iya benar, Pak. Cuma ada satu Mall di sini Pak. Tanjung Pinang City Centre namanya. Tapi juga tidak begitu lengkap, Pak. Kalau mencari Mall atau pusat belanjaan biasanya warga sini berbelanja ke Batam, Pak. Harus naik kapal ferry terlebih dahulu selama 1 jam. Kadang juga warga di sini bisa langsung berbelanja ke Singapura atau Johor Bahru, Malaysia dengan menggunakan kapal ferry juga, Pak.” Sahut supir itu menjelaskan panjang lebar kepada Raffael.


Memang benar, sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau, Tanjung Pinang memang tidak semaju Batam. Beberapa wilayah di Tanjung Pinang pun terbilang masih sepi, hanya beberapa wilayah saja yang ramai. Sementara itu, Batam justru menjadi kota industrial dan pariwisata yang jauh lebih berkembang. Investor asing pun banyak menanamkan modalnya di Kota Batam. Kota yang berhadapan langsung ke Negeri Singapura ini nerupakan kota yang strategis untuk mengembangkan industri dan pariwisata. Tanjung Pinang dipilih sebagai ibukota provinsi Kepulauan Riau karena faktor sejarah, Kerajaan Melayu dahulu kala berdiri di Tanjung Pinang, maka dari itu Tanjung Pinang disebut sebagai pusat kebudayaan Melayu.


Raffael pun menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Pak Supir, tetapi bagi Raffael justru masyarakat Tanjung Pinang memiliki pengalaman menarik, lantaran untuk sekadar berbelanja ke Mall, mereka harus menyebrangi lautan dengan menggunakan kapal ferry. Pengalaman yang tidak didapatkan oleh warga ibukota. Bahkan warga bisa berbelanja langsung ke negera tetangga seperti Johor Bahru dan Singapura adalah bentuk aktivitas warga yang menarik bagi Raffael.


Usai menempuh perjalanan darat dengan mobil, akhirnya Raffael dan Papa nya telah sampai ke lokasi yang rencananya akan dikembangkan untuk pengembangan bisnis Saputra Corp., sebuah lahan yang berada di kawasan Pantai Trikora.


“Menurut kamu, bagaimana Raff? Setuju atau tidak?” Tanya Papa Saputra kepada Raffael.


“Kalau untuk lahannya yang menjadi daya tariknya memang kedekatan dengan pantai ini, Pa... Tetapi, kita harus pikirkan pengembangan sarana dan prasarana lainnya. Tidak mungkin menarik pengunjung hanya dengan membangun hotel atau pun resort saja, Pa... Karena lokasi ini juga jauh dari pusat kota, akan jauh lebih baik apabila ada hal lain yang menarik orang-orang datang ke sini, Pa... Jika dibangun fasilitas lainnya bahkan fasilitas publik, menurut Raffa akan jauh lebih baik Pa...”


Papa Saputra nampak menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Raffael. Bagi Papa Saputra, Raffael memang seorang yang jeli, maka seringkali Papa Saputra sering melibatkannya untuk sekadar berbagi ide dalam hal pengembangan bisnis keluarga mereka. Raffael juga sangat paham bagaimana harus menentukan dalam pengembangan bisnis yang mereka jalani. Sekali pun masih muda, tapi pendapat Raffael sangat dibutuhkan oleh Papanya.


“Benar juga, Raff. Daya tarik tempat ini memang berada di pantai ini, karena tanahnya berada di bibir pantai. Memang perlu pengembangan sarana prasarana lainnya untuk menumbuh kembangkan tempat ini.”


 


“Iya, Pa... Benar. Tapi, apa pun keputusan Papa, Raffa akan tetap mendukung. Raffa juga akan membantu Papa ke depannya. Hanya saja kalau untuk tinggal menetap di sini Raffa belum bisa, Pa... Ya, itu bagaimana pun Hotel di Jakarta juga perlu Raffa kerjakan dan kembangkan.” 


“Iya, Raff... Papa tahu. Bagaimana pun, Papa akan terus melibatkanmu. Karena Kakakmu, akan lebih repot mendampingi istrinya yang sedang hamil. Jadi kamu tahu kan siapa yang bisa Papa libatkan di saat seperti ini.”


“Iya, Raffa tahu Pa...”


“Ya sudah, tolong kamu ambil foto lokasi ini dulu, Raff. Nanti sesampainya di Jakarta, Papa akan coba diskusikan dengan rekan bisnis kita yang lainnya. Setelah melihat dokumentasinya kan lebih mudah untuk mengambil keputusan.”


“Siap Pa... Raffa akan dokumentasikan terlebih dahulu lahan di sini untuk diskusi dengan rekan bisnis di Jakarta.”


Setelah itu, Raffael mulai mendokumentasikan lahan yang akan dibeli oleh Saputra Corp. Ia mengambil gambar dari berbagai sisi. Terdapat pula Konsultan Perencanaan yang mengambil Papa Saputra dan Raffael. Konsultan Perencanaan memberikan berbagai ide untuk Perencanaan pembangunan hingga masalah pembebasan lahan.