
Lagi dan lagi agaknya Bandara menjadi tempat perpisahan bagi Raffa dan Clara. Apabila dulu Clara selalu mengantarkan Raffa ke Bandara sebagai sekretaris, sekarang ia mengantar Raffa ke Bandara sebagai seorang kekasih.
"Aku masuk cek in ya... Bye.... Love U..." pamit Raffa sembari melambaikan tangannya kepada Clara.
Clara masih berdiri di tempatnya, gadis itu turut melambaikan tangannya sembari menahan air matanya supaya tidak jatuh. Perasaannya untuk Raffa memang sudah berubah. Ya, Clara mencintai Raffa. Berpisah seperti ini membuat hatinya gusar. Akan tetapi, sebagai sekretaris dia pun menenangkan Raffa bahwa semua akan baik-baik saja.
Ah, betapa aku tidak konsisten. Tadi aku menenangkannya dan meyakinkannya untuk pergi. Sekarang aku justru hampir menangis saat melepas kepergiannya.
Cepat kembali Mas Raffa, di sini aku menunggu...
Gumamnya dalam hati sembari menatap punggung Raffa yang perlahan-lahan mulai menghilang ketika memasuki jalur keberangkatan untuk melakukan cek in.
Setelah Raffa sudah tak terlihat, barulah ia keluar dari Bandara. Kembali ia membawa mobil Raffa, membawanya selama Bosnya itu sedang melakukan perjalanan dinas.
Baru saja Clara memasuki mobil Raffa, sebuah pesan masuk ke handphonenya.
[To: Clara]
[Aku sudah di ruang tunggu bandara.]
[Penerbanganku 1 jam lagi.]
[Hati-hati ya saat menyetir.]
[Tunggu aku kembali.]
[I Miss U...]
Clara membaca pesan dari Raffa dengan beruraian air mata. Sungguh, ia pun sudah merindukan Raffa saat ini. Benar kata Dilan kalau 'rindu itu berat', dan sekarang Clara mengalaminya sendiri.
Dengan menahan air matanya supaya tidak terus menerus membasahi pipinya, Clara mengusap handphonenya dan mengetikkan pesan balasan untuk Raffa.
[To: Mas Raffa]
[Aku sudah berada di dalam mobil, akan kembali ke kantor.]
[Baiklah hati-hati dalam perjalanan ya Mas.]
[Kabarin aku begitu akan take off dan landing nanti.]
[Jaga diri dan jaga hati selama di sana ya Mas...]
[I Miss U too...]
Usai mengirimkan pesannya, perlahan-lahan Clara menjalankan mobilnya untuk kembali ke Paradise Hotel.
Clara seolah-olah mengalami Dejavu, baru bulan lalu ia mengantarkan Raffa untuk perjalanan dinas ke Tanjung Pinang, dan sekarang ia kembali mengantarkan Raffa ke bandara untuk melakukan perjalanan dinas ke Surabaya.
Clara menerobos lalu lintas ibukota dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya ia telah sampai di Paradise Hotel.
Dengan hatinya yang resah karena rindu yang teramat sangat pada Raffa, Clara tetap melanjutkan mengerjakan tugas-tugasnya. Tidak lupa sejumlah laporan penting ia unggah ke Drive yang bisa diakses langsung oleh Raffa.
Setelah memastikan pekerjaannya selesai, Clara turun ke lantai bawah ke front office untuk mengecek laporan dari Divisi Marketing.
"Halo Selamat siang, Nina." salah satu karyawan yang bekerja di Divisi Marketing.
"Iya Bu, ada apa?" tanyanya dengan sopan.
"Bisa saya meminta laporan dari divisi marketing dan startegi marketing untuk bulan depan?"
"Baik Bu, bisa. Tolong ditunggu, saya siapkan filenya terlebih dahulu."
Sembari menunggu laporan dari Divisi Marketing, Clara mengunjungi pihak HRD untuk meminta laporan dari sana.
"Siang Bu Lestari, bagaimana untuk laporan HRD bulan ini? Bisa saya memintanya sehingga saya bisa melaporkannya kepada Pak Raffa."
"Terima kasih, Bu."
Clara masih berada di front office yang berada di lobby. Ia masih menunggu laporan dari Divisi Marketing. Baru ia akan memasuki front office rupanya Tuan Saputra dan Nyonya Ratna datang dan langsung berjalan menuju ke arahnya.
"Halo Clara bagaimana kabarnya?" sapa Nyonya Ratna dengan ramah.
Clara membungkukkan sedikit badannya. "Saya baik Nyonya. Bagaimana kabar Anda dan Tuan?"
"Kami baik Clara." ucap pasangan itu bersamaan.
"Apa ada yang perlu saya bantu? Maaf sebelumnya, tetapi saat ini Pak Raffa sedang tidak ada di sini. Pak Raffa ada perjalanan bisnis mendadak ke kota Surabaya bersama Pak Rino." Clara memberi penjelasan kepada kedua orang tua Raffa itu.
"Kenapa dia pergi mendadak dan tidak memberitahu kami?" tanya Tuan Saputra dengan sedikit panik.
"Maaf Tuan, yang saya dengar ada masalah terkait investor dan pembebasan lahan untuk Paradise Hotel yang akan dibangun di Kota Surabaya. Sehingga Pak Raffa harus turun tangan."
Tuan Saputra menggelengkan kepalanya, "Anak itu memang, selalu pergi seperti ini. Padahal orang-orang di Surabaya bisa menyelesaikannya. Apalagi ada Marcel di sana, yang bisa membantunya. Tetapi, ia selalu suka turun langsung."
Clara mendengarkan ucapan Tuan Saputra sembari sedikit menganggukkan kepalanya. "Benar Tuan, kata Pak Raffa lebih cepat diselesaikan akan jauh lebih baik."
"Semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan Raffa bisa segera menyelesaikannya." ucap Tuan Saputra dengan wajahnya yang serius.
"Kalau Mama justru mengkhawatirkan Raffa dengan pola kerjanya yang seperti ini Pa. Kapan anak kita akan mendapatkan jodoh kalau selalu bekerja keras seperti ini."
Nyonya Ratna menjeda sejenak ucapannya, "Ingatkan dia untuk mencari jodoh juga Clara. Jangan hanya terus-menerus bekerja. Apa selama ini tidak ada gadis yang menyukai Raffa?"
Mata Clara membola seketika mendengar pertanyaan dari Nyonya Ratna. Gadis itu hanya menunduk dan tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Atau mungkin kamu, Clara. Apakah kamu tidak bisa menyukai anakku, Raffa. Bukankah selama ini kalian berdua dekat? Saya tidak keberatan kalau Raffa memilih kamu."
Ucapan Mama Ratna barusan cukup membuat wajah Clara merona, seolah Mamanya Raffa telah memberinya lampu hijau.
"Kalau Raffa akhirnya sama Clara, Papa tidak keberatan kan Pa?" lagi Mama Ratna berbicara dan kini ia justru melemparkan pertanyaan kepada suaminya.
"Iya Ma... Papa tidak keberatan. Nak Clara juga baik dan sudah mengenal Raffa juga. Tidak masalah bagi Papa."
"Tuh kami sudah setuju Clara. Jadi gimana mau enggak sama anak Mama?" ucapnya sembari menggoda Clara.
Sementara Clara hanya bisa senyum-senyum tanpa bisa menjawab pertanyaan itu.
"Ya sudah, karena Raffa sedang tidak ada di sini. Kami pulang ya Clara. Jangan kerja terlalu keras." pamit Mama Ratna sembari memeluk sekretaris anaknya itu.
Usai mengantarkan Tuan Saputra dan Nyonya Ratna, Clara membali ke ruangannya dengan membawa laporan dari Divisi Marketing dan HRD. Semua laporan itu akan ia kerjakan esok pagi. Mengingat sudah waktunya jam pulang kerja, akhirnya Clara memilih untuk segera pulang.
Hari sudah cukup malam ketika Clara selesai membersihkan dirinya dan gadis itu rebahan di tempat tidurnya.
Belum ada 10 menit, ia merebahkan dirinya rupanya terdapat panggilan video masuk dari Raffa.
Clara nampak kebingungan, pasalnya pria itu belum mengiriminya pesan. Namun, kenapa tiba-tiba dia melakukan panggilan video. Clara langsung duduk dan merapikan rambutnya, tangannya hendak menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
--------
Dear Reader,
Numpang promosi sebentar, aku memiliki cerita lainnya yang bisa kalian baca di Noveltoon dengan judul Berbagi Cinta: Meminang Tanpa Cinta.
Silakan mampir ya.. Jangan lupa berikan like, comment, dan tap suka ya...
Happy Reading.
Love U All❤